
Nisa membuka pintu apartemennya. Sejenak ia mematung di ambang pintu, siapa yang menduga ternyata ia harus kembali ke sini. Dia terpaksa pulang ke Jakarta karena masa cutinya hampir habis.
Orang-orang yang baru saja memberinya selamat atas pernikahannya berubah menjadi mengucapkan duka cita. Akun media sosialnya pun tak luput dari banyaknya ucapan bela sungkawa. Rupanya Tuhan hanya memberinya waktu sebentar untuk menjadi istrinya Viko. Sungguh tragis.
Nisa melangkah gontai menuju tempat tidurnya. Ia sangat lelah, terlebih jiwanya. Masa cuti pernikahannya sisa satu hari, akan ia habiskan dengan tidur. Tidak jalan-jalan atau bulan madu seperti yang seharusnya.
Sudut mata Nisa menangkap kilauan dari cincin berlian yang Viko sematkan di jari manisnya. Nisa menatap cincin itu lama, lalu ia menciumnya dengan takzim.
"Viko ... yang bikin aku sedih adalah, kenapa aku enggak bisa mencintaimu? Aku sudah berusaha semampuku, tapi aku tidak bisa. Maafkan aku." Nisa nangis tersedu-sedu. "Jangan pernah maafin aku, Ko. Aku manusia terjahat di dunia."
Nisa baru ingat saat ia akan kembali ke Jakarta, mertuanya memberikan sebuah amplop berwarna biru.
"Saat Viko dirawat yang terakhir sebelum kalian tunangan, dia menulis ini untukmu dan menyuruh mama untuk memberikannya padamu jika sesuatu yang buruk terjadi padanya," ucap mertua Nisa.
Nisa bangkit mengambil tas di meja lalu merogoh mencari amplop biru itu. Ia membuka amplop tersebut yang terekat lem, ternyata isinya hanya selembar kertas HVS yang Viko lipat dengan rapi. Nisa membuka lipatan itu sedikit gemetar. Setelah terbuka ternyata isinya tulisan tangan Viko satu halaman penuh. Sebelum membaca, Nisa mengusap matanya yang masih berembun, agar bisa membaca dengan jelas.
'Apa kabar, Nis? Aku harap kamu baik-baik aja. Kalau surat ini sampai di tanganmu, berarti telah terjadi sesuatu padaku. Aku harap sih, surat ini jangan sampai ke tanganmu__selamanya, tapi aku tidak tahu bagaimana takdirku. Jadi hari ini aku ingin menyampaikan sesuatu padamu untuk berjaga-jaga, takut tidak ada lagi Viko di dunia.'
Nisa menarik napas dengan berat. Apakah Viko sudah punya firasat sebelumnya?
"Nis, saat aku mengajakmu menikah tadi, aku mendengar kamu menangis di toilet. Dan saat kamu keluar dari toilet, aku juga melihat matamu sembab. Aku tidak mau bertanya, karena aku tahu kamu tidak akan menjawab dengan jujur. Maafkan aku Nisa, aku memang pria paling egois dan serakah. Aku sebenarnya tahu kamu tidak mencintaiku. Aku menyadarinya sejak kamu melakukan perpisahan dengan Seno di bandara sebelum dia berangkat ke Manchester. Radarku tidak pernah salah, Nis. Kamu mencintai sahabat kamu itu, kan?
Aku melihat bagaimana sorot mata kamu saat menatap Seno, dan saat kamu tiba-tiba memeluknya dari belakang di depan mataku sendiri. Itu sudah cukup bagiku untuk tahu isi hati kamu yang sebenarnya. Tapi dengan egoisnya, aku tidak mau melepaskanmu walau aku tahu hatimu terpaut pada orang lain. Bolehkah aku egois hanya untuk ini? Aku tidak mau melepasmu untuk pria mana pun! Aku bertekad akan terus maju untuk bisa menikahimu. Dan semoga itu bisa tercapai.
Aku juga tahu kamu tetap di sisiku karena penyakitku ini, bukan? Konyolnya, aku sempat bersyukur karena aku sakit. Kalau aku sehat, kamu tidak mungkin tetap si sisiku, kan?'
Mata Nisa mulai panas lalu sesaat kemudian mulai berembun lagi. Jadi selama ini Viko sudah tahu?
'Aku tidak menyangka kamu setuju saat aku mengajakmu menikah. Kamu mengabaikan hatimu hanya untuk kebahagiaan aku, menurutku itu hal yang sangat bodoh, tapi lagi-lagi aku tidak mau melepaskanmu. Bukankah aku brengsek?
Nisa ... selama hidupku, aku hanya cinta pada satu wanita, yaitu kamu. Kamu cinta pertama dan mungkin jadi cinta terakhirku. Aku mencintai kamu sejak aku berumur 14 tahun sampai sekarang umurku 29 tahun. Demi Tuhan rasa cinta itu tidak pernah sedikit pun lenyap dari hatiku. Bahkan mamaku saja sampai hilang akal bagaimana caranya agar aku bisa ngelupain kamu. Kamu tahu sendiri kan, aku sampai depresi gara-gara kehilangan kamu? Itu sangat berat bagi aku, Nis. Sungguh.
Aku tidak menyesali apa yang sudah terjadi. Dan aku sangat bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan kita. Berkat kamu, aku jadi bisa merasakan apa itu cinta. Terima kasih, ya ....
Nisa ... karena surat ini sudah ada di tanganmu, berarti sudah tidak ada lagi Viko di dunia ini, aku harap mulai saat ini kamu bisa menjalani hidupmu dengan baik. Raih cintamu! Lupakan semuanya! Berbahagialah ...!
Oh iya ... aku menulis ini setelah tadi kamu pamit ke kantor, kertas dan pulpennya aku minta dari perawat. Maaf kalau tulisannya naik turun enggak jelas dan agak jelek, soalnya tanganku lemas. [Emoji ketawa]'
Yang selalu mencintai kamu ....
VIKO ANDRIANO.
Nisa menangis tersedu-sedu sambil menutup mulutnya dengan satu tangan. Nisa terus menangis hingga ia tertidur. Dan saat ia terbangun ....
πΈπΈπΈ
Habis mandi Seno menyeduh kopi, ia duduk di ruang tengah lalu membuka laptop. Aldi__bawahannya, akan video call untuk melaporkan perkembangan perusahaannya. Sejauh ini tidak ada masalah, Seno sangat percaya pada bawahnnya itu.
Namun, saat ia menunggu Aldi menghubunginya, ia iseng membuka akun media sosialnya. Seketika mata Seno terbelalak, kenapa di berandanya banyak yang mengucapkan duka cita pada Nisa? Tangan Seno sedikit gemetar, lalu saat itu juga Seno tahu bahwa yang meninggal adalah suaminya Nisa. Viko.
Seno menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa. 'Ya Tuhan, kenapa ini bisa terjadi?'
Seno menyambar ponselnya di sebelah laptop, lalu ia menghubungi Nisa. Satu kali, dua kali, tiga kali, sampai lima belas kali, Nisa tidak menjawab panggilan Seno.
__ADS_1
Rasa cemas langsung menghantam Seno. Ia tidak tenang. Laki-laki itu bingung harus berbuat apa, pasti sahabatnya itu sangat terguncang. Baru beberapa hari Nisa jadi seorang istri, suaminya harus melakukan operasi, lalu Tuhan langsung memisahkan mereka kambali.
Seno meraupkan tangannya ke muka. Apakah ia harus pulang? Sahabatnya sedang membutuhkannya? Namun, ia harus bertemu Nick untuk mengurus bisnis mereka, kalau ia pulang, nanti bisnisnya akan berantakan, Seno tidak mau itu sampai terjadi. Sedangkan ia dan Nick sudah merencanakan ini dengan matang.
"Maafin gue, Nis, kayaknya gue gak bisa nemenin elo."
πΈπΈπΈ
Nisa menggeliat di tempat tidur. Berapa jam ia tidur? 6 jam? Ini rekor tidur terlamanya beberapa hari ini. Sekarang baru jam 9 malam, Nisa memang tidur dari sore setelah membaca suratnya Viko.
Nisa melihat lampu warna merah di ponselnya berkedip, lalu ia pun meraih ponsel itu di atas nakas. Ia melihat ada beberapa panggilan telepon. Dari Lala, ibunya, Angga, dan dari__Seno. Mata Nisa mendelik ketika melihat Seno meneleponnya 15 kali.
Pasti Seno sudah tahu, pikirnya.
Nisa memutuskan mengetik sebuah pesan untuk Seno. [Sen, tadi elo nelpon, ya? Sorry tadi gue lagi tidur.]
Lalu selang setengah jam ada panggilan dari Seno. Dengan ragu Nisa menggeser tombol gagang telepon ke kanan.
"Halo ...." Nisa menjawab. Namun, beberapa detik Seno tidak bersuara.
"Halo ... Sen?"
"Nis ...." Hening lagi.
"Nis, gue ikut berduka cita ...." Akhirnya Seno berucap. Seketika mata Nisa kembali memanas dan embun itu datang lagi.
"Makasih, ya ...," sahut Nisa.
"Jujur, gue baru tahu hari ini." Entah kenapa Seno merasa pembicaraannya kali ini sangat kaku. Mungkin karena Nisa masih sangat berduka.
"Iya." Akhirnya ia menjawab.
"Syukurlah ... gue khawatir banget sama lo."
"Elo mau pulang, kan, Sen? Liburan akhir tahun masih ada dua minggu lagi."
Seno menunduk sambil menggigit bibir, tapi akhirnya ia menjawab, "Maafin gue, Nis."
Hati Nisa langsung mencelos. Namun, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mungkin sekarang ia bukan prioritas Seno lagi.
Beberapa detik tidak ada yang bersuara. Seno tahu Nisa pasti kecewa. Sebenarnya kalau bisa, ia ingin pulang sekarang juga lalu merengkuh Nisa ke dalam pelukannya.
"Lo udah makan?" Akhirnya Seno berucap. Nisa bergeming. "Jangan telat makan ya ... lo punya penyakit maag."
"Iya, lo jangan khawatir soal itu. Sen__" Nisa menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan ucapannya. "G__gue sekarang jadi janda. Lo harus bilang sama gue, apa yang harus gue lakuin? Cuti pernikahan gue bahkan belum habis, tapi gue udah jadi janda. Lo tahu gimana rasanya? Itu sangat sakit!"
Walaupun Nisa tidak mencintai suaminya, tapi kalau ceritanya seperti ini, tetap saja ia merasa teguncang. Apalagi Viko sakit karena ada hubungannya dengan tragedi sebelas tahun yang lalu. Kepala Nisa rasanya mau pecah kalau memikirkan hal itu.
"Lo kuat Nis! Yang gue tahu elo itu cewek tangguh. Lo bisa ngadepin persoalan apapun selama ini," tutur Seno menenangkan.
"Gue tangguh karena elo ada di samping gue, Sen, tapi sekarang saat gue berada di titik terendah dalam hidup, elo enggak ada." Nisa berucap sambil terisak. Mata Seno pun beriak-riak.
'Tuhan ... aku ingin memeluk Nisa, aku ingin memeluk kekasih hatiku sekarang,' batin Seno.
__ADS_1
"Enggak, Nis. Elo kuat dari diri lo sendiri, bukan karena gue." Seno berusaha meyakinkan Nisa.
"Gue yakin lo bisa ngelewatin ini, walaupun gue gak ada di samping lo." Seno masih mendengar Nisa terisak-isak.
"Nis, dengerin gue! Tetap lah menjadi Nisa yang gue kenal. Seorang cewek tangguh yang bisa menyelesaikan persoalan apapun, yang bisa menata hatinya dengan baik, yang bisa meraih semua mimpinya, yang selalu cantik setiap hari. Eh, kalau yang terakhir itu salah, karena lo mewek terus tiap hari, pasti sekarang elo keliatan jelek. Jelek banget pasti!"
Nisa hampir saja menyemburkan tawanya. Apakah ia boleh mengucapkan bahwa sekarang ia rindu pada pria lain padahal tanah kuburan suaminya masih merah? Apakah ia tidak berdosa?
"Sok tahu lo!" Nisa terkekeh. Seno sedikit lega mendengar Nisa tertawa.
"Besok lo mulai kerja, kan?"
"Iya besok gue kerja. Entahlah, gue gak bisa ngebayangin gimana respon rekan-rekan gue melihat sekarang gue jadi janda. Dan pasti si Nadya happy banget tuh."
"Udah, lo cuekin aja. Kalau dia ngomong sesuatu yang nyakitin, elo ambil cabe terus lo sumpel tuh mulutnya." Nisa kembali ketawa mendengar celotehan Seno.
"Iye-iye ... ngomong-ngomong udah dulu ya, gue mau mandi, nih. Badan gue rasanya lengket banget. Gue belum mandi dari kemarin soalnya."
"Ya Tuhan ... jadi cewek elo emang joroknya kebangetan. Ya udah sono mandi!"
πΈπΈπΈ
Tanpa Nisa duga saat ia mulai melangkahkan kaki ke kantornya, orang-orang yang berpapasan dengan dia, menyalaminya dan karyawan wanita memeluknya sambil mengucapkan duka cita. Seantero kantor berduka. Pimpinannya pun terlihat menitikan air mata ketika mengucapkan duka cita pada Nisa. Lalu Nadya datang, tadinya Nisa ingin melakukan apa yang Seno katakan semalam, tapi tanpa diduga musuh bebuyutannya itu menyalami Nisa dengan memasang wajah sedih. Atau mungkin dia hanya akting karena sekarang ada pimpinan?
"Gue turut berduka, Nis," ucap Nadya. Nisa terlohok beberapa detik sampai akhirnya ia berucap, "Makasih ya, Nad."
"Maaf gue gak datang ke Sukabumi waktu nikahan lo."
"Gak apa-apa. Lagian jauh juga, kan." Lalu Nadya tersenyum. Tapi sepertinya dia enggak akting.
Rupanya pekerjaan membuat Nisa sedikit melupakan kesedihannya. Benar apa kata orang, jika kita bersedih carilah kesibukan, maka kamu bisa sejenak melupakan kesedihan itu. Bayangkan kalau kamu tinggal di rumah sendirian tanpa melakukan apapun, pasti kesedihan itu terus menggerogotimu.
"Mbak ... mau makan siang bersama?" Tiba-tiba Lena masuk ke ruangannya. Nisa menghentikan pekerjaannya lalu melirik jam tangannya. Benar, sekarang sudah waktunya makan siang.
"Boleh. Kamu mau makan apa?" tanya Nisa.
"Yang lain katanya mau makan bakso, Mbak."
"Bakso? Boleh-boleh, kayaknya enak. Yuk, kita berangkat."
Sebenarnya, karyawan yang lain kurang setuju saat Lena mengusulkan mengajak Nisa karena nanti suasananya akan canggung. Tapi Lena berpikir, kasian kalau bos mereka makan siang sendirian, dia masih berduka.
Saat Nisa makan bakso tiba-tiba ada pesan whatsapp dari Yuda. Dia hanya mengucapkan, "Selamat bekerja kembali, Bos. Tersenyumlah ... semangat!" Dengan emoji senyum manis.
Nisa tersenyum haru, ternyata orang-orang di sekelilingnya perhatian padanya. Nisa sangat bersyukur.
πΈπΈπΈ
Maaf ya part 21 nya lamaaaaa. Mood nulisnya tiba-tiba menurun karena memang ada sesuatu yang bikin galau beberapa hari ini.
Ups jadi curhat...
Happy reading ya ππππ
__ADS_1
Semoga part 22 nya cepet, dan saya enggak galau lagi ππππ