
Pangeran Albert tersadar dan melepaskan cengkeramannya. Bersikap datar menyembunyikan rasa bersalahnya begitu melihat bekas kemerahan di lengan putih Laura.
"Bukankah tadi aku sudah mengatakan untuk jangan menggulung rambut mu ke atas ?" Pangeran Albert menatap tajam pada Laura yang tidak mengikuti perintahnya.
Laura balik menatap heran Pangeran Albert. "Apa hubungannya dengan peristiwa tadi ?"
"Penampilan mu terlalu menarik perhatian pria, Ara ku sayang." Kata Pangeran Albert penuh penekanan di kalimat terakhirnya.
Laura berpaling tidak suka mendengar perkataan Pangeran Albert tanpa berkomentar apa-apa.
"Kamu pulang di antar pengawal ku."
"Bukankah hal itu terlalu berlebihan yang mulia ?"
"Aku tidak ingin di bantah Laura." Kata Pangeran Albert tegas.
Laura terpaksa diam walau dalam hati menggerutu dengan sikap Pangeran Albert.
Pengawal Pangeran Albert berjalan mendekati mereka.
"Antar Laura ke kediaman bangsawan George." Perintah Pangeran Albert.
"Baik yang mulia." Kata pengawal patuh.
Pengawal membukakan pintu mobil penumpang untuk Laura yang membuat Laura terpaksa masuk ke dalam mobil. Pengawal lalu membuka pintu bagian pengemudi kemudian masuk dan mobil berjalan tidak lama kemudian.
🍃🍃🍃🍃
Laura turun ke bawah berniat untuk sarapan pagi. Masuk ke ruang makan tapi tidak menemukan anggota keluarga yang lain membuat Laura heran ke mana orang tua dan kakaknya.
Laura menahan pelayan yang hendak kembali ke dapur.
"Mana yang lainnya ?" tanya Laura pada pelayan.
"Mereka ada di ruang depan Nona Laura." Jawab pelayan.
Laura mengerutkan kening mendengar jawaban pelayan. "Mengapa mereka di sana pagi-pagi sekali ? memangnya kita kedatangan tamu ?" tanya Laura heran.
"Iya, ada tamu Nona."
"Pria atau wanita ?"
"Pria, Nona Laura."
"Ya sudah, kamu boleh pergi." Kata Laura bingung bercampur penasaran dengan tamu yang datang di jam yang tidak biasa tapi memilih untuk menunggu saja di ruang makan.
Suara langkah kaki terdengar mendekat. "Itu pasti mereka, berarti tamu itu sudah pergi." Gumam Laura menembak.
Muncul di pintu tidak lama kemudian orang tua, kakaknya dan seorang pria ?. Laura mengerutkan kening melihat kehadiran pria asing di dalam ruang makan mereka.
Laura menatap Papa penuh tanda tanya dengan kehadiran pria yang baru pertama kali Laura lihat.
__ADS_1
Mereka semua duduk di kursi mereka masing-masing dan pria itu duduk tepat di hadapan Laura.
"Sebelum kita memulai sarapan, Papa akan memperkenalkan tamu kita Ara karena hanya kamu yang belum berkenalan dengan nya." Kata Papa yang di tunggu-tunggu Laura.
"Perkenalkan, namaku Edward Adam dan mulai hari ini akan menjadi pengawal pribadi mu." Suara berat pria itu.
Laura bingung dengan maksud perkataan pria asing itu, menatap pada Papa meminta penjelasan.
"Maksudnya apa Papa ? Ara tidak mengerti." Kata Laura bingung dengan.
"Dia datang atas perintah dari Pangeran Albert untuk menjadi pengawal pribadi mulai hari dan mungkin seterusnya, Papa pun tidak tahu." Papa menjelaskan.
Laura mengerutkan kening mendengar perkataan Papa. "Papa bukankah ini terlalu berlebihan ? Ara tidak butuh pengawal pribadi !" Ara protes menaikan sedikit nada bicaranya.
"Laura perhatikan nada bicaramu." Tegur Mama.
"Maaf Mama, Ara hanya tidak setuju dengan keputusan ini."
"Tapi kita tidak bisa menolak keputusan Pangeran Albert." Kata Papa.
"Pangeran Albert memikirkan keselamatan mu oleh sebab itu dia memerintahkan pengawal pribadi untuk menjaga mu." Mama berkata, menghibur Laura.
Laura memasang muka memelas pada Papa. "Papa, Ara tidak mau seperti ini. Ini seperti mengekang kebebasan Ara."
"Maaf sayang, Papa tidak bisa melakukan apa-apa." Kata Papa penuh sesal.
"Nanti kita bicarakan lagi, lebih baik kita sarapan lebih dulu." Kata Mama menyela pembicaraan.
"Betul kata Mama, Ara. Kita sarapan dulu." Bella ikut menyela.
Mereka sarapan pagi dalam diam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Usai sarapan mereka mulai berdiri dari kursi mereka.
"Ara, Papa lupa memberitahu mu kalau dia juga akan tinggal di sini."
Protes atau marah pun percuma tidak akan ada yang berubah, sejak keputusan pernikahan itu ada hidup ku sudah di luar kendali ku.
Laura meninggalkan ruangan tanpa berkomentar hanya bisa merengut dalam hati.
Selesai berpakaian rapi, Laura turun ke lantai dua. Di bawah tangga Laura berpasangan Mama yang hendak naik ke atas.
Mama melihat penampilan Laura nampak rapi. "Kamu ingin ke luar Ara ?" tanya Mama.
"Iya Mama, aku ingin pergi ke perpustakaan dan akan pulang sebelum makan siang."
"Kamu ingin di antar sopir atau naik mobil sendiri ?"
"Aku bawa mobil sendiri."
"Hati-hati di jalan kalau begitu." Pesan Mama.
__ADS_1
"Iya Ma, Ara pergi dulu."
"Iya."
Laura berjalan menuju garasi mobil, gerakan tangannya terhenti membuka pintu mobil bagian pengemudi saat mendengar suara langkah sepatu mendekat.
"Biarkan aku saja yang mengemudi Nona." Kata Edward muncul di pintu garasi.
"Aku bisa membawanya sendiri." Tukas Laura.
"Maaf sepertinya tidak bisa Nona, anda mulai sekarang tidak bisa keluar sendiri." Kata Edward tegas, melangkah mendekat membukakan pintu penumpang untuk Laura masuk ke dalam mobil.
Dengan kesal mendongkol tidak bisa berbuat apa-apa, masuk ke dalam mobil dengan berat hati.
Edward menutup pintu setelah Laura masuk dan membuka pintu pengemudi untuk dirinya masuk. Menghidupkan mesin mobil, membawa mobil keluar dari garasi menuju pintu gerbang.
"Kita akan ke mana Nona Laura ?" tanya Edward begit mobil sudah berada di jalan raya.
"Aku ingin ke perpustakaan umum kerajaan." Jawab Laura.
"Baik."
"Sebelum ke sana, aku ingin singgah sebentar di cafe dekat Perpustakaan."
"Baik Nona." Edward berkata patuh.
Dalam perjalanan ke tempat tujuan, Laura hanya diam memandang pemandangan dari kaca pintu mobil yang tertutup.
Hanya dalam beberapa hari hidup ku berubah tiga ratus enam puluh derajat. Bahkan hanya keluar sendiri pun sekarang tidak bisa.
Laura menghela nafas panjang, menarik perhatian Edward yang melihat pantulan Laura dari kaca spion depan kursi pengemudi.
"Kita sudah sampai Nona Laura." Edward memberitahu, membuyarkan Laura dari lamunannya.
Laura tersadar, menatap keluar dan melihat ternyata mereka sudah berada di depan cafe yang di maksudnya.
"Kamu tidak usah turun, aku hanya sebentar." Laura menahan Edward yang hendak membuka sabuk pengaman.
"Aku di tugaskan untuk menjaga ke amanan anda Nona."
"Aku tidak lama, aku hanya ingin memesan secangkir kopi untuk aku bawa ke perpustakaan."
"Tapi perintah Pangeran Albert, aku harus selalu berada di samping anda ketika anda berada di luar rumah."
Laura mulai kesal mendengar perkataan Edward. "Ayolah......, tidak mungkin terjadi situasi berbahaya di sana." Kata Laura sambil menunjuk ke cafe.
"Aku harus mengikuti perintah Pangeran Albert dan itu adalah tugas utama ku." Edward tidak ingin mengalah.
"Terserahlah." Kata Laura ketus, mengakhiri perdebatan yang hanya membuatnya lelah.
Edward turun lebih dulu kemudian membukakan pintu mobil untuk Laura turun.
__ADS_1
Laura memesan segelas kopi capuccino untuk nya tanpa bersikap sopan dengan menawarkan kopi pada Edward.
Setelah menerima kopi pesanannya, Laura di ikuti Edward langsung menuju mobil.