Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 48. Percakapan Santai


__ADS_3

Mendengar perkataan Pangeran Albert membuat Laura terpaksa melangkah mendekat dan duduk di samping Pangeran Albert.


"Sepertinya aku kurang sopan berpenampilan seperti ini di hadapan Yang Mulia." Ucap Laura berusaha menghindar.


Alis Pangeran Albert terangkat sebelah mendengar perkataan Laura yang terdengar lucu di telinganya.


"Bagi orang lain mungkin tidak sopan Ara tapi kamu bukan orang lain, kita juga bukan di tempat umum melainkan di istana ku. Kenapa ? kamu ingin menghindari ku ?"


Tebakan Pangeran Albert langsung di bantah Laura walaupun sebenarnya perkataan nya betul sekali.


"Tidak, bukan seperti itu Yang Mulia. Anda jangan salah paham." Laura berusaha mengelak.


"Ara." Panggil Pangeran Albert tiba-tiba dengan wajah serius.


"Bisa tidak kita bercerita dengan bahasa yang tidak terlalu formal ?"


Pertanyaan Pangeran Albert membuat Laura terkejut.


"Kenapa tiba-tiba anda berkata seperti itu ? Aku sungguh tidak mengerti maksud anda Yang Mulia."


"Aku tahu walaupun kamu berusaha menyembunyikan nya."


"Tahu tentang apa Yang Mulia ?"


"Tahu bahwa selama ini kamu tidak menyukai ku dan menjaga jarak dari ku walaupun kita telah bertungan."


Laura tertegun mendengar perkataan Pangeran Albert, dirinya bingung harus berkata apa.


"Kamu tidak perlu berkata apapun tentang hal itu, aku pun tidak marah padamu dengan kenyataan itu." Pangeran Albert tersenyum lembut pada Laura.


"Tapi jujur kamu wanita pertama yang tidak tertarik padaku." Tambahnya bergerak menyamping menghadap Laura.


Laura menjadi salah tingkah dengan situasi yang sedang terjadi. Sejak pertemuan pertama mereka baru kali ini Pangeran Albert bersikap seperti ini membuat Laura bingung harus bagaimana menaggapi nya.


"Berbalik lah." Perintah Pangeran Albert.


Walaupun bingung dengan maksud Pangeran Albert, Laura tetap berbalik belakang membelakangi Pangeran Albert.


Laura terkejut begitu handuk kecil yang membungkus rambut nya terbuka. Menoleh sedikit ke belakang ternyata Pangeran Albert yang membukanya.


"Apa Yang Mulia lakukan ?" Laura tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.


"Menghadap saja ke depan, aku tak akan berbuat apa-apa padamu. Aku hanya ingin membantu mengeringkan rambut mu."


Laura menjauh sedikit, menghindar dari sentuhan Pangeran Albert. "Aku bisa sendiri Yang Mulia."


"Aku tahu, kamu sudah mengatakannya tadi saat aku menyuruh mu untuk di urus oleh pelayan. Aku hanya ingin melakukan nya saja."


Dengan kikuk, Laura memperbaiki posisi duduk nya dan membiarkan Pangeran Albert mengurus rambut basah nya.


Situasi itu saat itu sungguh intim menurut Laura, dirinya tidak pernah terpikirkan seorang seperti Pangeran Albert mau melakukan hal seperti ini.


Jangan langsung terhanyut dengan tindakan kecil seperti ini Laura, mungkin saja dia juga melakukan hal yang sama pada semua kekasihnya. Dia seorang playboy, pastilah dia pandai merayu terbukti dengan banyaknya wanita yang menjadi kekasihnya. Laura langsung meyakinkan hatinya.


"Sejak melihat rambut panjangnya mu, sudah lama terpikirkan di dalam kepalaku untuk melakukan ini." Ucap Pangeran Albert masih mengeringkan rambut Laura dengan santai.


"Betulkah ?" Laura bertanya tidak yakin.


"Tentu saja, aku sangat menyukai wanita yang memilki rambut hitam dan panjang."

__ADS_1


"Pantas semua wanita yang pernah di kabarkan dekat dengan anda hampir semuanya berambut panjang walaupun tidak semuanya berwarna hitam seperti milik ku. Berarti anda juga sering melakukan hal seperti ini pada mereka ?"


Gerakan tangan Pangeran Albert sempat terhenti sejenak begitu mendengar perkataan Laura.


Laura puna tersadar kalau perkataan nya kali ini sudah kelewatan. "Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung Yang Mulia." Cepat cepat Laura menjelaskan.


"Aku tidak pernah melakukan hal seperti ini pada mereka, kamu wanita pertama yang aku perlakuan seperti ini." Pangeran Albert berkata dengan nada serius.


Untuk kesekian kalinya, Laura hanya terdiam tidak tahu harus berkata apa.


"Kamu terkejut mendengar perkataan ku ?" Tanya Pangeran Albert pada Laura yang hanya terdiam.


"Iya." Jawab Laura.


"Sepertinya kali ini aku banyak membuat mu terdiam karena mendengar ucapan ku."


Laura hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu akan sering terkejut begitu mengetahui dan mengenal aku yang sesungguhnya Ara." Ucap Pangeran Albert, selesai mengeringkan rambut Laura dan meletakkan handuk yang lembab di atas meja.


Laura kemudian bergerak untuk menjauh tapi terhalang dengan lengan Pangeran Albert yang bergerak memeluk pinggang nya dari belakang. Memeluk erat tubuh Laura hingga punggung Laura tersandar di dada bidang Pangeran Albert.


Jantung Laura langsung berdebar kencang dengan pelukan Pangeran Albert yang tidak di duga duga. Tubuh Laura menjadi tegang tapi tidak membuat Pangeran Albert melepaskan pelukannya.


"Wangi tubuh mu sangat menggoda ku." Gumam Pangeran Albert di lakukan leher Laura.


Hembusan napas Pangeran Albert yang menerpa kulit nya membuat napas Laura menjadi tidak teratur, baru tersadar bahwa dirinya sangat sensitif dengan sentuhan di bagian itu.


"Yang Mulia." Bisik Laura berusaha menjauh tapi tidak bisa karena lengan Pangeran Albert yang memeluk erat tubuhnya.


"Jangan menghindar dan jangan takut Ara, aku tidak akan berbuat sesuatu yang tidak kamu inginkan. Aku hanya ingin memelukmu dan tidak lebih." Pangeran Albert menenangkan Laura.


Beberapa menit mereka duduk dengan posisi seperti itu, setelah merasa puas Pangeran Albert melepaskan pelukan nya tetapi memberikan kecupan yang sedikit lama di leher Laura.


Laura terkesiap dengan kecupan itu membuka Pangeran Albert tersenyum geli.


"Bagaimana dengan kamar mu ? ada yang tidak kamu sukai dari pengaturan kamar ini ?" tanya Pangeran Albert masih dengan senyum di wajahnya.


Laura memperbaiki posisi duduk nya, menghadap ke arah Pangeran Albert.


"Kamar nya sangat indah Yang Mulia, aku tidak bisa mengeluh dengan keadaan kamar seperti ini."


Pangeran Albert tersenyum puas. "Baguslah kalau kamu menyukai nya, aku khusus menyuruh Amelia untuk mengatur kamar ini untuk mu."


Kening Laura mengerut "Amelia ? maksud Yang Mulia, Putri Amelia adik Yang Mulia ?" Laura memperjelas.


"Iya, Amelia adik ku." Jawab Pangeran Albert bingung dengan perkataan Laura.


"Kenapa ? ada masalah ?" Pangeran Albert balik bertanya.


"Tidak tidak ada masalah, hanya saja menurut ku itu terlalu berlebih sampai harus merepotkan Putri Amelia Yang Mulia."


"Kenapa bisa berlebihan ? kamu calon istriku jadi kamar yang akan kamu tinggali harus terlihat istimewa, di tambah lagi kamu pindah ke sini meninggalkan kamar yang sudah sangat nyaman bagimu di rumah keluarga mu jadi aku pun harus membuat kamar yang senyaman mungkin untuk mu di sini."


Mendengar penjelasan Pangeran Albert membuat Laura mau tidak mau menjadi terharu akan niat baik yang di berikan Pangeran Albert.


"Terimakasih atas perhatian Yang Mulia." Lirih Laura.


"Apa pun untuk mu yang penting kamu merasa senang Ara."

__ADS_1


"Hanya saja ada satu yang kurang Yang Mulia." Ucap Laura sedikit ragu-ragu.


"Apa itu ? katakan saja. Tidak usah ragu untuk mengatakannya." Pangeran Albert meyakinkan.


"Aku perlu beberapa buku di dalam kamar ku."


"Ada perpustakaan di lantai bawah jika kamu ingin membaca buku."


"Aku ingin sebuah rak buku kecil di dalam kamar ku, untuk ku baca. Aku terkadang dan mungkin hampir setiap malam membaca buku sebelum tidur, itu merupakan kebiasaan ku."


Pangeran Albert mengangguk mengerti. "Baiklah aku mengerti, besok aku akan memerintahkan pelayan untuk mengatur itu."


"Terimakasih Yang Mulia."


"Aku senang kamu bersikap seperti ini terhadap ku, kamu mulai meras nyaman bersamaku dan tidak takut mengungkapkan isi hati mu." Pangeran Albert kembali tersenyum senang.


"Baiklah aku akan keluar dan tidak akan mengganggu waktu istirahat mu." Tambah Pangeran Albert sambil berdiri dari duduk nya.


"Yang Mulia ada yang ingin aku tanyakan ?" Tiba-tiba Laura teringat sesuatu.


Pangeran Albert kembali duduk. "Apa itu ?"


"Kejadian barusan apakah Yang Mulia Raja dan Ratu mengetahuinya ?" tanya Laura dengan ekspresi wajah penasaran.


Pangeran Albert menggeleng kepala. "Tidak, aku meminta Sekretaris istana dan Kepala pengawal untuk merahasiakan hal ini dari Raja dan Ratu."


Laura menghembuskan napas lega. "Baguslah kalau seperti itu."


"Ada hal lain lagi yang ingin kamu tanyakan ?"


"Iya, ini tentang waktu makan di istana. Apakah kita harus selalu makan bersama dengan Yang Mulia Raja dan Ratu ?"


"Kenapa ? apakah hal itu sangat mengusikmu ?" Tanya balik Pangeran Albert dengan wajah tersenyum geli.


Laura mengangguk dengan ekspresi wajah muram. "Iya."


"Kita tidak makan bersama mereka Ara kecuali di saat saat tertentu saja kita makan bersama mereka walaupun istana ku masih berada di satu area dengan istana mereka."


"Ternyata seperti itu, aku lega mendengar nya." Laura tersenyum senang.


"Masih ada lagi yang menganggu pikiran mu ?"


"Untuk sekarang belum ada Yang Mulia."


"Lain kali katakan saja padaku jika ada yang ingin kamu tanyakan."


"Iya."


"Dan jangan lupa, jadwal pelajaran tata krama mu masih berlangsung. Besok pagi guru mu akan datang ke sini, aku harap kamu serius dalam menerima materi."


Wajah Laura langsung muram begitu mendengar perkataan Pangeran Albert.


"Baik Yang Mulia." Jawab Laura terpaksa.


"Istirahat lah Ara, mimpi yang indah." Ucap Pangeran Albert sambil mendekat mengecup sekilas kening Laura kemudian bergerak berdiri.


Laura hanya duduk tidak bergerak, menatap Pangeran Albert berjalan menuju pintu dan membuka nya kemudian menutup pintu dari luar.


Laura menghembuskan napas yang sedari tadi di tahan nya tanpa sadar, perlakuan lembut Pangeran Albert sedikit mengusik perasaan nya.

__ADS_1


"Jangan terlalu terhanyut Laura, jaga hati mu agar nanti tidak terlalu sakit jika suatu hari sesuatu terjadi di luar dugaan mu." Gumam Laura berbicara untuk diri sendiri.


__ADS_2