Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Part 57


__ADS_3

Pagi hari keadaan Nisa semakin membaik, dia sudah bisa membuka mata dan merespon dengan baik. Dokter akan melihat respon Nisa setelah sadar, maksudnya apakah Nisa mengalami amnesia disosiatif lagi atau enggak. Jantung Seno seperti melorot ke bawah saat dokter berkata seperti itu. Bagaimana jika Nisa melupakannya, bagaimana jika Nisa cuma ingat sama Viko saja? Demi Tuhan dia tidak mau itu terjadi. Tubuh Seno sampai bergetar saking takutnya. Dia tak mau Nisa melupakan moment apa pun, karena tiap detiknya adalah kebahagiaan.


Dengan hati-hati Seno membuka pintu kamar rawat Nisa. Terlihat dia tengah berbaring sambil menatap keluar jendela kaca. Pemandangan di sana memang menarik. Lapangan golf yang hijau membentang memenuhi kornea. Ditambah udara yang sejuk menyusup masuk lewat celah yang dibiarkan terbuka membuat ruangan tersebut tak memerlukan pendingin ruangan.


Nisa menoleh. Seno langsung meluncurkan senyum sedangkan Nisa tidak. Hati Seno mencelos. Dia takut, sungguh takut kekhawatiran dokter terjadi. Bagaimana kalau Nisa amnesia lagi seperti dulu?


Seno duduk di kursi dekat ranjang. Dia kembali meluncurkan senyum. Lagi-lagi ditanggapi dingin oleh Nisa. "Nis, k--kamu inget siapa aku, kan?" cetus Seno dengan suara tercekat.


Mata Nisa mengernyit. 'Maksudnya apa si paus ngomong kayak gitu?' batinnya.


"Aku suami kamu," ucap Seno lugas.


Seketika mata Nisa melotot kaget. "Hah?! Ngarang. Lo mabok ya, Ndut?"


"A--apa?" Seno tersentak. Telapak tangannya langsung mengeluarkan keringat dingin. Apa mungkin Nisa kehilangan sebagian memorinya? Logat bicaranya pun sama seperti beberapa tahun ke belakang.


"Nis, aku Seno---"


"Hah, apa lo bilang? Aku? Aneh banget ngomongnya jadi pake aku-aku segala. Lo aneh banget deh hari ini!" Nisa terkikik-kikik.


"Oh iya, Sen, buku Peter F Drucker gue kemaren dipinjem siapa?"


"Hah?" Seno garuk-garuk kepala, bingung sekaligus cemas. Nisa seperti hidup di beberapa tahun yang lalu. 'Ya Allah, Nis, apa kamu lupa semua yang udah kita lewati? Ciuman pertama kita di apartemen di Manchaster? Pernikahan kita? Pagi pertama kita? Bulan madu kita di Swiss? Apa kamu lupa semuanya?'


Seno menyeka air matanya yang hampir jatuh ke pipi. Dari kemarin dia tidak tidur, dan subuh tadi sangat senang karena Nisa sadar, tapi sekarang kembali bersedih mendapati Nisa melupakan semua yang terpenting dalam hubungan mereka.


"Sori, Nis, g--gue mau keluar dulu." Seno sampai kaku menyebut 'gue' lagi. Cepat-cepat dia beranjak dari sana lalu menemui dokter dan mengatakan apa yang terjadi.


Dia bersama dokter kembali ke kamar rawat Nisa. Dokter memeriksa Nisa sebentar lalu pergi diantar Seno sampai ambang pintu. "Kita periksa istri Anda lagi Pak Sen, sepertinya kekhawatiran saya terjadi, tapi jangan khawatir ini cuma sementara aja kok, nanti juga ingatan dia kembali seutuhnya."


"Dokter yakin?"


Dokter berkepala pelontos itu mengangguk. "Iya, Pak."


"Makasih, Dok."


Nisa menyimak obrolan Seno dan dokter. Dia sempat mendengar walau kurang begitu jelas dokter menyebut 'istri anda'. Apakah benar gue istrinya Seno? batin Nisa bingung.


Setelah dokter pergi, Seno kembali ke sisi Nisa, meraih pundaknya lalu mendekap istrinya itu dengan perasaan campur aduk.


"Enggak apa-apa, semuanya akan baik-baik aja. Makasih kamu udah bangun, Nis. Makasih kamu enggak ninggalin aku." Seno terisak, pelukannya semakin erat. Sedangkan Nisa mendadak kaku seperti papan di dekapan Seno. Dia merasa aneh dan canggung dipeluk kayak gitu sama sahabatnya sendiri.

__ADS_1


Seno melepas pelukannya. Nisa memandang Seno dengan saksama. "Sen, bener lo suami gue?"


Serta-merta Seno mengacungkan jari manisnya yang tersemat cincin, pun menunjukkan di jari manis Nisa yang tersemat cincin serupa. Tak cuma itu, Seno pun menunjukkan foto-foto pernikahan mereka di ponselnya, serta foto-foto waktu di Swiss.


Melihat semua itu, Nisa menelan ludah. 'Jadi sekarang gue istrinya si paus? Impossible!'


"Kamu masih gak yakin dengan semua ini? Lihat di situ ada banyak tanda, kemarin aku bikin banyak tanda di situ." Seno menunjuk dada Nisa dengan dagunya.


"Apa?" Nisa menyilangkan tangan di dadanya. Mendengar itu dia merasa malu. Nisa masih tidak percaya dan sangat sulit dia percaya. Perasaannya sekarang mengatakan 'Seno sahabatnya' enggak lebih. Dia merasa aneh tiba-tiba mendapati bahwa orang di hadapannya ini adalah suaminya. Nisa bergidik sendiri.


Dan keanehan Nisa semakin menjadi tatkala orang tua Seno datang. Perlahan dia pun menerima kenyataan bahwa sekarang dirinya telah menjadi seorang istri. Istri sahabatnya sendiri.


'Ya ampun, geli banget gue,' batin Nisa. Dia melirik Seno dari ujung rambut sampai ujung kaki. 'Kenapa si paus sekarang jadi makin keren gini, ya? Kemana tuh perut off side-nya? Dia fitness?'


"Aaaaaah." Tiba-tiba Nisa mengerang sambil memegangi kepalanya. Banyak berpikir membuat kepalanya sakit, seperti tertusuk-tusuk pisau.


"Kamu kenapa, Sayang? Sebaiknya kamu istirahat dulu ya." Seno membantu merebahkan tubuh Nisa ke kasur. Jujur, diperlakukan seperti ini oleh Seno membuatnya merasa tidak nyaman. Nisa merasa Seno masih tetap sahabatnya, bukan suaminya. Kemarin mereka masih makan mie ayam berdua dalam rangka syukuran kecil-kecilan karena Seno mendapat klien pertamanya di warung tenda Mang Soleh.


Nisa memejamkan matanya sejenak. Tiba-tiba dikepalanya seperti tergambar secara abstrak, potongan-potongan kejadian beberapa jam lalu sebelum terjadi kecelakaan. Pertemuannya dengan Dara dan Rei di bandara, hubungan badannya dengan Seno di bathub. Melihat gambaran itu mata Nisa terpejam kuat. Malu sendiri. Serta moment di kafe saat dia melihat Seno ngobrol akrab dengan seorang wanita.


Nisa meringis menahan rasa sakit yang teramat di kepalanya, matanya sampai berair saking sakitnya. Seno berlari keluar memanggil dokter, sementara Nurul mengelus-elus kepala Nisa, tak kalah paniknya.


Dokter dan perawat datang memeriksa, dan memberi obat pereda sakit yang disuntikkan ke botol infus. Akhirnya Nisa pun tertidur.


Kehilangan apa pun. Kehilangan momen, kehilangan memori, atau bahkan kehilangan Nisa. Tubuhnya sampai bergetar jika teringat akan hal itu. Seno mencium tangan Nisa dengan takzim seraya menatapnya dengan mata yang basah. "Cepet sembuh istriku. Maafin aku ...."


***


Setelah dilakukan pemeriksaan MRI atau CT Scan kepala dan EEG untuk mengukur aktivitas listrik di otak, rupanya tak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya baik-baik saja. Nisa cuma mengalami kehilangan memori jangka pendek atau short term memory loss atau kondisi ketika seseorang lupa apa yang didengar, dilihat, atau dilakukan beberapa saat lalu atau beberapa tahun lalu, dia tak melupakan hal primer seperti siapa dirinya atau orang-orang di sekitarnya. Cedera otaklah yang membuatnya seperti itu. Atau bagi lansia, ini adalah fase yang normal. Namun terkadang, masalah pada memori jangka pendek menjadi sinyal demensia, atau gangguan mental.


Orang tua Nisa dan Rian telah sampai ke Bali. Rita menangis sesenggukan memeluk putri sulungnya itu. Kejadian ini membangkitkan kembali memori tiga belas tahun lalu saat Nisa koma dan kehilangan ingatannya hingga beberapa bulan karena tertabrak mobil. Baginya itu adalah kejadian terburuk yang terjadi di keluarganya. Sungguh dia tak mau hal itu terulang, tapi nyatanya kejadian itu harus terulang. Beruntung sekarang ada Seno yang akan menjaga Nisa dengan baik.


"Bu, maafin aku akhir-akhir ini jarang telepon, aku sibuk banget di kantor." Nisa berkata seolah sudah lama tidak berkomunikasi dengan orang tuanya, padahal baru kemarin dia menelepon mengabarkan akan ke Bali dan bertanya mau oleh-oleh apa. Dulu memang dia sangat jarang menelepon dengan alasan sibuk. Mendengar itu, Rita dan Dodi cuma mengangguk mengiyakan. Namun, mata keduanya bersaput air. Itu adalah perkataan wajar, tapi sungguh memilukan hati keduanya dan hati orang-orang yang mendengarnya.


Setiap Nisa melihat Seno, dia geli sendiri. 'Masa iya gue nikah sama nih orang? Kok bisa mau, sih?' batinnya tak mengerti. 'Si paus suami gue? Oh, noooooo! Dia kan pacarnya banyak.' Nisa menggelengkan kepalanya. 'Katanya di dada gue ada tanda yang dia bikin. Tanda apaan sih emang? Tanda ***** gitu? Iiiiih.' Nisa bergidik. 'Gue pengen liat, ah, jangan-jangan dia boong lagi.'


"Bu, aku pengen ke kamar mandi," ucap Nisa.


"Ayo aku antar, Nis," sela Seno.


"Eh, gak perlu, Sen, gue sama ibu aja." Seno kembali duduk sedikit kecewa, tapi dia berusaha maklum. Sekarang Nisa berada di dunia berbeda, dunia beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


Nisa dipapah Rita ke depan pintu kamar mandi. "Yakin enggak mau diantar ke dalam?" tanya Rita.


"Enggak, Bu, aku bisa sendiri. Ibu tunggu di sini, ya." Rita mengangguk. "Hati-hati, Nak."


Nisa masuk ke kamar mandi lalu membuka kancing baju piamanya satu per satu dan melihat ke dadanya. Seketika matanya terbelalak kaget di dadany banyak banget tanda merah, dia sampai mencopot bra-nya ingin melihat lebih jelas, dan di payudaranya pun banyak sekali tanda merah, bahkan ada yang sudah berwarna cokelat, memudar, pertanda tanda itu sudah agak lama dibuat.


Nisa membekap mulutnya sendiri agar teriakannya tak terdengar keluar. 'Gila! Ini semua si Ndut yang bikin?! Oh Tuhaaaaan.' Nisa mengusap-usap tanda merah itu dengan air, tapi tak bisa hilang.


'Eh, bentar, kenapa sekarang Seno jadi keren banget, ya? Dia jadi sispek gitu badannya.' Wajah Nisa memerah memikirkan hal itu.


Nisa mencoba memejamkan matanya mencoba mengingat, tapi semakin berusaha meningat, kepalanya semakin berdenyut-denyut dan merasa mual. "Semoga besok gue bisa mengingat semuanya." Nisa memakai kembali bra dan bajunya, cuci muka, lalu keluar.


***


Dari sejam yang lalu Seno sibuk menelepon ke sana kemari mengabarkan kondisi Nisa di Bali. Dia menelepon klien-kliennya yang akan bertemu beberapa hari ke depan, menelepon Aldi, bahkan menelepon Harir, meminta izin Nisa tak bisa masuk kantor untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.


Seno kesal sendiri mendapati Harir yang begitu khawatir dan ingin mengunjungi Nisa ke Bali. Tentu saja Seno melarangnya. 'Dia pikir dia siapa! Hhhh, nyebelin!' rutuk Seno dalam hati.


Setelah mendapati di dada dan payudaranya banyak tanda merah, Nisa jadi malu sendiri setiap kali melihat Seno. "Nis, aku udah izinin ke bos kamu."


Dan satu lagi, Nisa merasa geli setiap Seno menyebut 'aku'. Sejak kapan dia jadi nyebut aku-kamu kayak gini?


"Oh, iya. Makasih, Sen." Nisa menunduk menghindar setiap kali Seno memandangnya. Seno mendekat, lantas meraih tangan Nisa meremasnya pelan. Dan tentu saja itu membuat jantung Nisa seperti lari maraton. Perlahan dia menarik tangannya dari genggaman tangan Seno. Mendapati Nisa tidak nyaman dan terlihat gugup, Seno menyunggingkan bibirnya merasa lucu sekaligus gemas.


Sekali lagi Seno harus mengingat bahwa Nisa sedang berada di masa lalu, jelas saja dia merasa canggung digenggam tangannya seperti ini.


"Nis, aku suami kamu," ucap Seno sambil tersenyum geli. Wajah Nisa semakin memerah tiap kali Seno menyebutnya suami.


"Sen, berhenti nyebut lo suami, dong. Gue geli tau dengernya."


Seno tergelak, lantas mengusap kepala Nisa dengan sayang. "Sini peluk aku mumpung enggak ada siapa-siapa." Seno membentangkan tangannya, tapi Nisa bergeming. Digenggam tangannya saja dia canggung, apalagi memeluk.


Bibir Seno tertarik ke pipi, sejurus kemudian dia menarik Nisa ke dadanya, mendekapnya dengan segenap perasaan yang ada. "Nis, aku sayang banget sama kamu. Entah seberapa besar sayang dan cintaku sama kamu, aku enggak bisa mengukurnya. Dan jika ada suatu alat yang bisa mengukurnya, mungkin alat itu akan rusak karena overload."


Nisa mengerjap. Perlahan dia mulai menikmati momen. Merasakan jantungnya dan jantung Seno berdetak seiringan, kemudian rasa nyaman dan aman menyelubunginya seperti baru pertama merasakan hal itu. Seno menunduk mencium kening Nisa, sementara Nisa memejamkan matanya merasakan kenyamanan tersebut.


Namun, saat kesyahduan itu berlangsung. Di kepala Nisa kembali seperti ada mozaik-mozaik ingatan yang tergambar secara abstrak. Dia melihat Seno telanjang di sampingnya, tali lingerie putus, Bernina Express, air terjun, sabana hijau, kursi pesawat, main ski, suasana kantornya, bazar, hubungan badannya dengan Seno di bathub kemarin, dan terakhir apa yang dia lihat di kafe sesaat sebelum kecelakaan.


Serta-merta Nisa melepaskan pelukan Seno, tatapan matanya memandang nyalang. "Siapa wanita itu?!"


Seno melongo tak mengerti.

__ADS_1


***


__ADS_2