
Charlotte menunggu kedatangan Laura di sebuah cafe yang berada di dekat kampus mereka dulu, cafe yang sering mereka datangi.
Charlotte memilih meja yang berada tepat di samping dinding kaca transparan.
Dari dalam Charlotte melihat mobil yang biasa Laura pakai berhenti di depan Cafe. Keningnya mengerut begitu melihat pintu pengemudi terbuka dan keluar seorang pria asing yang belum perna dia lihat.
Pria itu turun dan dengan sigap membuka pintu penumpang. Kening Charlotte semakin mengerut ke dalam ketika Laura turun dari dalam mobil yang di kemudikan pria asing itu.
"Siapa pria itu ?" Gumam Charlotte, tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya melihat Laura yang berjalan masuk ke dalam cafe di susul pria yang membawa mobil sekaligus membukakan pintu mobil untuk Laura keluar.
Laura masuk dan mencari keberadaan sahabatnya.
Charlotte dengan semangat mengangkat tangan untuk memberi tahu keberadaannya.
Laura tersenyum melihat tingkah sahabatnya. Berjalan ke arah meja tempat Charlotte duduk menunggu dirinya.
"Kamu datang dari tadi ?" tanya Laura sambil menarik kursi yang berada di depan Charlotte.
"Tidak juga." Jawab Charlotte singkat, perhatiannya tertuju pada pria asing bersama Laura yang duduk tidak jauh dari meja tempat mereka duduk.
"Sudah pesan makanan ?" tanya Laura kembali sambil membuka buku menu yang tersedia di atas meja tanpa melihat Charlotte yang sibuk memperhatikan meja lain.
"Belum, kamu saja yang pesan."
"Baiklah." Kata Laura tanpa mengangkat pandangannya dari buku menu yang di pegang nya.
"Hufff....... !! aku sudah tidak tahan." Charlotte berkata dengan nada putus asa.
Laura mengangkat pandangannya dari buku menu menatap Charlotte dengan wajah bingung.
"Kenapa dengan mu ? kamu kurang sehat ? ada yang sakit ?" Laura bertanya.
"Rasa penasaran membuat ku gila." Charlotte memutar kedua bola matanya. "Laura Clarissa George, ada yang kamu sembunyikan dariku ?" Tambah Charlotte dengan nada mendramatisir.
Laura terkekeh geli melihat tingkah sahabatnya. "He he he, sikap mu ini seperti sedang mengintrogasi kekasihnya yang ketahuan selingkuh."
"Kurang lebih sama, Ara kamu sedang berselingkuh di belakang Pangeran Albert ?" Charlotte bertanya dengan wajah serius.
Laura mengerutkan kening. "Maksudmu ?"
Charlotte mulai tidak sabaran. "Laura, aku tahu kamu tidak menyukai Pangeran Albert yang merupakan calon suamimu tapi setidaknya kalian jangan memperlihatkan di khalayak ramai. Bagaimana jika nanti ada yang menyebar luaskan masalah ini dan menjadi topik utama di negara ini ? kamu pasti akan di benci banyak orang dan membuat jelek citra anggota keluarga kerajaan."
"Tunggu-tunggu dulu." Laura mengangkat kedua tangannya memotong perkataan Charlotte, berkata sambil memberikan isyarat pada Charlotte untuk berhenti bicara.
"Apa maksudmu Charlotte, aku tidak mengerti dan kenapa kamu bercerita sampai begitu jauh hingga membuat ku pusing." Laura menambahkan.
__ADS_1
Charlotte menarik nafas panjang. "Oke, akan aku perjelas."
"Aku mendengar." Ucap Laura.
"Aku melihat mu turun dari mobil dengan seorang pria yang baru kulihat ketika sampai di sini dan dia masuk bersama dengan mu tapi pria itu duduk di tempat lain yang tidak jauh dari meja kita dan pandangannya terus menatap ke arah kita." Charlotte mulai berbicara dengan tenang.
"Siapa pria itu, Ara ?" Charlotte menambahkan.
Suasana hening, Laura diam berusaha memahami maksud perkataan sahabatnya dan pecahlah tawa Laura begitu mengerti.
"Ha ha ha....!!" Tawa Laura sampai menarik perhatian pengunjung lain begitu pun Edward yang mau tidak mau ikut tersenyum melihat Laura yang tertawa lepas.
"Charlotte kamu sungguh lucu, ha ha ha...... ." Laura berkata di sela-sela tawanya sampai air matanya keluar akibat tertawa.
Charlotte memasang wajah masam melihat Laura menertawai dirinya.
"Apa yang lucu sih ?! aku kan berkata sesuai apa yang aku lihat." Charlotte berkata ketus.
"Yang kamu lihat di bumbui dengan imajinasi mu yang besar." Goda Laura telah berhenti tertawa tapi masih dengan wajah tersenyum geli.
"Kalau memang hanya imajinasi ku lalu siapa pria itu ?"
"Namanya Edward Adam, dia di perintahkan Pangeran Albert untuk jadi pengawal pribadiku di mulai dari kemarin." Laura menjelaskan.
"Pengawal pribadi ?" Charlotte mengulangi.
"Atas perintah Pangeran Albert ?" Charlotte bertanya kembali seperti orang linglung.
Laura memutar kedua bola matanya, mulai kesal dengan tingkah Charlotte.
"Iya, atas perintah Pangeran Albert. Udah puas ? sudah percayakan ?"
Charlotte mengangguk. "Jadi dia akan selalu menemani di manapun kamu berada ?"
"Ya pastilah dan hal itu semakin membuatku stress." Laura menghela nafas berat.
"Berarti dia juga tinggal di rumah kalian ?"
Laura mengangguk. "He eh !"
Charlotte menggeleng-geleng kepalanya, simpatik. "Ck ck ck, sungguh malang nasibmu kawan."
"Seperti itulah." Keluh Laura.
"Tapi kalau diperhatikan pengawal pribadi mu juga tidak kalah tampan dari Pangeran Albert." Senyum Charlotte jail.
__ADS_1
Laura refleks memukul lengan sahabatnya, gemes. "Apa sih.... !"
"He he he, cuman bergurau sayang." Kekeh Charlotte.
"Sudah kita pesan makanan dulu, aku sudah lapar." Laura kembali fokus membaca buku menu.
Charlotte melirik pada Edward. "Dia tidak kita pesankan makanan sekalian ?"
"Tidak usah, dia tidak akan makan selama bekerja jadi percuma kita memesankan makanan untuknya." Jawab Laura tanpa mengangkat pandangannya dari buku menu.
"Oke..... baiklah."
Mereka memanggil pelayan setelah menentukan menu yang ingin mereka makan.
Siang itu mereka nikmati dengan bercerita dan tertawa dengan semua hal yang terlintas di kepala mereka. Laura menikmati masa-masa terakhir kebebasannya.
"Kamu tidak ingin aku antar ? supaya bisa kenalan dengan Edward." Goda Laura ketika mereka selesai makan siang dan bersiap-siap untuk pulang.
"Tidak bisa, aku juga membawa mobil kalau aku ikut denganmu bagaimana dengan mobil ku ?" Charlotte memasang wajah menyesal.
"Ya sudah kalau tidak bisa, hilang deh kesempatan kenalan dengan pria ganteng." Laura berdiri mengambil tasnya.
"Masih banyak kesempatan Ara ku sayang. Besok aku datang bermalam ke rumah mu." Kata Charlotte mengedipkan matanya.
Laura menggeleng kepala. "Ck ck ck, banyak juga akal mu." Laura berkata tidak percaya.
"Demi pria tampan dan gagah." Charlotte tersenyum jail. "Dadah Ara sayang....., tunggu aku besok di rumah mu ya." Charlotte melambai melangkah menjauh keluar dari Cafe lebih dulu.
Laura hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya.
Edward melangkah mendekati Laura. "Anda ingin langsung pulang Nona Laura ?" tanya Edward begitu berdiri di depan Laura.
"Iya, kita langsung pulang saja." Jawab Laura, berjalan keluar menuju mobil mereka.
Edward membantu membukakan pintu untuk Laura, setelah Laura masuk baru kemudian dirinya membuka pintu mobil bagian pengemudi.
"Edward aku ingin menanyakan masalah pribadi pada mu, boleh ?" tanya Laura begitu Edward telah duduk di kursi pengemudi.
Edward menatap Laura lewat kaca spion bagian depan.
"Boleh Nona Laura, tanyakan saja."
"Kamu sudah menikah atau sudah memiliki kekasih ?" tanya Laura penasaran.
Edward terdiam beberapa saat sebelum menjawab. "Belum kedua-duanya Nona."
__ADS_1
Laura mengangguk mengerti. "Hmmm... begitu, oke kita langsung pulang." Kata Laura tidak membahas lebih lanjut.
Edward hanya terdiam penuh tanda tanya, menghidupkan mobil dan membawanya ke jalan raya menuju jalan pulang ke rumah kediaman bangsawan George.