Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 33. Jadwal Yang Terundur


__ADS_3

"Sepertinya aku mengganggu percakapan kalian." Suara Pangeran Albert tiba-tiba terdengar, membuat Laura dan Edward sedikit terkejut dan secara bersamaan menoleh ke arah datangnya suara.


Nampak Pangeran Albert bersandar dengan santai di kusen pintu sambil melipat kedua tangannya di atas dada.


Edward segera menjauh ke sudut ruangan menjaga jarak sedangkan Laura segera berdiri.


"Maaf Yang Mulia, aku tidak mendengar anda mengetuk pintu." Kata Laura dengan perasaan bersalah.


"Kamu tidak mendengar nya karena aku memang tidak mengetuk pintu dan kenapa juga aku harus mengetuk pintu di rumah ku sendiri ?" Pangeran Albert berkata dengan suara tersinggung.


"Bukan seperti itu maksud ku, Yang Mulia jangan salah paham." Merasa perkataannya salah dengan canggung Laura segera mengoreksi.


Edward yang melihat keadaan Laura yang terpojok merasa kasian dan ingin membantu tapi dirinya sadar bukan tempatnya untuk ikut bersuara.


"Aku tidak menyadari kedatangan anda karena tidak mendengar suara kedatangan anda, bukan maksud menyinggung anda Yang Mulia." Sambung Laura memberi penjelasan.


"Aku tidak ingin membahas nya lagi, aku ke sini hanya ingin memberitahukan kamu sesuatu." Ucap Pangeran Albert sambil melangkah mendekati Laura.


"Apa itu Yang Mulia ?"


Pangeran Albert berhenti tepat di hadapan Laura, mengulurkan tangan memegang rambut panjang Laura.


"Setelah makan malam nanti, kita akan kedatangan tamu."


"Siapa ?"


"Desainer yang akan membawa beberapa gaun untuk kamu pilih yang akan kamu kenakan besok malam."


"Bukankah perjamuan nya di selenggarakan malam ini ?" Tanya Laura sedikit bingung dengan perkataan Pangeran Albert.


"Parjamuan nya di tunda karena suatu hal yang penting, itu sebabnya Pangeran Eric menelepon ku untuk mengajak bertemu." Jelas Pangeran Albert.


"Ternyata seperti itu." Gumam Laura sedikit kecewa, dirinya kecewa karena berada di sana lebih lama.


"Apa ada masalah ?" Tanya Pangeran Albert dengan wajah penasaran begitu mendengar reaksi Laura.


"Tidak ada Yang Mulia, semua baik-baik saja."


"Kalau begitu lebih baik kamu segera membersihkan diri karena jam makan malam tidak akan lama lagi."


" Baik Yang Mulia." Laura berkata patuh.


Tanpa berkata lagi, Pangeran Albert berbalik menjauh meninggalkan Laura dan Edward yang masih berdiri di tempat mereka masing-masing.


Edward berjalan mendekati Laura setelah punggung Pangeran Albert sudah tidak terlihat lagi oleh mereka.


"Kenapa anda terlihat seperti sangat kecewa ?" tanya Edward yakin Laura akan menjawab.


Laura menghela nafas berat. "Parjamuan nya di tunda membuat ku lebih lama berada di sini."

__ADS_1


"Anda tidak suka berada di sini lebih lama, apakah ada yang membuat anda merasa tidak nyaman ?"


"Tentu saja aku tidak suka tapi aku tidak bisa menolak untuk tidak pergi bersama Pangeran Albert dan yang membuat ku tidak nyaman adalah Pangeran Albert sendiri." Keluh Laura.


"Jika bersama dia, aku tidak bisa memilih dan membuat keputusan sendiri. Semua harus mengikuti perkataannya." Tambah Laura.


Edward memasang wajah menyesal. "Maaf Nona Laura, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk anda jika anda sedang bersama Pangeran Albert."


"Tidak apa-apa Edward, ini bukanlah salah mu. Aku mengerti dengan situasi mu."


"Terimakasih Nona Laura." Ucap Edward walaupun masih dengan nada muram yang di balas anggukan kepala oleh Laura.


"Lebih baik aku kembali ke kamar untuk membersihkan diri sebelum waktu jam makan malam."


Laura melangkah dengan wajah tidak bersemangat menuju kamarnya. Begitu tiba di dalam kamar, Laura menatap jam kecil yang berada di nakas samping tempat tidur.


"Sepertinya aku bisa berendam di bathub sebentar." Gumam Laura.


Tok tok


Terdengar ketukan pintu dari luar.


"Masuk !" Seru Laura.


Pintu terbuka, pelayan wanita muncul dari balik pintu.


"Maaf Nona Laura, Pangeran Albert memerintahkannu untuk melayani Nona Laura yang ingin membersihkan diri." Pelayan menjelaskan maksud kemunculannya.


"Baik Nona."


Pelayan berjalan masuk dan menutup pintu kamar dari dalam.


"Tunggu sebentar."


Langkah pelayan menuju pintu kamar mandi terhenti begitu mendengar seruan Laura. "Ada lagi yang anda butuhkan Nona ?" tanya pelayan menoleh pada Laura.


"Kalau ada tolong sekalian nyalakan lilin aromatherapi di dekat bathub untuk ku."


"Baik Nona, masih ada yang lain ?"


Laura menggeleng kepala. "Tidak ada, itu saja."


"Baik akan segera ku kerjakan." Pelayan tersenyum ramah sebelum melangkah kembali menuju kamar mandi.


Menunggu pelayan menyiapkan air mandi nya, Laura mengambil handphone dan berniat menelepon orangtuanya.


Thuuuut thuuuut thuuuut


Sambungan telepon terhubung pada dering ke tiga.

__ADS_1


"Hallo sayang." Ucap Mama begitu sambungan telepon terhubung.


"Hallo Mama." Balas Laura mengambil posisi duduk di samping tempat tidur.


"Mama menunggu telepon mu dari kemarin." Ucap Mama dari seberang.


"Maaf Mama, Ara lupa menelepon Mama. Kemarin Ara lelah sekali jadi lupa menelepon mama." Laura berkata dengan nada menyesal.


"Tidak apa-apa sayang, Mama mengerti."


"Kenapa Mama tidak menelepon ku saja kemarin jika mengkhawatirkan ku ?"


"Mama khawatir mengganggu."


"Mengganggu ? maksud Mama ?" Laura bertanya, bingung.


"Kamu sekarang sedang bepergian bersama Pangeran Albert. Mama takut ketika meneleponmu, kamu sedang bersama nya dan mungkin akan mengganggu nya jadi lebih baik jika kamu yang menelepon lebih dulu." Mama menjelaskan.


Laura mengangguk mengerti walaupun Mama dari seberang tidak melihatnya. "Ara mengerti Mama."


"Jadi kapan kamu akan pulang ?"


"Acara perjamuan nya di tunda sampai besok Mama." Ucap Laura muram.


"Kenapa bisa di tunda Ara ?"


"Entahlah Mama, Pangeran Albert hanya mengatakan karena ada hal yang penting sehingga perjamuan nya di tunda. Ara tidak berani untuk bertanya lebih jauh."


"Kamu terdengar tidak senang, kenapa ? ada masalah ?"


"Tidak ada Mama, hanya Mama pasti tahu aku ikut karena terpaksa dan di tambah perjalanan kali ini makin lama karena acara perjamuannya di tunda membuat ku semakin tidak senang."


"Perjamuan nya hanya di tunda sehari Ara, mungkin setelah itu kalian akan langsung pulang. Pangeran Albert juga memiliki jadwal yang padat di sini." Mama menghibur.


"Semoga saja seperti itu." Laura berharap.


"Sudah dulu Mama, Ara mau mandi dulu tidak lama lagi waktu makan malam." Tambahnya.


"Iya, pergilah mandi." Kata Mama sebelum sambungan telepon terputus.


Tidak lama kemudian pelayan muncul dari dalam kamar mandi.


"Nona Laura, air mandi anda sudah siap. Sebaiknya anda segera mandi sebelum air nya menjadi dingin."


"Terimakasih." Ucap Laura tersenyum bangkit dari duduk nya.


"Sama-sama Nona." Balas Pelayan tersenyum ramah.


Pelayan meninggalkan kamar Laura.

__ADS_1


Laura melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang telah berbua aromatherapi, melepaskan pakaian sebelum masuk ke dalam bathub yang telah berisi air hangat.


"Ah...... !" Laura tanpa sadar menghela nafas panjang, merasa lega karena sedikit lebih rileks begitu air hangat menyentuh tubuhnya.


__ADS_2