
Di Manchester International Airport, Seno dan Nisa berpisah dengan orang tua masing-masing. Mereka akan kembali ke tanah air, sedangkan Nisa dan Seno akan lanjut terbang ke Swiss.
Bandara internasional yang berada di wilayah Ringway, Manchester, Britania Raya ini dikenal dengan kode IATA MAN dan salah satu bandara ke 4 tersibuk Britania Raya, dan ke 24 di Eropa. Dulu di tempat ini, Nisa dan Seno berpisah untuk bersatu. Belum juga pesawat itu membawa Nisa terbang, tapi dia sudah merindukan Seno.
"Sen," Papanya Seno memanggil.
"Iya, Pa?"
"Sini bentar." Dia menyuruh Seno mendekat dengan satu gerakan tangan.
"Apa?" tanya Seno setelah berada di depannya.
"Kamu jangan lupain pesan yang Papa kirim ke WA," bisik Papa Seno.
Mata Seno mendelik antara kaget dan malu. Dengan kaku dia pun mengangguk. "I_iya, Pa," jawabnya dengan tenggorokan tercekat-cekat.
"Kamu harus berhasil, semangat!" Dia mengepalkan tangan penuh patriotik ke depan Seno.
"InshaAllah, Pa."
Aryan Kusuma tersenyum penuh harapan pada anak bungsunya itu. Seno membalasnya dengan sebuah senyum penuh kekakuan.
Nisa dan Seno di cium satu-satu oleh orang tua mereka sebelum chek in. "Hati-hati kalian ... sampai ketemu lagi ya, love youuuuu," seru Seno dan Nisa kompak.
"Jaga diri kalian," ucap Mamanya Seno.
Mereka melambaikan tangan lalu menghilang dari pandangan setelah masuk ke ruangan khusus penumpang.
***
"Sen, tadi apa yang kamu bicarakan sama Papa sebelum mereka chek in?" tanya Nisa penasaran. Bukan tanpa alasan, soalnya Nisa melihat Papanya Seno sampai bisik-bisik segala. Bikin curiga.
"Rahasia." Seno tergelak.
"Apaan, Mmmm?" Nisa mencubit pinggang Seno.
"Aduuuuh. Ini rahasia lelaki, cewek-cewek gak boleh tau!"
"Apaan, Mas?" Nisa memasang wajah gemesin biar Seno klepek-klepek.
Hati Seno serasa berdesir tiap kali Nisa memanggilnya 'Mas.' Melihat wajah istrinya seperti itu, membuat Seno tidak tahan untuk memencet hidung Nisa. Namun setelahnya dia mengelus pipi istrinya itu dengan sayang.
"Nih, kamu baca sendiri, ya."
Seno menyerahkan ponselnya pada Nisa menunjukan pesan WA yang dikirim Papanya.
Nisa terlohok kaget, ternyata isinya tips dan trik posisi berhubungan agar mendapatkan anak laki-laki.
"Sen, Papamu itu diam-diam menghanyutkan juga, ya. Ya ampuuuun, aku malu tau bacanya."
"Sama aku juga malu. Tapiiii aku mau praktekin, ah. Siapa tau berhasil. Anaknya Papa kan laki-laki semua tuh, haha."
__ADS_1
Wajah Nisa langsung memerah mendengar celoteh Seno. "Ih, dasar!" Nisa memukul pelan lengan suaminya.
"Nis, anak laki-laki di keluarga aku itu penting banget, karena dia akan jadi penerus nama keluarga. Kamu kan tau sendiri anaknya Mas Agam cewek. Jadi mungkin Mama dan Papaku berharap kita memberi mereka cucu laki-laki."
"Kenapa harus laki-laki yang menjadi penerus keluarga?"
"Karena nanti anak-anaknya akan menyandang nama keluarga kita. Kalau cewek mungkin nanti nama anak-anaknya akan menyandang nama suaminya atau keluarga dari suaminya."
"Oh, gitu."
"Iya. Jadi ... ayo kita berusaha buat dapet anak cowok."
"Mau cewek atau cowok, kita serahkan aja sama yang di atas, Sen. Aku cuma berharap anak kita sehat."
Seno mengerjap. Benar juga apa yang dikatakan Nisa. Tidak ada yang lebih utama selain sehat dan sempurna.
Nisa dan Seno menyesap kopinya yang tinggal sedikit sambil memandang keluar lewat jendela raksasa yang menampilkan deratan pesawat yang tengah parkir. Pesawat mereka boarding satu jam lagi. Jadi untuk menunggu, mereka nongkrong dulu di salah satu cafe bandara.
Setelah itu mereka pun terbang ke Swiss menggunakan pesawat Swiss International Air lines. Maskapai penerbangan utama Swiss yang berpusat di bandara International Zurich. Setelah terombang-ambing di udara sekitar 2 jam, Seno dan Nisa pun berhasil landing di bandara Zurich.
Ada perbedaan waktu sekitar satu jam antar dua negara tersebut. Seno dan Nisa terbang dari Manchester pukul 17:40 dan tiba pukul 20:45. Penerbangan cuma memakan waktu dua jam, tapi seperti tiga jam.
Di selasar bandara, Nisa menghirup udara dalam-dalam sambil memejamkan mata. Dia tidak menyangka akhirnya bisa memijakan kaki di negara impiannya ini. Seno yang menyaksikan tingkah istrinya itu cuma bisa tersenyum. Puas bisa membuat orang yang dia cintai merasa senang.
"Yuk, itu mobil travel kita udah dateng," ucap Seno.
Nisa membuka mata lalu mengangguk. Sebelum masuk ke mobil, Seno memasukan koper mereka ke bagasi mobil.
***
Hampir tidak ditemukan polusi di negara ini. Semuanya terlihat sangat cantik dan menakjubkan saat melihat rumah-rumah yang bertengger di ketinggian sana dengan lampu warna-warni menghiasi. Sepanjang perjalanan ke penginapan, Nisa tidak menemukan satu sampah pun yang tergeletak di jalanan. Semuanya bersih dan tertata dengan baik. Pantas saja, negara ini dinobatkan sebagai negara terbersih dan nol polusi di dunia. Mobil-mobil pun suaranya halus banget hampir tidak menghasilkan suara apapun, dan tidak ada asap yang keluar dari knalpotnya. Entah apa bahan bakarnya Nisa tidak tahu, apakah mobil-mobil itu menggunakan tenaga listrik?
Iklim Swiss umumnya beriklim sedang, tapi sangat bervariasi antar daerah, kondisi glasial di puncak gunung mendekati iklim Mediterania yang terkenal dengan dinginnya yang mencekik di ujung selatan Swiss sana. Dan bahasa ibu mereka menggunakan bahasa Jerman, tapi bahasa Inggris tetap menjadi bahasa internasional mereka, jadi Nisa dan Seno tidak terlalu kesulitan untuk berkomunikasi.
Sesampainya di penginapan, Nisa dan Seno tidak disambut oleh petugas sebagaimana biasanya. Penginapan ini mengusung konsep self-service check in, jadi tidak ribet sama receptionist, dan mereka tinggal memasukan kode yang diberikan website di tempat semacam vending machine depan penginapan, kunci kamar pun otomatis keluar dengan sendirinya.
Mungkin penginapan ini mengusung konsep tersebut biar bisa pangkas expense beban buat bayar gaji karyawan, jadi harga kamarnya lebih murah.
Setelah berhasil mendapatkan kunci, Nisa dan Seno pun menuju kamar mereka. Selama di perjalanan menuju kamar, mereka tidak menemukan satu orang pun, tapi mereka tahu kamar-kamar yang tertutup rapat itu ada penghuninya. Karena dari website, penginapan tersebut sudah penuh dan hanya tersisa kamar untuk mereka.
Kenapa Seno memilih penginapan itu? Karena view-nya sangat bagus. Saat membuka jendela, mereka bisa melihat megahnya pegunungan Alpen dan air terjun yang menjuntai dari puncak gunung. Selain itu juga ada sungai-sungai yang kejernihan airnya tidak diragukan lagi. Dan yang terpenting di wilayah itu sepi penduduk.
Seno ingin menepi sejenak dari hiruk-pikuk manusia, dan hanya ingin ada dirinya dan Nisa tanpa pengganggu.
***
Seno merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur yang empuk. "Ah, nyamannya," lirihnya sambil memejamkan mata.
"Sen, kamu mau mandi, gak? Biar aku siapin air hangatnya."
"Nanti dulu Sayang."
__ADS_1
Seno merubah posisi duduk menyamping, menumpu kepala dengan satu tangan.
"Nis, sini, deh." Seno menepuk kasur.
"Kamu mau apa? Aku capek nih pengen mandi." Nisa mulai curiga.
"Enggak ngapa-ngapain. Ih, kamu mah negatif mulu pikirannya. Ayo sini, dong!"
Nisa mendekat lalu duduk di bibir tempat tidur.
"Rebahan sini." Seno kembali menepuk-nepuk kasur. Nisa menurut. Setelah itu, Seno terdiam, hanya memandang Nisa di sampingnya dengan tatapan penuh cinta.
Suasana itu berlangsung sepuluh menit penuh tanpa ada yang bergeser sedikit pun. Dan Nisa pun sangat suka ditatap seperti itu.
"Kurang lebih dua belas tahun kita sama-sama terus, Nis. Dan ... setelah ijab qobul yang aku ucapkan sebulan lalu, kita harus sama-sama lagi seumur hidup. Kita tidak boleh terpisahkan kecuali oleh maut."
Nisa mengangguk.
"Aku sayang sama kamu." Suara Seno nyaris berbisik.
"Aku juga," balas Nisa. Seno mendaratkan bibirnya di kening istrinya.
"Udah jam sepuluh malam, nih. Aku mau mandi dulu ya, udah lengket banget badanku," ucap Nisa sambil beranjak dari tempat tidur, tapi tangannya segera ditarik Seno hingga dia kembali terduduk di kasur.
"Kita mandi sama-sama," kata Seno.
"Mau?" tanya Nisa sambil mesem-mesem.
"Mau."
"Yuk."
"Mau digendong ke kamar mandi?" Seno mengedipkan mata.
"Gak usah," ucap Nisa dengan wajah sudah mirip udang rebus.
"Mau aja dong," goda Seno.
"Aku berat tauk!"
"Aku kuat, kok. Mau coba?"
Seno berdiri. Tanpa ancang-ancang dia sudah mengangkat istrinya itu ke gendongannya. Nisa memekik antara malu dan takut jatuh.
"Senooo turunin gueeeee!"
"Gak mauuuuu!"
Seno membawa Nisa ke kamar mandi dan menutup rapat-rapat pintu itu.
***
__ADS_1