
Aku melihat dari jauh interaksi kedua orang tuaku dengan Pangeran Albert yang terlihat sedikit kaku. Ku edarkan pandanganku melihat reaksi orang di sekitar yang terlihat penasaran melihat mereka bertiga sedang berinteraksi.
"Sepertinya orang-orang sudah mengetahui kabar pernikahan mu dengan Pangeran Albert." Suara Charlotte mengalihkan perhatian Laura.
Laura menoleh menatap Charlotte dengan kening mengerut. "Kenapa bisa ? Orang pasti tidak langsung berpikir ke sana ketika melihat kami berdua berbicara kecuali ada yang memberi tahu dan menceritakan pada semua orang."
"Tebakan mu tepat sayang, memang kalau orang dengan otak encer analisisnya selalu tepat." Charlotte berbicara kagum dengan raut wajah mendramatisir.
"Perjelas Charlotte." Laura berkata tegas.
"Aku mendengar beberapa orang berbicara, mereka katakan kalau Pangeran langsung yang berbicara pada Rektor, Dekan dan beberapa profesor yang tadi menyambut kedatangannya."
"Sudah ku duga." Laura berkata ketus menoleh pada Pangeran yang masih berbincang dengan kedua orang tuanya yang entah sibuk membicarakan tentang apa.
"Kamu tidak ingin bergabung di sana." Charlotte berbicara menatap ke arah orang tua Laura.
"Untuk apa ? Aku malas berbicara dengan Pangeran Albert."
"Kalau aku jadi kamu tanpa di suruh pasti langsung ke sana tidak ingin jauh-jauh dari Pangeran Albert."
"Pergi saja ke sana kalau begitu." Ketus Laura, mulai kesal melihat tingkah sahabatnya itu.
"Ara sayang..... tidak mungkinlah aku ke sana, orang yang tidak punya sangkut paut apapun." Charlotte berkata. "Kamu jadi menjengkelkan !" Tambah Charlotte dengan muka masam.
"Aku yang seharusnya kesal, sejak aku memberi tahu mu tentang kabar pernikahan ku dengan pangeran Albert sikapmu jadi berlebihan sekali."
Charlotte menarik nafas panjang. "Oke, oke, baiklah kita tidak usah membahas tentang Pangeran Albert lagi." Charlotte mengalah. "Jadi sekarang bagaimana ? kamu langsung pulang tanpa menunggu orang tuamu ?" tambah Charlotte dengan wajah serius.
Sekarang giliran Laura yang menarik nafas panjang sambil menatap orang tuanya.
"Aku sebenarnya ingin segera pulang tapi tidak mungkin tanpa kedua orang tuaku, masalahnya aku juga tidak ingin ke sana dan harus bertatap kembali dengan Pangeran Albert."
"Sampai kapan kamu akan seperti ini Ara ? tidak selamanya kamu bisa menghindar darinya."
"Sampai kami menikah, sampai dia sah menjadi suamiku. Selama belum sah aku tetap akan menjauh dan berusaha tidak berurusan dengannya. Charlotte, aku sebisa mungkin ingin menikmati masa-masa terakhir kebebasan ku."
__ADS_1
"Baiklah baik, aku mengerti itu gunanya sahabat. Aku akan membantumu, kamu tunggu saja orang tua mu di dalam mobil. Aku akan ke sana mengurusnya."
Charlotte berjalan ke arah Orang tua Laura dan Pangeran Albert tanpa menunggu tanggapan dari Laura.
Laura langsung bergerak menuju tempat parkiran mobil yang terletak di dekat gerbang kampus.
Laura langsung masuk ke dalam mobil yang tidak terkunci karena keamanan kampus yang sangat ketat tidak membuat khawatir meninggalkan mobil terparkir tanpa terkunci.
Menunggu kurang lebih sepuluh menit, Laura melihat orang tuanya berjalan mendekat.
Entah apa yang Charlotte katakan pada mereka, sampai Papa dan Mama bisa ke sini dengan cepat.
Mama membuka pintu mobil bagian belakang dengan wajah cemas menatap Laura.
"Kamu tidak apa-apa sayang ?" tanya Mama duduk di sebelah Laura sambil memegang kening Laura.
Tidak lama Papa juga masuk ke depan bagian kursi pengemudi, menoleh ke belakang menatap Laura memastikan.
Laura mengernyit heran. "Ara baik-baik saja Mama."
"Tapi kata Charlotte kamu tiba-tiba kurang enak badan, katanya kamu mengeluh sakit kepala dan pusing." Kata Mama bingung.
"Iya." Jawab Mama.
"Sebenarnya kepalaku tadi agak sakit mungkin karena cuaca yang sedikit terik hari ini makanya aku balik ke mobil lebih dulu tapi sekarang sudah sedikit mendingan." Laura terpaksa mengikuti sandiwara yang di buat Charlotte.
Berbohong sedikit tidak masalah bukan ?, Laura memperbaiki posisi duduknya merasa sedikit bersalah pada orang tuanya.
"Kalau begitu kita lebih baik pulang sekarang." Papa memperbaiki posisinya, kembali duduk menghadap ke depan dan menghidupkan mobil.
"Bagaimana dengan Pangeran Albert Papa ? bukankah tadi kalian sedang berbicara dengannya ?" Laura bertanya dalam perjalanan pulang ke rumah mereka.
"Kenapa dengan Pangeran Albert ?"
"Dia tidak masalah ataupun tersinggung dengan kalian yang tiba-tiba pamit pulang ?"
__ADS_1
"Tidak sayang, dia memakluminya." Mama yang menjawab.
"Syukurlah kalau begitu." Laura berkata sungguh-sungguh.
Aku tidak membayangkan bagaimana jadinya kalau Pangeran Albert yang angkuh itu tersinggung dengan Papa dan Mama yang pergi meninggalkan dia yang sedang sibuk mengajak mereka berbicara. Bisa-bisa keluarga kami di asing kan di daerah terpencil di negara ini.
Laura bergidik ngeri membayangkannya.
Perjalanan ke rumah sedikit memakan waktu agak lama di karenakan Papa yang sudah sedikit kaku membawa mobil di karenakan terbiasa memakai sopir pribadi.
Tapi untuk hari terpaksa Papa sendiri yang membawa mobil karena sopir keluarga yang tiba-tiba sakit.
Mobil memasuki gerbang menuju pintu depan rumah melewati taman yang di hiasi berbagai macam bunga yang bermekaran di musim semi membuat pemandangan taman menjadi indah.
Papa menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk rumah. Mereka turun bersamaan dari dalam mobil menaiki beberapa anak tangga menuju pintu masuk.
Laura masuk lebih dulu dan begitu terkejut melihat banyaknya rangkaian bunga dari berbagai jenis bunga tertata rapi di meja dan bahkan sampai di letakan di sofa karena banyaknya.
"Kenapa berhenti di situ Ara ?" tanya Mama heran melihat Laura yang berdiri di pintu masuk.
"Ara hanya terkejut melihat ruang tamu yang di penuhi dengan berbagai jenis rangakaian bunga Mama." Ucap Laura dengan nada takjub berjalan masuk.
Bingung dengan maksud Laura, Mama memilih untuk masuk dan melihat apa yang di maksud Laura.
"Banyak sekali bunga nya, siapa yang memberikan ?" tanya Mama setelah masuk ke dalam dan melihatnya sendiri di susul Papa di belakangnya.
Pelayan yang sedang bekerja di ruang tengah berjalan tergesa-gesa ke ruang depan begitu mendengar suara tuannya.
"Nyonya, Tuan, bunga ini kiriman dari Pangeran Albert untuk Nona Laura. Pesan dari pembawa bunga untuk di sampaikan ke Nona Laura "Selamat untuk Laura atas kelulusannya dari calon suamimu Pangeran Albert" begitu isi pesannya." Ucap pelayan bersemangat.
"Baiklah, kamu boleh pergi." Perintah Papa.
"Huh ! walaupun dia memberi bunga sebanyak ini tidak akan merubah pandanganku tentangnya." Laura mendengus jengah melangkah masuk ke dalam tanpa menghiraukan rangkaian bunga yang mengisi ruang depan.
Papa hanya menggeleng kepala melihat tingkah Laura.
__ADS_1
"Jadi semua bunga ini mau kita apakan Papa ?" tanya Mama bingung menatap Papa.
"Entahlah Ma, Papa juga tidak tahu. Terserah Mama saja mau di apakan semua bunga ini, Papa masuk ke dalam dulu." Ucap Papa pergi berlalu.