
"Tidak ingin ke depan ? Ke lantai dansa ?" tanya Charlotte.
"Tidak, kamu saja." Tolak Laura sambil menggelengkan kepalanya.
Charlotte berdiri lalu menarik tangan Laura. "Ayolah Ara, tidak lama."
Laura terpaksa berdiri mengikuti Charlotte yang terus menariknya sampai di tengah kerumunan orang yang sedang bergerak mengikuti dentuman musik DJ.
Charlotte memaksa Laura untuk ikut bergoyang bersamanya membuat Laura tertawa dan terpaksa ikut bergerak walaupun tidak seaktif sahabatnya Charlotte, tanpa menyadari tatapan seseorang dari jauh yang dari tadi memperhatikan mereka mulai dari sejak masuk.
Lelah bergerak lebih dari sepuluh menit, Laura memutuskan untuk kembali ke meja mereka. Merasa di amati Laura mengedarkan pandangannya keseluruhan sudut ruangan. Pandangannya terhenti pada meja yang berada paling sudut ruangan, pencahayaannya pun lebih temaram dari pada tempat lain yang berada di ruangan itu.
Laura memicingkan matanya menatap dengan seksama orang yang berada di meja itu. Terdapat beberapa pria yang di temani masing-masing wanita yang melengket seperti permen karet pada masing-masing pria itu.
Karena pencahayaan yang redup membuat Laura tidak jelas melihat siapa mereka.
Bukan menjadi urusanku, kenapa juga aku harus sibuk memperhatikan mereka yang tengah asik bermesraan dengan wanita mereka.
Laura mendengus kesal dengan dirinya sendiri yang sibuk mengurus urusan orang lain.
Menunggu Charlotte tanpa sadar minuman di tangannya telah habis. Laura hendak memanggil kembali pelayan untuk memesan kembali minumannya tapi dia tidak melihat pelayan yang berada di dekat mejanya.
Lebih baik aku langsung ke meja bartender saja untuk memesan minuman karena sepertinya Charlotte masih lama melihat dia sedang asik bergoyang dengan pria asing itu.
"Permisi Nona."
Laura sedikit terkejut dengan kehadiran pelayan di sampingnya membawa gelas berisi minuman di atas talang kecil di tangannya.
"Ya kenapa ?" tanya Laura penasaran.
"Ini minuman untuk Anda." Jawab pelayan sambil meletakkan gelas itu di atas meja Laura.
"Tapi aku tidak memesannya." Kata Laura bingung. "Mungkin salah meja." Laura menambahkan.
"Nama Anda Laura Clarissa George." Kata pelayan menyebutkan nama lengkapnya.
Laura mengangguk bingung dengan situasi yang sedang terjadi. "Iya betul itu nama ku."
"Minuman ini pemberian dari Tuan yang berada di meja itu." Pelayan menjelaskan sambil menunjuk meja temaram yang di maksud pelayan.
Laura mengikuti arah telunjuk pelayan tersebut dan meja yang di maksud adalah meja yang dari tadi Laura lihat dan penasara kan.
Pria yang duduk di tengah mengangkat gelasnya memberi tanda pada Laura yang sedang menatap ke arahnya.
"Siapa pria di antara mereka yang memberikan minuman itu ?" tanya Laura penasaran pada pelayan.
__ADS_1
"Pria itu mengatakan jika anda bertanya siapa yang memberikan katakan saja dari Albert calon suami mu." Pelayan itu menyampaikan pesan.
Laura terpaku di tempatnya, tidak menduga dan menyangka pria yang tidak ingin di jumpai malah bertemu dengan nya di tempat yang tidak di duga.
"Katakan padanya aku tidak minum minuman beralkohol." Tolak Laura mendorong pelan gelas cocktail di hadapannya.
Pelayan itu terpaksa mengambil kembali gelas minuman yang tadi dia letakkan di atas meja.
"Kalau begitu aku permisi dulu."
"Tunggu !" Laura menahan pelayan itu.
"Kenapa Nona ?"
"Aku ingin segelas mocktail."
"Baiklah Nona, akan aku bawakan." Pelayan itu berbalik pergi kembali menuju meja Pangeran Albert.
Laura tidak menoleh dan penasaran dengan reaksi Pangeran Albert setelah mendengar pesannya, tatapan Laura hanya menatap ke depan melihat Charlotte yang masih berada di lantai dansa.
Tidak lama kemudian pesanan Laura datang bersama dengan Charlotte yang nampak kelelahan.
"Kamu juga ingin segelas ?" tanya Laura menoleh pada Charlotte yang duduk disebelahnya.
"Iya boleh."
"Baik, akan aku bawakan." Ucap pelayan dan berbalik pergi.
"Charlotte." Panggil Laura meminta perhatian penuh pada sahabatnya.
"Ya ada apa ?" Charlotte menatapnya.
"Ada dia di sini."
Charlotte mengerutkan kening, bingung. "Siapa ?"
"Pangeran Albert, dia ada di sini tepatnya di sebelah kanan kita di sudut ruangan." Laura memberi tahu tanpa menoleh ke arah yang di maksudnya.
"Benarkah ?" Charlotte berkata penasaran.
"Jangan menatap ke sana !" Laura langsung menghentikan gerakan kepala Charlotte yang ingin menoleh ke arah yang di maksud Laura.
"Kenapa memangnya ?" Charlotte berkata heran.
"Aku tidak ingin dia berpikir aku terpengaruh dengan keberadaannya di sini."
__ADS_1
"O... Begitu. Lalu dari mana kamu tahu dia ada di sini ? Sedangkan tempatnya duduk sangat temaram." tanya Charlotte melirik sebentar ke arah tempat Pangeran Albert duduk.
"Dia menyuruh pelayan memberikan aku segelas cocktail yang langsung aku tolak karena kebetulan aku tidak minum minuman beralkohol."
"Berarti dia sudah lama melihat kamu di sini." Tebak Charlotte.
"Mungkin saja." Laura berkata cuek.
"Aku lihat dia bersama dengan teman-temannya dan di temani perempuan berpakaian seksi."
"Kamu bisa melihatnya dengan jelas ? Padahal pencahayaan di sana sangat temaram." Laura bertanya penuh takjub.
"Iyalah, mata ku kan setajam elang kalau berurusan dengan hal yang beginian." Charlotte berkata penuh bangga.
Laura tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya. "Kamu ini, ada-ada saja." Laura berkata geleng geleng kepala.
"Kenapa lama sekali sih minumannya datang." Keluh Charlotte mengganti pembicaraan.
"Kamu tunggu saja minuman mu di sini, aku ke toilet dulu." Laura berdiri dari kursinya.
"Baiklah."
Laura berjalan melewati depan meja Pangeran Albert tanpa menoleh ataupun melirik seakan tidak mengetahui keberadaan mereka di sana.
Sampai di dalam toilet wanita Laura mencuci tangan dan memperbaiki riasa serta rambutnya yang sedikit berantakan. Keadaan toilet sunyi tidak ada orang selain dirinya membuatnya lebih leluasa menata kembali rambut hitam panjangnya.
"Lebih baik di urai saja." Suara berat pria dari arah pintu.
Laura terkejut menoleh ke arah suara itu. "Apa yang kamu lakukan di sini ?" Laura menatap tidak percaya melihat Pangeran Albert yang berada di toilet wanita.
"Aku ingin berbicara denganmu." Jawab Pangeran Albert dengan santai, berjalan mendekati Laura yang masih terpaku di tempatnya.
"Tapi kenapa harus di sini ?! ini toilet wanita !. Bagaimana kalau nanti ada yang masuk ?" Laura bertanya masih tidak percaya.
Pangeran Albert berhenti tepat di depan Laura. "Tidak usah terlalu gugup begitu Ara." Ucap Pangeran Albert dengan senyum mengejek.
"Aku tidak gugup, bukan aku yang berada di tempat yang salah." Ketus Laura tidak menyukai nama Ara keluar dari mulutnya.
Pengeran Albert mengulurkan tangannya mengusap rambut panjang Laura.
Laura refleks mundur, tidak menyukai kontak fisik yang terjadi di antara mereka.
Pangeran Albert tidak menghiraukan gerakan mundur tiba-tiba Laura yang tidak menyukai sentuhannya dan tetap mengusap rambut hitam Laura yang panjang.
"Kedepannya jangan berpakaian seperti ini dan jangan gulung rambut mu seperti tadi." Pangeran Albert berkata dengan nada tidak senang.
__ADS_1
"Kita belum menikah jadi yang mulia tidak bisa mengatur ku." Laura masih berkata dengan nada ketus.