Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 40. Cerita Usai Perjalanan ke Spanyol


__ADS_3

Tok tok tok


Suara ketukan di pintu mengganggu tidur nyenyak Laura.


"Ara, kamu sudah harus bangun sayang." Mama berseru dari balik pintu kamarnya.


Dengan malas Laura bangun dari tempat tidur menuju pintu kamar.


"Bukankah pagi ini kamu ada jadwal belajar tata krama di istana ?" Mama bertanya pada Laura yang masih dengan wajah mengantuk bersandar di kusen pintu kamarnya.


"Mama bisa minta tolong katakan pada Edward untuk melapor pada Pangeran Albert kalau hari ini aku belum bisa datang."


Mama mengerutkan kening mendengar perkataan Laura. "Kenapa sayang ? kamu sedang sakit ?" Mama bertanya khawatir.


"Ara tidak sakit Mama, hanya kurang enak badan saja mungkin efek dari perjalanan kemarin."


Mama mengangguk mengerti. "Baiklah Mama mengerti, Mama akan beri tahu pada Edward."


"Terimakasih Mama, Ara masuk dulu masih ngantuk ingin tidur."


"Kamu tidak ingin sarapan ?"


"Sedikit lagi Ma."


"Baiklah, istirahat lah Mama tidak akan mengganggu."


Mama berbalik pergi dan Laura langsung menutup pintu kamar melanjutkan tidur nya.


"Mana Ara Mama ?" tanya Papa saat Mama melihat Mama hanya seorang diri bergabung di meja makan.


"Dia masih ingin tidur, katanya dia sedang kurang enak badan." Jawab Mama menarik kursinya.


"Ara kecapean ya Mama ?" Bella ikut bertanya.


Mama mengangguk. "Iya, dia meminta Mama untuk menunyuruh Edward memberitahu kan ke Pangeran Albert kalau dia belum bisa datang ke istana untuk mengikuti pelajaran nya."


"Iya begitu saja, usai sarapan Mama lekaslah menemui Edward jangan sampai pihak istana menunggu Laura yang ternyata tidak bisa datang."


"Iya Pa." Ucap Mama patuh.


Begitu selesai sarapan Mama langsung menemui Edward untuk memberitahu keadaan Laura.


"Baik Nyonya George, aku akan ke istana sekarang menemui Pangeran Albert." Patuh Edward.


"Apakah perlu aku menghubungi Dokter pribadi kerajaan untuk memeriksakan keadaan Nona Laura ?" Tambah Edward


"Tidak perlu Edward, Laura hanya perlu istirahat yang cukup."


"Baik akan aku sampaikan pada Yang Mulia jika dia bertanya seperti itu."

__ADS_1


Tanpa membuang waktu, saat itu juga Edward langsung pergi ke istana kerajaan menyampaikan pesan dari Nyonya George.


"Ada hal penting apa kamu sampai datang pagi-pagi sekali untuk menemuiku ?" Tanya Pangeran Albert penasaran meletakkan gelas kopi nya di meja.


"Aku datang menyampaikan pesan dari Nyonya George, Yang Mulia."


"Katakan apa pesan nya ?"


"Nyonya George memberitahukan kalau pagi ini Nona Laura tidak bisa masuk ke istana untuk mengikuti pelajaran tata krama nya sesuai jadwal karena kondisi Nona Laura yang sedang kurang sehat."


"Laura sedikit kurang sehat ?"


"Iya Yang Mulia, mungkin kelelahan akibat perjalanan kemarin dari Spanyol."


"Hhmmm seperti itu." Gumam Pangeran Albert.


"Apakah perlu untuk Laura di periksa oleh Dokter pribadi kerajaan ?" Pangeran Albert mengucapkan pertanyaan yang sudah Edward perkiraan akan di tanya kan oleh Pangeran Albert.


"Nyonya George katakan tidak perlu Yang Mulia, Nona Laura hanya perlu istirahat yang cukup."


"Baiklah, kamu boleh kembali sekarang. Terus kabari aku jika ada sesuatu hal yang serius." Perintah Pangeran Albert.


"Baik Yang Mulia. Aku permisi kalau begitu." Edward pamit pergi.


Sedangkan di kediaman Keluarga George, Charlotte yang mengetahui kabar kepulangan Laura datang berkunjung setelah sebelumnya menelepon Laura terlebih dahulu.


Tok tok tok


"Ara sayang, buka dong pintu nya." Seru Charlotte di depan pintu.


"Buka saja, pintu nya tidak terkunci." Seru Laura dari balik pintu kamar.


Cekrek


Suara pintu terbuka dari luar, Charlotte langsung berhambur masuk ke dalam kamar menuju tempat tidur.


"Jika aku tidak menelepon mu pagi ini, kamu pasti belum mengabari kepulangan mu." Charlotte berkata dengan nada menuduh pada Laura.


Laura mengambil posisi duduk di atas tempat tidur. "Aku berniat menelepon mu siang ini, hanya saja ternyata kamu sudah menelepon ku pagi ini." Laura kembali memberi penjelasan setelah tadi sudan dia katakan di telepon.


"Huh ! katakan saja bahwa kamu sudah lupa dengan sahabat mu ini setelah beberapa hari menghabiskan waktu berdua bersama tunangan mu di luar negeri." Tuduh Charlotte sambil duduk di samping tempat tidur.


Laura mendengus kasar mendengar komentar Charlotte.


"Berdua apa nya, Pangeran Albert yang kamu kagumi itu sibuk bersama dengan para wanita nya saat kami berada di Spanyol. Dia bahkan baru muncul beberapa menit tidak lama keberangkatan kami kembali ke sini."


"Benarkah ?" Charlotte bertanya tidak yakin.


Laura memutar ke dua bolah matanya. "Untuk apa aku membohongimu ? tidak ada untungnya Charlotte."

__ADS_1


"Berarti rumor yang mengatakan dirinya seorang playboy ternyata benar ?"


"Tentu saja, hanya kamu saja yang buta dengan berita itu karena melihat sikap dan ketampanannya."


Charlotte menatap serius pada Laura. "Lalu bagaimana dengan mu ?"


"Kenapa dengan ku ?" Laura balik bertanya.


"Bagaimana kamu menanggapi sikap Pangeran Albert yang seperti itu ?"


Laura mengangkat kedua bahunya pasrah. "Aku mau bagaimana lagi ? Sejak awal aku menolak perkawinan ini tapi apalah aku yang bukan siapa siapa, begitu juga keluarga ku. Kami tidak bisa menolak titah Raja, keluarga kerajaan saja menerima perkawinan ini."


"Bagaimana nasib perkawinan mu nanti Ara ?"


"Entahlah Charlotte, aku sudah pasrah menerima takdir hidup ku ini. Ingin menangis pun percuma tidak akan merubah apapun."


Mereka berdua terdiam beberapa saat. "Bagaimana kalau kamu membuat dia mencintai mu Ara ? dengan begitu sikap playboy mungkin saja bisa menghilang." Charlotte tiba-tiba memberi ide.


"Ha ha ha !!" Pecah tawa Laura mendengar perkataan Charlotte.


Charlotte mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu tertawa ?"


"Tidak mungkin Pangeran Albert jatuh cinta padaku."


"Memangnya kenapa ?"


"Kamu tidak melihat wanita wanita yang ada bersamanya ? Semau wanita itu lebih cantik dan seksi dari pada aku."


"Kita kan tidak tahu kedepannya bagaimana ?"


"Sudahlah Charlotte, jauhkan saja ide itu dari kepalamu. Mendengar perkataan mu membuat perut ku menjadi lapar, lebih baik kita turun ke bawah untuk sarapan."


Charlotte melirik jam kecil di pergelangan tangannya. "Ini sudah jam sembilan pagi, memangnya kamu belum sarapan ?"


Laura menggeleng kepala. "Belum, tadi pagi aku masih malas saat Mama panggil untuk sarapan."


"Baiklah, aku temani kamu sarapan di bawah. Aku sekalian ingin melihat Edward, sudah lama aku tidak melihatnya." Ucap Charlotte sambil berdiri.


Laura pun bergerak turun dari tempat tidur. "Baru juga tiga hari tidak melihat Edward, kamu berlebihan sekali deh !"


"He he he namanya juga rindu." Kekeh Charlotte semringan.


Mereka turun bersama ke lantai satu menuju ruang makan.


"Anda ingin sarapan Nona ?" tanya pelayan.


"Iya tolong." Jawab Laura sambil menarik kursi meja makan.


"Baik, akan segera kami siapkan." Ucap pelayan.

__ADS_1


Pelayan kemudian masuk ke dapur, menyiapkan sarapan untuk Laura. Tidak lama kemudian mereka muncul kembali dengan makanan di tangan mereka, mengatur semua makanan dengan rapi di atas meja makan.


__ADS_2