Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Part 47


__ADS_3

"Sen, bilang sama aku apa yang sudah terjadi?" Nisa memandang Seno dengan khawatir. Keringat dingin yang merembes di dahi suaminya Nisa lap dengan tangannya.


Napas Seno masih agak tersengal. Nisa tahu, pasti cewek psikopat itu sudah berbuat hal yang tak senonoh selain melakukan kekerasan fisik. Seno menggeleng pelan lantas memandang Nisa dengan tatapan sendu. "Nis, aku ... takut," lirih Seno. Nisa terrenyak. Rupanya benar, semua ini telah menyisakan trauma berat untuk suaminya. Perlukah dia meminta bantuan Psikolog?


"Apa yang udah dia lakuin sama kamu, Sen? Bilang sama aku."


Lagi-lagi Seno menggeleng pelan. Saat ditanya seperti itu, dia terlihat semakin ketakutan. Nisa meremas jemari Seno lantas memeluknya. "Ya udah, kamu enggak usah cerita, gak apa-apa. Sekarang kamu istirahat ya, sebentar lagi dokter memeriksa kamu."


Seno mengangguk lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang. Di benaknya masih terbayang bagaimana beringasnya Martha Duph saat mencium bibirnya dengan paksa, melucuti pakaiannya satu per satu, serta yang paling parah, wanita itu mengeluarkan sesuatu yang paling berharga untuk Seno, lalu bermain-main dengan menjijikan. Seno berusaha melawan, tapi karena tangan dan kakinya terikat kuat, dia tak bisa. Hantaman demi hantaman dia terima jika melawan sedikit saja. Panas dan perih dia rasakan tatkala wanita itu menyundut dadanya dengan rokok. Namun, setelahnya Martha Duph menciuminya dengan membabi buta.


Seno ingin teriak dan memakinya sepuas hati, tapi apa daya tenaga dia seperti sudah tersedot habis. Kesadarannya pun sudah timbul tenggelam, batas hidup dan matinya saat itu terasa tipis sekali. Tak henti-hentinya dia memohon pada Tuhan agar penderitaan itu berakhir. Dan rupanya Tuhan mendengar permohonannya walau dalam hati.


Seno tahu, orang-orang yang menolongnya adalah suruhan ayahnya, dia mengenal Pak Jhony sebagai bodyguard keluarganya. Seno menangis saat Pak Jhony dan kedua anak buahnya datang. Tak lama Pak Wirya datang beserta dua polisi lainnya dan berhasil menciduk berandal itu. Namun, Seno tak melihat Martha Duph, di mana dia? Apakah dia berhasil melarikan diri? Selang beberapa menit, saat Seno akan dibawa ke rumah sakit, Nisa dan orang tuanya datang.


Ketika melihat Nisa, Seno merasa tengah melihat malaikat di antara ribuan iblis. Dia ingin bangkit berlari memeluknya, mencurahkan gundah dan kesakitannya, tapi apa daya tubuhnya lemah tak berdaya dan nyeri luar biasa. Bahkan untuk bicara pun dia tak punya tenaga.


Nisa mengusap-usap kepala Seno. "Tidur, Sayang," ucapnya.


Seno meraih tangan Nisa. "Kalau aku tidur jangan tinggalin aku, Nis. Kamu jangan kemana-mana."


"Iya, Mas, aku enggak akan kemana-mana, kecuali kalau kebelet pipis, hehe."


Seno tersenyum lalu menciumi tangan Nisa dengan takzim.


***


Sore hari Nurul, Agam, Santi, dan Jasmin datang menemui Seno, tapi Seno tengah terlelap. Jasmin rewel saat masuk ke ruangan, akhirnya Santi membawanya kembali keluar.


"Seno udah lama tidurnya, Nis?" tanya Nurul.


"Lumayan, Ma. Papa baru aja pulang."


"Iya, tadi ada telepon."


"Gue gak nyangka adik gue diincer tante-tante. Hadeuh," seloroh Agam. "Hus, sembarangan!" Nurul mengeplak lengan anak sulungnya itu.


"Lah, emang bener, kan, tante-tante? Tante gila!"


Nisa terkikik pelan. "Iya, Mas. Tapi, Ma, kayaknya ada yang enggak beres sama Seno. Kayaknya dia trauma berat. Aku enggak tau apa aja yang udah dilakuin si psikopat itu, Seno enggak mau bilang, tapi aku yakin dia enggak ngelakuin kekerasan fisik aja."


"Maksud kamu?"


Nisa menelan saliva dengan sedikit kesusahan. "Kayaknya Seno mengalami pelecehan seksual juga, Ma."


Nurul dan Agam terperangah bersamaan. "Serius kamu, Nis?" Nisa mengangguk mantap.


"Bagaimana kamu bisa menyimpulkan itu?" tanya Agam. Nisa menggigit bibir ragu antara mau bilang atau enggak, tapi akhirnya dia memutuskan untuk bilang. "Tadi ... waktu Seno nyium aku ... dia tiba-tiba ngedorong aku dengan kasar, dan mukanya kayak ketakutan banget. Setelah itu dia minta maaf sambil nangis."


"Apa!" Nurul dan Agam kembali terperangah.


"Wah, kamu bener, Nis. Kayaknya Seno mengalami pelecehan seksual, dia enggak mungkin kan kayak gitu, dia kan biasanya nyosor aja sama kamu, hehe." Nisa tersipu mendengar penuturan Agam. Nurul juga mesem-mesem, dia tahu banget tabiat anak bungsunya itu.


"Mama ada kenalan Psikolog yang praktek di daerah Salemba. Namanya Pak Hasan, nanti mama minta tolong sama dia."


"Iya, Ma, tolongin Seno," ucap Nisa dengan raut memohon.


"Iya, kamu tenang aja, ya Sayang." Nurul mengusap-usap punggung Nisa.


"Secepatnya dia harus segera diobatin traumanya, kalau enggak, entar gimana mau cepet dapet anak," ucap Agam.


"Iya. Aduh kenapa urusannya jadi ribet gini, sih!" Nurul mengeluarkan ponselnya dari tas, lalu mancari kontak Pak Hasan. "Nah, ini dia nomornya. Mama telepon Pak Hasan dulu."


Nurul menunggu tak sabar nada sambung itu tak kunjung berakhir, sampai akhirnya mati. "Pak Hasan gak mengangkatnya. Mama coba sekali lagi."

__ADS_1


Tak lama kemudian nada sambung itu pun berganti dengan suara Pak Hasan. "Halo, selamat sore Pak Hasan."


"....."


"Iya, saya Nurul istrinya Pak Aryan. Loh, anda menyimpan nomor saya?"


"...."


"Hehehe terima kasih, loh, Pak. Jadi begini, Pak, saya mau minta tolong pada anda untuk menolong anak saya."


"...."


"Bukan ... bukan Agam Kusuma, tapi adeknya, Seno. Senopati."


"...."


"Iya, yang bungsu. Kalau Anda ada waktu bisa datang ke RSIA Kemang?"


"...."


"Iya, Seno baru aja dapet musibah, Pak. Dan kayaknya dia perlu pertolongan anda."


"...."


"Baik-baik, terima kasih, ditunggu ya, Pak." Telepon ditutup.


"Alhamdulillah, Pak Hasan bisa dateng, Nis." Nurul mengalihkan pandangan pada anak bungsunya yang tengah terlelap. "Ya Allah, Sen, kenapa jadi begini sih, kamu," ucapnya sedih. "Karena seorang klien gila, kamu jadi kayak gini. Seno tuh, kalau urusan kerjaan total banget, dia juga sangat perhatian sama bawahannya. Mama beberapa kali datang ke kantornya dan nanya-nanya ke pegawainya. Mereka betah kerja di Senopati Production tuh karena sikap Seno juga yang memperlakukan pegawainya kayak temen, gak ada istilah Bos atau bawahan. Mereka semua solid banget, makanya perusahaan itu mampu bertahan di tengah persaingan yang gila-gilaan ini."


Selama mengenal Seno, Nisa tak begitu tahu bagaimana pekerjaan sahabatnya itu, soalnya dia pun sibuk dengan karirnya sendiri. Yang dia tahu, Seno adalah seorang CEO atau tukang iklan kalau kata Lala, dan sahabatnya itu sering gonta-ganti cewek yang kebanyakan dari klan daun muda. Dulu Nisa sering meledeknya habis-habisan setiap kali Seno diputusin cewek. Setelah itu--setiap Seno habis putus--mereka jalan seharian, makan pizza dan minum Coca-cola sebanyak-banyaknya, atau masak di apartemen Nisa sampai capek, walau nyatanya masakannya itu berakhir di tempat sampah. Atau mereka cuma main PS seharian sambil berantem.


Nisa kangen rasanya masa-masa itu. Sahabat yang paling dia sayang sekarang menjadi suaminya dan mungkin dia tak akan bisa hidup jika Seno tak ada.


Nisa memandang Seno yang tengah terlelap. Tak terasa air matanya melelehi pipi. 'Nduuuut ... gue kangen manggil lo Nduuut, Sen. Sekarang lo gak ndut lagi, lo beneran menuhin standar cowok yang gue mau. Makasih banyak buat semuanya. Lo bikin gue jadi manusia terbahagia di dunia. Jangan trauma, Sen, gue sedih. Hati gue sakit. Katanya lo gak akan bikin gue sakit, tapi apa sekarang? Lo bukan hanya bikin gue sakit, tapi juga bikin gue takut.'


"Nis, kamu nangis?" Nurul mendapati ada air mata di pipi Nisa. Nisa segera menghapus air matanya dengan punggung tangan.


"Aku takut, Ma. Kalau Seno trauma selamanya gimana? Hiks." Nisa terisak-isak di pelukan mamanya Seno.


"Enggaaaak, tenang ada Pak Hasan yang akan nolongin Seno. Tenang, ya." Nisa mengangguk walau sebenarnya masih takut.


Agam mengembuskan napas gusar. "Kalau tuh psikopat ada di sini, udah gue sundut juga nih sama rokok. Kesel banget! Gila."


"Ada apa ini ribut-ribut?" Seno terbangun karena suara Agam. Nisa langsung melepas pelukan Nurul dan menghapus air matanya, dia tak mau Seno melihatnya menangis.


"Udah bangun, lo. Gimana keadaan lo?" Agam menghampiri Seno.


"Mendingan. Si cantik Jasmin mana?"


"Ama emaknya di luar, tadi dia rewel."


"Yaaaa gue pengen ketemu padahal."


"Entar gue suruh dia masuk kalau udah anteng. Gue turut prihatin apa yang nimpa elo, Sen. Gue beneran kaget pas--"


"Bahas yang lain deh, Mas. Gue gak mau nginget2 hal itu lagi," cetus Seno memotong.


Agam menoleh pada Nisa dan ibunya, lalu kembali menatap Seno. "Hm, iya, sori, Sen."


"Thanks, ya."


"Iya, cepet sembuh, Sen. Nanti kita maen catur bareng lagi."


"Siap."

__ADS_1


***


"Kenapa kamu mau keluar, Sen? Dingin tauk."


"Jakarta gak mungkin dingin, Nis. Yang ada gerah. Aku pengen liat langit malam sama kamu." kata Seno tanpa mengalihkan pandangan dari langit. Selepas Dean--teman SMA--Seno pulang sehabis Magrib tadi, tiba-tiba Seno ingin keluar ruangan. Nisa tak punya pilihan lain selain menuruti kemauan suaminya itu.


"Perasaan dulu kamu pernah janji mau ngajak aku ke Sanur. Kayaknya seru kalau kita subuh-subuh liat bintang sambil nunggu sunrise."


"Kapan aku bilang mau ngajak kamu ke Sanur?" Nisa menoleh tak percaya pada Seno. "Jangan pura-pura lupa, deh."


Kedua alis Seno bertaut, dia beneran lupa, lantas dia berusaha keras untuk mengingatnya. Beberapa menit kemudian dia pun ingat. "Oh, itu. Aku ingat sekarang. Waktu itu kamu mewek gara-gara Viko sakit jantung, terus aku ajak kamu ke Ancol, dan aku janji suatu saat mau bawa kamu ke Sanur. Ingatan kamu tajam juga ternyata, hehe."


"Iya dong, istrinya siapa dulu."


"Istrinya Senopati, hehe."


"Nah, sekarang aku mau nagih janji kamu itu. Kapan kita ke Sanur?" Nisa mengedip-ngedip matanya manja.


"Apa? Aku masih babak belur gini, Sayang." Seno menjatuhkan kepalanya di pundak Nisa.


"Duh, kasian, hehe." Nisa mengelus kepala Seno.


"Bulan depan aja gimana?" Seno mengangkat kepalanya.


"Serius?" Mata Nisa berbinar senang.


"Eh, bentar. Bulan depan aku sibuk enggak, ya?" Nisa mengeplak lengan Seno.


"Tuh, kan. Nyebelin."


"Ngomong-ngomong proyek Vreeset gimana, nih? Kapan dimulai?"


"Bulan depan kayaknya," jawab Nisa sambil menghentak-hentakkan telunjuknya ke dagu.


"Tuh kan, berarti bulan depan kita bakal sibuk, Sayang."


"Kamu adalah klien paling spesial yang pernah aku layanin, aku akan semaksimal mungkin ngerjain proyek ini biar kinerja istriku juga jadi lebih baik di kantor."


"Yes, makasih, Ndut."


"Hah?" Mata Seno mendelik sebal.


"Ndut." Nisa mesem-mesem sengaja menggoda suaminya.


"Bilang sekali lagi."


"Ndut. Ih, aku kangen nyebut kamu itu, Sen." Nisa terkikik-kikik.


"Nyebelin kamu, ya." Seno memencet hidung Nisa setiap kali dia kesal pada sahabatnya itu. Setelah itu mereka tergelak bersama.


Nisa menengadah menatap langit malam yang pekat penuh bintang. "Wah, bintangnya banyak. Bagus banget, ya," ucapnya takjub.


"Inget gak dulu waktu di Singapore kamu pernah ngomong gini ke aku?"


Nisa menoleh pada Seno. "Ngomong apaan?" tanyanya.


"Kamu ngomong gini ke aku, 'suatu saat kita akan seperti bintang, Sen. Bintang itu berkumpul lalu satu persatu akan pergi meninggalkan orbitnya. Kita juga sama, sekarang kita sama-sama, tapi nanti pasti kita akan pergi melesat sendiri-sendiri menjalani kehidupan masing-masing dan meninggalkan jejak kenangan yang pernah kita tapak.' Jujur aku sedih banget pas kamu ngomong gitu, Nis. Aku enggak setuju dan enggak ikhlas aja rasanya jauh dari sahabatku ini. Kamu itu udah ... kayak soulmate buatku. Jadi, dari sana aku berjanji akan ngikutin kemana pun kamu pergi, dan akan selalu jagain kamu."


"Hah? Pantesan mama kamu bilang, kamu beli apartemen di samping apartemenku semata-mata karena pengen selalu dekat sama aku."


"Ya, itu bener. Hehe."


"Bokis banget waktu kamu bilangnya karena tempatnya strategis lah, murah lah, bla bla bla...." tutur Nisa sambil memonyongkan bibirnya. Seno terkekeh.

__ADS_1


"Tapi thanks kamu udah ngikutin aku, Sen." Nisa tersenyum, meremas pelan jemari Seno.


Seno mengangguk lalu menarik pundak Nisa agar bersandar padanya. "Selalu bersandar padaku seperti ini, Nis."


__ADS_2