Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Part 53


__ADS_3

Tiga bulan setelah pernikahan, orang tua Seno, terutama mamanya mulai giat dan terang-terangan menanyakan perihal momongan. Jujur saja Nisa agak terganggu. Siapa sih yang enggak mau dikasih cepat? Tapi mau gimana lagi, semua itu bukan kuasa manusia, Tuhan lah yang mutlak mengurusnya.


"Nis ... kamu jangan capek-capek coba."


"Nis, kamu harus rajin minum jamu ini, jamu itu ...."


Atau


"Nis, coba tiap minggu liburan sama Seno biar enggak stress."


Lama-lama Nisa malah stress dengan ucapan-ucapan mertuanya yang menggempurnya hampir setiap hari lewat telepon.


"Sen, Mama kamu tuh, ya, masa tiap hari ngomonginnya cucu terus, anak terus, aku pusing tauk! Nikah juga baru tiga bulan kita. Tuh, Lala sama Brian juga hampir setahun baru dikasih." Jika Nisa sudah ngomel-ngomel perihal itu, yang bisa Seno lakukan hanya diam sambil menopang dagu melihat gerak-gerik bibir istrinya yang terlihat lucu jika sedang kesal.


Habis itu dia memencet hidung Nisa karena gemas, Nisa lanjut ngomel-ngomel, plus mukul-mukul pelan lengan suaminya.


"Maafin mamaku, ya, Nis. Dia kayak gitu karena pengen banget dapet cucu dari kita. Dari Mas Agam kan udah ada Jasmin, lagian Mbak Santi enggak bisa cepet-cepet hamil lagi karena waktu lahirin Jasmin ada masalah, apa ya namanya? Kalau gak salah Preeklampsia berat. Mbak Santi hampir aja enggak tertolong waktu itu, Dokter enggak ngebolehin dulu dia hamil sampe Jasmin lima tahun."


"Ya Allah kesian. Kok Mbak Santi enggak pernah cerita ya sama aku?"


"Mungkin dia trauma, Nis. Dia kan sampe koma beberapa hari waktu itu."


"Astagfirullah ... Mbak Santi. Aku enggak tau loh kalau kamu enggak ngomong. Dulu kok kamu enggak cerita-cerita sama aku?"


"Ya ... menurutku dulu enggak terlalu penting juga buat dibahas, lagian ini masalah keluarga, kamu juga belum tentu mau dengerin, dulu kan kamu sibuk mulu ama cowok-cowok yang katanya naksir kamu itu, ya kan?"


"Hadeuh mulai, deh, mancing-mancing."


"Aku enggak mau mancing, Sayang, gak punya kail." Seno terkekeh.


"Apaan, sih!"


"Oh, iya apalagi kalau kamu udah nyerocos ngomongin mantan suami kamu itu. Bete, tauk!"


"Terus ... terus ...." Nisa melipatkan dada dengan bibir monyong.


"Terus ...." Seno garuk-garuk kepala walau enggak gatal.


"Kamu tuh, sekarang jadi hobi banget godain aku."


"Ya kan, biar kamu enggak stress."


"Yang ada malah stress, tauk." Nisa membalikkan badannya memunggungi Seno.


Seno bangkit dari duduknya, meraih bahu Nisa dan membalikkan tubuhnya agar menghadapnya. Dia tersenyum sambil terus memandang wajah Nisa, sedangkan Nisa menghindar dari tatapan itu, risih karena sedang marah.


"Jangan senyum-senyum!" seru Nisa kesal.


"Kan kamu yang bikin aku senyum," cetus Seno, lantas dia mendekatkankan wajahnya pada wajah Nisa lalu menempelkan hidungnya ke hidung Nisa. Senyum di bibirnya tidak lepas.


"Jangan kesal, Nis," lirihnya. "Nanti aku yang akan bicara sama Mamaku."


Nisa menjauhkan wajahnya beberapa senti. "Bener, ya ...."


"Bener. Besok aku mampir dulu ke rumah Mama habis pulang kerja."


Perlahan senyum Nisa mengembang di wajahnya, dan itu membuat Seno senang. Dia mengacak rambut Nisa pelan, lalu mengelus-elus pipi istrinya itu.


"Ya udah sekarang kita tidur, udah jam sepuluh. Besok aku mau meeting pagi-pagi mau bahas proyek penting," ucap Seno seraya duduk di bibir tempat tidur.


"Proyek apa lagi?" tanya Nisa, menyusul Seno, duduk di sampingnya.


Seno tersenyum senang memikirkan proyek yang akan digarapnya. "Kamu tau enggak, Sayang, aku baru aja dapet dua tender besar."


Wajah Nisa langsung semringah mendengarnya. "Wah, apa aja tuh?"


Manik mata Seno melirik ke atas. "Mmm ... pertama kita dapet klien perusahaan smartphone. Smartphone baru, sih, tapi aku yakin nih produk bakal meledak di pasaran, kita udah riset kecil-kecilan dengan produk sejenis, dan perusahaan tersebut udah menggandeng brand ambasadornya sendiri."


"Siapakah dia?"

__ADS_1


"Iqbaal Ramadan."


"Huaaaaa Dilan. Sayang, kalau kamu ketemu dia salamin dari aku." Nisa sampai melonjak-lonjak senang.


Seno melirik Nisa kesal sambil melipatkan tangan di dada. "Gak!"


"Pelit banget sih lo! Gw kan ngefans sama dia."


"Masih doyan berondong?"


"Doyan, dong."


"Nisa!" Kali ini Seno melotot.


"Bercanda ih, hehe. Nah, terus yang kedua apa?"


Seno mengusap-usap dagunya dengan telunjuk. "Kali ini kita enggak akan membuat konsep soal produk, tapi jasa."


"Jasa?"


"Yupz, kita udah kerjasama sama sebuah bank besar. Jujur, kerjasama dengan bank dan mengiklankan jasa, baru pertama buat kita. Aku rada nervous juga, tapi aku percaya timku hebat-hebat, mereka pasti bisa melakukannya."


"Semangat, Sayang. Sekarang SenProd udah makin gede aja. Sehat-sehat kamu, ya. Jadilah pemimpin yang baik, biar tim kamu betah."


Seno mengangguk. "Iya, makanya aku enggak banyak omong dan banyak ngatur sama mereka, biar mereka nyaman. Karena kerjaan kita memang menitik beratkan ke ide-ide. Kalau mereka ditekan, mana bisa dapet ide yang out of the box, ya gak? Ya ... mungkin aku agak bawelnya ke bagian lain, kayak ke administrasi keuangan atau HRD."


"Lancar-lancar buat semuanya ya, Sayang. Mmm tapi ... kalau kamu sibuk, rencana ke Balinya gak jadi dong?"


Seno tersenyum. "Siapa bilang? Aku udah antisipasi sebelumnya. Minggu depan kan aku mulai sibuk banget, nih, dan mungkin weekend juga ngantor. Jadi ... aku udah pesan tiket ke Bali buat weekend ini."


"Hah? Serius kamu?" Nisa berbinar-binar.


"Serius lah, masa boong, sih? Bentar ...." Seno beranjak mengambil ponselnya di atas meja rias Nisa. Lalu menunjukkan tiket pesawat itu.


"Huuaaaa ... makasih, Sen." Nisa menghambur memeluk Seno. Seno tersenyum sambil menepuk-nepuk pelan punggung Nisa. Ada kepuasan dalam benaknya sudah membuat istrinya sangat happy seperti ini.


"Aku udah enggak sabar ketemu pasir pantai." Nisa melepas pelukannya. "Pokoknya nanti di sana aku mau ...."


***


Seno memarkirkan mobilnya ke halaman rumah orang tuanya. Terlihat ayahnya tengah baca buku di teras ditemani secangkir teh di meja. Senyum Seno langsung mengembang melihat pria yang paling disayanginya itu. Seno keluar dari mobil. Aryan menutup buku dan melepas kacamatanya melihat anak bungsunya datang.


"Pa ...." Seno mencium tangan papanya seperti biasa.


"Tumben mampir ke sini, Nisa mana?"


"Aku sendirian, Nisa masih di kantornya. Mama mana, Pa?"


"Mama kamu di dalam." Seno masuk ke dalam diikuti Aryan.


"Ma ...," seru Seno. Nurul melongokkan kepalanya dari jendela belakang rumah, dia sedang menyemprot tanaman-tanaman hiasnya dengan botol kecil.


"Sen, kamu dateng."


"Iya. Mama di sini ternyata." Seno menghampiri Nurul lalu mencium tangannya. "Tumben kamu mampir?" cetus Nurul.


"Iya, tumben banget." Aryan yang sekarang pindah tempat duduk di bangku teras belakang ikutan gomong. Seno terkekeh. Ya, dia memang sangat jarang mendatangi rumah orang tua kalau enggak ada yang penting-penting banget, malah kadang orang tuanya sendiri yang datang ke apartemen kalau sudah kangen sama anak bungsunya itu.


"Ada apa?" tanya Nurul. "Mau minta dimasakin?" tebaknya.


"Ih, hebat, bisa langsung ketebak aja, nih." Seno kembali terkekeh.


"Mama sih udah tau, kalau kamu ke sini pasti mau riques masakan."


Menurut Seno, dia tak perlu terang-terangan datang cuma untuk ngomongin soal anak, takut orang tuanya tersinggung.


"Mau dimasakin apa?"


"Apa aja deh, Mama kan paling tau makanan kesukaan aku apa."

__ADS_1


"Oke, sekalian mama mau masakin buat Nisa juga, kayaknya dia doyan cumi saus padang, ya?"


"Kok, Mama tau?" Seno takjub sendiri dengan kepekaan mamanya.


"Tau dong, kan mama diam-diam merhatiin."


"Wow, mamaku emang yang terbaik." Seno memeluk Mamanya. "Semoga mamaku sehat terus, panjang umur."


"Ada maunya aja baru deh peluk-peluk."


"Hehehe."


Aryan yang tengah baca buku ikut tersenyum melihat tinggak ibu dan anak itu.


"Ya udah, mama ke dapur kalau gitu. Nanti biar Bi Nah yang beli cumi ke swalayan terdekat dianter Mang Asep."


Nurul berderap ke dapur sementara Seno tetap di sana dengan papanya. "Buku apa, sih, Pa? Serius banget kayaknya."


"Buku bagus," cetusnya tanpa mengalihkan pandangan dari huruf-huruf di buku tersebut.


Seno mendecih, tapi bibirnya menyunggingkan senyum. "Jawabannya nanggung banget."


Aryan melihat cover. "The Great Theft: Wrestling Islam from The Extremes."


"Widih berat juga nih bacaannya Papa. Hehehe," seloroh Seno.


"Ya, kalau mau wawasan kamu luas, ya harus rajin-rajin baca buku bagus. Buku ini karyanya Khaled Abou El Fadl. Sebuah catatan komperhensif tentang gimana umat Islam di beberapa belahan dunia udah berpaling dari pemikiran rasional dan mulai berkecimpung dalam interpretasi literal, ekstrimisme, dan kadang kekerasan. Buku ini menyampaikan gimana sih cara terbaik untuk memahami beberapa pergolakan politik yang kita lihat di negara-negara Muslim saat ini, termasuk kemunculan ideologi militan."


"Mmmm berat ah, aku gak doyan baca begituan. Ya udah Papa lanjutin bacanya, aku mau rebahan dulu di dalem."


"Ya udah, sana."


Setelah selesai masak, Nurul memanggil Seno yang sedang tiduran di ruang tengah. "Udah selesai, Ma? Cepet juga."


"Masak ini doang mah cepet lah. Ayam rica-rica sama cumi saus padang, dan semuanya mama kasih porsi besar biar bisa buat besok lagi. Nanti kamu simpen di kulkas, kalau mau dimakan lagi tinggal angetin, deh."


"Siap, mamaku sayang. Makasih banyak ya, Ma."


"Nisa pulang kantor jam berapa, Sen?"


"Jam tujuhan."


"Awas jangan capek-capek, Sen. Mama tuh sebenarnya khawatir banget sama Nisa. Mama takut dia tiap hari kecapean terus kalian jadi susah punya anak."


Seno tersenyum. Akhirnya mamanya membuka obrolan tentang itu juga. Seno meraih jemari Mamanya dan meremasnya pelan. "Ma ... tenang aja, ya, kalau Allah udah berkehendak kami dikasih momongan, secapek apa pun Nisa atau aku kerja, pasti dapet. Kami sedang berusaha, kok. Nisa juga udah mulai minum suplemen-suplemen untuk kesuburan. Kita pun udah periksa ke dokter kandungan minggu lalu, dan semuanya enggak ada masalah. Kita sehat-sehat saja, semua ini cuma masalah waktu. Kalau Mama terlalu mikirin hal ini, aku takut Mama malah sakit. Jadi pliiiss jangan bahas ini lagi sama Nisa, ya."


Nurul menghela napas panjang. Raut khawatir masih menaungi wajahnya. "Mama tuh takut kejadian Santi terulang pada Nisa. Mama beneran takut, Sen. Makanya kalau nanti Mama terlalu over protektif sama Nisa harap maklum aja, ya."


"Mama jangan takutan gitu ah, tenang aja, ya. Aku takut kalau Mama kayak gini nanti malah sakit, kan berabe. Kita pasrahin aja semuanya."


Seno melihat dalam binar mata mamanya memang ada sebuah kecemasan yang sangat besar. Dia tersenyum menenangkan lalu memeluk mamanya dengan erat.


"Semoga anak-anak Mama semuanya sehat-sehat dan bahagia. Mama selalu berdoa buat kalian berempat, buat jasmin juga." Nurul terisak-isak. Seno mengusap-usap punggung mamanya. Ya, inilah sejatinya seorang ibu. Dia akan lebih bahagia jika anak-anaknya bahagia. Dia pun akan lebih terluka jika anaknya terluka. Dia akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan anaknya, tak peduli jika dirinya sendiri harus berdarah-darah atau bahkan mati.


Seno sangat bersyukur memiliki ibu sehebat mamanya. Dari kecil dia dan Agam tak sedikit pun kekurangan kasih sayangnya. Dan dia selalu menjadi garda terdepan untuk hal apa pun.


"Kamu salat Magrib di sini, kan?" Nurul melepaskan pelukan Seno.


"Iya, Ma, habis salat aku pulangnya."


"Enggak jemput Nisa?"


"Enggak, hari ini dia bawa mobil sendiri."


"Apa kamu enggak cariin supir buat dia, Sen? Atau Pak Wisnu juga gak apa-apa."


"Ya udah, nanti aku pertimbangin ya, Ma. Oh iya, jumat sore nanti, aku sama Nisa mau ke Bali. Mama mau oleh-oleh apa?"


"Apa aja, asal jangan kaus barong."

__ADS_1


"Hahaha, ya enggak dong, Ma."


***


__ADS_2