
Mobil yang di kendarai Laura dan Edward di kepung oleh mobil Pangeran Albert dan para pengawal nya, membuat Edward tidak bisa berbuat apa-apa.
Semua pengawal kerajaan turun dari dalam mobil, berdiri mengelilingi mobil mereka. Kepala pengawal turun dari dalam mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk Pangeran Albert.
Dengan ekspresi wajah datar, Pangeran Albert turun dari dalam mobil. Bersandar di badan mobil dengan melipat kedua tangan di atas dada menatap pada Laura dan Edward yang masih duduk di dalam mobil.
Dengan isyarat menggerakkan dagu nya, memerintahkan Kepada pengawal untuk memaksa Edward dan Laura keluar dari dalam mobil.
Salah satu pengawal bergerak membuka pintu mobil dari luar, menarik keluar Edward dengan paksa.
Edward meronta berusaha melepaskan dirinya tapi tidak bisa karena beberapa pengawal maju membuat dirinya tidak bisa bergerak.
Mereka membuat Edward terpaksa berlutut di atas aspal menghadap Pangeran Albert, Laura yang melihat dari dalam mobil hanya terdiam ngeri tanpa sadar meletakkan telapak tangan di atas mulut nya.
Pangeran Albert bergerak mendekati Edward, berdiri tegak di hadapan Edward menatap dengan ekspresi dingin.
"Besar sekali nyalimu Edward, berani sekali kamu membawa pergi tunangan sekaligus calon pengantin ku." Ucap Pangeran Albert dengan nada suara rendah tapi cukup membuat siapapun yang mendengar akan merinding di buat nya.
"Nona Laura tidak bahagia dengan rencana pernikahan ini jadi aku membantunya untuk lepas dari rencana pernikahan kalian. Yang Mulia juga hanya menganggap pernikahan ini sebagai formalitas biasa dan masih menjalin hubungan dengan wanita lain bahkan di hadapan Nona Laura, jadi aku rasa Yang Mulia tidak perlu bertindak berlebihan seperti ini. Bukankah tindakan ini menguntungkan kedua belah pihak, Yang Mulia dan Nona Laura ?"
"Kamu tidak perlu mengajarkan atau membantu ku dalam hal ini Edward. Kebahagiaan Laura bukan menjadi urusan mu karena dirimu bukan siapa siapa bagi nya. Mungkin benar Laura tidak bahagia tapi dirinya tetap tidak bisa lepas dari rencana pernikahan ini karena keluarganya yang menjadi taruhan nya."
"Beri dia pelajaran." Tambah Pangeran Albert sebelum Edward mengeluarkan suara.
Dua pengawal maju ke depan dan mulai memberikan pukulan keras ke wajah dan perut Edward.
Edward hanya bisa mengerang menahan sakit dan tidak bisa membalas karena dirinya yang tidak bisa bergerak.
Laura yang melihat keadaan Edward langsung segera keluar dari mobil, berlari ke arah Edward. Dirinya langsung di pegang oleh satu pengawal, membuatnya tidak bisa mendekati Edward.
Pengawal itu menarik Laura ke arah Pangeran Albert. Pangeran Albert langsung memeluk pinggang Laura, mengancing nya agar tidak bergerak dan tetap berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Kumohon lepaskan Edward, dia hanya kasian dan ingin membantu ku." Laura memohon pada Pangeran Albert dengan suara memelas.
"Tidak usah memohon padanya, dia berani berbuat seperti ini berarti juga berani menerima resiko nya." Ucap Pangeran Albert dingin.
"Kumohon....... ,aku akan ikut dengan Yang Mulia untuk pulang."
Pangeran Albert menatap Laura. "Kamu memang akan pulang bersama ku, tidak ada tempat bagimu selain bersamaku."
"Betul betul sekali yang anda katakan itu sebabnya aku tidak membuang cincin pertunangan ku, agar mempermudah anda menemukan ku." Laura memberi alasan dengan sesekali melihat pengawal yang masih memberi pukulan pada Edward.
"Kumohon Lepaskan dia...... , dia bisa mati Yang Mulia." Luara panik dan takut.
Pangeran Albert terdiam sejenak sebelum berkata. "Berhenti."
Para pengawal menjauh, Laura refleks menghelan nafas lega. Edward langsung terbaring lemas tak berdaya di atas aspal bersimbah darah.
"Jika bukan karena Laura yang memohon, aku pasti akan melenyapkan mu." Ucap Pangeran Albert dingin menatap Edward dingin.
Laura yang merasa bersalah dan sedih melihat keadaan Edward, air matanya berurai jatuh. Ingin mendekat pun tidak bisa karena Pangeran Albert yang memeluk dirinya erat.
"Maafkan aku Edward, kamu begini karena aku." Ucap Laura di sela-sela tangisan nya.
"Jangan menangis untuk nya." Ucap Pangeran Albert dengan nada tidak suka.
"Tapi dia begini karena aku." Balas Laura tapi tetap menghapus air mata di pipinya.
"Tunggu saja aku Nona Laura, aku pasti akan membawa Nona Laura pergi menjauh darinya." Janji Edward berusaha untuk duduk tapi tidak bisa karena nyeri yang dia rasakan di seluruh tubuhnya.
"Tidak akan ada kesempatan kedua untuk mu Edward. Laura tidak akan pernah bisa menjauh dariku." Ucap Pangeran Albert dengan penuh percaya diri
Laura hanya terdiam mendengar perkataan Pangeran Albert, dirinya sungguh merasa seperti terpenjara.
__ADS_1
"Kita kembali sekarang." Perintah Pangeran Albert, menarik Laura bersamanya menuju mobil.
"Tunggu dulu Yang Mulia, bagaimana dengan Edward ?" Laura kembali panik, menahan langkah Pangeran Albert.
Pangeran Albert menoleh ke belakang pad Edward. "Biar kan dia di sini, dia tidak bekerja lagi untuk ku."
Laura menatap sekeliling, tidak terdapat satu rumah pun di sekitar mereka. "Tapi tapi Yang Mulia, dia akan mati jika di biarkan sendiri di sini."
"Jika ajal nya seperti itu, aku bisa apa ?" Pangeran Albert berkata cuek kembali melangkah menuju mobil.
"Yang Mulia, kita cukup membawa nya kembali ke kota." Bujuk Laura, sungguh dirinya tidak tega membiarkan Edward.
Pangeran Albert menatap Laura. "Aku tidak pernah mengulangi perkataan ku sebelumnya."
Laura terdiam, mengikuti Pangeran Albert masuk ke dalam mobil dengan terpaksa. Begitu duduk, Laura langsung menoleh melihat Edward terbaring sendiri di atas aspal lewat jendela mobil, menatap sedih tak berdaya.
Mobil mulai bergerak menjauh, Edward dalam diam melihat Laura yang menjauh pergi. Menarik napas panjang menatap langit malam dengan tatapan kosong. Menyasali dirinya yang tidak berdaya membawa dan melindungi Laura
"Tunggu saja aku Nona Laura, cepat atau lambat aku akan membawa mu pergi jauh." Janji Edward menatap langit malam penuh bintang.
Di dalam mobil Laura hanya terdiam menunduk sambil memutar mutar cincin di jari manisnya tanpa sadar. Di pikirannya hanya terus memikirkan keadaan Edward yang di tinggal seorang diri di sana.
Apakah dia akan selamat dan baik-baik saja di sana ? Ya Tuhan tolonglah Edward, dia orang yang baik jangan sampai dirinya mati sia-sia. Dalam hatinya memohon.
"Aku senang dirimu bisa berpikir jernih dalam bertindak dan masih memikirkan keluarga mu." Pangeran Albert bersuara, memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Kamu pasti tahu apa yang akan terjadi pada keluarga mu jika kamu sampai melakukan kesalahan fatal merusak nama baik keluarga kerajaan."
"Aku tahu itu Yang Mulia." Balas Laura masih menunduk.
"Bagus, simpan terus di dalam kepalamu akibat yang di terima oleh keluarga mu jika dirimu melakukan kesalahan dengan begitu kamu akan selalu bertindak lebih hati-hati dalam segala hal."
__ADS_1
Perkataan Pangeran Albert membuat Laura ingin menangis tapi di tahan nya.
Yang kuat Laura, dirimu harus kuat menjalani takdir kelam hidup mu. Laura menyemangati diri sendiri.