Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Chapter 43


__ADS_3

Aldi melihat Bosnya keluar kantor dengan prihatin. Demi kestabilan perusahaan, dia rela melakukan hal berbahaya seperti ini. Kenapa dia bilang berbahaya? Karena kasus perceraian tertinggi di dunia adalah gara-gara orang ketiga. Diam-diam Aldi berdoa dalam hati, semoga semuanya akan baik-baik saja.


"Bos udah nemuin Bu Martha, Bang?" Tiba-tiba Nindi bertanya di sampingnya.


"Iya. Gue cemas rasanya. Lo enggak tau gimana nyosornya Bu Martha sama Bos."


"Aduh, bisa gawat kalau ketauan Mbak Nisa."


"Nah, itu dia." Aldi menatap Nindi sudah menenteng tas. "Lo mau pulang?" tanya Aldi.


"Iya. Capek banget hari ini kepengen cepet-cepet nyampe rumah lalu tidur. Ngomongin konsep buat Vreeset udah bikin mual rasanya. Si Sasha aja sampe muntah-muntah tadi siang. Belum lagi si Ezar yang maunya serba cepet. Kampret emang tuh bocah."


Mendengar nama Sasha disebut, mendadak hati Aldi berdesir di dalam sana. Copy writer baru yang ditaksirnya itu bernama Natasha atau yang akrab disapa Sasha.


Di dalam raga ada hati, dan di dalam hati ada satu ruang tak bernama. Ruang itu senyap, bahkan alam pun tak mampu mengusiknya. Berbahasa yang hanya dipahami oleh nurani, tak ada kata yang mampu menjabarkan rasanya. Terlalu sulit dan kompleks.


Namun, ketika ruang itu terbuka dan seseorang mampu memasukinya, di sana akan lebih berisik dari ingar-bingar dunia. Tahunan Aldi menutupnya rapat-rapat setelah Hana pergi, tapi kemarin ruang itu kembali terbuka. Sasha-lah yang berhasil menggenggam kunci pintunya lalu membukanya. Hana dan Sasha adalah satu kesatuan yang telah Tuhan kirim untuknya. Mereka terlihat sama. Dari gestur tubuh, wajah, penampilan, tetapi entah dengan hatinya.


Sejauh yang dia lihat beberapa hari ini, tampaknya memang hatinya juga sama. Dia sempat berspekulasi, apakah Hana telah berreinkarnasi? Kenapa dia berreinkarnasi secepat itu? Bukankah harus menunggu ribuan tahun?


"Woi, Bang! Ya elah, dia bengong. Gue pulang dulu ya, Bang." Aldi mengerjap. "Oh, iya, Nin. Eh, si Sasha udah pulang juga?"


"Udah. Kenapa emangnya?" Nindi memicingkan matanya rada curiga, karena dari kemarin-kemarin pria di sampingnya ini terus bertanya-tanya soal Sasha. Dari mulai tempat tinggal, hobi, makanan, hingga statusnya.


"Enggak apa-apa nanya aja."


"Bang, jujur deh sama gue, Abang naksir Sasha, ya?"


Aldi terrenyak. Wajahnya yang putih langsung memancarkan semburat merah. "Kagak! ngarang, lo!" elak Aldi.

__ADS_1


Nindi melipatkan tangan di dada sambil memandang seniornya geli. Kelihatan banget kalau dia sedang gugup. Empiris. Nindi terlalu ahli untuk membaca semuanya. Dia tidak perlu jawaban, karena dia sudah mendapatkannya.


Menurutnya cowok-cowok di kantornya payah dalam hal asmara, termasuk Bosnya. Cerita tentang Bos dan istrinya, sudah jadi rahasia umum di kantor. Nindi sampai bergidik ketika tahu bahwa Bosnya itu memendam cinta selama sebelas tahun terhadap istrinya. Dia tidak bisa membayangkan Bosnya masih bisa hidup, padahal selama itu dia terjebak friendzone dan diam.


Dan sekarang dia melihat Aldi. Apakah seniornya itu akan mengikuti jejak Bosnya?


***


Seno memarkirkan mobilnya di salah satu restoran bintang lima di bilangan Jakarta Selatan. Sebelum keluar, dia melepas dasinya dan menggulung lengan kemejanya sampai ke siku. Situasi seperti ini begitu menjemukan. Sejenak dia memejamkan matanya. Hatinya mendadak rindu pada Nisa dan ingin cepat-cepat pulang, tapi sekarang dia harus menahannya dulu.


Seno menghela napas berat, membuka pintu mobil, lalu berjalan tegap ke dalam restoran. Seorang pelayan bertuksedo menyambutnya di depan pintu. Seno tersenyum ramah pada penjaga pintu itu, kemudian pandangannya berkeliling mencari sosok klien rewelnya itu.


Tak berapa lama, pupil matanya menangkap seorang wanita berrumur empat puluh tahunan memakai blazer abu-abu yang modern, tengah duduk di salah satu meja sambil memainkan ponsel. Itu dia Bu Martha. Seno bergegas menghampirinya.


"Halo, selamat malam." Seno berusaha bersikap ramah.


"Akhirnya kamu datang juga. Silahkan duduk." Martha mempersilahkan dengan satu gerakan tangan. Seno mengangguk lalu duduk. Tak lama ada seorang pelayan menghampiri meja mereka menyodorkan buku menu. Setelah mencatat pesanan mereka pelayan itu kembali ke belakang.


"Akhirnya, aku bisa dinner sama kamu juga, seneng banget rasanya."


Seno berdeham sambil merundukkan kepala, dia risih banget ditatap seperti itu. Tatapan yang sangat mendamba, dan nakal. Seno tidak suka type wanita seperti itu. Kesannya seperti murahan.


"Sebenarnya dinner kali ini untuk merayakan keberhasilan proyek kita. Dengan iklan itu, penjualan produk kita berhasil naik 10%, ini luar biasa menurutku."


Seno mendongak. "Syukurlah, saya ikut senang, Bu."


"Kok ibu? Aku kan udah bilang, panggil aku Tata." Martha memberengut sebal.


"Oh, iya, maaf saya lupa. Ta_ta," ucap Seno kaku.

__ADS_1


"Nah, gitu, dong. Kan kedengaran akrab jadinya. Hm, oh iya, istri kamu tau gak sekarang kamu makan malam sama aku?"


"Hah? I_ya dia tau, saya sedang makan malam sama klien."


"Malam ini aku statusnya bukan klien kamu, ya, tapi teman. Bolehkan aku jadi teman kamu?" Martha meraih tangan Seno di atas meja.


Seno meringis. Perlahan dia menarik tangannya. 'Aduh kagak bener nih urusannya. Nih cewek kayaknya ngebet banget sama gue. Gimana, nih? Kayaknya secepatnya gue harus kasih dia pengertian biar enggak kebablasan.'


"Maaf, Tata, tapi sepertinya saya lebih nyaman kalau hubungan kita sebatas rekan bisnis saja. Anda klien saya."


Air muka Martha langsung berubah tidak senang. Tapi entah kenapa, dia merasa semakin tertantang untuk bisa mendapatkan laki-laki di depannya itu. Seno adalah type-nya. Pikiran Martha liar tak terkendali setiap melihat tubuh tegap Seno.


"Oke, aku mengerti. Kalau aku enggak bisa jadi temanmu, bisakah aku jadi simpananmu?" Martha kembali meraih tangan Seno di atas meja dan mengusap-usapnya pelan.


"Apa?" Mata Seno langsung melotot dan menarik tangannya.


'Ah, dia benar-benar sudah gila!' Seno bangkit berdiri, dia sudah tidak tahan dengan situasi itu. Kehilangan satu klien kelas kakap mungkin akan lebih baik jika ujung-ujungnya seperti ini.


"Kamu mau kemana?" Martha menarik tangan Seno. "Tadi aku cuma bercanda. Sorry, kamu duduk lagi dong."


Bercanda atau bukan, yang pasti Seno sangat tidak suka dengan cewek agresif seperti Martha. Dulu dia memang sering bergonta-ganti pacar, tapi tidak sekali pun dia menemukan perempuan model begini. Menakutkan banget.


Seno menghempaskan tangan Martha. "Maaf, sebaiknya saya pulang saja, bercanda Anda sudah kelewatan." Tungkai panjang Seno melangkah meninggalkan meja.


"Senopatiiiii," teriak Martha dengan kesal.


Seno tidak peduli Martha berteriak memanggilnya. Dan dia tidak menyadari kalau dari awal ada yang memerhatikan diam-diam dan mengabadikannya lewat ponsel.


***

__ADS_1


__ADS_2