Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 37. Penampilan Yang Tak Sesuai


__ADS_3

Pangeran Albert menatap Laura sebelum membalas perkataan Alexander.


"Terimakasih, aku pun merasa begitu."


Aku pasti percaya perkataan seandainya aku tidak begitu mengenalnya sifat aslinya, Laura menatap ke arah Pangeran Albert.


"Jadi kapan kalian akan menikah ?" tanya Alexander menatap bergantian mereka berdua.


"Belum di tentukan tanggal yang pasti dari pihak istana." Jawab Pangeran Albert.


"Berarti pernikahan kalian belum pasti terjadi." Alexander berkata mengambil kesimpulan sendiri.


Pangeran Albert tersenyum mengejek mendengar perkataan Alexander.


"Pernikahan kami pasti terjadi, cepat atau lambat karena sudah di tentukan dari mendiang Raja terdahulu."


"Maksudmu ?" Kening Alexander mengerut, tidak mengerti maksud perkataan Pangeran Albert.


"Berarti kamu benar benar tidak mendengar berita rencana pernikahanku."


"Bukankah tadu aku sudah mengatakannya ?"


"Sebelum Kakek meninggal, Beliau telah membuat wasiat yang berisi tentang perjodohan ku dengan Laura cucu dari sahabat baiknya." Jelas Pangeran Albert.


"Sepertinya tidak ada hal lain yang harus aku katakan pada mu jadi aku dan tunanganku permisi dulu, kami harus menyapa Tuan pesta Pangeran Eric." Tambah Pangeran Albert yang menurut pendengaran Laura terdengar sedikit kasar.


"Senang berkenalan dengan mu Laura, semoga di pertemuan berikutnya kita bisa berbincang lebih lama." Ucap Alexander tersenyum lembut pada Laura, tidak menggubris perkataan Pangeran Albert.


"Iy -"


"Tidak akan ada pertemuan berikutnya, Alexander." Tegas Pangeran Albert memotong perkataan Laura, memasang raut wajah tidak senang.


Aku pasti mengira dia cemburu terhadap Alexander seandainya saja aku tidak tahu dengan sifarnya, Laura mendengus kasar dalam hati melihat sikap Pangeran Albert.


"Jangan terlalu posesif pada pasangan mu Albert, tidak semua wanita menyukai sikap seperti itu justru ada beberapa wanita merasa terkekang dengan sifat pasangan nya yang seperti itu." Alexander mengingatkan.


"Bukan kah seperti itu Laura ?" Alexander balik bertanya pada Laura.


"Kenapa kamu mesti bertanya pendapat Laura ?" Pangeran Albert balik bertanya, tidak menyembunyikan rasa tidak sukanya akan arah pembicaraan mereka di tambah lagi Alexander yang tidak membiarkan pembicaraan di antara mereka selesai.


Laura melirik raut wajah Pangeran Albert yang mulai terlihat marah.

__ADS_1


Sebaiknya aku menyela pembicaraan mereka berdua sebelum kita bertiga menjadi pusat perhatian seluruh orang di dalam ruangan ini karena perdebatan yang mungkin akan terjadi di antara mereka berdua.


"Yang Mulia, bukankah tadi anda mengatakan ingin menyapa Pangeran Eric ?" tanya Laura menyela pembicaraan kedua pria itu.


Pangeran Albert menoleh pada Laura. "Ehem Iya, sebaiknya kita ke sana sekarang." Pangeran Albert berusaha menetralkan nada suaranya yang tadi sedikit naik.


Laura kemudian menoleh pada Alexander. "Tuan Alexander, kami permisi dulu." Pamit Laura sopan.


Alexander hanya bisa mengganguk dengan terpaksa mendengar Laura yang berkata pamit permisi.


Mereka berdua melangkah mendekati kerumunan orang yang mengelilingi Pangeran Eric.


Tanpa terlihat mencolok agar tidak menarik perhatian orang, Pangeran Albert berbisik di telinga Laura.


"Dari awal aku melihatmu malam ini, aku ingin mengatakan ini padamu. Kenapa kau mengurai rambut panjang mu, bukankah aku sudah pernah mengatakan pada mu untuk tidak mengurai rambut panjang mu di hadapan orang lain selain aku ?" Bisik Pangeran Albert penuh penekanan di setiap perkataannya.


Laura menelan ludah terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Pangeran Albert.


"Aku juga terpaksa Yang Mulia." Jawab Laura.


"Aku tidak ingin banyak alasan dari mu Ara." Kata Pangeran Albert tegas tidak ingin mendengar penjelasan Laura.


"Ada lorong jalan menuju pintu kamar mandi wanita di bagian samping sebelum kiri di pojok ruangan ini. Kamu ke sana sekarang, gulung dengan rapi rambut panjang mu, setelah nya kamu langsung menyusulku berkumpul dengan Pangeran Eric." Tambah Pangeran Albert.


"Nona Laura."


Suara Edward memanggil dari arah belakang, Laura menghentikan langkah kaki nya kemudian berbalik menatap Edward yang melangkah mendekati nya.


Terlihat Edward sedang memegang dua gelas berisi mocktail yang di minta oleh Laura tadi.


"Maaf Edward, kamu pasti sibuk mencariku." Laura berkata dengan nada tidak enak.


"Anda ingin ke mana Nona Laura ?" tanya Edward begitu berdiri tepat di hadapan Laura.


"Aku harus ke kamar mandi untuk merapikan penampilan ku."


Kening Edward mengerut mendengar perkataan Laura, pandangannya menatap penampilan Laura yang menurut nya sangat memposana.


"Penampilan anda baik-baik saja, masih terlihat memposana."


Laura tersenyum masam."Mungkin bagimu seperti itu tapi bagi Pangeran Albert tidak."

__ADS_1


"Anda sudah bertemu dengan Pangeran Albert ?"


"Iya saat kamu pergi mengambil minuman." Jawab Laura sambil menatap minuman yang di pegang Edward.


"Maaf Edward, aku harus ke kamar mandi sekarang. Pangeran Albert sedang menunggu ku." Tambah Laura tidak enak hati.


"Tidak apa-apa Nona Laura, anda tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Aku akan menunggu anda di luar ruangan." Edward tersenyum menenangkan.


"Terimakasih Edward, aku akan mencarimu saat akan pulang nanti." Balas Lauratersenyum.


"Anda tidak perlu mencari ku, aku yang akan mendatangi anda." Edward mengoreksi perkataan Laura.


"Baik lah, aku harus ke kamar mandi sekarang."


"Iya."


Edward tetap berdiri di tempatnya, setelah Laura masuk dan menghilang ke balik pintu kamar mandi barulah dirinya berbalik pergi.


Di dalam kamar mandi, Laura berdiri di depan cermin wastapel.


"Percaya diri lah Laura, banyak wanita di dalam sana yang gaunnya lebih terbuka dari gaun yang kamu pakai sekarang. Tidak akan ada yang menyadari kehadiranmu di sana." Gumam Laura sambil mulai menggulung ke atas rambutnya.


Laura memperhatikan penampilannya lebih jelas dari pantulan cermin. "Sudah saat nya untuk keluar."


Namun ternyata kenyataan sungguh berbeda dari yang di harapkan Laura, dirinya kembali menjadi pusat perhatian begitu masuk kembali ke tempat perjamuan.


Tenang Laura, kamu harus terbiasa dengan situasi seperti mulai sekarang karena begitu menikahi anggota keluarga kerajaan mau tidak mau dirimu akan menjadi pusat perhatian orang-orang.


Melangkah dengan anggun sambil menenangkan diri sendiri menuju tempat di mana Pangeran Albert dan Pangeran Eric sedang serius berbincang.


Pangeran Eric yang lebih dulu menyadari kehadiran Laura.


"Siapa wanita cantik yang sedang melangkah mendekat ke arah kita ?" tanya Pangeran Eric pada Pangeran Albert.


Pangeran Albert mengikuti arah pandangan Pangeran Eric, dirinya kembali terpesona untuk kedua kalinya begitu melihat penampilan Laura yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka.


Menyambut Laura dan dengan posesif meletakkan telapak tangannya di punggung Laura yang terbuka, dengan refleks mengangkat kening sebelah memasang raut wajah penuh tanda tanya pada Laura.


"Anda yang menyuruh ku untuk merapikan rambutku." Ucap Laura, menjawab pertanyaan tersirat dari ekspresi wajah Pangeran Albert.


"Sepertinya kalian sangat dekat." Pangeran Eric bersuara lebih dulu sebelum Pangeran Albert membalas perkataan Laura, mengambil kesimpulan melihat interaksi keduanya.

__ADS_1


Pangeran Albert menoleh pada Pangeran Eric. "Tentu saja kami dekat Eric, aku perkenalkan padamu tunanganku Laura Clarissa George."


__ADS_2