
W--wanita siapa?" tanya Seno bingung.
"Cewek yang di kafe itu, aku liat kamu cipika-cipiki sama dia mesra banget kayaknya. Ayo bilang siapa?"
Mendengar itu, Seno malah semringah lalu kembali memeluk Nisa dengan erat. "Ahamdulillah terima kasih ya Allah, kamu udah inget semuanya, Nis."
"Apaan sih kamu, ayo jawab dulu!" Nisa mendorong Seno pelan.
"Cewek yang kemarin di kafe itu temen aku waktu SMA, namanya Susan. Dia tinggal di bali sama suaminya yang orang Belgia, dia udah punya anak dua. Aku nungguin kamu mau aku kenalin, eh kamu enggak dateng-dageng, enggak taunya kabur." Seno tidak harus mengatakan bahwa Susan adalah mantan pacarnya waktu SMA.
"Bener temen?"
Seno mengangguk tersenyum, mengusap-usap pipi Nisa berharap manyun di bibirnya hilang. "Nis, aku senang kamu cemburu kayak gini, itu artinya kamu cinta banget sama aku. Tapi kalau cemburu kamu bikin kamu celaka kayak gini, aku enggak suka."
Seno meraih kedua tangan Nisa. "Kamu enggak perlu kayak gini, Sayang. Aku udah bilang beberapa kali sama kamu. Hati aku udah dimilikin sama kamu seutuhnya. Total! Dan enggak akan berubah selamanya. Jadi, kamu enggak perlu cemburu tanpa alasan lagi, plisss, kasihani aku. Kemarin aku liat kamu celaka kayak gitu, rasanya kayak mau mati tau gak? Seharusnya hari ini kita kan shooping sama beli lukisan dari galeri Rei, kan? Tapi malah di rumah sakit kayak gini."
Nisa bergeming.
"Nis, beneran kamu udah inget semuanya, kan? Sekarang kamu inget aku suami kamu, kan? Kemarin kita abis ngapain aja coba?"
Nisa masih bergeming, dia memikirkan perkataan Seno yang seolah menyentil hatinya. Cemburu tanpa alasan? Benarkah itu? Dia juga tidak mengerti, hal itu terjadi begitu saja di otak dan hatinya. Terlalu takut. Atau mungkin terlalu cinta, dia enggak tau.
Nisa mengerjap, melepaskan tangannya dari genggaman Seno, lalu menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang, dan berbaring memunggungi Seno.
"Sen, aku mau sendirian dulu. Tolong tinggalin aku."
"Apa?"
"Pliiis," ucap Nisa tanpa melihat Seno.
Seno bergeming sesaat, lalu mengangguk. "Baiklah, kalau kamu pengen sendirian. Aku nunggu di depan, kalau kamu butuh apa-apa panggil aja. Aku enggak akan pergi jauh darimu." Seno berbalik lalu keluar.
Sepeninggal Seno, Nisa tercenung sendiri. Berpikir. Mencoba berintrospeksi. Kejadian ini kembali terulang, karena cemburu dia hampir kehilangan nyawa dua kali. Dulu Viko dengan Gita, sekarang Seno dengan Susan. Sungguh, Nisa tidak mau seperti ini lagi. Dia ingin bisa mengendalikan dirinya sendiri, dia ingin berubah jadi cewek yang enggak cemburuan. Namun, apa mungkin bisa?
'Maafin aku, Sen, gara-gara aku, kamu jadi sedih dan khawatir. Dan liburan kali ini berantakan.'
***
Lima hari kemudian Nisa sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter, dan kontrolnya bisa dilakukan di rumah sakit Jakarta. Mereka bersyukur jadi tak harus jauh-jauh ke Bali buat kontrol. Nisa, Seno dan orang tua Nisa pun pulang, sedangkan orang tua Seno sudah pulang duluan kemarin.
Sesampainya di Jakarta, beberapa bawahan Nisa dari kantor datang menjenguk. Seno berharap Harir tidak datang. Namun, harapannya ternyata meleset, Harir datang membawa sekeranjang buah-buahan. Bawahan Nisa pulang, Harir datang.
Kehadiran lelaki perlente itu membuat suasana canggung dan tidak enak. Perhatian Seno tak sedikit pun lepas, dia berjaga-jaga barang kali laki-laki itu mulai macam-macam. Bahkan saat dia membuat teh untuk Harir pun, telinganya siap sedia untuk bisa mendengar apa saja yang mereka obrolkan. Seno kembali dengan satu cangkir teh di tangannya lalu meletakkannya di meja.
"Sekarang apa yang sakit?" tanya Harir.
"E--enggak ada, Pak, tapi masih suka pusing kalau kecapean dikit," jawab Nisa agak canggung.
"Syukur kalau begitu. Semoga kamu cepet pulih sepenuhnya, ya, kantor keteteran banget enggak ada kamu."
Nisa menanggapinya dengan senyum masam. Seno berdeham. "Nisa harus istirahat sekitar dua harian lagi, Pak, dia enggak bisa masuk kantor dulu," ujar Seno.
"Iya, Pak Seno, saya ngerti. Nisa harus pulih sepenuhnya dulu, baru masuk kantor."
__ADS_1
Hening. Suasana semakin canggung. "Diminum tehnya, Pak," ucap Nisa mencairkan suasana. Harir mengangguk, meraih cangkir tehnya, lalu meminumnya.
"Gimana kabar Ester, Pak?"
"Ester? Ester baik. Dia semakin pintar," kata Harir sambil meletakkan cangkir ke tatakan.
"Siapa Ester?" tanya Seno.
"Dia putri saya," kata Harir seraya melukis senyum.
"Oh."
"Kapan-kapan kalian main ke rumah, kenalan sama Ester."
"Iya, Pak, inshaAllah," jawab Nisa.
Harir mengangkat tangan melihat jam. Sudah pukul tujuh, dia harus pulang takut mengganggu istirahat Nisa. "Sudah malam, saya permisi dulu kalau gitu," ucapnya sambil bangkit berdiri, di susul Nisa dan Seno.
"Terima kasih sudah menjenguk istri saya, Pak. Bapak sampai repot-repot bawa buah segala."
Harir tersenyum. "Tidak apa-apa. Sedikit saja, kok. Ya sudah kalau gitu saya pergi dulu." Harir melangkah menuju pintu diantar Nisa dan Seno.
"Hati-hati di jalan, Pak, terima kasih," ucap Nisa. Harir mengangguk, lalu pergi. Selepas Harir pergi, barulah Seno bisa menghela napas lega.
"Kamu istirahat, gih, Sayang," ucap Seno sambil berjalan ke ruang tengah.
Nisa menggeleng. "Nanti aja." Mereka duduk di sofa ruang tengah.
"Aku mau ngerjain kerjaan yang dikirim Aldi." Seno membuka laptop di atas meja, tapi Nisa menutupnya kembali lalu memeluk Seno dengan manja.
Seno tersenyum sambil mengusap-usap bahu Nisa. "Kenapa? Kamu kangen ya sama aku."
"Kangen? Aneh-aneh aja kamu." Nisa melepas pelukannya.
"Iya, kan kamu udah hidup di masa lalu walau cuma beberapa jam. Hehe. Gimana rasanya kembali ke masa lalu?"
Nisa terkekeh. "Rasanya aneh. Aku geli banget tiba-tiba jadi istri kamu. Padahal di otakku, kemarin kita baru makan mie ayamnya Mang Soleh dalam rangka kamu dapet klien pertama."
"Hah? Mencloknya jauh banget. Tahun berapa itu?"
"Mmm, 2013 gitu?"
"Iya kayaknya."
Seno bergeser ke ujung sofa lalu menepuk kedua pahanya. "Sini tiduran," katanya.
Nisa semringah, berbaring meletakkan kepalanya di pangkuan Seno. "Angkat kaki kamu, sayang." Nisa mengangkat kedua kakinya ke sofa.
"Nis, kamu bilang pengen potong rambut sedikit, tapi sekarang malah jadi pendek gini gara-gara operasi."
"Iya. Aku sedih tau, untung enggak dibotakin juga. Dulu waktu operasi pertama malah dibotakkin, loh."
"Masa? Wah, kayak gimana ya kamu botak?"
__ADS_1
Nisa memukul lengan Seno. "Jangan dibayangin!"
Seno terkikik. "Pasti masih cantik, deh."
"Huh, gombal aja kamu."
Seno mengusap-usap kepala Nisa. "Please, jangan terluka lagi, Nis. Aku takut banget."
Nisa merubah posisi terlentang dengan kaki ditekuk karena sofa tak cukup panjang menampung kakinya. "Maafin aku, Sen. Gara-gara cemburu, liburan kita jadi berantakkan."
"Enggak apa-apa kapan-kapan kita liburan ke sana lagi. Dan mudah-mudahan nanti kita enggak berdua aja, tapi bertiga."
"Bertiga?"
Seno mengangguk. "Iya. Sama Senopati junior, hehehe." Nisa tersenyum lalu mengangguk.
Hening. Seno masih mengusap-usap kepala Nisa. Namun, tak lama kemudian dia menundukkan kepala mencium kening Nisa. Tak puas cuma mencium kening, Seno mendaratkan bibirnya ke bibir Nisa dengan lembut dan penuh kerinduan.
Nisa merasakan Seno begitu merindukannya, merindukan bermesraan dengannya, lantas dia merangkulkan tangannya ke belakang leher Seno, dan ciuman panas pun terjadi, sampai-sampai Nisa kesulitan mengambil napas.
Nisa melepas ciumannya karena tangan Seno tiba-tiba nakal merayap meraih gundukan di dadanya. Seno menghentikan aksinya memandang Nisa sedikit bingung. Nisa tersenyum melihat ekspresi Seno, lalu kembali mencium suaminya itu.
Ciuman berlangsung sampai beberapa menit, kemudian Seno mengangkat tubuh Nisa menuju kamar. Ciuman mereka tidak lepas. Seno tidak menabrak benda di depannya walau berjalan sambil berciuman karena sudah hafal betul letak barang-barang tersebut.
Ciuman berhenti sejenak saat Nisa membuka pintu kamar. Setelah pintu kembali tertutup, ciuman kembali dilanjutkan dan sekarang semakin menggila karena Seno sudah merebahkan Nisa di atas kasur.
"Aku rindu sama kamu," ucap Seno seraya mengelus pipi Nisa dengan lembut.
"Puasin rindu kamu kamu, Sen," lirih Nisa.
Mendengar itu libido Seno membludak di otak hingga mencapai batas tertinggi. Tak membuang kesempatan, dia melucuti pakaian Nisa satu-satu sambil sesekali mencium sesuatu yang ingin dia cium.
Nisa tak berdaya. Dia tak memedulikan kepalanya masih sedikit berdenyut, karena serangan-serangan Seno membuatnya melupakan rasa sakit itu.
"Kamu suka?" tanya Seno.
"Suka."
Seno melanjutkan aksinya setelah mendapat jawaban itu. Dia menutup bibir Nisa dengan bibirnya ketika istrinya itu mengerang. Satu jam mereka bermain-main, setelah itu Seno menutup permainan dengan memeluk Nisa erat.
Seno mencium kepala Nisa. "Pliiis kamu jangan cemburu tanpa alasan lagi," katanya dengan mata sedikit berair. "Aku takut kamu terluka lagi."
Nisa mengangguk dalam pelukan Seno. "Enggak. Enggak janji."
"Hah?"
Nisa terkekeh. "Becanda... inshaAllah enggak, Sayang."
"Bener, ya."
"Iya."
Perlahan keduanya pun tertidur kelelahan, dan belum sempat mengenakan pakaiannya masing-masing. Serta Seno melupakan pekerjaan dari Aldi yang harus segera dikerjakan saat itu juga.
__ADS_1
***