
Dari seminggu yang lalu, suasana rumah Nisa sudah ramai oleh orang-orang yang sedang mempersiapkan pernikahan, saudara dari luar kota pun sudah hadir di Sukabumi untuk menghadiri acara sakral Nisa dan Viko besok pagi.
Nisa sudah di Sukabumi sejak tiga hari yang lalu untuk melakukan ritual sebelum akad nikah seperti siraman dan pengajian, semua itu Nisa jalani dengan sangat berat, tapi ia tetap berusaha tersenyum.
Besok Nisa akan sah menjadi istrinya Viko. Semua orang iri padanya, terutama penggemar berat Viko. Nisa sempat iseng membuka fanpage Viko di internet, sebagian besar mereka tidak rela kalau idola mereka menikah, bahkan ada yang mengutuk supaya pernikahan mereka tidak bahagia, biar Viko kembali single katanya. Ketika Nisa bilang pada Viko tentang kelakuan penggemarnya, pria itu hanya tertawa. "Sudah biarkan saja," katanya.
Malam ini sudah jam 1 malam tapi Nisa belum bisa memejamkan mata. Entahlah perasaannya sangat campur aduk. Sedih bercampur dengan rasa takut. Ingin berlari tapi tidak ada tenaga, ingin teriak tapi tidak bisa. Nisa hanya bisa membiarkan air matanya merembes ketika ia sendirian.
Sudah ratusan kali Nisa menekankan hatinya untuk jangan begini, tapi tidak bisa. Otak dan hati memang organ yang bertolak belakang. Ketika otak memerintahkan untuk harus cinta, tapi hati menolaknya karena rasa itu memang tidak ada. Bukankah hati adalah satu-satunya organ yang tidak akan pernah bisa berbohong?
Pandangan Nisa berkeliling. Sekarang kamarnya terlihat sangat cantik dan indah sudah dihias layaknya kamar pengantin, wangi bunga pun menyeruak di hidungnya, seharusnya ia merasa nyaman, tapi tidak sama sekali.
Jam 2 dini hari Nisa baru bisa tidur, dan jam 5 pagi ia sudah bangun lagi untuk segera mandi dan bersiap diri, karena akad nikah dilaksanakan pukul 8 pagi. Nisa tidur hanya 3 jam dan itu membuatnya tidak terlihat segar.
Detik-detik akad nikah semakin dekat. Sekarang sudah pukul setengah 8 pagi, Nisa juga sudah selesai dirias. Polesan makeup dan busana pengantin khas sunda sangat cocok untuk Nisa, dan itu membuat Nisa terlihat sangat cantik. Tak ketinggalan sepupu-sepupunya minta berfoto dengannya.
"Ya Ampun lo pangling banget sih, Nis," kata salah satu sepupu Nisa.
"Iya, lo pengantin paling cantik abad ini." Sepupu yang lain ikut komentar.
"Jangan berlebihan ah, malu tau." Nisa tersipu.
"Elo dan Viko itu pasangan paling serasi. Gue penasaran seganteng apa sih calon suami lo kalau pake baju pengantin. Wuaaahhh gue gak bisa bayangin, pake kaos oblong aja dia udah keren."
"Viko dipakein karung goni juga udah ganteng dia, hahaha."
"Apaan sih, lo." Nisa terkekeh mendengar celotehan kedua sepupunya itu.
"Eh ... eh ... rombongan pengantin udah datang tuh. Sumpah Viko ganteng buanget!" Tiba-tiba Nuri datang memberi tahu. Seketika jantung Nisa serasa mau jatuh ke bawah. Inilah saatnya.
"Serius?" Kedua sepupu Nisa lari keluar untuk melihat mempelai pria yang sudah menyihir semua perempuan di sana dengan ketampanannya.
Viko berjalan diapit oleh kedua orang tuanya menuju tempat akad nikah, lalu Viko disambut oleh kedua orang tua Nisa dengan mengalungkan bunga melati, sebagai tanda bahwa Viko diterima dengan baik.
Petugas KUA mulai mempersiapkan dokumen-dokumen yang harus ditandatangani oleh pengantin. Tidak ketinggalan juru kamera sibuk mengabadikan momen demi momen.
Tak lama kemudian pengantin wanita keluar diapit oleh dua orang bridesmaids menuju tempat akad nikah. Saat Nisa keluar, pandangannya beradu dengan Viko. Benar, pria itu terlihat tampan dan berbeda, polesan makeup tipis berhasil menonjolkan aura ketampanannya. Lingkaran hitam di bawah matanya pun lenyap, Viko terlihat seperti orang yang benar-benar sehat. Tapi hati Nisa tetap tidak bisa merasakan getaran apapun. Hambar.
Viko menyunggingkan senyum pada Nisa ketika mereka telah duduk berdampingan. Setelah acara sambutan dan pembacaan ayat suci, sekarang tiba untuk acara pokok yaitu akad nikah.
Viko sudah menjabat tangan ayah Nisa.
"Viko Andriano, saya kawinkan dan saya nikahkan kamu dengan anak kandung saya yang bernama Danisa Alia dengan mas kawin 50 gram emas dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Danisa Alia binti Dodi Heryawan dengan mas kawin yang tersebut, tunai," seru Viko dengan lantang.
"Sah?" tanya petugas KUA pada saksi.
"Sah ...!" seru saksi dan semua orang kompak.
"Barakallah ...." Semua orang mengucap syukur.
Sekarang tidak ada alasan lagi untuk memikirkan Seno, sekarang tidak sepatutnya lagi Nisa merindukan pria itu karena Viko telah jadi suaminya. Akan berdosa jika Nisa masih tetap seperti itu.
__ADS_1
***
Malam hari satu per satu tamu dan saudara pamit pulang. Gita dan suaminya juga jauh-jauh datang dari Bandung. Gita merasa sangat lega Nisa dan Viko bisa bersatu lagi.
Teman-teman kantor Nisa termasuk Yuda datang untuk memberi selamat. Pemuda itu merasa dibohongi karena dulu waktu ia mengejar bosnya bukan Viko yang ia kenalkan sebagai calon suaminya, melainkan Seno. Sekarang terbongkar sudah, tapi Yuda tidak marah sama sekali.
Lala tidak bisa datang karena sedang hamil muda. Kata Brian, kehamilan Lala sangat rentan, tidak boleh kecapekan sedikit pun karena beberapa kali mengalami flek, bahkan Lala berhenti bekerja untuk sementara, dokter mengharuskan ia menjalani bedrest.
Sekarang hanya tinggal keluarga inti saja. Nisa dan Viko juga sudah di kamar untuk beristirahat.
"Kamu capek?" tanya Nisa khawatir.
"Sedikit. Tadi siang dadaku sempat sesak, tapi aku masih bisa mengatasinya."
Viko duduk menghadap Nisa, memandang gadis itu dengan sejuta rasa dalam dada. Nisa sedikit heran karena tatapan mata Viko lain dari biasanya. Kenapa dia? Apakah ada yang salah?
Tatapan itu seperti rasa bersalah, sedih, namun bahagia. Entahlah ... Nisa tidak mengerti.
"Kamu sekarang jadi istriku. Aku harap pernikahan kita bahagia, dan aku bisa menjadi suami terbaik buat kamu. Aku cinta sama kamu, Nis."
"Aku__juga cinta sama kamu." Itu adalah kalimat paling bohong yang pernah ia ucapkan selama hidupnya. Viko tersenyum, lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Nisa.
'Kumohon, aku tidak siap ...!' ratap Nisa dalam hati.
Viko melihat Nisa menutup matanya seperti ketakutan, lantas ia tertawa kecil. "Nis, aku enggak akan melakukannya malam ini. Sebaiknya kita tidur aja, ya ...."
Demi apapun Nisa sangat lega mendengar Viko berkata seperti itu. Ia pun mengangguk sambil tersenyum.
***
Besoknya Nisa dan Viko harus segera kembali ke Jakarta karena sore harinya Viko ada janji dengan dokter Vanesh. Orang tua Nisa dan Viko mengantar ke Jakarta. Setelah menikah, Nisa akan pindah ke rumah Viko, barang-barang pun sebagian sudah dipindah beberapa hari yang lalu sebelum ia pulang ke Sukabumi, biar saat kembali ke Jakarta ia bisa langsung ke rumah Viko.
Sekarang mereka sudah sampai di rumah Viko. Rumah bergaya minimalis itu terletak di sebuah kompleks perumahan elit yang masih satu kompleks dengan Lala dan Brian, Nisa bersyukur tetanggaan dengan mereka.
Saat Nisa dan Viko beres-beres baju, tiba-tiba ada telefon masuk ke ponsel Viko.
"Dokter Vanesh?" Viko bertanya sendiri, apakah pemeriksaannya dimajukan? Nisa menghentikan aktifitasnya dan menoleh pada Viko ketika pria itu menyebut dokter Vanesh.
"Halo, Dok?" sapa Viko.
"Viko, apakah kamu sudah di Jakarta?" tanya dokter Vanesh.
"Iya, Dok. Ada apa memangnya?"
"Ini kabar baik Viko ... jantung yang sesuai buat kamu sudah ada. Saya harap kamu segera ke rumah sakit sekarang juga." Dokter Vanesh berucap dengan semangat.
"Apa? Serius, Dok? Oke, saya segera ke sana."
"Baiklah, saya tunggu secepatnya." Dokter Vanesh menutup telefon.
Viko menatap Nisa dengan haru. "Nis, jantung baru buatku sudah ada. Barusan dokter Vanesh bilang."
Nisa langsung tersenyum lega. Lalu Viko memeluk Nisa dengan erat. Jujur, Nisa senang sekaligus cemas dengan kabar itu. Semua orang tahu, transplantasi jantung adalah operasi besar yang penuh dengan risiko. Nisa takut kalau ... ah, membayangkannya saja sudah tidak sanggup.
__ADS_1
Viko, Nisa, dan seluruh keluarga segera pergi ke rumah sakit karena perpindahan jantung dari pendonor kepada penerima tidak boleh lebih dari enam jam.
***
Viko sudah bersiap masuk ke ruang operasi. Semua orang di sana terlihat tegang terutama orang tua Viko. Tidak henti-hentinya mereka merafalkan doa untuk kesuksesan operasinya.
Viko memeluk Nisa erat. Lalu ia berucap di telinga Nisa. "Doakan aku. Kalau terjadi sesuatu padaku, aku mohon kamu jangan sedih. Oh iya, aku sudah menyiapkan hadiah pernikahan kita, nanti Brian akan memberikannya padamu."
"Kamu akan baik-baik saja, Ko, aku yakin itu. Kamu sudah menjalakan apapun yang dokter Vanesh katakan."
Viko mengangguk lalu melepas pelukannya. Nisa memegang erat tangan Viko yang sedingin es sebelum Viko benar-benar didorong oleh perawat ke ruang operasi.
Nisa tidak akan pernah melupakan bagaimana sorot mata pria itu sesaat sebelum pintu ruangan operasi itu ditutup.
***
Sudah tiga jam operasi itu berlangsung, sesekali perawat keluar menemui keluarga Viko memberi tahu perkembangannya, sejauh ini perkembangan yang disampaikan cukup positif.
Semua orang berkumpul dan menunggu dengan tegang di ruang tunggu, salama lampu merah itu masih menyala, mereka belum bisa bernapas dengan lega.
Sudah lima jam lampu merah di atas pintu ruang operasi itu masih juga belum padam. Namun, saat Nisa akan beringsut ke kamar kecil, tiba-tiba dokter Vanesh keluar dengan wajah lelah menemui keluarga. Semua orang yang tengah duduk dengan tegang segera menghambur ke hadapan dokter Vanesh.
"Operasinya berjalan dengan baik." Dokter Vanesh berkata menenangkan. Orang tua Viko, Nisa, dan orang tua Nisa, langsung menghela napas lega.
"Jantung baru sudah berdetak di dalam tubuh Viko. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menunggu dan mengawasi kondisinya selama seminggu ke depan. Semoga Viko baik-baik saja dan tubuh Viko tidak menolak jantung barunya," tutur dokter Vanesh. Raut tegang kembali terpancar di wajah mereka.
"Maksud dokter?" tanya Mia.
"Walaupun sebelum operasi kita sudah melakukan berbagai tes jantung yang sesuai untuk Viko, dengan mencocokan golongan darah, antibodi, hingga ukuran jantung, kemungkinan tubuh Viko untuk menolak jantung baru itu ada. Inilah risiko transplantasi jantung, Bu. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah banyak-banyak berdoa."
"Iya, Dok. Terima kasih ...."
Dokter Vanesh dan dokter lain yang sudah mengoperasi Viko tersenyum hangat sebelum pergi.
***
Sehari setelah operasi, kondisi Viko masih stabil, setidaknya itulah yang ditampilkan oleh layar monitor, dan juga dokter Vanesh bilang sejauh ini sangat baik.
Nisa dan Mia jaga bergiliran. Untaian doa pun tidak lepas dari hati Nisa. 'Ya Tuhan, semoga Viko baik-baik saja.'
Namun tiga hari setelah operasi, Viko mengalami masalah pada pembuluh arteri yang tiba-tiba menebal dan mengeras, ini bisa membuat sirkulasi darah di jantung tidak lancar dan bisa memicu serangan jantung, gagal jantung, atau gangguan ritme jantung. Tapi untungnya dokter masih bisa mengatasinya.
Namun, enam hari pasca operasi ternyata jantung baru ditolak oleh tubuh Viko. Pria itu tidak pernah sadarkan diri dan tidak bisa membuka matanya lagi untuk selamanya.
Seluruh tim dokter yang menangani Viko meminta maaf. Walaupun mereka sudah berusaha semampunya, tapi Tuhan berkehendak lain.
Sesaat setelah mendengar kabar itu dari dokter, Nisa merasa pandangannya tiba-tiba gelap dan otot-ototnya seperti terlepas.
Ia jatuh pingsan.
***
Aku harap saat baca part ini engga sambil dengerin lagu sedih ya. Hehe ... Karena aku tidak bertanggung jawab kalo terjadi sesuatu 💃💃💃
__ADS_1