Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 29. Hari Keberangkatan


__ADS_3

Usai makan malam semua anggota keluarga George berkumpul di ruang keluarga.


Papa menatap dengan wajah serius ke arah Laura, Laura melirik sekilas ke arah Papa dari layar televisi sudah menebak apa yang akan Papa katakan ke padanya.


"Ara." Panggil Papa pelan, meminta perhatian padanya.


Laura menoleh. "Ya Papa."


"Bisa kau jelaskan maksud perkataan Pangeran Albert tadi pagi ? Papa belum begitu mengerti." Kata Papa menuntun penjelasan.


Laura menoleh ke arah Mama. "Mama belum menjelaskan pada Papa ?" Laura balik bertanya.


"Mama mu sudah menceritakan nya tapi Papa ingin mendengar langsung dari mulut mu." Papa bersuara lebih dulu sebelum Mama menjawab.


Laura menghela napas panjang kemudian menatap Bella, Mama dan Papa yang menatap balik kepadanya menunggu penjelasan dari Laura.


"Apa yang terjadi sudah ku katakan semuanya pada Mama, tidak ada yang kusembunyikan." Ungkap Laura.


"Kapan kamu mengetahui kalau Pangeran Albert sudah memiliki kekasih ?" tanya Papa.


Laura mengerutkan kening mendengar pertanyaan Papa. "Bukankah semua orang di negara ini mengetahuinya ?" Laura balik bertanya heran.


"Maksudmu apa Ara ? Papa jadi bingung."


"Bukankah banyak muncul di berita baik di layar televisi ataupun di media sosial kabar Pangeran Albert yang sering di dapati dengan seorang wanita ? bahkan sering berganti wanita di setiap acara - acara yang dia datangi." Jelas Laura.


"Itu hanyalah berita yang di buat-buat media untuk mencari sensasi agar menarik perhatian masyarakat." Ucap Papa membela Pangeran Albert.


"Betul apa yang di katakan Papa, Ara. Pangeran Albert tidak akan bersikap seperti seorang playboy." Bella ikut bersuara membela Pangeran Albert.


"Lalu apa penjelasan nya tentang wanita wanita yang dia bawa ke acara acara itu? lalu siapa wanita yang datang pada ku kemarin yang mengaku sebagai kekasihnya ?" Laura mulai menaikkan nada bicara, tersulut emosinya mendengar keluarganya sendiri membela Pangeran Albert.


"Pasti Pangeran Albert hanya menganggap mereka sebagai teman dan menghormati mereka sehingga mengajak mereka menemani dirinya di acara acara yang harus dia hadiri." Papa menjelaskan, seakan tahu betul keadaan Pangeran Albert.


"Dan mungkin saja wanita yang mendatangi mu itu salah mengartikan maksud dari Pangeran Albert yang bersikap baik padanya." Sambung Bella kembali.


"Sudah sudah tidak usah di bahas lebih jauh lagi." Mama memotong pembicaraan, Laura yang sempat membuka mulut ingin protes mengatakan sesuatu terpaksa menutup kembali mulutnya.


Mama menatap Laura. "Jadi bagaimana dengan memar di wajah mu ? apa yang di katakan Dokter ?" Mama bertanya mengganti topik pembicaraan.


"Dokter berkata bukan sesuatu hal yang serius, Dokter juga memberikan obat minum dan salep yang harus di oleskan di bagian kulit yang memar." Jelas Laura.


"Jadi bagaimana dengan rencana kalian untuk bepergian ke Spanyol ?" Mama kembali bertanya. "Apa kah tetap berlanju ?" Sambung Mama kembali.


"Sesuai rencana awal mama, kami akan tetap pergi walaupun aku sudah menyarankan pada Pangeran Albert untuk pergi walaupun tanpa ku tapi Pangeran Albert menolak dengan tegas."


"Hmmm.... begitu rupanya." Gumam Mama mendengar penjelasan dari Laura sedangkan Papa dan Bella hanya bisa mengangguk mengerti.


"Semoga saja memar di wajah mu bisa hilang sebelum kalian pergi." Kata Mama penuh harap.




Hari keberangkatan mereka telah tiba, pagi itu Laura sedang bersiap-siap.



Terdengar ketukan pintu dari luar kamarnya.



"Masuk !" Sahut Laura dari dalam.



Pintu terbuka, nampak pelayan dari balik pintu.


__ADS_1


"Nona Laura jemputan anda telah tiba." Pelayan memberitahu.



"Baiklah, katakan pada mereka aku akan segera turun." Ucap Laura sambil bangkit dari kursi meja riasnya.



Pelayan mengangguk mengerti. "Baik Nona." Kata pelayan sebelum berbalik pergi.



Laura mengedarkan pandangan di sekitar kamar nya, memeriksa apakah ada yang terlupakan dan berjalan ke arah pintu setelah yakin tidak ada yang terlupaka.



Di ruang depan telah menunggu Papa dan Mama juga seorang pria memakai kemeja putih dan berjas hitam berdiri tepat di samping Edward.



"Nona Laura, aku bertugas untuk menjemput dan mengantar anda ke bandara." Pria itu langsung menjelaskan maksud kedatangannya sebelum Laura sempat untuk bertanya.



"Pangeran Albert menunggu anda di bandara." Tambahnya, kembali menjelaskan situasi.



Laura mengangguk mengerti. "Baiklah." Ucap Laura, mengikuti rencana Pangeran Albert.



"Edward akan ikut dengan ku bukan ?" tanya Laura pada pria berjas hitam sambil melirik ke arah Edward.




"Berarti Edward bisa ikut dengan ku." Laura langsung membuat kesimpulan.



"Tapi-"



"Aku yang akan menjelaskan pada Pangeran Albert, kamu tenang saja." Laura memotong perkataan pria itu.



Laura menatap ke aran Edward. "Barang-barang mu sudah kamu siapkan ?"



Edward mengangguk. "Sudah Nona Laura, berjaga-jaga bila aku di butuhkan untuk ikut." Jawab Edward.



"Bagus." Puji Laura lalu menoleh pada pria berjas hitam. "Kita berangkat sekarang ?"



"Iya Nona Laura."



"Hati-hati selama di perjalanan Ara, kabari Mama jika kamu sudah tiba." Pesan Mama.


__ADS_1


"Baik Mama, akan Ara kabari jika sudah tiba."



Papa dan Mama mengantar Laura sampai ke depan pintu rumah. Sopir dengan sigap membukakan pintu mobil penumpang untuk Laura masuk lebih dulu yang di susul kemudian Edward sedangkan pria yang berjas hitam duduk di kursi depan samping kursi sopir.



Mobil bergerak, Laura melambaikan tangan pada kedua orangnya yang balas melambaikan tangannya.



"Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan kepergian Ara kali ini Papa." Ucap Mama dengan nada cemas penuh kekhawatiran begitu mobil yang di tumpangi Laura sudah tidak terlihat lagi.



"Mama jangan terlalu cemas seperti itu." Tegur Papa.



"Ara kita pergi bersama Pangeran Albert, lagian Edward juga ada bersama nya untuk menjaganya." Tambah Papa.



Mama mengangguk setuju."Mungkin betul yang Papa katakan, Mama mungkin terlalu berlebih."



"Lebih baik kita masuk ke dalam, pagi ini cuaca sedikit berangin nanti Mama masuk angin karena hanya memakai pakaian yang tipis." Ucap Papa penuh perhatian sambil mengajak Mama masuk ke dalam.



Sesampainya di bandara, mobil yang di tumpangai Laura berhenti tidak jauh dari pesawat jet pribadi berpenumpang 10 kursi.



"Yang Mulia sudah menunggu anda di dalam pesawat." Pria berjas hitam memberi tahu, Laura hanya mengangguk mengerti.



Edward turun lebih dahulu kemudian membantu Laura untuk turun dari dalam mobil.



Laura melangkah menaiki anak tangga di susul Edward dari belakang, begitu masuk tampak Pangeran Albert yang telah duduk di salah satu kursi yang terdapat di samping jendela menoleh ke arahnya begitu menyadari kedatangan Laura.



Kening Pangeran Albert mengerut begitu menyadari kehadiran Edward di belakang Laura.



"Kenapa dia ada bersamamu ?" tanya Pangeran dengan nada tidak senang menatap ke arah Edward.



"Aku yang memintanya untuk ikut bersama ku lagian tidak ada perintah dari Yang Mulia melarang Edward untuk ikut bersamaku." Jawab Laura.



"Bukan kah Edward pengawal pribadi ku ? jadi bukankah hal yang wajar bila dia ikut kemana pun aku pergi ?" tambah Laura sebelum Pangeran Albert kembali bersuara.



Pangeran Albert menghembus napas panjang. "Terserah kamu saja lah." Ucap Pangeran Albert acuh tak acuh.



"Terimakasih Yang Mulia." Balas Laura tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2