Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 7. Kelab Malam


__ADS_3

"Ayolah Ara, kamu bilang kemarin ingin menikmati saat-saat terakhir kebebasan mu." Bujuk Charlotte di sambungan telepon.


"Tapi Charlotte ku sayang......, kenapa juga harus ke tempat seperti itu ?" Laura bertanya penuh penekanan.


"Setidaknya Ara selama sisa hidup mu ini kamu pernah walaupun hanya sekali pergi ke tempat itu." Charlotte berkata mendramatisir seperti biasanya.


"He he he, memang harus kah ?" Kekeh Laura mendengar sahabatnya berbicara lewat telepon, Laura bisa membayangkan ekspresi gemes sahabatnya ini saat sedang berbicara.


"Oh ! ayolah Araa........, sekali ini saja. Mungkin hanya kamu wanita dewasa di negara ini yang belum pernah pergi ke tempat itu." Charlotte tidak menyerah membujuk Laura.


"Tapi Charlotte kamu pasti tahu aku tidak suka ke tempat bising seperti kelab malam." Laura masih dengan keputusannya untuk tidak pergi.


"Hanya malam ini saja dan tidak lama, kita kan perlu merayakan hari kelulusan kita."


"Tapi..... ." Laura mulai terbujuk.


"Ara ini kesempatan terakhir mu sayang karena ketika kamu sudah menikah dengan Pangeran Albert dan menjadi anggota keluarga kerajaan walaupun kamu sangat ingin sudah tidak bisa bagimu untuk pergi ke tempat seperti itu." Charlotte meyakinkan.


Laura terdiam berpikir, memikirkan semua perkataan Charlotte padanya.


"Baiklah, aku ikut." Laura berkata akhirnya, termakan bujuk rayuan dari sahabatnya.


"Yes !! Bagus, kalau begitu sekarang aku ke rumah mu. Kamu lebih baik bersiap-siap sekarang." Charlotte berkata penuh semangat.


"Iya, aku tunggu."


"Oke." Ucap Charlotte dan sambungan telepon pun terputus.


Laura bergerak menuju ruang walking closet yang berada di dalam kamarnya untuk mengganti pakaian tidurnya, niatnya untuk tidur lebih awal gagal karena ulah sahabatnya.


Laura memilih-milih busana yang ingin dia kenakan. Tatapannya berhenti pada gaun warna merah yang menegaskan bentuk tubuhnya dengan panjang gaun sebatas lutut dan bagian belakang yang agak sedikit rendah memperhatikan sedikit punggung mulusnya.


Gaun ini ku beli tapi belum pernah ku pakai sama sekali karena belum ada waktu yang tepat untuk memakainya. Aku rasa malam ini waktunya, bukankah di kelab malam semua wanita berpakaian lebih terbuka dari pada gaun ini ? Jadi aku rasa tidak akan menarik perhatian orang sama sekali.


Laura memutuskan untuk mengenakan gaun itu. Berdiri di depan cermin yang seukuran tubuhnya memperhatikan dengan seksama tampilan dirinya di depan cermin.


Sangat sensasional, Ara penampilanmu malam ini sungguh berbeda. Laura mengomentari penampilannya di pantulan cermin memakai gaun merah dengan rambut yang di gulung ke atas memperlihatkan leher jenjangnya dan sedikit punggung atasnya yang mulus.


Merasa penampilannya sudah sempurna, Laura keluar dari ruang walking closet menuju pintu kamar nya bersamaan terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Laura membuka pintu kamar nampak pelayan berdiri di depan pintu.


"Nona Laura di bawah teman anda sedang menunggu."


"Katakan aku akan turun sekarang." Kata Laura, pelayan berbalik pergi menyampaikan pesan Laura.


Laura masuk kembali ke dalam kamar mengambil tas dan mengisi handphone di dalamnya lalu keluar dari kamar dan menutup pintu dari luar.


Mama yang sedang duduk di ruang tengah melihat Laura berjalan menuruni tangga.

__ADS_1


"Ada Charlotte di depan menunggumu." Mama memberi tahu.


"Iya Ma, aku tahu dia akan datang."


"Kamu ingin keluar ?" tanya Mama setelah memperhatikan penampilan Laura yang berdiri di depannya.


"Iya Ma, aku keluar sebentar dengan Charlotte."


"Jangan pulang terlalu larut sayang." Pesan Mama.


"Iya Ma, Ara tahu. Ara pergi dulu Mama."


"Iya hati-hati di jalan."


"Iya Ma."


Laura berjalan menuju ruang depan, di sana Charlotte duduk menunggu nya dengan gelisah.


"Kenapa kamu terlihat gelisah ?" tanya Laura berjalan mendekati Charlotte.


Charlotte menoleh begitu mendengar suara Laura.


"Kamu lama keluar, aku mengira kamu berubah pikiran." Charlotte menjawab sambil menatap Laura dari atas ke bawah penuh takjub.


"Penampilan mu sekarang terlihat berbeda dari biasanya." Charlotte menambahkan.


"Aku hanya menyesuaikan dengan tempat yang akan kita tuju."


"Iya supaya pulangnya tidak telat.


Charlotte menghentikan langkah kakinya dan menoleh pada Laura.


Laura menatap heran. "Kenapa ? ada yang salah dengan perkataan ku ?"


"Belum juga pergi kamu sudah berkata pulang." Charlotte berkata ketus.


Laura tersenyum geli mendengarnya. "Aku hanya mengingatkan."


"Sudah ! sudah ! tidak usah bicara lagi lebih baik kita berangkat sekarang." Charlotte menarik tangan Laura.


Charlotte menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung dengan lampu hias berwarna warni menghiasi nama gedung kelab malam itu.


Laura mengerutkan kening membaca nama kelab malam itu.


Charlotte mematikan mesin mobil setelah selesai memarkirkan mobilnya, membuka sabuk pengamannya. "Ayo kita masuk, kenapa muka mu seperti itu ?" tanya Charlotte melihat ekspresi wajah Laura.


Laura menggeleng kepala. "Bukan apa-apa, hanya aku sedikit terkejut membaca nama gedung ini."


Charlotte mengikuti arah pandangan Laura. "Kelab malam Pangeran." Charlotte membaca nama gedung itu.

__ADS_1


"Kenapa di namakan kelab malam Pangeran ? memangnya tidak ada nama lain ?" Laura berkata tidak habis pikir dengan nama gedung itu.


Charlotte menghela nafas panjang. "Ara sayang......, kita tidak usah mempermasalahkan nama kelab malam ini yang penting kan pelayanan di dalamnya lagian kita datang ke sini hanya untuk bersenang-senang. Oke ?"


"Oke." Ucap Laura sepakat.


"Kalau begitu kita masuk sekarang."


Charlotte membuka pintu mobil dan keluar di susul Laura. Mereka berjalan mendekati pintu masuk yang di jaga dua bodyguard dengan badan besar tinggi memakai pakaian serba hitam dan tidak ketinggalan kacamata hitam.


Begitu masuk ke dalam kita langsung mendengar suara musik DJ membahana dalam kelab malam yang identik dengan pencahayaan ruangan yang temaram.


Laura langsung memicingkan mata untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruangan.


"Kita ke sana !!" Charlotte berteriak di telinga Laura agar terdengar karena suara musik yang keras menunjuk meja bagian belakang dekat dengan dinding. Meja yang agak jauh dari kerumunan dan tentunya tidak terlalu bising.


Laura mengangguk setuju. "Oke !"


Mereka berjalan pelan melewati banyaknya orang yang berdiri sambil bercerita atau bergoyang mengikuti irama musik DJ.


Laura dan Charlotte duduk di kursi, tidak lama kemudian pelayan datang menanyakan pesanan mereka.


"Kamu minum apa Ara ?" tanya Charlotte.


"Aku pesan satu mocktail saja."


"Kami pesan satu mocktail dan satu cocktail." Kata Charlotte pada pelayan.


Pelayan menulis pesanan mereka. "Hanya itu saja ?"


"Iya itu saja." Jawab Charlotte.


Pelayan berbalik pergi membawa pesanan mereka dan tidak lama kembali dengan membawa minuman pesan mereka.


"Ini pesanan kalian." Kata pelayan sambil meletakkan gelas minuman di atas meja.


"Terimakasih."


"Makasih."


Laura dan Charlotte berkata bersamaan.


"Sama-sama, selamat menikmati." Kata pelayan sebelum pergi.


Laura mengambil gelas minumannya dan menyesap pelan mocktail nya sambil melihat orang-orang yang bergoyang bergerak mengikuti irama musik di lantai dansa depan panggung DJ yang sedang asik memainkan musik.


"Kenapa kelab malam ini di namai seperti itu ?" Laura masih penasaran.


"Dari yang ku dengar kalau pemilik nya adalah sahabat Pengeran, tapi Pangeran yang mana aku pun tidak jelas."

__ADS_1


"Tapi kenapa tidak memakai namanya sendiri ?" Laura masih tidak habis pikir.


Charlotte mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, aku pun tidak tahu."


__ADS_2