Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 17. Nonton Film


__ADS_3

"Kamu sudah melihat berita di televisi atau di internet ?" Charlotte menelepon Laura pagi hari setelah sarapan.


"Belum, aku belum memegang handphone ku sejak aku bangun tidur. Kenapa memangnya ? ada suatu hal yang menghebohkan ?" Laura bertanya balik.


"Berikut heboh yang menggemparkan seluruh negara khususnya untuk para wanita lajang di negeri ini." Seperti biasa, Charlotte berbicara mendramatisir.


Laura tersenyum geli mendengarnya. "Apa sih ?"


"Pihak istana kerajaan sudah mempublikasikan foto dan mengumumkan pertunangan mu dengan Putra mahkota, Pangeran Albert."


"O..... kabar itu ?" Senyum Laura hilang mendengar perkataan Charlotte. "Aku mengira kabar apa." Tambahnya muram.


"Kamu tidak senang mendengar kabar itu ?"


Laura memutar kedua bola matanya, jengah. "Kamu masih nanya ! sejak kapan aku senang dengan hubungan ini ?"


"Jangan marah Ara." Bujuk Charlotte memelas.


"Kamu sih ! masih pagi-pagi sudah bikin mood ku jelek." Kata Laura ketus.


"Iya-iya aku salah, aku minta maaf."


"Iya, aku maafkan."


"Jadi pagi ini kamu mau ke mana ?" tanya Charlotte.


"Nggak kemana-mana, memangnya kenapa ?"


"Kita keluar yuk ?"


"Kemana ?


"Kita pergi nonton film, bagaimana ?"


"Hmmm....." Laura bergumam sambil berpikir.


"Ayolah, sudah lama juga kita tidak pergi nonton."


"Baiklah." Laura mengalah.


"Kita ketemu di tempat biasa kita pergi nonton."


"Oke, saling memberi kabar kalau siapa yang sampai lebih dulu."


"Oke." Sambungan telepon terputus.


Laura bergerak ke kamar untuk bersiap-siap untuk pergi.


Mobil berhenti di depan sebuah gedung bioskop, Edward turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Laura turun.


Begitu masuk ke dalam gedung, Laura langsung mencari keberadaan Charlotte.


"Siapa yang anda ingin cari Nona ?" tanya Edward yang dari tadi memperhatikan.


"Charlotte, kami janjian di sini." Jawab Laura, mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Charlotte.

__ADS_1


"Lebih baik anda meneleponnya saja." Saran Edward.


"Perkataan mu betul juga, aku dari tadi tidak kepikiran ke situ." Ucap Laura mengambil handphone dari dalam tasnya.


Laura menelepon Charlotte, sambungan telepon tersambung tapi hingga dering terakhir tidak diangkat oleh Charlotte.


"Kenapa Nona ?"


"Tidak di angkat."


"Mungkin dia sedang di jalan, coba anda telepon kembali."


"Baiklah."


Laura kembali menghubungi Charlotte, kali ini telepon di angkat pada dering ke dua.


"Hallo Ara." Kata Charlotte dari seberang terdengar lesu.


"Hallo Charlotte, kamu di mana ? aku dari tadi mencari mu di sini."


"Maaf Ara, aku belum sempat menghubungi mu untuk memberi tahu kalau aku tidak jadi pergi."


"Kenapa ? Kamu tiba-tiba ada urusan ?"


"Aku kurang enak badan, dari tadi aku sibuk keluar masuk kamar mandi. Perutku bermasalah, maaf ya Ara." Ucap Charlotte lesu.


"Iya, tidak apa-apa. Kalau terus berlanjut lebih baik kamu segera ke Dokter." Saran Laura.


"Iya sepertinya harus seperti itu. Aku harus memberi tahu Mama ku dulu."


Laura memasukkan kembali handphone ke dalam tasnya.


"Apa ada masalah Nona ?" tanya Edward.


"Charlotte tidak bisa datang karena kurang sehat."


"Jadi bagaimana ? kita pulang saja ?"


Laura berpikir sejenak sebelum menjawab. "Karena sudah di sini lebih baik kita sekalian nonton. Kapan terakhir kamu menonton film Edward ?" Laura bertanya.


"Aku sudah lama tidak menonton, sejak bekerja sebagai pengawal di istana." Edward tersenyum masam.


"Kamu sudah bekerja berapa tahun ?"


"Kurang lebih tujuh tahun."


"Wow ! lama juga. Film apa yang kamu suka ?" Laura kembali bertanya. "Tunggu dulu biar ku tebak, pasti film action kan ?" Laura menambahkan sebelum Edward menjawab.


Edward mengangguk mengiyakan. "Betul Nona."


"Yuk kita masuk, karena kamu sudah lama tidak menonton film jadi kali ini aku mengalah kamu boleh memilih filmnya."


"Tapi Nona Laura, aku di tugaskan untuk menjaga anda." Tolak Edward.


"Iya, ini kan bisa di anggap sebagai menjaga aku yang sedang menonton."

__ADS_1


"Tapi Nona -."


"Tidak usah tapi tapi, kita masuk sekarang." Laura memotong perkataan Edward.


Laura melangkah masuk tanpa menunggu tanggapan dari Edward membuat Edward terpaksa masuk mengikuti Laura.


"Anda suka film tema apa Nona ?" tanya Edward, mereka sedang memilih film yang sedang tayang di bioskop.


"Aku suka semua film kecuali film horor."


"Bagaimana kalau film ini." Edward menyarankan, menunjuk film tema percintaan.


"Kita pilih film komedi saja, aku ingi tertawa beberapa saat tanpa memikirkan masalah yang ada di hidupku."


"Baiklah." Kata Edward setuju, penasaran dengan maksud perkataan Laura tapi tidak berani untuk bertanya karena sadar akan posisinya.


"Anda tunggu saja di sana, aku akan membeli tiketnya." Edward menambahkan, menunjuk kursi yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Baiklah, tolong sekalian belikan popcorn dan minuman."


"Baiklah Nona."


Edward melangkah menuju tempat pembelian tiket masuk sedangkan Laura menunggu sambil membuka handphonenya. Laura teringat perkataan Charlotte pagi tadi, mengatakan tentang kabar pertunangannya yang tersebar di internet.


Perkataan Charlotte betul, pengumuman pertunangan Pangeran Albert menjadi topik utama pagi ini. Tertulis pihak istana kerajaan mengumumkan pertunangan Pangeran Albert dengan seorang wanita dari kalangan keluarga bangsawan yang merupakan calon istri yang di jodohkan berdasarkan wasiat mendiang Raja terdahulu.


Terlihat dibawah tulisan itu foto pertunangan mereka yang berada di ruang perpustakaan pribadi Pangeran Albert. Melihat foto itu Laura tersenyum kecut mengenang kembali kejadian terakhir pertemuannya dengan Pangeran Albert.


"Bukankah dia wanita yang mirip dengan wanita yang di foto pertunangan Pangeran Albert ?"


Suara bisik yang terdengar sampai di telinga Laura dari arah samping tempatnya duduk.


Perhatian Laura terusik tapi dirinya berpura-pura tidak mendengar perkataan wanita yang duduk tidak jauh dari sampingnya.


"Iya, memang dia. Tidak ada bedanya dari foto itu." Wanita yang lain ikut menyahut.


"Coba kamu lihat jari manisnya, bukankah dia memakai cincin yang sama dengan yang di foto ?"


Aku lupa melepas cincin ini tapi aku pasti di marah Mama jika melepasnya. Mereka begitu teliti sekali memperhatikannya, aku tebak para wanita itu pasti penggemar berat Pangeran Albert.


Laura merutuk sambil berpura-pura tidak mendengar dan tidak peduli.


"Ini pesanan anda Nona." Edward meletakkan popcorn dan segelas minuman di atas meja.


"Terimakasih Edward, para wanita itu pasti makin penasaran melihatku bersama pria lain." Laura berkata sambil berdiri dari kursinya.


"Ya ?" Edward refleks menyahut. "Maaf apa maksud Nona Laura, aku tidak mengerti."


"Bukan apa-apa, aku berbicara sendiri. Kita masuk sekarang saja, kita menunggu di dalam saja menunggu filmnya di putar."


"Terserah anda Nona."


Laura melangkah menjauhi para wanita itu di ikuti Edward dari belakang tanpa menyadari dirinya yang telah di rekam oleh salah satu dari wanita itu.


Selama menonton film laura banyak tertawa, sedangkan Edward yang tanpa sadar pandangannya lebih sering tertuju pada Laura yang tertawa lepas dari pada ke layar yang sedang memutar film.

__ADS_1


__ADS_2