
Kejadian kemarin siang di lobi ketika Nisa mau makan siang dengan Harir sudah menjadi hot gosip di kantor. Semakin lama semakin besar, menggelinding bak bola salju. Kata-kata tidak enak mampir beberapa kali ke telinga Nisa, tapi dia berusaha tidak ambil pusing, karena apa yang mereka katakan tidak benar.
"The Quin Ice sekarang tukang ngembat cowok-cowok cakep."
"Iya. Sekarang dia enggak dingin lagi sama cowok, yang ada nyosor." Dia tertawa.
"Bukannya dia udah kawin, ya?"
"Iya. Suaminya katanya bos."
"Suaminya kurang memuaskan kali, jadi dia nyari-nyari mangsa yang lebih hot, dan Pak Harir orang yang pas. Gila aja, Pak Harir gitu, loh. Dia kagak ngaca apa, ya?"
"Hahaha dulu sama berondong ganteng, terus sama novelis ganteng juga. Sialan! Mentang-mentang punya muka cakep semua cowok ganteng diembat sama dia."
"Iya, dan sekarang Pak Harir. Kurang ajar gak, sih!?"
Di toilet sudah jadi tempat favorit bergosip karyawati-karyawati pemuja Harir. Mereka tidak tahu orang yang digosipin ada di salah satu pintu toilet sedang buang air kecil. Nisa mencoba menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan agar tenang dan tidak terpancing emosi.
"Jangan-jangan mereka enggak cuma lunch doang."
"Hah, maksud lo?"
"Ya elah zaman sekarang gitu loh. Kalau enggak ngamar enggak bakal afdol. Apalagi Pak Harir cowok kesepian. Cowok kesepian disatuin sama cewek gatel gak punya harga diri, ngapain lagi coba? Hei, mereka itu udah sama-sama dewasa, gak asik dong kalau enggak lanjut ke kamar."
"Hahaha, gebelek lo! Suka bener kalau ngomong."
"Tembus ke pusat di Paris mereka end. Ditendang secara tidak hormat pasti. Secara si Nisa itu bini orang."
Di dalam toilet Nisa sudah tidak tahan difitnah sekeji itu. Cepat-cepat dia menarik tisu toilet membersihkan diri lalu ....
BRAAAAKKKKK
Pintu dibuka dengan kasar. Ketiga cewek yang bergosip menoleh bersamaan. Seketika wajah mereka pucat pasi, seseorang yang menjadi obyek bergosip ternyata ada di sana.
"Lo semua memfitnah orang enggak kira-kira kejinya, ya. Ingat ya, gue bisa menuntut kalian dengan tuduhan pencemaran nama baik! Ini udah enggak bisa dibiarin, lo pikir gue cewek apaan! Apa salah muka gue cantik? Apa salah gue disukain cowok-cowok yang barusan kalian sebut? Gue enggak bisa mengontrol perasaan orang! Gue juga sadar, gue udah nikah, dan gue cinta banget sama suami gue! Jadi stop buat memandang jelek orang yang enggak kalian kenal!" Nisa memandang satu-satu wajah orang di depannya. "Gue tandain lo bertiga!"
Cepat-cepat Nisa keluar dari toilet dengan gusar. Sesampainya di ruangannya, dia menangis sesenggukan. 'Ini nyakitin banget, astaga!' batinnya pilu.
Dari dulu cewek-cewek di kantor itu seperti iri padanya karena punya wajah yang cantik. Karir Nisa pun menanjak dengan mulus, dia karyawan paling cepat mendapatkan posisi yang tinggi. Nisa ingat waktu pertama diangkat menjadi ketua Tim Marketing, teror demi teror dia dapatkan dan cibiran tak henti-hentinya dia terima. Makanya Nisa membentengi diri dari orang-orang di sana. Sebutan The Quin Ice itu pun melekat kuat pada dirinya sampai sekarang. Nisa tidak punya teman dekat, yang ada malah punya musuh bebuyutan.
Nisa menelungkupkan kepalanya ke atas meja, tangisannya belum mau berhenti. 'Mereka nganggep gue *****, padahal ciuman pertama gue aja gue kasih ke suami gue! Tega banget mereka nganggep gue sehina itu.'
Sebelah tangan Nisa terulur pada tisu di ujung meja, lalu mengusap air mata yang membasahi pipi. Kepala Nisa terangkat saat ponselnya bersuara di laci meja. Matanya yang sembab langsung berbinar saat melihat siapa yang meneleponnya.
"Halo Sayang," sapa Nisa.
"Halo, Nis. Kok suara kamu sengau? Abis nangis, ya?" Mendengar pertanyaan itu, hati Nisa semakin melow rasanya. Bukan Seno namanya kalau enggak tau apa pun yang telah terjadi padanya. Nisa memang tidak pandai menutupi apa saja darinya.
"Sen, aku kangen, hiks."
"Hei ... kamu kenapa?"
"Tauk kenapa, mungkin efek PMS kali, ya, aku jadi baperan gini."
"Gak mungkin! Pasti udah terjadi sesuatu, kan? Bilang sama aku kenapa?"
Nisa bergeming sesaat menahan sesak di dada yang semakin kuat. "Sen ... apa karena menurut mereka gue ini cantik, dan disukai orang, gue jadi enggak ada bedanya sama *****?"
Seno sampai menegakkan punggungnya mendengar istrinya berkata seperti itu. Dia tak terima ada yang mengatai Nisa sembarangan kayak gitu.
"Siapa yang bilang, Nis?"
"Hiks ... hiks ... ada ... orang-orang HRD. ciuman pertama gue bahkan suami gue yang dapetin. Lalu dengan entengnya mereka ngatain gue kayak gitu, sumpah itu nyakitin gue banget, Sen."
Seno menghela napas, berusaha mengendalikan emosinya agar bisa menenangkan istrinya.
__ADS_1
"Sabar, Sayang. Mereka kayak gitu karena iri sama kamu. Udah jangan didengerin, ya, yang penting aku tau banget kamu seperti apa. Ya udah sekarang aku ke kantor kamu, ya."
"Hah, ke kantor aku?"
"Huum. Kita mau presentasi final, Sayang."
Mendengar itu, Nisa sampai melonjak di kursinya dan senyumnya merekah seketika. "Serius?"
"Masa boong, sih?"
"Gila, cepet banget."
"Kamu enggak tau timku hebatnya kayak apa, hehe. Ya udah nanti jam satuan aku ke kantor kamu, ya."
"Siap, ditunggu, Sayang. Duh seneng banget rasanya kerjasama sama perusahaan suami sendiri."
"Hehe, ya udah kamu jangan mewek lagi, pokoknya pas aku ke sana kamu harus cantik, ya. Aku enggak mau lihat mata kamu burik gara-gara mewek mulu."
"Hahaha, iya aku mau tacap lagi sekarang."
***
Menunggu Seno datang rasanya kayak nunggu pacar mau ngapel, Nisa sungguh tak sabar. Dia juga tidak sabar untuk melihat hasil kerja suaminya itu. Berkali-kali Nisa melirik jam tangannya. Aduh sepuluh menit lagi.
Lena yang berdiri di samping Nisa, tersenyum diam-diam melihat gimana gelisahnya bosnya itu. Gila aja gitu. Mereka kan udah jadi suami istri, tapi sikap Mbak Nisa masih kayak mau nemuin pacar yang tahunan tidak ketemu, batin Lena.
"Udah enggak sabar ketemu suami, ya, Mbak?" sahut Lena sambil senyum-senyum.
"Hehe, tau aja kamu." Nisa menyeringai, agak malu juga Lena diam-diam merhatiin.
Pukul satu lewat sepuluh menit Seno dan timnya datang ke kantor Nisa. Pak Yanto, satpam yang sudah mengenal Seno dengan baik, menyapa dengan ramah dan bercanda sebentar di pintu masuk.
Nisa dan Lena menemui partner mereka di lobi. Waktu Nisa keluar dari lift, Seno langsung menyambutnya dengan senyum. Nisa pun balas tersenyum penuh arti padanya. Di sekeliling mereka ada banyak orang, tapi tatapan keduanya hanya tertuju pada satu orang.
Seno kelemahan sekaligus kekuatan terbesarnya.
"Selamat datang kembali di kantor kami, Pak Senopati," ucap Nisa dengan formal. Senyum Seno kembali mengembang di wajahnya. Hangat.
"Terima kasih," ucap Seno. Di belakangnya Aldi dan Ezar pun ikut tersenyum ramah.
"Mari lewat sini," kata Lena menuntun mereka ke lift.
Mereka pun masuk ke lift, lalu Nisa memencet angka 12, lantai tertinggi, sekaligus ruangan pimpinan, meeting room, dan lain sebagainya. Nisa dan Seno berdiri paling belakang. Diam-diam tangan Seno menggamit lengan Nisa sambil senyum genit. Nisa melirik Seno, tatapannya memberi isyarat supaya suaminya itu jangan macam-macam. Malu.
Seno mengerucutkan bibirnya. Sementara Nisa mencebik dan menjulurkan lidah. Rupanya adegan tersebut tak luput dari pegamatan Lena dan Aldi dari pantulan pintu lift. Diam-diam mereka tersenyum geli melihat tingkah bos mereka.
Kedatangan Seno dan timnya di kantor disambut hangat oleh Harir. Dan mereka pun mulai presentasi menggunakan proyektor. Ezar dan Aldi mempresentasikannya dengan lancar, setelah itu hasil akhir diperlihatkan. Iklan berdurasi dua puluh detik itu berhasil menyampaikan hal yang ingin diusung produk tersebut. Yaitu kualitas, kenyamanan dan model yang trendi.
Harir tersenyum puas. Seno dan timnya pun mengahela napas lega klien mereka terpuaskan oleh hasil kerja keras mereka. Setelah itu pembicaraan pun berlanjut ke sesi berikutnya, yaitu mengenai keuangan, sekarang Seno yang maju sementara dari pihak Vreeset Nisa lah yang maju. Pembicaraan begitu alot hingga setengah jam lebih, Nisa dan Seno bekerja dengan profesional mengesampingkan dulu bahwa sebenarnya mereka sepasang suami istri. Setelah didapat kesepakatan, Vreeset pun memutuskan untuk bekerja sama lagi untuk proyek iklan berikutnya. Menurut mereka, bekerja sama dengan Senopati Production lebih efisien dibanding dengan perusahaan periklanan sebelumnya.
Sebelum pulang, saat Aldi dan Ezar sudah duluan keluar, Seno berramah tamah dulu dengan Harir. Dia tahu laki-laki di hadapannya itu menyimpan rasa terhadap istrinya.
"Kalian kok, terlihat sangat akrab sekali?" tanya Harir bingung melihat Nisa dan Seno berkomunikasi tak ada kecangungan sedikit pun.
"Iya, Pak, soalnya Danisa istri saya," jawab Seno lugas.
"Apa, maaf?"
"Nisa istri saya, Pak. Ketua Tim Markating Vreeset Shoes ini istri saya, kami menikah kurang lebih dua bulan lalu." Seno mempertegas barangkali Harir kurang mengerti, tapi Seno yakin dengan jawaban yang pertama tadi Harir sudah mengerti, dia cuma syok saja sebenarnya.
Nisa melihat bosnya melongo tak percaya. Raut tidak suka pun langsung tergambar dengan jelas, lantas menoleh pada Nisa seolah meminta jawaban lain.
"Jadi Pak Seno ini suami kamu, Nis?"
"Betul, Pak." Nisa mengangguk.
__ADS_1
Harir tersenyum. Namun, senyuman itu terlihat perih, dia hanya berusaha menutupi luka hatinya saja.
"Wah, saya kaget banget ini, Nisa tidak pernah mengatakannya kalau Pak Seno itu suaminya. Kalian terlihat cocok satu sama lain. Serasi banget. Selamat ya ... saya belum terlambat mengucapkan selamat, kan?"
"Anda berlebihan Pak Har. Tapi terima kasih, saya harap kapan-kapan Anda mau mampir ke apartemen kami, kita ngeteh bareng."
Harir terkekeh pelan. "Terima kasih tawarannya, Pak Seno, tapi sepertinya saya tidak bisa. Maaf."
"Yah, sayang sekali."
***
"Kamu lihat tadi ekspresi bosmu waktu aku bilang kamu istriku?"
"Hehehe iya aku lihat, dia kaget banget kayaknya. Tapi kasihan juga."
"Apa?"
"Kamu juga pake nawarin dia ngeteh segala, ya jelas dia enggak mau lah."
"Kamu kasihan sama dia jangan-jangan kamu ada rasa?"
Tangan Nisa langsung meluncur memukul lengan Seno. "Sembarangan aja kalau ngomong!" Bibir Nisa manyun.
"Oh, iya, mana orang yang udah ngomong ***** sama kamu?"
"Gak tau, mati kali." Nisa mendengikkan bahu.
"Serius, nih, mau aku jahit mulutnya."
Nisa terkikik-kikik melihat Seno emosi kayak gitu. "Udahlah, lagian aku udah enggak sedih lagi karena melihat kamu."
"Boong, ah."
"Gak percaya?"
"Enggak!"
"Terserah, deh. Oh iya, Mama tadi pagi telepon nyuruh kita ke sana sore ini."
"Mau ngapain?"
"Gak tau."
"Ogah, ah, males."
"Kamu begitu, ya, sama ibu sendiri. Ya udah aku aja yang ke sana."
"Ya udah-ya udah kita ke rumah Mama."
Nisa tertawa. "Gitu dong. Sen, Aldi sama Ezar udah nungguin kamu dari tadi, pulang gih."
Seno mengangguk. "Aku pengen dikiss dulu sebelum pulang sebenarnya, tapi bahaya kita kiss di sini, nanti kalau mau lanjut gimana? Hehehe."
"Hadeuh. Nanti aja di rumah."
"Bener, ya, aku tagih nanti."
Nisa tertawa lagi. "Iya-iya. Sana pulang, hati-hati di jalan, Sayang."
"Iya, aku pergi ya ...." Nisa mengangguk sambil tersenyum.
Setelah itu Nisa memandang punggung Seno menjauh lalu menghilang di belokkan koridor. Setelah sosok itu pergi, senyum dari bibirnya memudar, dan hatinya kembali hampa. Sepi.
***
__ADS_1