Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Part 55


__ADS_3

Jumat sore Pak Wisnu mengantarkan Seno dan Nisa ke Bandara Soeta. Karena macet, saat tiba mereka langsung berlari untuk segera chek in takut ketinggalan pesawat. Setelah di dalam pesawat, barulah bisa bernapas lega. "Gara-gara Pak Harir, nih, nyebelin," rutuk Nisa seraya mengontrol napasnya. Seno menoleh, lantas tersenyum. "Itu karena dia tau kamu mau ke Bali sama aku, jadi jealous, deh. Makanya dia ngedadak ngasih kamu kerjaan."


"Iya mungkin. Harusnya kita udah cabut dari jam empat kan biar enggak kena macet. Nyebelin banget emang dia. Untung kita gak ketinggalan pesawat. Hhhh lega, deh."


Seno meremas tangan Nisa. "Pokoknya dua hari ini kita harus happy-happy. Lupakan semua kerjaan atau apa pun itu. Pokoknya, anggap aja manusia semua lenyap dari bumi, dan cuma menyisakan kita berdua." Senyum Nisa terbit, lalu mengangguk.


Pukul setengah sembilan malam, pesawat yang mereka tumpangi berhasil mendarat dengan mulus di Bandara Ngurah Rai.


"Nyampe Bali juga kita," cetus Nisa.


"Iya."


"Bau laut udah nempel aja di idung aku rasanya."


Seno menyeringai lalu mengelus kepala Nisa dengan sayang. "Ya udah, yuk." Seno menyeret koper, sementara Nisa menggendong ransel kecil berisi dompet, HP, dan lainnya.


Ketika kaki mereka akan keluar dari bandara, Nisa melihat orang yang rasanya dia kenal di kejauhan. Nisa menajamkan pandangan. Benar, ternyata itu temannya. "Sen, bentar itu ada temen aku."


"Mana? Siapa?"


"Itu di sana." Nisa menunjuk seorang wanita berrambut panjang, mengenakan dress selutut berwarna hijau tua, baru turun dari mobil dan mengeluarkan kopernya.


Nisa menghampiri, lalu berseru, "Daraaaaa." Dia melambaikan tangan.


Orang yang dipanggil menoleh, dan langsung semringah melihat siapa yang memanggilnya.


"Danisa, haaaiii apa kabar?" Gadis berrambut panjang itu memeluk Nisa ringan.


"Baik-baik, ya ampun gak nyangka kita ketemu di sini. Eh, Ra, kenalin ini suamiku, Senopati." Seno maju selangkah lalu menyalami Dara.


"Sandara."


"Seno."


Pintu mobil sebelahnya terbuka, lalu sesosok laki-laki yang tak asing di mata Nisa dan Seno keluar. Wajah mulusnya yang terterpa lampu membuatnya semakin terlihat glowing dan segar seperti baru keluar dari spa. Kacamata yang diselipkan di kerah dia pakai bersamaan dengan berpijaknya kaki ke tanah. Semua orang yang berada di radius auranya akan terhipnotis, dan tak akan menyangkal bahwa orang itu benar-benar keren.


"Reindra ...," sahut Seno.


Reindra melongo sebentar menatap orang yang menyebut namanya. "Pak Seno?" Dia terkejut, melepas kacamatanya.


"Apa kabar...." Reindra menghampiri Seno lalu menjabat tangannya.


"Baik."


"Sen, kenal sama suaminya Dara?" tanya Nisa.


"Siapa yang enggak kenal dia, sih, sayang? Satu Indonesia tau dia."


"Enggak, maksudku kenal secara pribadi, gitu?"


"Mmm, gimana ya jawabnya." Seno garuk-garuk kepala.


Reindra terkekeh. "Bingung ya, Pak, jawabnya? Kenal banget sih enggak, Nis, tapi siapa sih yang enggak kenal Pak Seno, seorang prodigy di dunia periklanan?"


"Ah, berlebihan. Oh iya, kemarin saya ngehubungi Nino buat ngomongin proyek iklan Bank itu loh."


"Iya. Udah tembus kok infonya ke aku. Thanks udah milih saya, Pak."


"Sama-sama. Karena saya pikir, kamu orang yang paling pas buat bintangin iklan ini."

__ADS_1


"Ngomong-ngomong gimana kalau nanti kita ngumpul lagi, tapi dalam format yang lebih niat," usul Dara.


"Cool! Good ide," cetus Rei.


"Siap." Nisa menimpali. "Kalian abis liburan, nih?" Nisa lanjut bertanya.


"Mmm ... bisa dibilang gitu, tapi lebih tepatnya sih, abis ngeresmiin galeri barunya Rei dan Kak Alan di Bali," jawab Dara.


"Wah, keren. Aku tau galeri lukisan Rei sama Mas Alan yang di Jakarta sukses banget, banyak kurator dari luar juga, kan?"


"Alhamdulillah ... buat persiapan kalau enggak ada job lagi." Rei terkekeh.


"Seorang Reindra kehabisan job? Impossible." Seno berkata seraya menggerakkan tangan ringan.


"Enggak ada yang tau ke depannya gimana, kan, Pak? Yah, buat jaga-jaga. Apalagi sekarang udah ada anak, mau dua pula," tutur Rei.


"Whaaaat? Dua?" Nisa terkejut. Dara tersenyum sambil menggerakkan alisnya naik turun.


"Huaaaa selamat Dara. Doain aku segera nyusul."


"Aku doain, semoga cepet gol, ya."


"Aamiin," sahut Seno sambil menengadahkan tangannya, lalu meraupkannya ke muka. "Reindra gaspol juga ternyata. Selamat, ya, hehe."


"Makasih, Pak. Ngomong-ngomong, bukannya kita enggak mau lama-lama ngobrol, nih, tapi pesawat kita bentar lagi take off, harus cepet-cepet chek in."


"Oh iya, silakan. Pokoknya kita harus ketemu lagi kapan-kapan."


"Sip. Ya sudah, kita jalan dulu kalau gitu," ucap Rei. Sebelum berpisah, Nisa dan Dara berpelukkan ringan.


***


"Wait. Mas Andi? Orang nyebelin itu?"


"Iya. Aku kan kenal sama mereka dari dia. Mas Andi itu kakak sulungnya Dara, alias kakak iparnya Reindra."


"Hah?" Seno melotot kaget. Mengetahui hal itu, dia langsung merasa tidak nyaman.


"Biasa aja dong itu mukanya. Jangan melongo gitu."


"Enggak, aku agak kesal aja, ternyata Rei adik iparnya orang nyebelin itu."


"Mas Andi tuh, kasian tau. Dia paling besar, tapi satu-satunya orang yang belum nikah di keluarga itu."


"Syukurin!"


"Hus! Jangan gitu, ih!"


"Dia belum nikah karena pengen nikung kamu dari aku. Enak aja, langkahin dulu mayatku!"


Nisa terkikik-kikik. "Udahlah, Sayang, jangan dibahas lagi. Aku gak bakal bisa ketikung siapa pun, kok, tenang aja." Seno menoleh, tersenyum.


Taksi online berhenti perlahan di selasar hotel dan langsung disambut dengan hangat oleh petugas. Nisa dan Seno turun. Karena barang bawaan mereka tak terlalu banyak, jadi tidak merasa perlu meminta bantuan petugas untuk mengantar barang ke kamar. Setelah chek in, mereka langsung menuju kamar.


Seno membuka pintu dengan kartu, lalu terbuka. Aroma wangi khas hotel tersebut langsung menguar di hidung. Mereka memesan kamar luxurious. Menurut Seno, mereka cuma dua hari di sana, jadi memesan kamar yang paling mewah di hotel tersebut bukan masalah.


Seno langsung merentangkan tubuhnya di kasur, sementara Nisa berkeliling meneliti setiap sudut kamar tersebut. Dan saat gorden dibuka, hamparan laut hitam keperakan karena cahaya bulan langsung memenuhi kornea mata. "Wow, laut, Sen. Kamu pinter banget sih, pilih hotelnya."


Seno terbangun. "Iya, dong. Hehe. Kan kamu pengen liat laut."

__ADS_1


"Kalo gini ceritanya, gak bakal mau pulang dong entar."


Seno bangkit menghampiri Nisa di depan jendela kaca, lalu memeluknya dari belakang. "Kamu suka?" bisiknya di telinga Nisa.


"Suka banget. Makasih ya, Sen. Akhirnya setelah sekian lama kita bisa ke Bali juga berdua. Dari dulu kamu cuma janji-janji doang."


"Tapi, kan, dulu kita belum nikah, masih temenan, gak asik kalo ke Bali ama temen mah, gak bisa--"


"Gak bisa apa?" potong Nisa.


"Ya, enggak bisa gini." Seno mengeratkan pelukannya. Nisa mengusap-usap lengan Seno yang melilit di perutnya, senyumnya mengembang tak tertahankan, lantas berbalik. Seno melonggarkan pelukannya.


"Makasih udah bikin aku selalu seneng," ujar Nisa seraya menatap lekat kedua netra di depannya. Seno mengangguk sambil balas tersenyum.


"Udah jam sepuluh, kita mandi, yuk. Badanku udah lengket banget rasanya," ucap Seno.


"Yuk, aku siapin air hangatnya dulu kalau gitu."


Nisa berderap ke kamar mandi. Tak lama Seno menyusulnya dan menutup pintu kamar mandi rapat-rapat.


"Airnya masih aku siapin, Sen." Seno menghampiri Nisa yang duduk di pinggir bathub, memegang kedua lengannya supaya berdiri. Kemudian mengusap-usap bahu Nisa dan perlahan meraih kancing kemeja yang dipakai Nisa, membukanya satu per satu. Nisa terkesiap. Jantungnya langsung berdetak kencang. Ini aneh. Biarpun hal ini sudah sering mereka lakukan, tapi Nisa masih saja gugup dibuatnya.


Seno tersenyum. Tak ada suara yang keluar dari mulut masing-masing, hanya ada suara gemericik air di bathub yang terdengar ke seantero ruangan. Tatapan menghamba Seno langsung keluar, dan Nisa suka banget saat Seno menatapnya seperti itu.


Melihat air akan meluber, tangan panjang Seno terulur mematikan kran. Semua kancing kemeja Nisa sudah terbuka seluruhnya. Seno membukanya dan menyimpan baju Nisa di gantungan tak jauh dari sana. Setelah itu dia meraih karet rok yang melilit di pinggang Nisa. Dengan mudah rok itu meluncur mulus ke bawah. Sekarang yang melekat di tubuh Nisa cuma dalaman saja.


"Buka baju aku, Nis," lirih Seno. Nisa menurut. Dia membuka kaus dan celana chino yang melekat di tubuh suaminya. Seketika dada bidang pejal milik Seno langsung terpampang di depan matanya. Nisa mengusap-usapnya pelan. "Sen, inget dulu waktu kamu masih ndut, aku sering nyubutin dada kamu ini?"


"Inget. Dan itu sakit, tau."


Nisa terkekeh. "Hehe, maaf, ya." Lantas mencium lokasi yang dulu sering dicubitnya. "Ilang deh sekarang sakitnya karena udah kamu cium, hehehe," seloroh Seno.


"Bisa aja kamu."


Hening. Suasana kembali syahdu, namun sedikit liar karena tatapan Seno tersorot penuh cinta dan mendamba.


Tangan Seno bergerak ke punggung Nisa dan melepaskan pengait yang menyangga kedua gundukan yang menempel di dadanya. Sejak menikah, Seno jadi ahli dalam hal melepaskan pengait itu.


Dalam sekejap tubuh Nisa sudah tak terhalang sehelai benang pun. Giliran Nisa yang melepaskan pakaian yang tersisa di tubuh suaminya. Setelah itu mereka berendam berdua dia buthub walau sedikit kesusahan karena sempit. Seno membiarkan tubuhnya ditindih Nisa, malah dia senang seperti itu.


Seno membelai-belai anak rambut Nisa yang basah. "Aku suka rambut panjang kamu, Sayang."


"Aku mau potong sedikit boleh? Udah agak kepanjangan soalnya."


"Boleh, tapi jangan pendek-pendek, ya. Segini aja." Seno memberi batas di tulang belikat Nisa.


"Iya."


Seno tersenyum. Tangan yang tadi memainkan rambut, sekarang beralih ke pipi lalu bibir. Nisa membiarkan suaminya bermain-main sesuka hatinya. Dia senang jika Seno seperti itu, dia jadi merasa paling diinginkan.


Sekarang keduanya duduk berhadapan. Tangan Seno perlahan bergerak ke belakang leher Nisa lalu menariknya. Sejurus kemudian dia mencium bibir Nisa dengan lembut. Semakin lama ciuman itu semakin panas, Nisa sampai terengah ketika mengambil napas.


Atmosfir ruangan empat kali lima meter itu berubah panas. Keduanya melakukan hal yang diinginkan untuk memuaskan hasrat masing-masing. Mengerti dan tidak egois. Komunikasi harus lancar, bahkan untuk urusan seperti itu agar keduanya bisa bahagia.


"Kalau sakit bilang, ya," bisik Seno. Nisa mengangguk. Seno tersenyum.


Satu jam penuh mereka berendam di bathub bermandikan air hangat bercampur peluh. Sekarang keduanya melakukan aktivitas mandi seperti biasa, sambil sesekali bercanda.


Menjelang tidur, Seno dan Nisa menggelar sajadah melakukan salat Isya.

__ADS_1


***


__ADS_2