Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Chapter 36


__ADS_3

"Sen, bangun ... kita cuma tiga hari di sini, ayo bangun dong, masa udah jauh-jauh ke Swiss kamu cuma tidur doang, sih?"


"Mmmm." Seno membalikkan tubuhnya menghadap Nisa.


"Ayo bangun," kata Nisa sambil menyibakkan selimut.


"Sepuluh menit lagi ya."


"Kamu dari tadi cum__" ucapan Nisa terhenti saat tangannya menyentuh tangan Seno.


"Sen, kamu kok panas?" tanya Nisa cemas sambil meraba kening suaminya.


"Enggak ...." Seno melepaskan tangan Nisa dari keningnya.


"Enggak gimana, kamu demam!" Nisa menangkup kedua pipi Seno. Tangan Nisa ditarik hingga tubuhnya jatuh menindih tubuh Seno.


"Jangan khawatir, aku enggak apa-apa kok, cuma sedikit kecapean, minum paracetamol sama tidur juga nanti baikan. Pokoknya kita harus melakukan semua planing kita. Hari ini kita akan jalan ke Titlis, kan? Habis itu naik cable car."


"Mana bisa, kamu sakit! Aku gak mau kamu kenapa-napa."


"Nisa, pliiis, aku enggak apa-apa, kok, serius! Udah pokoknya kamu jangan khawatir, kita harus ngelakuin semua planing kita di sini."


"Kamu yakin?"


Seno mengangguk seraya menyunggingkan senyum.


"Ya udah, tapi kalo kamu enggak kuat bilang ya, jangan maksain."


"Iya," ucap Seno sambil mengelus-elus pipi mulus istrinya.


"Ya udah kalau gitu kita sarapan dulu yuk, habis itu kamu minum obat."


Setelah sarapan dan minum obat, Nisa dan Seno berangkat menggunakan mobil travel ke lokasi pertama yaitu Titlis.


Titlis adalah nama gunung di gugusan Pegunungan Alpen di Swiss dengan ketinggian 3.020 meter di atas permukaan laut. Titlis adalah mutiara di mahkota Swiss, dan satu-satunya ”glacier” yang dapat diakses masyarakat umum. Ketika berada di puncak gunung bersalju ini, Nisa dan Seno dapat menikmati panorama menakjubkan, hamparan salju melapisi puncak gunung tersebut.


Pengunjung yang akan menikmati panorama salju di puncak Gunung Titlis harus naik cable car dari Engelberg, desa di lembah Pegunungan Alpen. Turis yang mengunjungi negara Swiss biasanya diajak tour guide wisata ke Gunung Titlis, selain ke kota tua Lucerne.


Mantel dan syal tebal menyelimuti tubuh Seno, tapi rupanya dingin itu masih bisa menembus kulitnya hingga menggigilkan badannya. Apa memang karena sekarang dirinya sedang tidak enak badan jadi kayak gitu? Sebisa mungkin Seno menyembunyikan kesakitannya, biar Nisa tidak khawatir.


Bulan madu ini tidak boleh rusak hanya karena demam.


Seno tersenyum senang melihat Nisa yang sangat antusias dan berbinar-binar membidikkan kameranya ke sana-sini.


"Sen, habis ini kita coba maen ski dulu ya mumpung sekarang bulan Oktober, habis itu kita ke Lucerne."


"Oke, apapun itu, yang penting kamu happy."


"Yeeeesss." Nisa melonjak di kursi cable car-nya.


Jika melihat ke bawah sana. Putih, putih sejauh mata memandang. Gunung hitam dengan tebing-tebing yang curam itu semua menjadi putih karena berselimut salju. Namun, pada musim panas gunung tersebut menjadi surga bagi pendaki.


Nisa dan Seno turun di stasiun pertama karena akan main ski, jika tidak akan main ski, tidak perlu turun dari cable car, dan perjalanan akan dilanjutkan sampai ke puncak Titlis. Di puncak gunung tersebut ada sebuah gedung lima lantai.


Lantai pertama ada gua salju, lantai kedua restoran untuk umum dan tempat istirahat. Lantai ketiga tersedia restoran, toko souvenir, dan toko es krim yang tidak pernah sepi. Aneh, di udara -4 derajat Celcius pembeli es krim lebih ramai dibanding kopi.


Sedangkan di lantai keempat ada panoramic room dan lounge untuk istirahat. Jika tidak tahan dengan udara dingin, duduklah di sini karena ada penghangat ruangan. Menikmati pemandangan puncak Mount Titlis dari balik kaca.


Lantai lima paling ramai. Karena begitu keluar, langsung disuguhi pemandangan gunung es yang luar biasa.


Setelah keluar dari cable car, Nisa dan Seno pergi ke tempat penyewaan peralatan ski. Harganya 70 euro untuk seharian.


"Kamu yakin mau maen ski? Bisa?" Seno khawatir.


"Enggak. Kapan aku pernah maen ski? Kamu kan tau sendiri. Aku mau . "Dari pada maen ski, kita ngopi aja, yuk? Ada kopi enak di cafe sana."

__ADS_1


"Ngopinya entar habis maen ski."


Rupanya Nisa kukuh ingin maen ski. "Ya sudah. Tapi bentar aja ya."


"Iya, Sayang. Kamu mau maen juga, gak?"


"Mmm ... boleh, deh."


Sebenarnya Seno gak mau main karena sedang tidak enak badan, tapi dia khawatir jika Nisa main sendirian.


Nisa dan Seno mulai meluncur di atas salju yang lembut. Baru beberapa menit main, ternyata Nisa sudah sedikit mahir, enggak jatuh-jatuh lagi. Seno geleng-geleng kepala, wanita itu memang istimewa, banyak bisanya, otaknya juga cerdas, selalu mudah menyerap apapun. Itulah Danisa yang dia kenal selama ini.


"Sayaaaaaang, ayo sini kejar aku," seru Nisa.


Seno tersenyum senang. "Aku ke sana." Seno meluncurkan papan skinya dengan tongkat. Sekarang Seno sudah berada di samping Nisa.


"Kita balapan? Siapa yang duluan nyampe bendera itu, dapet kiss."


"Aku pengen dikiss, pastinya aku yang akan menang," ucap Seno.


Belum ada aba-aba, Seno sudah meluncur duluan.


"Senoooooo, curang lo!" Nisa meluncur menyusul suaminya.


Selang beberapa detik, Seno sudah bersorak di samping bendera. Satu menit setelahnya Nisa baru nyampe. Tadi sempat terseok sebentar, jadi agak lama.


"Aku yang menang, weee." Seno menjulurkan lidahnya.


"Kamu curang!"


"Bodo, yang penting sekarang aku dapet kiss."


"Ogah, kamu curang!" Nisa mengerucutkan bibirnya.


Seno terkekeh. "Ya udah-ya udah, kamu aja yang aku kiss, sinih!"


"Kamu ini, ya, tibang pengen di kiss aja, pake ngajak balapan segala. Tinggal bilang aja apa susahnya."


"Aku serius pengen bal__" Bibir Nisa terkunci oleh bibir Seno yang tiba-tiba menciumnya tanpa ancang-ancang.


Seno melepas ciumannya. Sorot mata Seno telah menelan Nisa bulat-bulat ke dalam dimensi cinta, dan hanya dia yang dapat merasakannyan. Jantungnya pun tiba-tiba berpacu dengan kuat, sehingga Nisa kesulitan untuk menyelaraskannya. Seno berhasil membuatnya bertekuk lutut tidak berdaya.


Senopati Aryan Kusuma, sahabatnya. Cintanya. Suaminya.


Nisa mengerjap, berusaha mengenyahkan sejuta pesona yang dipancarkan sorot mata itu.


"Seno! Malu, ih! Kenapa kissnya di bibir?" Nisa memukul pelan lengan Seno.


"Bodo! Aku maunya di bibir."


Nisa menengok kanan kiri. "Malu!"


"Gak apa-apa, mereka enggak kenal kita ini." Seno membenarkan kupluk di kepala Nisa, lalu merapatkan syalnya.


"Ya udah, yuk. Kamu udah kenyang kan maen skinya,"


"Bentar lagi, dong."


"Ya udah, aku nunggu di sana, ya." Seno menunjuk deretan bangku kayu di dekat penyewaan alat-alat ski.


"Oke."


"Hati-hati, Nis."


"Iya ...."

__ADS_1


***


Menjelang sore, setelah puas bermain ski dan minum kopi, perjalanan mereka berlanjut ke kota tua Lucerne.


Di sana terdapat bangunan khas abad pertengahan yang telah menjadi tempat tujuan wisata sejarah. Kota ini sangat ramai, banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang mengunjungi kota ini.


Lucerne menyuguhkan pemandangan deretan bangunan klasik yang akan membawa wisatawan kembali ke era abad pertengahan. Suasana di sana sangat romantis, dengan ciri khas arsitektur yang tinggi dan juga menarik. Kini, beberapa bangunan telah dirubah menjadi toko, mulai dari toko pakaian hingga restoran. Selain keindahan kota, juga dapat melihat beberapa jembatan, patung-patung indah, air mancur hingga gunung di sekeliling kota.


"Uhuk ... uhuk!" Seno merunduk sambil terbatuk. Kepalanya sekarang seperti berputar-putar, bangunan-bangunan indah di sekelilingnya pun seperti bergoyang-goyang. Apakah terjadi gempa?


Ah, bukan ternyata kepala gue nih yang bermasalah.


"Sen, kamu kenapa?" Nisa menahan tubuh tinggi Seno yang akan ambruk.


"Astagfirallah, kamu panas banget!" pekik Nisa cemas. Dengan muka sepucat mayat, Seno masih berusaha meluncurkan senyum.


"Kita pulang aja ke penginapan, ya,"


"Kita belum foto-foto di sini," ucap Seno.


"Kamu sakit, Sayang. Udah pokoknya kita pulang aja, ya. Aku gak mau kamu kenapa-napa."


"Nis, aku mau foto-fot__" Tiba-tiba Seno terkulai lemas di pangkuan Nisa.


Nisa panik bukan main. Dia menepuk-nepuk pelan pipi Seno, tapi tidak ada respon. "Sen, Senoooo! Sayang!" Kening Seno panas bukan main.


"Help ... help!" teriak Nisa.


Seorang Tour Guide dan beberapa orang menghampiri mereka.


"Why, Miss?"


"My husband passed out he was sick," tutur Nisa dengan tenggorokan tercekat-cekat saking paniknya.


"Let's take him to the clinic," ucap Tour Guide berrambut pirang itu.


"Ya."


Beberapa orang menggotong Seno ke kendaraan. Lokasi kendaraanya lumayan jauh, mereka harus menempuh jarak sekitar seratus meter untuk sampai di mobil. Sementara Nisa sudah menangis tidak keruan sambil memeluk syal Seno.


Selang dua puluh menit mereka sampai di klinik. Seno pun langsung ditangani oleh dokter jaga. Nisa melihat Seno diperiksa masih dengan mata sembab. Dia tidak henti-hentinya merapalkan doa dalam hati. "Semoga kamu baik-baik aja, Sen."


Selang sepuluh menit, dokter yang memeriksa Seno menghampiri Nisa sambil memasang senyum.


"He's okay, just needs more rest," ucap dokter sepuh itu.


"Oh, ya, thank you, Dokter."


"Wait for him to wake up first, then may go home.  I have given a fever-lowering medicine."


"Ya, Dokter, thank you so much."


Dokter itu kembali melempar senyum lalu pergi ke ruangannya.


Nisa menghampiri Seno di ranjang pasien, meraba keningnya, masih panas, tapi tidak sepanas tadi.


"Sen, gue mohon jangan sakit."


Nisa mengeluarkan sapu tangan di saku jaketnya, lalu mengompres Seno menggunakan air hangat.


Kalau dipikir-pikir, pantas saja Seno sampai sakit begini, dia memang kurang istirahat. Sejak masih di tanah air beberapa hari yang lalu, dia kecapean karena pulang kantor selalu di atas jam sepuluh, katanya proyek iklan perusahaan North Oil itu harus segera selesai. Dan waktu di Manchester kemarin pun sama kurang istirahat. Dia berkumpul dengan teman-temannya, disamping membahas bisnisnya juga dengan Nick, juga mengobrol dengan Mr dan Mrs, Arman hingga larut malam.


"Sen, kamu itu bukan robot, kamu manusia, harus inget istirahat. Aku sedih kamu sakit begini." Nisa menelungkupkan wajahnya ke atas tempat tidur pasien.


"Yakin sedih?" Tiba-tiba Seno bersuara.

__ADS_1


Sontak Nisa mengangkat kepalanya. "Sen ...?


***


__ADS_2