
Begitu sampai di istana, Laura langsung di antar oleh pelayan istana ke kamarnya.
Interior kamar yang di tempati Laura sangat lah indah tapi karena suasana hati nya yang kacau membuatnya tidak begitu memperhatikan dan mangagumi keindahan kamarnya.
Laura menatap Handphone yang dari tadi di pegang nya. Panggilan masuk terus berbunyi saat dirinya bersama Edward memaksa Laura mematikan Handphone nya. Tanpa melihat Laura tahu pasti siapa yang terus menerus menelepon nya.
Dengan lemas Laura menekan tombol on pada Handphone sambil melangkah mendekati tempat tidur dan duduk di sampingnya.
Tampak lima belas kali panggilan masuk dari Mama nya.
"Mereka pasti sangat khawatir." Gumam Laura sambil menekan nomor Mama untuk melakukan panggilan keluar.
Tuuut tuuut tuuut
Bunyi panggilan telepon, sambungan telepon langsung tersambung pada dering pertama.
"Hallo Ara." Suara Mama dari seberang terdengar sangat khawatir.
"Hallo Mama." Balas Laura dengan rasa bersalah.
"Kenapa telepon Mama dari tadi tidak di angkat ? Baru beberapa saat kemudian Handphone mu tidak bisa di hubungi. Kamu di mana sekarang ? Sekretaris istana menelepon ke rumah mengatakan kalau kamu belum ada di istana." Mama memberikan pertanyaan beruntun pada Laura.
"Mama bisa tenang sediki ? bisa bertanya satu persatu ?"
"Bagaimana Mama bisa tenang dengan keadaan mu yang tidak jelas seperti ini ?"
Laura menghela napas panjang. "Ara sekarang sudah di istana, Mama bisa tenang sekarang."
Mama menghela napas lega begitu mendengar perkataan Laura. "Baguslah."
"Lalu kenapa kamu baru saja sampai ? Kamu kemana saja Ara ?" Mama kembali bertanya, belum puas mendengar perkataan Laura.
"Edward ingin membawaku pergi Mama, dia tidak ingin aku tinggal di istana. Edward berniat membawa ku keluar negeri, ke Spanyol tepatnya." Dengan enggan Laura bercerita.
"Kenapa bisa seperti itu ?" Tanya Mama heran.
"Mungkin dia pernah mendengar pembicaraan kita dan merasa kasihan dengan ku sehingga bertindak seperti itu tanpa sepengetahuan ku. Aku pun tidak tahu kalau dia akan bertindak nekat seperti itu."
"Jadi sekarang Edward di mana ?"
"Di biarkan Pangeran Albert begitu saja di jalan berbaring tidak berdaya setelah dirinya di hajar habis habisan oleh pengawal Pangeran Albert." Jawab Laura kembali sedih mengingat keadaan Edward.
"Sungguh seperti itu ?" Mama tidak percaya.
__ADS_1
"Iya Mama, Ara sangat sedih dan kasihan melihat nya seperti itu.'
"Bagaimana dengan dirimu ? Kamu baik-baik saja ? Pangeran Albert tidak salah paham dengan kamu ?"
"Ara baik-baik saja Mama, Ara juga sudah menjelaskan semuanya pada Pangeran Albert. Mama tenang saja Pangeran Albert tidak salah paham dengan ku."
"Baguslah Ara, Mama sungguh lega."
"Sudah dulu ya Mama, Ara sangat lelah. Ingin istirahat, nanti aku telepon Mama kembali."
"Iya, istirahat lah. Nanti kita berbicara lagi." Kata mama sebelum sambungan telepon terputus.
Laura meletakkan handphone di atas nakas samping tempat tidur. Menatap sekeliling kamar, mengamati keadaan kamar barunya.
"Ternyata sangat cantik." Gumam Laura baru tersadar.
Berniat mencari pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar tapi terhenti karena ketukan pintu dari luar kamar.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu.
"Masuk !" Seru Laura.
"Maaf Nona Laura, ini perintah dari Yang Mulia untuk membawa makan malam anda ke sini. Yang Mulia memberi pesan agar anda menghabiskan makan malam anda." Pelayan berkata sebelum Laura bertanya.
Laura mengangguk mengerti. "Baiklah, letakkan saja di meja semua makan itu." Kata Laura melihat beberapa piring yang berada di dalam troli makanan.
"Baik Nona."
Pelayan kemudian memindahkan semua makanan ke atas meja yang berada di tengah ruangan dari dalam troli.
"Kapan kami bisa mengambil piring kotor nya Nona Laura ?" Pelayan bertanya sebelum pamit keluar.
"Datang lah kembali satu jam kemudian."
"Baik Nona, silahkan menikmati makan malam anda."
Pelayan keluar sambil mendorong troli makanan dan menutup pintu kamar dari luar.
Laura duduk di sofa dan mulai memakan makannya, perut nya langsung berbunyi begitu melihat semua makanan itu. Dia baru sadar bahwa ternyata dia kelaparan.
"Dia sungguh perhatian pada ku atau hanya berpura-pura, jawabnya itu sepertinya dia yang tahu." Gumam nya di sela-sela mengunyah makanannya.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, Laura selesai dengan makan malamnya. Menunggu pelayan datang kembali untuk mengambil piring kotor, Laura memilih untuk mandi dan berganti pakaian.
"Itu mungkin pintu ke kamar mandi." Gumam Laura melihat pintu di sudut ruangan.
Dugaan Laura tepat, karena begitu membuka pintu yang di lihatnya adalah ruang walking closet yang pasti terhubung ke kamar mandi.
Ruang walking closet yang Laura lihat sungguh berbeda jauh dengan miliknya di rumah. Semua bagian di kamar ini sangat lah mewah.
"Sungguh terasa sekali perbedaan rumah bangsawan biasa dengan istana keluarga kerajaan." Gumam Laura melangkah menuju pintu kamar mandi yang berada di ujung ruang walking closet.
Ruang kamar mandi pun tidak usah di ragukan, tidak kalah mewah dengan bagian lain kamar itu.
Laura memilih mandi di bawah shower karena tidak ingin mandi berlama lama, begitu selesai Laura langsung memakai jubah mandinya keluar dari dalam kamar mandi menuju kamarnya.
"Pelayan pasti tidak akan berani masuk ke dalam kamar jika mereka mengetuk pintu dan tidak ada balasan." Gumam Laura sambil membuka pintu antara ruang walking closet dan kamar tidur.
"Seharusnya kamu memanggil pelayan jika ingin mandi agar mereka menyiapkan air mandi untuk mu." Suara Pangeran Albert menyambut Laura.
Laura sedikit terkejut dengan keberadaan Pangeran Albert yang tiba-tiba ada di dalam kamarnya, duduk berpangku kaki di atas sofa.
"Tidak perlu Yang Mulia, aku tidak mandi di dalam bathub." Laura membalas setelah keluar dari rasa terkejut nya.
"Tetap mereka datang melayani mu, setidaknya membantumu untuk berpakaian atau sekedar menyisir rambut panjang mu." Ucap Pangeran Albert ngotot.
Laura menahan keinginan memutar kedua bola matanya mendengar perkataan Pangeran Albert karena takut menyinggung perasaannya.
Aku bukan bayi yang harus di bantu memakai pakaian dan menyisir rambut ku, dalam hatinya membalas perkataan Pangeran Albert.
"Aku masih bisa mengurus sendiri hal itu Yang Mulia, lagi pula aku masih belum terbiasa dan nyaman dengan perlakuan seperti itu." Dengan sopan Laura menolak perlakuan itu.
Pangeran Albert mengangguk mengerti. "Aku mengerti perasaan mu tapi kamu harus terbiasa dengan hal itu, untuk apa begitu banyak pelayan di sini kalau tidak bisa melayani kita berdua."
"Baik Yang Mulia, aku mengerti." Laura memilih untuk mengalah seperti biasa jika terjadi perdebatan di antara mereka.
"Bagus."
"Kemarilah, kenapa kamu hanya berdiri di sana." Tambah Pangeran Albert menyadari Laura dari tadi hanya berdiri di pintu.
Laura terpaksa bergerak, menurut pintu yang menuju ruang walking closet dan melangkah mendekati Pangeran Albert. Laura semakin kikuk karena dirinya yang hanya mengenakan jubah mandi.
Menatap meja yang sudah bersih dari tumpukan piring kotor, Laura tersadar kalau pelayan telah datang untuk mengambilnya.
"Duduklah di sebelah ku." Pinta Pangeran Albert.
__ADS_1