
Hari telah gelap dan waktu hampir menunjukan pukul tujuh malam. Pangeran Albert melirik jam tangan di pergelangan tangannya.
"Bukankah sudah seharusnya dia berada di sini sekarang ?" Tanya Pangeran Albert pada Sekretaris istana.
"Memang seharusnya Nona Laura sudah berada di istana sebelum jam makan malam. Bukankah lebih baik anda menelepon Nona Laura langsung, menanyakan keberadaan nya di mana ?"
Pangeran Albert memperbaiki posisi duduk nya, merasa tidak nyaman dengan perkataan Sekretaris istana.
"Ehem ehem." Pangeran Albert membasahi tenggorokan nya.
"Aku tidak memiliki nomor handphone nya." Jawab Pangeran Albert kaku.
Sekretaris istana berusaha menutupi rasa terkejut nya begitu mendengar perkataan Pangeran Albert.
"Kalau begitu aku akan menelepon Tuan George, menayakan keberadaan Putrinya." Ucap Sekretaris istana tidak mengomentari perkataan Pangeran Albert.
"Iya, begitu lebih baik."
Sekretaris istana mengeluarkan handphone dari saku nya. Menekan layar handphone kemudian meletakkan handphone ke telinganya melakukan panggilan telepon.
"Hallo Tuan George."
Sekretaris istana terdiam mendengar suara dari seberang.
"Iya ini aku, Sekretaris istana."
Sekretaris istana terdiam mendengar suara dari seberang.
"Aku ingin menanyakan Nona Laura, seharusnya dari tadi dia sudah harus berada di istana."
Sekretaris istana kembali terdiam mendengar suara dari seberang.
"Ternyata begitu, baiklah. Aku akan memberitahukan Pangeran Albert tentang ini. Kami akan menghubungi pengawal pribadi Nona Laura." Sekretaris istana memutuskan sambungan telepon.
"Bagaimana ? apa kata mereka ?" Pangeran Albert langsung bertanya.
"Mereka mengatakan kalau Nona Laura sudah di antar oleh Edward ke istana sejak petang tadi."
"Benarkah ?" Pangeran Albert tidak percaya.
"Iya."
Pangeran Albert bergerak menuju meja kerjanya di ikuti Sekretaris istana, membuka leptop kemudian menyalahkan nya. Mengetik sesuatu kemudian muncul di layar laptop lokasi tempat Laura sekarang berada.
"Posisi mereka sekarang sedang bergerak menuju luar kota." Sekretaris istana lebih dulu mengomentari tampilan di layar laptop.
"Anda memasang alat pelacak pada Nona Laura ?" Sekretaris istana baru tersadar kemudian.
"Iya."
__ADS_1
Sekretaris istana menatap takjub pada Pangeran Albert. "Tindakan anda sangat tepat."
"Aku hanya menjaga hal hal seperti ini akan terjadi." Ucap Pangeran Albert dengan nada dingin menahan emosi.
"Jadi apa yang akan anda lakukan ?"
"Panggil kepala pengawal istana sekarang, kita harus segera menyusul mereka sebelum mereka pergi terlalu jauh."
"Baik Yang Mulia." Patuh Sekretaris istana bergerak keluar ruangan.
Muncul tidak lama kemudian kepala pengawal istana.
Kepala pengawal memberi hormat. "Yang Mulai, anda memanggil ku ?"
"Iya, kita harus menyusul Edward yang pergi bersama dengan tunanganku." Rahang Pangeran Albert menegang.
"Baik Yang Mulia, aku akan segera menyiapkan pasukan. Anda juga ingin ikut bersama kami ?"
"Iya tentu saja, segera bergerak agar mereka belum pergi terlalu jauh."
"Baik Yang Mulia."
Pengawal kerajaan bergegas keluar ruangan, Pangeran Albert sendiri mengambil leptop nya terlebih dahulu sebelum keluar dari ruangan nya.
Di pintu depan istana sudah bersiap beberapa mobil beserta para pengawal. Dengan sigap mereka membukakan pintu mobil untuk Pangeran Albert masuk.
"Kita ke arah mana Yang Mulia ?" Tanya kepala pengawal menoleh ke belakang begitu duduk di kursi depan samping sopir.
"Baik, aku tahu lokasinya. Mereka sekarang menuju luar kota." Ucap kepala pelayan kemudian memakai alat penghubung di telinganya memberitahu tim nya lokasi yang akan mereka tuju.
Mobil yang di tumpangi Pangeran Albert bergerak lebih dulu baru kemudian di susul beberapa mobil yang di tumpangi para pengawal.
Berjalan berjejer rapi di jalan raya, logo kerajaan yang terdapat di mobil memberi keleluasaan untuk mereka melaju di jalan raya tanpa ada hambatan.
Selama pengejaran berlangsung, Pangeran Albert terus memantau posisi kendaraan yang di tumpangi Laura dan Edward. Mengeluarkan handphone berbuat menghubungi Sekretaris istana.
Tuut... tuut....
Handphone tersambung pada dering ke dua.
"Hallo." Kata Pangeran Albert ketika sambungan telepon terhubung.
"Hallo Yang Mulia. Ada yang bisa aku lakukan ?" Sekretaris istana langsung bertanya.
"Berapa nomor kendaraan yang di tumpangi Laura dan Edward ?"
"Aku tidak sempat menanyakannya tadi." Nada sesal dalam suara Sekretaris istana.
"Akan segera ku tanyakan pada orangtua Nona Laura." Ucap Sekretaris istana dengan cepat.
__ADS_1
"Aku tunggu sekarang juga, sekalian jenis kendaraan dan warnanya agar mudah di temukan begitu kami dekat dengan lokasi mereka." Perintah Pangeran Albert.
"Baik Yang Mulia, akan aku kirim secepatnya pada anda." Patuh Sekretaris istana.
Pangeran Albert langsung mematikan sambungan telepon dan kembali fokus ke layar laptop juga sesekali menatap ke depan.
Beberapa menit kemudian terdengar nada pesan masuk dari handphone Pangeran Albert, pesan dari Sekretaris istana yang memberitahukan nomor kendaraan dan warna serta jenis kendaraan yang di naiki Laura dan Edward.
Pangeran Albert langsung memberitahu ke kepala pengawal istana informasi yang di berikan Sekretaris istana padanya.
"Kita sudah dekat dengan lokasi mereka." Pangeran Albert memberitahu ke Kepala Pengawal.
"Baik." Jawab Kepala pengawal dan memberitahu ke anggota tim nya.
Mereka lalu dengan panuh perhatian melihat semua kendaraan yang sedang melaju di hadapan mereka.
"Bukankah itu mereka ?" Kepala pengawal menunjuk ke sebuah kendaraan warna hitam sedikit jauh dari hadapan mereka.
Pangeran Albert memicingkan mata untuk melihat dengan jelas kendaraan yang di maksud Kepala Pengawal.
"Iya itu mereka." Pangeran Albert mengenal kendaraan itu, mobil yang sering Laura pakai jika ingin keluar rumah.
"Kejar mereka." Perintah Pangeran Albert.
"Baik !."
Sedangkan di pihak Laura dan Edward.
Edward menatap kaca spion di depannya dan melihat dari pantulan cermin sebuah mobil berlogo kerajaan melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mereka membuat Edward dengan refleks menaikan laju mobil yang di bawa nya.
Laura merasa ada yang aneh dengan laju mobil yang tiba-tiba sedikit lebih cepat.
"Kenapa Edward ?" Laura penasaran bertanya.
"Tidak apa-apa Nona Laura." Jawab Edward berusaha tenang.
Insting Laura merasakan ada yang aneh, dia pun menoleh ke belakang dan melihat mobil dengan logo kerajaan berada tepat di belakang mereka.
"Mereka menemukan kita Edward." Laura berkata panik, takut dengan keadaan yang mungkin terjadi begitu mereka mendapatkan mereka.
"Anda duduk tenang saja Nona, serahkan semua pada ku." Edward berkata menenangkan Laura.
Laura kembali menoleh ke belakang, menatap lebih seksama ke adaan di belakang. Ternyata mobil mereka lebih dari satu. Laura menghitung ada total empat mobil yang mengikuti mereka.
Laura menelan ludah, panik dengan situasi yang di hadapinya, mobil mereka saling susul menyusul di jalan raya yang sunyi itu.
Memandang keluar jendela begitu salah satu mobil akhirnya bisa menyusul mereka dan melaju di depan mobil mereka.
Edward berusaha melewati mobil itu, tapi mobil itu tidak memberi sela untuk Edward bisa melewati nya.
__ADS_1
Mobil itu melaju sedikit menjauh dan berhenti tiba-tiba di hadapan mereka, Edward refleks menginjak rem mobil untuk menghindari terjadinya tabrakan.