
"Jadi wanita ini ternyata tunangan mu ?" Pangeran Eric berkata sambil menilai Laura dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Sebenarnya aku sungguh heran mengapa kamu menerima pertunangan ini jika melihat dari sifatmu. Ternyata kamu di jodohkan dengan seorang wanita yang sangat cantik." Tambah Pangeran Eric memuji Laura.
"Terimakasih atas pujian Yang Mulia." Balas Laura ramah mendengar perkataan Pangeran Eric yang memuji dirinya sedang Pangeran Albert hanya tersenyum lebar.
"Kenapa kamu tidak membawa Laura bersama mu kemarin ketika aku mengajakmu bertemu ?"Pangeran Eric bertanya penasaran.
"Aku sengaja tidak membawanya, aku tidak ingin Laura terlalu dekat dengan banyak pria cukup dengan diriku saja" Ucapan Pangeran Albert yang terdengar posesif mengejutkan mereka berdua.
"Wah wah wah, baru kali ini aku melihat sikap mu yang posesif terhadap wanita." Pangeran Eric takjub sambil geleng-geleng kepala tidak percaya.
"Aku pun tidak menduga diriku akan bersikap seperti ini."
Luara refleks menunduk kan kepalanya, memutar kedua bola matanya mendengar percakapan kedua Pangeran itu.
Sungguh percakapan mereka membuat ku bosan, terlebih Pangeran Albert. Dia bertekat ingin membuat seluruh orang di dalam ruangan ini percaya bahwa kami berdua adalah pasangan yang saling mencintai.
"Kamu ingin sesuatu Ara ?" tanya Pangeran Albert.
Laura mengangkat wajahnya menatap Pangeran Albert. "Mocktail saja Yang Mulia."
Pangeran Albert mengangkat tangannya, memberi kode pada pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka untuk mendekat.
Laura mengangkat tangan ingin mengambil minuman yang di bawa pelayan tapi tangan Pangeran Albert lebih mengambil dan menyerahkan pada Laura.
"Terimakasih." Ucap Laura sambil menerima gelas minuman nya.
"Sama-sama sayang." Balas Pangeran Albert.
"Jadi apa rencana kalian setelah ini ?" tanya Pangeran Eric pada mereka berdua.
"Kemungkinan kami langsung kembali." Jawab Pangeran Albert.
Pangeran Eric mengangguk mengerti. "Sangat di sayangkan kita hanya bertemu sebentar." Ucap Pangeran Eric pada Laura.
Laura tersenyum. "Kita bisa berjumpa jika Yang Mulia berkunjung ke Norwegia."
"Tentu saja seperti itu, kita harus bertemu ketika aku datang ke sana."
Tiba-tiba datang seorang pria berjas hitam berdiri tepat di samping Pangeran Eric dan membisikan sesuatu padanya.
"Albert, aku permisi dulu sebentar." Ucap Pangeran Eric setelah pria berjas hitam itu pergi.
"Tentu saja." Jawab Pangeran Albert sebelum Pangeran Eric melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
Pangeran Albert lalu menoleh menatap Laura dengan intens.
__ADS_1
"Mengapa kamu memakai gaun seperti ini ?" tanya Pangeran Albert dengan raut wajah tidak senang.
"Aku pun tidak menyangka gaun ini ternyata seperti ini, aku berusaha menutupi nya dengan rambutku tapi Yang Mulia menyuruh untuk merapikan rambutku."
Pangeran Albert bergerak membuka kancing jas yang di pakainya kemudian melepas jas nya, bergerak lebih dekat pada Laura yang kemudian memasang kan jas hitam nya ke tubuh Laura.
Pangeran Albert menunduk berbisik di telinga Laura. "Setelah ini kamu harus lebih perhatikan pakaian yang akan kau kenakan Ara. Tidak boleh ada pria lain yang melihat tubuh mu selain diriku. Kamu paham Ara ?"
Laura mengangguk mengerti. "Iya Yang Mulia, aku paham." Ucap Laura menurut mendengar nada suara Pangeran Albert yang mengintimidasi.
"Bagus, itu baru gadis ku."
Terdengar suara alunan musik dansa di dalam ruangan.
"Kalian tidak ingin berdansa ?" Suara wanita tiba-tiba terdengar di antara mereka.
Putri Elenna melangkah mendekati mereka berdua.
"Kamu sangat cantik malam ini Laura." Puji Putri Elenna ketika berdiri di hadapan mereka.
"Terimakasih Putri Elenna, anda juga sangat cantik malam ini." Balas Laura.
"Kalian berdua tidak ingin berdansa ?" Putri Elenna kembali bertanya.
Laura tersenyum masam. "Aku tidak nyaman berdansa sambil memakai jas ini di bahuku."
"Tentu saja tidak, mengapa harus keberatan jika Pangeran Albert ingin berdansa bersama anda."
"Bagaimana Albert ?" Tanya Putri Elenna.
"Tentu saja bisa." Ucap Pangeran Albert mengulurkan tangan yang langsung di sambut oleh Putri Elenna.
Mereka melangkah menuju tengah ruangan di mana sudah ada beberapa pasangan yang tengah berdansa.
Laura yang sudah merasa tidak nyaman lebih memilih melangkah keluar ruangan menuju pintu yang mengarah ke taman bunga.
Terlihat kursi taman yang berada tidak jauh dari pintu, Laura pun memilih untuk duduk di kursi itu.
"Kenapa anda duduk sendiri di sini Nona Laura ?" Suara Edward membuyarkan lamunkan Laura.
Tanpa Laura sadari Edward sudah berdiri di samping kursi taman.
"Ah ! Kamu Edward, dari tadi kamu berdiri di situ ?"
"Baru saja." Jawab Edward sembari duduk di bagian kosong kursi itu.
"Apa tadi yang kau tanyakan pada ku ?"
__ADS_1
"Kenapa anda duduk seorang diri di sini ? Mana Pangeran Albert."
"Pangeran Albert ada di dalam, sedang berdansa dengan Putri Elenna."
"Lalu anda kenapa tidak ikut berdansa dengan Pangeran Albert ?"
"Aku sedang tidak ingin berdansa, aku malah ingin segera pulang tapi situasi tidak memungkinkan."
"Kalau begitu anda ingin aku temani duduk di sini ?"
"Boleh tapi aku sedang malas untuk berbicara."
"Tidak mengapa, aku hanya ingin menemani anda dan menjaga anda karena itu sudah menjadi tugasku."
Setelah nya mereka hanya duduk diam sambil memandangi keindahan taman, terdengar dari dalam bangunan suara alunan musik dan suara canda tawa orang-orang yang berada di dalam ruangan.
Entah sudah berapa lama mereka hanya duduk dalam diam.
"Apakah anda sudah makan malam ?" tanya Edward memecahkan kesunyian.
Laura memutar mutar gelas yang berada di tangannya. "Belum, aku sedang tidak berselera untuk makan."
"Anda akan sakit jika tidak makan."
Laura tersenyum masam. "Aku tahu, nanti aku lihat sesampainya di rumah. Aku akan menyuruh pelayan untuk membuatkan salad buah untuk ku."
"Kedengarannya bagus, aku sendiri yang akan membuat kan nya untuk anda."
"Kamu pandai memasak Edward ?" Tanya Laura penasaran.
"Tentu saja bisa, aku yang hidup sendiri harus bisa memasak dan mengurus diri sendiri."
"Begitu ya..."
"Nona Laura, anda sendiri bisa memasak ?"Edward balik bertanya penasaran.
Laura tersenyum malu sambil menggelengkan kepala. "Tidak bisa Edward, aku malah jarang ke dapur."
"Tidak mengherankan karena anda tumbuh di lingkungan yang semuanya serba terpenuhi, apalagi saat anda akan menikah dengan Pangeran Albert Putra Mahkota kerajaan Norwegia."
"Kalau boleh tahu, kamu sendiri berasal dari keluarga yang bagaimana Edward ?" tanya Laura tiba-tiba.
"Maaf jika pertanyaan ku tiba-tiba, kamu tidak harus menjawabnya." Sambung Laura merasa Edward tidak nyaman dengan pertanyaan yang dia keluarkan.
"Tidak masalah Nona Laura, aku malah senang anda sangat penasaran dengan kehidupan ku." Edward tersenyum menenangkan.
"Tidak ada yang istimewa dari hidup ku, intinya aku berasal dari keluarga berkecukupan." Edward berkata singkat.
__ADS_1