Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 27. Tamu Di Pagi Hari


__ADS_3

Tidur nyenyak Laura terganggu dengan sentuhan lembut di pipinya, membuatnya dengan malas membuka matanya yang masih terasa berat oleh kantuk.


"Mama biarkan aku tidur sedikit lebih lama, setelah puas tidur baru aku akan mengompres kembali wajah ku." Gumam Laura serak tanpa membuka matanya, mengira orang yang mengganggu tidurnya adalah Mama.


Rasa kantuk yang sangat kuat membuatnya kembali tertidur.


"Hari sudah pagi Ara, lebih baik kamu segera bangun karena kita akan ke Rumah Sakit untuk mengobati memar di wajah mu." Suara berat seorang pria.


Rasa kantuk Laura langsung lenyap seketika begitu mendengar suara itu, ternyata yang ada di dalam kamar dan mengganggu tidurnya bukanlah Mama.


Laura langsung membuka mata dan yang nampak di hadapannya adalah Pangeran Albert.


"Yang mulia, ternyata anda. Maaf aku mengira yang datang adalah Mama." Laura bangun dan duduk dari tidurnya dengan perasaan kikuk.


"Tidak apa, bukan masalah besar." Kata Pangeran Albert santai.


Laura merapikan rambut dan pakaian tidurnya, sungguh dirinya sangat canggung dengan situasi yang ada. Pangeran Albert sangat rapi dengan setelan jas nya sedangkan dirinya nampak berantakan dengan pakaian tidur plus wajah khas orang bangun tidur.


"Maaf Yang Mulia tapi ada hal apa anda datang ke rumahku pagi-pagi sekali seperti ini ?" tanya Laura penasaran.


"Kita akan ke Rumah Sakit, aku akan membawamu ke Rumah Sakit." Pangeran Albert mengulangi perkataannya, memperjelas perkataannya.


Laura mengerutkan kening, bingung dengan perkataan PangeranAlbert. "Aku tidak sakit jadi untuk apa anda membawaku ke Rumah Sakit Yang Mulia ?"


"Kamu tidak mengingat memar di wajahmu ? kita harus ke Dokter untuk mengobatinya."


Mendengar perkataan Pangeran Albert, Laura dengan refleks memegang wajahnya.


"Oh ini ?"


"Iya."


Laura tersenyum geli merasa lucu dengan sikap Pangeran Albert yang berlebihan menaggapi memar di wajahnya.


"Tidak perlu ke Rumah Sakit hanya untuk memar seperti ini Yang Mulia, aku bisa ke Apotek untuk membeli salep dan mengoleskan nya sendiri." Kata Laura dengan santai.


"Dan kapan memar nya akan menghilang ? bisa dalam satu hari ? kamu tidak ingat besok kita akan berangkat ? tidak mungkin kan kita pergi ke pertemuan itu dengan wajah memarmu ? mereka akan bercerita kalau itu adalah ulah ku." Cecar Pangeran Albert panjang.

__ADS_1


Aku mengira dia ingin membawaku ke Dokter karena dia perhatian padaku, ternyata karena hal itu. Aku sempat merasa tersanjung karena nya ternyata ujung ujungnya untuk dirinya sendiri. Laura mengeluh dalam hati sambil membuang muka menatap ke arah jendela kamar nya.


"Baiklah, aku akan ikut ke Rumah Sakit." Kata Laura dengan terpaksa, memasang wajah datar.


"Bagus, lebih baik kamu sekarang segera bersiap - siap." Ucap Pangeran Albert seraya bangkit berdiri dari samping tempat tidur.


"Baiklah." Laura berkata menurut, bergerak untuk turun dari tempat tidur.


Dirinya berjalan menuju pintu kamar mandi dan tiba-tiba berhenti kemudian berbalik menghadap ke arah Pangeran Albert yang masih berdiri di tempatnya di samping tempat tidur.


"Dari mana Pangeran Albert tahu keadaan ku ?" tanya Laura penasaran.


"Dari Edward, semua kegiatan mu baik di dalam maupun di luar rumah Edward harus melaporkan nya pada ku tanpa terkecuali." Jawab Pangeran Albert.


"Bahkan kejadian kemarin di restoran itu ?"


"Kamu tidak paham dengan perkataan tadi, tanpa terkecuali. Tidak usah berkata apa-apa lagi, lebih baik sekarang kamu membersihkan diri atau kamu ingin aku membawamu dengan keadaan seperti itu ?" Pangeran Albert mengalihkan pembicaraan, tidak ingin membahas lebih lanjut.


"Baiklah." Kata Laura menurut tanpa bertanya lebih lanjut sebelum berbalik kembali berjalan menuju kamar mandi.


Lima belas menit kemudian Laura telah selesai mandi, dengan menggunakan jubah mandi dirinya keluar dari kamar mandi menuju lemari pakaiannya di ruang walking closet.


Memilih beberapa jenis pakaian, akhirnya Laura memilih memakai rok sepanjang lutut warna hitan dan atasan berupa blous berwarna putih.


Laura berkaca untuk terakhir kali sebelum keluar.


"Memarnya masih jelas terlihat." Gumam Laura sambil memperhatikan wajahnya.


Merasa puas dengan penampilannya terlepas dari memar di wajahnya, Laura berjalan keluar dan mendapati Pangeran Albert masih ada di dalam kamarnya duduk santai melipat kaki sambil membaca salah satu buku koleksi milik Laura.


Mendengar suara langkah kaki Laura, Pangeran Albert mengangkat pandangannya dari buku yang sedang di bacanya.


"Aku mengira anda menungguku di luar bersama dengan orangtua ku." Ucap Laura sambil berjalan mendekati Pangeran Albert.


Pangeran Albert menutup buku dan meletakkannya di atas meja. "Aku lebih nyaman di sini sambil membaca salah satu buku milikmu." Kata Pangeran Albert berdiri dari duduk nya, pandangannya mengamati penampilan Laura.


"Kamu sudah siap ?" tambahnya setelah mengamati penampilan Laura sesaat.

__ADS_1


Laura mengangguk. "Iya."


"Kalau begitu kita berangkat sekarang."


Mereka keluar bersamaan dan bertemu dengan orangtua Laura di ruang tengah.


Perhatian Papa langsung tertuju di wajah Laura. "Kenapa dengan wajah mu, Ara ?" Papa bertanya penasaran.


Laura refleks menyentuh wajahnya. "Bukan apa-apa Papa, bukan masalah serius." Ucap Laura tersenyum menenangkan.


"Kalian ingin ke luar ?" Mama ikut bertanya penasaran.


"Iya Tuan dan Nyonya George, aku akan membawa Laura ke Dokter untuk memeriksakan wajahnya." Jawab Pangeran Albert.


"Mengenai insiden yang terjadi pada Laura kemarin malam yang menyebabkan wajahnya seperti ini, aku sungguh meminta maaf secara tulus dari dalam hati ku." Tambah Pangeran Albert dengan nada menyesal.


Laura refleks menoleh terkejut menatap Pangeran Albert yang berdiri di sebelah nya, tidak menduga Pangeran Albert akan berkata seperti itu.


Di lain pihak Mama balas tersenyum menaggapi perkataan tulus Pangeran Albert. "Kami terima niat tulus permintaan maaf dari Pangeran Albert."


"Bisa kalian jelaskan apa sebenarnya yang telah terjadi yang tidak aku ketahui ?" Papa menuntun jawaban sambil menoleh menatap bergantian Pangeran Albert dan Mama.


"Nanti akan Mama jelaskan pada Papa, biarkan saja mereka pergi dulu untuk memeriksakan wajah Laura ke Dokter." Mama berkata lembut menenangkan Papa yang sedikit emosi.


"Kalau begitu kami pergi dulu." Laura menyahut, mengerti dengan situasi yang mulai tidak baik.


"Kalau begitu kami permisi Tuan dan Nyonya George." Pamit Pangeran Albert.


"Iya kalian hati-hati di jalan." Ucap Mama.


Papa hanya bisa mengangguk dan membiarkan mereka pergi walaupun dirinya ingin mendengar langsung dari Pangeran Albert mengenai kejadian yang terjadi pada Laura.


Di depan pintu mobil, Pangeran Albert langsung membukakan pintu mobil untuk Laura masuk.


"Terimakasih." Ucap Laura membalas sopan sebelum masuk ke dalam mobil.


Pangeran Albert hanya mengangguk sebelum menyusul Laura masuk ke dalam mobil. Tidak lama kemudian mobil bergerak berjalan ke luar menuju jalan raya.

__ADS_1


__ADS_2