
Seno dan Niken sekarang tengah duduk di sebuah bangku kayu di pinggir jalan sambil menikmati hotdog dan kopi dalam wadah plastik.
"Kirain lo mau traktir gue makan di cafe, taunya hotdog sama kopi doang. Pelit banget sih lo," sungut Niken kesal.
"Mulai sekarang gue mau berhemat karena gue mau ngembangin bisnis gue. Kalo elo mau makan di cafe, minta si Edward aja, dia kan calon suami lo."
"Jujur aja ya Sen, gue gak tertarik buat nanya tentang rencana bisnis lo sama si Nick itu, karena gue tau lo orang yang berpengalaman dalam bisnis. Elo juga pinter dalam menilai orang, jadi elo gak bakal ketipu sama si rambut pirang tadi. Tapi yang gue pengen tanya, emang elo beneran lagi patah hati? Sampe-sampe lo ngurung diri di kamar seharian ini."
Seno menelan hotdognya dengan kesusahan mendengar ucapan Niken, ia menyeruput kopi yang sudah mulai hangat untuk membantu mengalirkan hotdog itu ke perutnya. Lalu sedetik kemudian riak-riak air mulai menghalangi matanya lagi. Sebelum air itu jatuh, dengan cepat Seno mengusap matanya kemudian menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang ia tumpu pada lutut.
"Ken, gue jatuh cinta sama sahabat gue sendiri, dan tadi pagi dia bilang, dia mau lamaran." Seno tertawa kecil tapi tawa itu terdengar menyedihkan. "Gue hacur banget rasanya. Baru kali ini, Ken, gue begini."
Niken terkejut, tapi ia berusaha terlihat santai sambil menepuk bahu Seno pelan. "Gue tau lo sedih, karena gue pernah ada di posisi lo ditinggal kawin sama orang yang kita cintai, tapi bedanya dia bukan sahabat gue. Makanya gue sih engga percaya kalau ada yang sahabatan cowok cewek, ngakunya pure cuma sahabatan doang. Pasti satu di antara mereka merasakan ada sebuah rasa yang lain, bener gak?"
"Iya, gue setuju sama lo. Sebelas tahun, Ken! Coba lo bayangin."
"Kasian banget sih, lo. Kenapa dulu enggak lo coba buat ungkapin? Kalau udah begini, elo sendiri kan, yang tersiksa."
"Gue enggak ungkapin karena gue takut kehilangan dia." Seno berujar sambil menundukan kepalanya sampai ke dada.
Jujur, Niken baru melihat sepupunya dari sisi yang seperti ini. Seno bisa juga serapuh ini cuma karena seorang cewek bernama Nisa itu. Pasti perasaan buat cewek itu dalam banget. Selama ini Niken melihat sepupunya sebagai cowok yang selalu ceria, cowok yang sukses di usia muda plus playboy yang hampir setiap tiga bulan sekali berganti pacar. Namun, di balik itu siapa yang tahu, bukan?
"Sen, pinjem hape lo dong, gue mau nelfon Edward nih, gue mau nyuruh dia jemput gue besok pagi-pagi ke sini." Seno melirik gemas Niken di sampingnya. "Dasar! Buat nelefon cowok lo aja harus numpang ke gue."
"Hehehe."
Seno menyerahkan hapenya sedikit kesal. Niken tersenyum lebar lantas mengeluarkan hape dari saku jaketnya lalu mengetik sebuah nomor yang tadi pagi menelefon Seno. Setelah itu ia mengetik nomor ponsel Edward ke hape Seno untuk menelefon.
Saat menunggu Edward mengangkat telefonnya, Niken melirik Seno diam-diam. 'Semoga apa yang akan gue lakuin buat lo bener, Sen,' tutur Niken dalam hati.
🌸🌸🌸
Nisa mengangkat kaca mata cokelatnya ke atas kepala yang ia jadikan bando ketika keluar dari taksi. Di sampingnya, Angga sedari tadi sibuk bersama ponselnya. Suasana stasiun Senen sore ini tidak begitu ramai, kakak beradik itu duduk di kursi tunggu menunggu keberangkatan kereta. Jadwal keberangkatan keretanya pukul 5 sore, jadi masih ada setengah jam lagi sebelum kereta yang akan Nisa naiki meluncur ke Sukabumi.
Siang tadi di kantor terjadi kehebohan setelah Nisa bilang bahwa hari ini ia akan bekerja setengah hari karena ia akan pulang ke Sukabumi untuk lamaran. Semua orang memberi selamat kepada Nisa dengan pelukan hangat kecuali Nadya yang menatap iri. Apalagi saat dia tahu bahwa Nisa akan menikah dengan penulis ganteng dan sepopuler Vee Alledro, makin irilah dia.
Beberapa saat kumudian ada pengumuman agar penumpang segera naik ke kereta karena akan segera berangkat. Nisa merogoh ponselnya di tas setelah masuk ke kereta dan duduk di bangku penumpang. Ia melihat di layar ponselnya ada satu pesan whatsapp dari Viko.
'Sayang, apa kamu udah berangkat? Nanti kabari aku kalau udah nyampe rumah, ya?'
Nisa tidak langsung membalas pesan itu, tapi malah mendesah panjang. Jengah rasanya. Seharusnya ia bahagia. Wanita mana pun jika akan dilamar oleh kekasihnya pasti akan bahagia, bukan? Apalagi oleh pria sebaik dan setampan Viko, tapi kenapa Nisa tidak? Ia malah hanya ingin menangis.
Nisa kembali menatap ponselnya, bersamaan dengan itu tiba-tiba ada telefon masuk. "Nomor luar negeri?" Apakah Seno menelefon dengan nomor lain? pikirnya.
Dengan ragu Nisa mengangkat telefon. "Halo ...," sapa Nisa.
"Halo ... apakah saya berbicara dengan Nisa, temannya Senopati?" Nisa sedikit terkejut, ternyata bukan Seno melainkan seorang perempuan.
"Betul, saya sendiri. Maaf, ini dengan siapa, ya?"
__ADS_1
"Perkenalkan saya Niken, sepupunya Seno yang tinggal di Inggris."
Nisa menahan napas sejenak. Dia Niken yang sudah membuatnya cemburu, bukan? "Oh, halo ... salam kenal juga," sahut Nisa ramah. Gadis itu bertanya-tanya dalam hati, ada perlu apa Niken menelefonnya? Apakah terjadi sesuatu pada Seno?
Niken berdeham. "Apa saya mengganggu?"
"Ah, tidak ... saya sedang di kereta mau ke Sukabumi."
"Sebelumnya maaf kalo saya lancang, saya menelefon kamu bukan suruhan siapa-siapa. Seno juga tidak tahu. Saya mencuri nomor telefonmu dari hape Seno."
Nisa mengerutkan dahinya. 'Kenapa Niken mencuri nomorku dari Seno?'
"Nisa, kamu sahabatan dengan Seno sudah berapa tahun?" tanya Niken basa-basi padahal dia sudah tahu. Nisa semakin tidak mengerti, kenapa dia tiba-tiba menelefon jauh-jauh dari luar negeri dan menanyakan tentang persahabatannya dengan Seno?
"Sudah sebelas tahun, sejak kami sama-sama kuliah di Singapore. Hm ... maaf sebenarnya ada apa, ya? Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu?"
"Sebenarnya dari kemarin-kemarin saya ingin menelefon kamu, tapi ragu dan enggak berani. Tapi entah kenapa hari ini keberanianku tiba-tiba muncul gitu aja. Saya engga tahu apa yang saya lakuin ini benar atau salah. Saya cuma ingin membantu sepupu saya."
"Seno? Kenapa dia?" Nisa cemas.
"Nisa ... sebenarnya Seno itu mencintai kamu sejak sebelas tahun yang lalu. Tapi dengan begonya, dia enggak berani buat ngungkapin sampai detik ini. Saya khawatir dengan dia. Waktu kamu memberi tahu kalau kamu akan lamaran, seharian Seno mengurung diri di kamar, tidak kuliah bahkan tidak makan sama sekali. Maaf ya Nisa, saya sudah lancang bicara seperti ini, saya harap kamu enggak marah."
Nisa langsung melotot kaget tidak percaya apa yang didengarnya barusan. Seno mencintainya? Itu tidak mungkin! Namun, tidak ia pungkiri di hatinya seperti ada desiran angin yang menyejukan ke seluruh rongga dadanya.
"K__kamu bercanda, kan?" Nisa sampai terbata.
Nisa tidak tahu harus ngomong apa lagi saat itu. Ini sangat mengejutkan dan__sangat menyenangkan. Entahlah, Nisa tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini dengan kata-kata.
Namun, seketika kesenangannya itu lenyap bersamaan dengan suara terompet kereta. Kemudian kereta mulai melaju perlahan meninggalkan stasiun.
Suara nyaring dari terompet kereta menyadarkan Nisa akan sesuatu, bahwa sekarang Nisa akan pulang ke Sukabumi untuk lamaran dan menetapkan pernikahannya dengan Viko.
Tangan Nisa tiba-tiba lemas, dan ponsel yang ia genggam terjatuh ke pangkuannya. Ia tidak bisa mendengar lagi Niken berbicara apa. Sesaat kemudian tanpa dipinta air bening dari matanya meluncur deras ke pipi.
Angga yang sedang serius main game online di samping Nisa, mencopot hedset dan menghentikan permainannya saat menyadari ada yang enggak beres dengan kakaknya.
Nisa terisak-isak melihat keluar jendela, melihat objek yang menjauh satu per satu.
"Teh, kenapa? Nangis, ya?" tanya Angga.
Nisa tidak menjawab hanya terus menangis terisak-isak. Angga meraih ponsel di pangkuan Nisa melihat dengan siapa kakaknya tadi berbicara, tapi Niken sudah memutuskan sambungan.
"Tadi siapa yang menelefon?" tanya Angga khawatir.
"Ga ... teteh pengen pulang!" sahut Nisa dengan suara sengau.
"Inikan kita mau pulang."
"Bukan ... pulang ke apartemen."
__ADS_1
"Hah? Maksudnya Teteh enggak mau ke Sukabumi, gitu? Jangan gila, deh. Ini kita sudah di kereta, loh. Lagian Teteh kenapa sih, pake acara mewek segala? Emang tadi siapa yang nelfon?"
Nisa merunduk. Kewarasannya sedang diuji, logika dan rasa saling berebut untuk menampakan diri. Rasanya kepala Nisa hampir meledak, tapi mau tidak mau ia harus memikirkannya supaya tidak salah langkah.
Setelah rasa dan logika itu bertarung di hati dan pikirannya, ternyata logikalah yang menang.
🌸🌸🌸
Nisa tidak mungkin merusak apa yang sudah direncanakan. Jangan sampai ia dan keluarganya malu. Gadis itu sudah belajar dari masalahnya dengan Yuda, jangan sampai rasa merusak logika.
Nisa kembali teringat ketika penyakit Viko yang tiba-tiba menyerang. Bukankah ia sudah bersumpah tidak akan meninggalkan Viko? Terlebih Viko sakit karena ada hubungannya dengan tragedi sebelas tahun yang lalu. Dibanding Seno, Viko lebih membutuhkannya walaupun hati Nisa terpaut pada sahabatnya itu.
Sekarang Nisa cuma menyesali satu hal, kenapa Seno tidak utarakan isi hatinya? Kalau saja dulu Seno mengutarakan cintanya, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini.
Sebenarnya kalau dirunut lagi, dari dulu Nisa sudah curiga kalau Seno mempunyai perasaan lebih padanya, tapi Nisa selalu menutup mata dan hati. Ia lebih nyaman bersahabat dengan laki-laki jangkung itu. Namun, kesadaran akan perasaannya muncul ketika sahabatnya itu memutuskan pergi. Bahwa sebenarnya Nisa juga telah jatuh cinta pada Seno, entah sejak kapan.
🌸🌸🌸
Singapore__Januari 2009
Malam itu Nisa merasakan kepalanya sakit dengan hebat, mungkin efek dari kecelakaan itu belum sepenuhnya hilang. Bahkan sampai dua tahun, kadang Nisa masih merasakan sakit di kepalanya.
Malam itu kebetulan Seno akan mengembalikan charger laptop milik Nisa yang ia pinjam. Saat Seno sampai di tempat kost Nisa, ia sangat terkejut melihat Nisa meringkuk kesakitan dengan wajah pucat seperti mayat.
Seno panik bukan main, segera ia mencari bantuan orang-orang, tapi mereka tidak peduli. Sampai akhirnya Seno mengambil inisiatif sendiri untuk membawa Nisa ke rumah sakit.
Malam itu hujan mengguyur kawasan Clementi, tempat tinggal Nisa. Seno tidak peduli, bagaimana pun gadis itu harus segera dibawa ke rumah sakit. Seno menyelubungi Nisa dengan jaket bertudung miliknya agar nanti tidak kehujanan. Kemudian ia menggendong Nisa di punggungnya ke luar mencari taksi. Seno berjalan cepat menerobos hujan, membiarkan tubuhnya sendiri yang hanya memakai kaos oblong dan celana selutut basah kuyup.
Sudah lima menit Seno berdiri di tepi jalan, tapi belum mendapat taksi. Saat itu Nisa mendapati dirinya berada di gendongan Seno. Rasa sakit yang luar biasa, membuat kesadaran Nisa timbul tenggelam. Nisa masih bisa melihat sepintas bagaimana ekspresi wajah pria itu terlihat sangat khawatir. Namun, kemudian Nisa kembali terkulai lemah ke leher Seno yang basah.
Sampai akhirnya ada Syahla alias Lala yang menawarkan tumpangan pada mereka, dari situlah awal persahabatan mereka dengan Lala. Sebenarnya mobil yang Lala bawa bukan miliknya, tapi milik temannya.
Lala segera membawa Nisa ke National University Hospital, sebagai rumah sakit terdekat di kawasan itu. Sesampainya di rumah sakit, Nisa langsung ditangani oleh dokter dan beberapa perawat. Saat itu Seno baru tahu kalau Nisa pernah mengalami cedera kepala yang parah karena kecelakaan.
Orang tua Nisa tidak bisa menemani Nisa yang sakit, karena kebetulan ayahnya juga sakit usus buntu dan baru dioperasi. Akhirnya, cuma Seno yang menemani dan Lala yang beberapa kali datang berkunjung.
Nisa merasakan perhatian Seno sangat berbeda. Saat itu Seno rela melakukan apapun untuknya. Tidur menemani Nisa di rumah sakit yang hanya beralaskan karpet tipis, mengantri lama untuk menebus obat, menyuapi Nisa makan, bahkan ia rela bolak balik, kampus-kost-rumah sakit.
Malam itu National University Hospital sangat sunyi, Nisa yang tidur di ranjang pasien melihat Seno tidur meringkuk di bawah sambil memeluk bantal bergambar club sepak bola kesukaannya, Manchester United yang ia bawa dari tempat kostnya.
Nisa menatap wajah Seno yang terlihat sangat kelelahan. Hari ini Seno bilang kalau kuliahnya padat, ditambah ia harus mengerjakan tugas dari salah satu dosennya, tapi Seno masih berusaha datang ke rumah sakit sebelum malam untuk menemaninya, dan mengecek obat dan makanan yang Nisa makan.
Seno siapa, sih? Dia bukan saudara, Seno hanya orang asing yang baru dikenal Nisa beberapa bulan yang lalu, tapi Nisa sangat merasakan kasih sayang yang pria itu berikan.
Setitik air bening memaksa keluar dari sudut mata Nisa. "Terima kasih, Sen, lo selalu ada buat gue. Lo sahabat terbaik gue sampai kapan pun," ucap Nisa sebelum tidur.
Nisa tidak tahu bahwa nanti di masa depan perasaannya kepada Seno akan berubah menjadi cinta untuk selamanya.
🌸🌸🌸
__ADS_1