Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Chapter 38


__ADS_3

"Sen, tali lingerie-nya putus! Kamu sih," rutuk Nisa sambil manyun.


"Kok aku?" ucap Seno tanpa dosa.


"Kamu nariknya kekencengan! Gak sadar, ya?"


"Orang lagi high mana sadar, Nis, hehe. Maaf deh, soalnya susah banget pas aku mau__"


"Mau apa?" Nisa mendelik.


Tanpa bersuara Seno menatap kedua gunung yang menjulang di dada Nisa. Serta merta Nisa menutupnya dengan kedua tangan.


Seno terkikik-kikik geli. "Gak usah ditutupin, biarin aja gitu, aku suka liatnya."


Nisa mencebik, menarik selimut sebatas dadanya. Mereka masih di atas tempat tidur yang berantakan setelah terjadi tsunami lokal.


"Dasar mesum!"


Seno terkekeh. "Tapi cinta, kan?" godanya sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Nisa. Sengaja, biar dia kegelian.


Nisa bergidik. "Tauk, ah." Dia menghindar dari tatapan maut suaminya. Memalingkan wajahnya ke luar.


"Makasih, Sayang." Seno menarik dagu Nisa agar menatapnya, lalu mengecup pucuk kepala istrinya itu dengan lembut.


Nisa tersenyum dan semakin membenamkan tubuhnya ke pelukan suaminya. "Sama-sama."


Beberapa menit suasana hening. Mereka memejamkan mata sambil menikmati kehangatan udara Swiss, dan oksigen yang sehat memenuhi paru-paru mereka.


Namun tiba-tiba mata Nisa terbuka lebar. "Eh, tapi kamu harus ganti lingerie-nya ya. Awas aja kalau enggak."


Bibir Seno tertarik ke pipi. "Iya deh, aku ganti, tapi nanti ya. Emang kamu beli itu di mana?"


"Di online shop, tau deh nama tokonya apa, lupa."


"Tar aku ganti sekalian sama tokonya."


"Hah? Sama tokonya dibeli juga?"


"Bercanda." Seno terkekeh, lantas menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Memeluk erat Nisa yang bersandar di dadanya. "Enak banget ya suasananya, bikin betah," katanya sambil melihat keluar jendela.


"Iya. Coba kita bisa tinggal di sini selamanya."


"Kamu mau?"


"Mau." Nisa mengangguk semangat.


"Aku ogah."


"Kenapa?" Nisa mengangkat wajahnya menatap Seno.


"Nanti aku bangkrut. Klien-klienku ngamuk, tender besar lenyap, karyawan demo, lalu aku jadi gembel. Hahaha."


"Bisa aja kamu. Aku ogah deh jadi istrinya gembel."


Seno merubah posisi menghadap Nisa. "Nis, aku mau berkata 'jika', nih. Jika suatu saat aku bangkrut, salah satu klien menuntutku karena suatu hal, lalu aku dipenjara, kamu ... mau tetap di samping aku, kan?"


"Ish! Kamu itu ngomong apaan, sih! Aku pastikan itu enggak akan terjadi. Kalau kamu bangkrut, aku akan bekerja lebih keras lagi. Aku akan jualin tas-tas mahal aku buat nutupin hutang-hutang atau apapun itu. Pokoknya aku enggak akan biarkan itu terjadi! Kalau kamu dipenjara, aku akan cari pengacara terhebat buat ngeluarin kamu dari sana."


Seno terdiam agak lama menatap wajah istrinya dengan tatapan sendu, mata itu pun berkaca-kaca, terharu. Lalu kecupan lembut mendarat di kening Nisa.


"Makasih, Nis."


"Udah dong, kamu jangan ngomong yang aneh-aneh, serem tauk!"


"Hehe, iya deh, sori ya."


"Yang aku takutin malah bukan itu, karena aku tau kamu hebatnya kayak apa, jadi kamu enggak mungkin bangkrut. Aku malah takut kamu digondol klien-klien kamu."


Tenggorokan Seno tercekat teringat kejadian di kantor North Oil yang tiba-tiba pipinya di-kiss Martha Dhup.


"Klien aku bapak-bapak semua, Sayang," ucap Seno bohong.

__ADS_1


"Iya deh, tapi kalaupun ada juga, aku percaya sama kamu, kok. Jadi ... kamu harus jaga baik-baik kepercayaan aku ini, ya. Jangan sampe predikat playboy cap paus kembali lagi."


"Ya Allah, Sayang ... ya enggak lah, gila aja. Aku udah tobat sekarang."


"Yakin?" seloroh Nisa sambil mengerlingkan mata.


"Yakin, dong."


"Aku tuh ya, masih agak terganggu kalau mikirin mantan-mantan kamu yang buanyak itu, aku takut aja kalau suatu saat mereka___"


Ucapan Nisa terhenti karena tiba-tiba bibirnya terkunci oleh bibir Seno. Saat dia akan berontak melepaskan ciuman itu, Seno mencengkram pundaknya agar tetap di tempat, kemudian meremas pelan leher belakangnya. Alhasil Nisa tidak bisa berkutik. Sekarang dengan pasrah dia hanya bisa menikmati serangan mendadak itu.


Ah, Seno, kamu itu paling juara kalau udah begini. Aku bisa apa sekarang?


Selang beberapa menit, ciuman itu baru terlepas. Nisa selalu kewalahan mengimbangi permainan itu, dia seolah kehabisan napas, dan Seno tidak memberinya kesempatan mengambil napas. Namun, entah kenapa dia menyukainya.


"Aku enggak mau kamu ngomong itu lagi. Kamu itu terlalu banyak khawatirnya. Aku sama mantan-mantan aku udah enggak ada apa-apa lagi. Komunikasi juga udah enggak, bahkan aku gak tau mereka masih idup atau mati. Asal kamu tau aja, Nis. Aku jadi kayak gitu tuh, gara-gara kamu juga."


Nisa mengernyit. "Kok aku?"


"Iya, kamu. Dulu aku cintanya sama kamu, tapi kamu terbelenggu sama satu cowok. Mantan suami kamu itu. Jadi ... untuk melampiaskan semuanya, aku udah kayak Cassanova gila tanpa tau tujuan. Perasaan dulu sebelum nikah aku pernah bilang masalah ini, deh."


"Hehehe iya, kah? Aku lupa."


"Ish, dasar!"


"Eh, jam berapa sekarang? Aku laper, nih, belum sarapan."


"Jam sebelas," kata Seno sambil melirik jam digital di atas nakas.


"Hah? Ya ampuuuun!" Nisa terlohok sendiri. Dia tidak menyangka ternyata selama itu mereka bercinta.


"Sarapan sekaligus makan siang oke juga," seloroh Seno.


Nisa melempar bantal ke wajah Seno. "Gara-gara kamu, aku jadi enggak sarapan." Nisa beringsut dari tempat tidur, lalu berjalan ke dapur.


Masih dengan lingerie yang talinya putus sebelah.


***


Nisa sih, mau-mau saja, bahkan dia sangat bersemangat.


"Sen, yakin kamu mau makan di sana?" tanya Nisa khawatir sambil memakai mantel.


Seno mengangguk. "Ya. Kapan lagi kita makan di pinggir tebing, ya, kan?"


"Iya, sih. Tapi ... kondisi kamu ...."


"Aku udah sembuh total, tenang aja. Kalau aku masih sakit, mana bisa tadi aku bikin kamu__"


"Bikin apa?" potong Nisa.


"Bikin kamu enggak berdaya, hehehe."


Nisa tersenyum malu. "Ih!" Nisa memukul pelan lengan suaminya. Seno terkekeh.


Memang benar. Laki-laki di hadapannya ini telah membawanya ke dalam dimensi liar yang sama sekali tidak dibayangkan sebelumnya. Benar-benar liar hingga dia sangat kewalahan dan tidak berdaya.


Nisa maju selangkah ke depan suaminya, lalu membenarkan posisi syal yang melilit lehernya. "Di sana dingin, kamu gak boleh kedinginan," ucapnya.


Seno mengangguk. Lalu serta-merta Nisa memeluk tubuh jangkung itu dengan erat.


Tanpa bersuara, Seno mengusap-usap kepala Nisa di dadanya dengan lembut. Setelah satu menit penuh, Nisa melepas pelukannya.


"Nama restorannya apa, Sen?"


Bola mata Seno melirik ke atas, seperti tengah mengingat-ingat. "Mmm. The Äscher kalau gak salah."


"Ya udah yuk, kita berangkat."


Seno mengangguk sambil mengulurkan tangannya untuk Nisa pegang.

__ADS_1


Nisa pun menyambut tangan lembut milik suaminya. Berjalan keluar berdua dengan kebahagiaan yang sulit diuraikan dengan kata-kata.


***


The Äscher terletak di pinggir tebing di ketinggian 1.453 meter di atas permukaan laut. Restoran ini memberikan pemandangan pegunungan dan lembah yang indah.


Untuk mencapainya, Nisa dan Seno harus melewati jalur pendakian gunung Altmann dan harus menggunakan sepatu gunung. Atau bisa juga menggunakan cable car.


"Yah, kalau aku enggak habis pingsan kemarin, aku akan memilih mendaki aja biar seru, sambil melihat-lihat pemandangan bagus. Tapi karena aku habis sakit, kita naik cable car aja."


Nisa terkikik-kikik. "Kalau kamu pengen mendaki, nanti kalau pulang bisa mendaki gunung Semeru."


Seno menatap Nisa dengan mata menyala-nyala penuh semangat. "Mau kita coba?"


"Enggak deh, aku sibuk. Hahaha."


Seno mengacak rambut Nisa. "Iya deh, ketua Tim Marketing Vreeset Shoes emang selalu sibuk. Nyebelin."


Nisa kembali terkekeh melihat Seno memonyongkan bibirnya.


Selang beberapa menit cable car mereka datang. Kemudian Seno dan Nisa naik ke dalamnya bersama dua orang turis lainnya, dan satu orang pemandu.


Selama kurang lebih sepuluh menit di dalam cable car, Nisa tidak henti-hentinya terkagum-kagum dengan pemandangan menakjubkan di sekelilingnya.


Lembah-lembah terbentang sejauh mata memandang. Hijau. Hijau tak putus-putus. Tebing-tebing curam, serta langit biru yang membungkus semuanya tanpa sehelai awan. Sangat menakjubkan.


"Wow, amazing." Nisa mendengar salah satu turis itu berkata pelan sambil menatap keluar.


Nisa dan Seno pun keluar dari cable car. Setelah keluar, mata mareka langsung disuguhi pemandangan menakjubkan dari ketinggian, serta ada beberapa paralayang yang mengudara di sekitaran tebing. Untuk sampai di restoran tersebut, mereka harus berjalan di sisi tebing kurang lebih seratus meter.


Restoran itu tak hanya menyediakan tempat makan, tetapi bisa digunakan untuk menginap juga. Restoran yang dibangun sejak tahun 1600-an tersebut dikelola oleh ayah dan anak. Mereka adalah jagermeister atau juru kunci, dan sudah mengelola tempat itu selama lebih dari 200 tahun.


"Waw, Sen, kita beneran ada di tebing." Nisa mendongak melihat batu raksasa tepat berada di depan matanya.


"Emang di tebing, Sayang. Yuk masuk."


Mereka masuk ke dalam restoran. Uniknya pintu masuk itu seperti sebuah goa. Dan mereka harus berhati-hati jangan sampai terpeleset, karena banyak batu-batu kerikil.


Weekday seperti ini, suasana restoran sedikit lengang, tapi kalau weekend akan sangat penuh.


Menu makanan yang disediakan restoran tersebut pun seputar hidangan lokal, dan salah satu menu paling favoritnya adalah bir Swiss. Ada juga makanan halal yang disajikan di sana. Dan tentu saja Nisa dan Seno memilih menu tersebut.


Dan mereka memilih tempat duduk di luar agar sekalian melihat pemandangan.


"Wah, ini sih bukan cuma dibikin kenyang, tapi juga dibikin betah. Ngomong-ngomong kamu tau dari siapa tempat ini?"


"Dari teman kuliahku. Dia orang Swiss. Katanya, kalau kamu mau ke Swiss jangan lewatkan makan di Äscher dijamin kamu enggak akan melupakannya. Dan ... bener juga ternyata."


"Baik banget temen kamu itu ngasih-ngasih info segala. Emang kamu cerita sama dia kita mau ke Swiss?" Nisa tiba-tiba bicara sinis. Tapi lebih tepatnya dia merasa cemburu tanpa alasan, mengira teman Seno yang memberi info itu perempuan.


"Iya cerita."


Insting kuat Seno bekerja, radarnya menangkap sebuah ketidak beresan.


"Kenapa, Sayang?"


"Pasti temen kamu itu cewek, deh?"


Tawa Seno meledak. "Bukan. Nis, kamu kok jadi cemburuan, sih? Tapi gak apa-apa aku suka. Ternyata Danisa kalau lagi cemburu lucu juga."


"Diem! Bener, cowok?"


"Iya, Sayang. Namanya Matthew, mau aku telepon dia sekarang?" Seno mengeluarkan ponselnya.


Nisa menahan tangan Seno. "Gak usah-gak usah. Aku percaya."


Seno mesem-mesem gemas dengan prilaku istrinya itu.


"Ya udah ayo kita makan."


***

__ADS_1


__ADS_2