Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Part 63


__ADS_3

"Sayang, mau roti bakar gak?" Seno menelepon Nisa.


"Roti bakar? Enggak ah, aku maunya martabak red velvet."


"Red velvet, ya? Mmm oke deh, padahal aku udah berhenti di tukang roti bakar loh, biasanya kamu mau."


"Malam ini enggak mau. Hehe. Kamu tumben pulangnya telat, ada yang mau aku omongin nih."


"Soal apa?"


"Entar aja diomonginnya kalau kamu udah di rumah. Hati-hati nyetirnya, Sen. Di sini hujan."


"Iya, nih, di sini juga udah gerimis. Kalau hujan-hujan gini, enaknya ngapain ya?" Seno mengangkat alisnya naik turun."


"Ngapain?" Nisa pura-pura polos.


"Masa enggak ngerti, sih?"


"Hai, di perutku sekarang ada penghuninya, kamu jangan sering-sering minta jatah, nanti dia ngerasa keganggu tau!"


"Masa sih? Bukannya dia seneng ditengok papanya?"


"Ngaco, ah! Udah cepetan pulang, jangan lupa martabak red velvetnya."


Nisa menutup telepon, lantas mencebik. 'Dasar suami maunya traveling mulu di kasur.' Namun, setelah itu bibir Nisa tertarik ke pipi. Dia sok jual mahal padahal suka.


***


Nisa melirik jam dinding. Sudah hampir pukul sepuluh, tapi Seno belum datang juga. Ponselnya pun tidak bisa dihubungi. Rasa cemas langsung melanda hatinya. Kemana Seno? Dia enggak mendadak demensia terus lupa jalan pulang, kan?


Nisa keluar dan menunggu Seno di depan pintu lift. Beberapa menit kemudian malah adik bungsunya yang datang. "Teteh ngapain bengong di luar?" tanya Angga.


"Lagi nunggu kakak ipar kamu." Nisa menatap Angga penuh selidik dari atas sampai bawah. "Heh, kamu enggak habis dari tempat yang aneh-aneh, kan?"


Angga terkesiap. "E--enggak. Ih, Teteh mah curigaan."


"Tuh, jawabnya aja gagu. Awas, ya, kalau kamu mulai banyak tingkah di sini? Kalau ketauan banyak tingkah, teteh enggak segan-segan nendang kamu kembali ke Sukabumi. Ngerti!"


"Iya ... cerewet, ah!" Angga ngeloyor menuju apartemen Seno yang sekarang dia tempati. Nisa memicingkan mata menatap punggung Angga. Dia merasa ada yang aneh dengan gelagat anak itu, tapi ketika Angga masuk, pintu lift berdenting dan Seno yang keluar dari sana.


"Sayang, kok kamu di luar? Ngapain?"


"Nungguin kamulah, ngapain lagi. Kok, lama sih?"


"Maaf Sayang, tadi di tukang martabak antriiiiii banget, ampe pegel nih kaki. Pijitin, dong." Seno menyeringai, tapi dibalas dengan senyum kecut oleh Nisa.


"Mmm kirain kamu lupa jalan pulang. Malah pulang ke rumah janda gatel itu." Mata Seno seketika terbeliak dan senyumnya pudar. Nisa terkesiap baru menyadari bahwa dia sudah salah bicara. Padahal sebelumnya Nisa sudah diultimatum oleh mertuanya jangan pernah menyinggung-nyinggung soal Martha Duph lagi di depan Seno, takut traumanya kembali lagi. Bahkan kabar perkembangan kasus tersebut pun ditutupi oleh ayahnya Seno.


Martha Duph rupanya sudah tertangkap di Jepang, dan sekarang dia tengah menjalani masa hukuman. Walau masa hukumanya lebih ringan dari tuntutan, tapi setidaknya dia berhasil ditangkap.


Seno ngeloyor masuk ke dalam tanpa menggandeng istrinya. Nisa menggigit bibir merasa bersalah dan menyesal, lantas mengekor Seno ke dalam. Seno menyimpan martabak itu di meja, lalu masuk kamar tanpa basa-basi. Nisa semakin was-was dan menelan ludah dengan kesusahan. Dia sungguh menyesal dan sekarang takut kalau trauma Seno datang lagi.


Tanpa memerdulikan martabaknya, Nisa mengikuti Seno ke kamar. Terlihat Seno sedang ganti baju dengan kaus dan celana selutut. Dia masih diam dan tak mengacuhkan istrinya.


Nisa menghampiri Seno dan meluncurkan senyum saat pandangan mereka tertumbuk. Seno sudah selesai ganti baju.


"Sen ... maafin aku. Aku ... enggak bermaksud ngingetin kamu ke nenek lampir itu. Serius aku keceplosan, Sen." Nisa menundukkan kepala.


Melihat Nisa yang begitu menyesal, Seno merasa terrenyuh. Dia menghela napas berat dan membuangnya dari mulut perlahan. Seno membuang pandangan sebentar ke arah lain, kemudian kembali menatap Nisa yang masih menunduk hingga dagunya menyentuh dada.


Seno kembali membuang napas. Kejadian itu memang menyisakan trauma mendalam untuknya, tapi kan, dia bisa melewati semuanya karena ada Nisa di sampingnya?


Seno meraih kepala Nisa, lalu menyandarkan kepala Nisa ke dadanya, sedetik kemudian tangannya melingkar ke punggung istrinya itu dan mendekapnya dengan erat. "Jangan bahas-bahas soal dia lagi, ya, aku--takut," tutur Seno dengan suara tercekat.


Nisa mengangguk. Hatinya lega, tapi matanya mengembun. Seno mengusap-usap kepala Nisa. "Aku capek banget, Sayang."


Nisa mengusap matanya yang basah, lalu mendongak. "Mau aku pijitin?"

__ADS_1


Seno melepas pelukannya. "Serius?"


Nisa mengangguk semangat. "Iya."


"Pijitnya ada plusnya, gak?"


"Hah?" Nisa melongo. Seno mengangkat alisnya naik turun seraya tersenyum genit.


"Ish, kamu tuh, ya, nyebelin. Iya deh, plusnya mau apa?"


Seno menjatuhkan kepalanya ke bahu Nisa dengan manja. "Mmm, mau ... ituh."


"Apaan? Ngomong yang jelas dong." Nisa mengusap-usap kepala Seno di bahunya.


"Nis, kamu tuh, polos apa pura-pura polos?" bisik Seno.


Nisa terkekeh. Seno mengangkat kepalanya dan tersenyum manja.


"Sen, tapi nanti martabaknya keburu dingin tau."


"Nanti aku angetin di microwave." Kalau suara Seno sudah pelan seperti itu, berarti dia sudah sangat menginginkannya. Nisa sudah tahu betul. Yang perlu dia lakukan sekarang cuma menurut apa pun yang akan suaminya lakukan padanya.


***


Pukul sebelas malam, Nisa dan Seno memakan martabak red velvet dengan lahapnya setelah bertarung sengit di kamar tadi. Jus jeruk dan air putih menjadi teman martabak tersebut.


"Nis, kalau aku makan tengah malam gini, bisa-bisa perutku off side lagi."


"Enggak apa-apa. Seksi."


"Seksi apaan?"


Nisa terikik. "Seksi aja."


"Emang kamu beneran suka aku gendut, ya?" Nisa mengangguk. "Liat kamu gendut, tuh, seperti terbang ke masa lalu, hehe."


"Bisa aja kamu hehe."


"Sayang ...."


"Mmm?" Seno mendongak.


"Minggu depan aku ... mau ke Bangkok buat menerima penghargaan. Alhamdulillah, aku dapet penghargaan, Sen. Gokil gak, tuh? Hhhh, rasanya kayak mimpi tau, gak?"


"Waaaaah selamat, Sayang." Seno mengacak rambut Nisa dengan sayang. Namun, tak lama senyumnya memudar. "Sebentar. Kemana tadi kamu bilang?"


"Bangkok, Sen."


Seno melongo sebentar memandang perut Nisa. "Sayang, tapi kamu sedang hamil muda. Inget kemarin dokter Gina bilang apa?"


Nisa mengangguk. "Nis, kamu tau kan naik pesawat itu gimana? Buat ibu hamil muda kayak kamu itu rawan. Turbulensi yang tak terduga bisa membahayakan janin kita."


Hati Nisa mencelos, dia sudah menduga Seno akan berkata seperti itu. "Terus gimana, Sen, penghargaan ini penting banget buat aku."


Seno terdiam sambil mengigit bibir. Berpikir. "Besok kita konsul lagi ke dokter Gina, siapa tau dia punya solusi."


Nisa mengangguk. "Oke."


***


"Dokter Gina udah ngasih penguat kandungan, katanya aku boleh naik pesawat. Kecuali kalau aku udah mendekati HPL dia ngelarang aku naik pesawat, Sen." Nisa laporan. Seno tidak bisa mengantarnya ketemu dokter Gina karena tiba-tiba ada kerjaan yang tidak bisa dia serahkan ke Aldi.


"Serius boleh?" Kedua alis Seno bertaut, masih belum yakin.


"Serius, Sayang."


"Ke sananya sama siapa?"

__ADS_1


"Sama Pak Harir," cetus Nisa enteng.


"Apa!" Mata Seno seketika terbeliak.


"Kenapa? Diakan bos aku, Sayang ...."


"Terus sama siapa lagi?" Jantung Seno berdetak cepat, semoga kekhawatirannya tidak terjadi.


"Enggak, berdua doang."


Duaaaaar! Kekhawatirannya ternyata terjadi.


"Gak bisa ... gak bisa! Aku enggak ngebolehin kamu pergi kalau berdua doang ama dia."


"Sen ...!" Nisa pasang wajah memelas


"Kamu gak inget, hah? Pak Harir itu ngincer kamu! Pokoknya gue gak ngizinin lo pergi, ya!"


Bibir Nisa seketika terkatup rapat. Kalau suaminya udah bilang lo-gue, berarti dia beneran serius marahnya.


"Kamu enggak ngertiin aku, Sen!" Nisa cemberut sambil melipatkan tangan di dada.


Seno mengehela napas, lalu memegang kedua lengan Nisa supaya menghadapnya. "Nis, kamu--bisa bayangin gak gimana enggak tenangnya aku selama kamu di sana? Kamu nginep di hotel yang sama dengan si Harir itu, terus makan berdua, jalan berdua, hadeuh aku beneran enggak sanggup deh ngebayanginnya. Coba kalau posisi itu dibalik? Kamu bakal rela?"


"Enggak ...," jawab Nisa. Bibirnya masih cemberut.


"Nah, kan, kamu juga gak bakal rela. Apalagi aku!"


"Sen, Pak Harir kan mau nikah sama Wulan."


Seno mengacak rambutnya. "Alah, itu mah cuma nikah boongan, aku tau banget, dia itu sukanya sama kamu."


"Sok tau kamu mereka nikah boongan."


"Maksud aku, iya emang mereka nikah, tapi kan hati dia tetep kepentok sama kamu!"


"Hhhh, terus gimana dong? Aku beneran harus pergi ke Bangkok tau."


Seno melangkah ke arah jendela, memandang lautan lampu kota Jakarta dari kamar apartemennya, menyandarkan bahunya di bingkai jendela sambil melipatkan tangan. Dia mencoba memikirkan solusi.


Seno menoleh pada Nisa. "Nis, berapa hari di Bangkoknya?"


"Entahlah, mungkin antara tiga atau empat hari," jawab Nisa belum yakin betul.


Seno mengigit bibir. "Sebentar ...." Seno melangkah ke tempat tidur di mana ponselnya berada di sana, lalu menelepon Aldi.


Nisa kebingungan. "Mau ngapain dia?" tanyanya dalam hati.


"Halo Al?"


"Iya, Bos," jawab Aldi di seberang sana.


"Al, minggu depan ada jadwal penting buat gue, gak?"


"Tar gue cek dulu, Bos." Seno menunggu beberapa menit sementara Aldi memeriksa jadwal Seno di tabletnya.


"Minggu depan ya, kayaknya free, Bos, cuma buat hari jumat jangan lupa kita harus ke Singapore, kan? Mister Nick temen Bos yang dari Manchester itu mau ngenalin kita sama Mister Liem, buat ngembangin multimedia kita."


Seno menepuk jidat. Bener juga, Si Nick mau ngenalin gue sama Mister Liem, pikirnya. Seno mengigit-gigit kuku, berpikir cepat. Nisa berangkat ke Bangkok Minggu sore, kalau tiga atau empat hari di sana berarti Kamis dia baru sampai Jakarta dan harus terbang lagi ke Singapore. Pasti akan capek banget. Tapi ... kalau dia ngebiarin Nisa berdua doang di Bangkok sama Harir, itu lebih nyeremin lagi.


"Oke, Al, thanks infonya. Besok ada yang mau gue omongin sama lo." Seno menutup telepon, lalu menoleh pada Nisa yang masih menatapnya bingung. Dia berjalan ke arah Nisa sambil menghentak-hentakkan pelan ponselnya ke dagu.


"Nis, aku mau ikut sama kamu ke Bangkok," ucap Seno.


Mata Nisa seketika terbeliak, tapi setelah itu berbinar-binar senang penuh semangat. "Beneran?"


Seno mengangguk. "Yaaaa, aku gak rela kamu jalan berdua doang sama si Harir itu."

__ADS_1


"Huuaaaa asiiiiik aku seneng banget!" Serta-merta Nisa memeluk Seno dengan erat. Senyum Seno merekah, mengusap-usap kepala Nisa dengan sayang.


Betapa gue sangat mencintai lo, Nis. Lo gak akan bisa ngebayangin sebesar apa rasa sayang dan cinta gue sama lo. Semoga selamanya kita bisa terus kayak gini.


__ADS_2