Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Chapter 15


__ADS_3

Sebulan sejak kepergian Seno, Nisa berubah jadi pemurung. Ia bicara hanya seperlunya bahkan dengan Viko. Orang-orang kantor yang menangkap perubahan Nisa yang kentara itu pun mulai bergosip di dapur.


"Kayaknya Bos lagi ada masalah, ya? Akhir-akhir ini dia sensi mulu," sahut Mala.


"Bener. Kemarin waktu gue kerja luar sama dia rasanya kaku banget, kek jalan ama patung. Kira-kira kenapa, ya? Ada yang tahu, gak?" Deni menimpali.


"Len, elo kan yang sering sama Bos, lo tau, gak?" tanya Mala


Lena mengangkat bahu. "Gue juga gak tahu. Bos gak pernah ngomongin masalah pribadi."


"Itu karena Bos kalian perawan tua! Cewek yang memasuki usia 30 dan belum kawin biasanya begitu. Sensi. Gampang tersinggung, marah-marah gak jelas, kadang-kadang gampang mewek. Itu yang gue tau, makanya suruh Bos kalian kawin, jangan taunya kerja mulu." Nadya musuh bebuyutan Nisa tiba-tiba datang dan langsung menyambar obrolan bawahan Nisa.


Mala, Deni, dan Lena cuma tersenyum kaku pada Nadya lalu cepat-cepat pergi dari dapur.


"Heh! Bilangin sama Bos kalian, kawin sono sama berondong ...! Percuma muka cantik, tapi gak laku-laku, lakunya sama berondong doang." Nadya berteriak.


"Gila, omongan Bu Nadya keterlaluan banget! Sadis. Gue salut sama Bos, dihina kayak apa juga dia sabar," sahut Mala setelah mereka di ruangan.


"Iya. Mereka kapan akurnya, sih? Gak cape apa ya musuhan terus? Gue yang lihatnya aja cape," kata Deni.


"Lena, ke ruanganku sebentar!" Tiba-tiba Nisa menyumbulkan kepala dari ruangannya. Mala, Deni, dan Lena menoleh kaget bersamaan.


"Heh, obrolan kita didengar Bos gak, ya?" cetus Mala khawatir. Deni dan Lena mengangkat bahu.


"Ada apa, ya? Gue ke sana bentar." Lena merapihkan kemejanya sebelum berjalan ke ruangan Nisa.


"Duduk, Len," sahut Nisa setelah Lena di hadapannya.


"Ada apa, Bos?"


"Len, hari ini aku mau pulang cepet ada urusan. Tadi pagi pimpinan minta laporan rugi laba years to date sama laporan rugi laba anggaran realisasi, kamu kroscek lagi ya, takutnya belum ada yang ke input. Terus kalau pimpinan nanyain soal biaya iklan buat di TV, jawab aja belum tau. Soal itu nanti biar aku yang bilang, takutnya kamu salah ngomong."


"Siap, Bos. Kalau boleh tau, Bos ada urusan apa? Penting banget, ya?" Lena bertanya dengan hati-hati. Lena ingin mengorek sedikit saja urusan pribadi bosnya.


"Aku mau ke rumah sakit," kata Nisa.


Wajah Lena menegang. "Siapa yang sakit, Bos?" Nisa terdiam sejenak, rasanya ia tidak perlu memberitahu Lena siapa yang sakit.


"Oh iya, nanti kalau kerja luar tolong minta data reture sama Mas Bayu ya," sahut Nisa tanpa memedulikan pertanyaan Lena. Gadis berponi itu mendengus, ia sudah menduga bosnya tidak akan menjawab. Cewek satu ini emang sangat tertutup kalau urusan pribadi. Lena membatin.


"Iya, Bos."


🌸🌸🌸


Nisa berjalan cepat di lorong rumah sakit. Semalam ia dapat kabar dari ibunya Viko kalau Viko drop dan dokter menyarankan untuk rawat inap. Seminggu terakhir ini kesehatan Viko memang kembali menurun. Nisa tidak akan pernah melupakan bagaimana saat penyakit Viko itu sedang menyerang tiba-tiba.


Malam itu Viko mengajak Nisa untuk makan malam di sebuah restoran, lalu entah mengapa tiba-tiba wajah Viko pucat dan sedikit membiru. Ia terlihat kesakitan sambil memegang dadanya. Nisa hawatir bukan kepalang. Dengan terbata-bata dan kesusahan Viko berucap, "Tolong ambilkan obat di mobil." Dengan bingung dan takut Nisa minta tolong ke beberapa pelayan mengangkat Viko dan merebahkannya di sofa. Setelah itu Nisa lari sekencang-kencangnya ke luar menuju mobil mencari obat, tidak peduli bahwa saat itu ia memakai sepatu hak tinggi.


Saat obat sudah di tangan, Nisa kembali ke dalam, dan terlihat Viko sedang dikerumuni beberapa pelayan dan pengunjung, mereka semua terlihat cemas. Nisa meminta air putih untuk Viko minum obat. Seorang pelayan dengan sigap membawakan segelas air putih. Saat itu wajah Viko sudah membiru, dengan hati-hati Nisa mengangkat punggung Viko untuk duduk dan memberikannya obat. Perlahan Viko membuka mulutnya lalu menelan obat itu. Butuh waktu setengah jam untuk melihat reaksi obat itu. Perlahan Viko pun terlihat segar kembali.


Setelah melihat kejadian itu, Nisa berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan Viko, walaupun dalam sebulan ini ia baru menyadari bahwa sebenarnya__hatinya terpaut pada orang lain.

__ADS_1


Nisa menenteng dua kantong kresek berisi buah dan beberapa kudapan. Sebelum ke rumah sakit, ia mampir dulu ke supermarket untuk berbelanja.


Sebelum membuka pintu tempat Viko dirawat, Nisa menarik napas dalam-dalam lalu ia hembuskan perlahan untuk menguatkan dirinya sendiri.


"Assalamualaikum ...," Nisa membuka pintu.


Ibunya Viko menoleh. Viko terlihat sedang terlelap dengan jarum infus menancap di punggung tangannya.


"Walaikum salam. Nisa ... syukur kamu sudah datang," kata Mia__ibunya Viko.


Nisa menyalami Mia dengan sopan. "Iya tante, tadi aku mampir ke supermarket dulu. Tante udah makan siang?" Nisa meletakan belanjaannya di meja dekat jendela. Lalu duduk di sofa di samping Mia.


"Sudah."


"Oh, aku beli buah dan cemilan, nanti di makan ya ... menunggu orang yang sakit itu melelahkan, kita tidak boleh mengabaikan perut, nanti kita ikut sakit."


"Iya, terima kasih ya Sayang ...," kata Mia. Nisa tersenyum senang.


"Viko baru aja tidur setelah diberi obat yang disuntik ke infusan." Mia menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya. "Sekarang Viko harus lebih banyak beristirahat, jadi untuk sementara dia harus berhenti dulu dari semua kegiatannya."


"Tidak apa tante, yang terpenting sekarang Viko sehat dulu."


Mia mengangguk.


"Nisa, bagaimana kalau Viko tidak bisa bertahan dengan jantungnya? Kita harus segera mendapat donor jantung. Yang kita tahu mendapatkan donor jantung adalah hal yang sangat sulit. Dokter Vanesh sudah mencatat Viko diurutan pertama untuk segera mendapatkan donor jantung. Sekarang tante cuma bisa pasrah dan berdoa, semoga Viko bisa bertahan sampai jantung baru sudah tersedia."


Nisa meraih tangan Mia lalu meremasnya pelan untuk menguatkan. "Viko pasti bertahan tante."


Suasana hening beberapa saat. Sampai akhirnya Nisa mengajukan pertanyaan yang sangat ingin ia ketahui. Sudah berulang kali pertanyaan itu ia ajukan pada Viko tapi laki-laki itu tidak pernah menjawab.


"Entahlah, tante juga tidak tahu pasti sejak kapan Viko sakit jantung. Tapi kata dokter penyebabnya adalah karena Viko selalu mengkonsumsi obat antidepresan, bertahun-tahun Viko mengkonsumsi obat itu sampai akhirnya ia memiliki masalah kardiovaskuler yang menyebabkan melemahnya kinerja jantung dari waktu ke waktu. Penyakit ini adalah efek samping dari obat antidepresan itu, Nis."


Perkataan Mia masuk dengan jelas ke telinga hingga ke otak Nisa. Mendengar itu, kepala Nisa seperti dihantam palu godam berton-ton. Viko sakit karena obat antidepresan? Itu artinya sakitnya Viko secara tidak langsung karena kejadian sebelas tahun lalu!


'God ... kenapa masalah ini sangat beruntun dan berat?' Nisa terdiam beberapa saat. Entah ia harus berkata apa saat itu.


Nisa melihat Viko yang terbaring di kasur pasien. 'Maafin aku Viko, semua ini salahku.' Dada Nisa sesak ketika ia menatap wajah Viko yang terlihat tenang dalam tidurnya. Tiba-tiba kelenjar air mata mulai bekerja, sebulir air bening pun memaksa keluar dari sudut mata Nisa.


"Tante, pasti Viko sangat kesakitan." Nisa berucap sambil terisak.


Mia mengangguk. "Berat badan Viko juga sedikit demi sedikit menurun. Tadi pagi saja dia minta dibelikan celana dalam. Katanya, 'Ma, celana dalam aku, kok, kedodoran semua?' Viko minta tolong dibelikan celana dalam yang lebih kecil. Tante sedih banget. Nisa, terima kasih kamu sudah mencintai dan menerima Viko apa adanya. Tante bersyukur banget kamu ada di sampingnya," tutur wanita berkerudung itu dengan mata berkaca-kaca.


Nisa mengerjap. Mencintai? Sekarang ia tidak yakin dengan itu. Walaupun begitu, ia tidak akan pernah meninggalkan Viko. Perlahan Nisa mengangguk seraya meluncurkan senyum pada Mia.


🌸🌸🌸


Nisa berjalan gontai menuju pintu apartemennya. Hari ini perasaannya sangat kacau setelah mengetahui bahwa Viko sakit karena ada hubungannya dengan kejadian sebelas tahun yang lalu. Ia tidak mengira kalau dampak dari kejadian itu akan sefatal ini.


'Danisa, sekarang apa yang akan lo lakuin?'


Nisa memencet kode pintu, saat pintu sudah terbuka dengan otomatis, ia menoleh ke pintu apartemen Seno. 'Sen, gue harus gimana sekarang? Lo lagi ngapain di sana? Bolehkah gue bilang kalau sekarang gue rindu?'

__ADS_1


Nisa menarik napas dalam-dalam untuk menahan rasa rindu, walau ia tahu itu akan sia-sia saja. Rasa rindunya pada Seno akan tetap mengakar di hati. Entah sampai kapan, Nisa tidak tahu.


'Gue menyadari perasaan ini, setelah elo pergi, Sen. Tanpa sadar perasaan ini tumbuh di dalam persahabatan kita. Benar, dulu gue terpikat sama Yuda, dan benar gue masih memendam perasaan sama Viko. Tapi ... dibalik semua itu, gue gak bisa hidup tanpa lo. Gue terlalu nyaman sama lo. Gue lega banget saat tahu elo jomblo, dan gue gak mau elo jauh dari gue karena gue terlalu sayang sama lo. Ndut ... Sekarang gue harus gimana?' Kelenjar air mata Nisa kembali bekerja dan membuat bendungan kecil di sana.


Nisa melangkah ke depan apartemen Seno, duduk bersandar di depan pintu. Ia menangis sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Beberapa menit dia menumpahkan tangisnya di sana, sampai mendengar pintu lift berdenting pertanda akan ada orang masuk ke sana. Dengan cepat Nisa menghentikan tangisnya dan mengusap air matanya.


"Teh Nisa, ngapain jongkok di situ?" Nisa mendongak mendengar suara yang sangat dikenalnya.


('Teh/Teteh': sebutan 'Kak/Kakak' dalam bahasa sunda)


"Angga ... tumben ke sini?" Angga adalah adik bungsu Nisa yang seumuran dengan Yuda. Nisa bangkit lalu menghampiri Angga yang sudah berada di depan pintu apartemennya.


"Teteh abis nangis, ya?"


"Enggak! So tau kamu. Ayo masuk!" Nisa mengabaikan pertanyaan Angga, ia malu karena tertangkap basah tengah menangis.


Setelah di dalam, Nisa melihat di tangan Angga ada sebuah bungkusan. "Apaan tuh, Ngga?" Nisa berucap sambil merebahkan tubuhnya ke sofa.


"Bubur ayam. Teteh mau?"


"Lagi gak nafsu makan." Nisa menjawab dengan malas.


"Ya udah, emang Teteh kenapa, sih? Pake mewek segala di depan pintu apartemen Bang Seno. Malu-maluin! Oh iya, Bang Seno ada gak? Udah lama banget gak ketemu."


"Gak ada," jawab Nisa malas.


"Gak ada? Kemana?"


"UK," jawab Nisa singkat. Angga mendelik. "Maksudnya ke UK Inggris, gitu?"


"United Kingdom, yang mana lagi emang? Ya iya lah, Inggris."


"Bukan gitu, UK kan negaranya banyak, ada Wales, Scotlandia, Irlandia. Ngomong-ngomong ngapain dia ke sana? Liburan?"


"Bukan. Dia kuliah di Manchester."


"Wah, serius? Hebat." Angga berdecak kagum.


"Kamu belum ngejawab, kamu ngapain ke Jakarta? Bukannya diem di Sukabumi bantuin Ayah sama Ibu."


"Aku mau ikutan audisi nyanyi. Lagian karyawan Ayah sama Ibukan udah banyak. Udah dibolehin kok sama mereka, asal aku tinggal sama Teteh, gitu katanya."


Nisa melirik adik bungsunya itu dengan prihatin. Tanpa sadar ia membandingkan Angga dengan Yuda. Mereka seumuran, tapi Yuda jauh lebih dewasa dari Angga. Masa depan Yuda sudah terlihat, dia salah satu calon orang sukses di usia muda. Sedangkan Angga belum jelas juntrungannya. Adiknya itu senang nyanyi-nyanyi sambil main gitar. Disuruh kuliah enggak mau sampai ngamuk-ngamuk malah ikut ngeband sama teman-temannya yang enggak jelas. Tapi enggak dipungkiri suara bocah itu memang bagus.


"Ya udah, asal jangan macem-macem ya selama tinggal di sini, kalau macem-macem aku enggak segan-segan buat nendang kamu kembali ke Sukabumi. Ngerti!"


"Siap Bos ... kita tunggu aja, penyanyi terkenal bernama Anggara sebentar lagi akan lahir dari Sukabumi."


"Hhmm, ya udah aku mau tidur dulu, kamu tidur di kamar depan, ya. Oh iya, ngomong-ngomong kamu ke sini gak bawa baju?"


Nisa melihat Angga cuma bawa satu tas kecil yang melilit di bahunya.

__ADS_1


"Besok baru nyampe, aku udah paketin kemarin. Berabe kali harus bawa koper di kereta."


🌸🌸🌸


__ADS_2