Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 26. Keterkejutan Mama


__ADS_3

Ara baik-baik saja Mama, hanya ada sedikit insiden tidak terduga tadi di restoran." Jawab Laura.


Mama mengerutkan kening, bingung dengan perkataan Laura. "Insiden bagaimana maksudmu ? kenapa dengan wajah dan mengapa kamu memakai jas ? jas siapa ini ?" Pertanyaan beruntun dari Mama.


"Ini jas milik Edward Mama, dia meminjamkan nya pada ku untuk menitupi pakaian ku yang sobek." Jawab Laura sambil melirik ke arah Edward yang hanya diam mengamati, akan menjawab jika di tanya.


"Sobek ? apa maksud mu pakaian mu sobek ? Mama semakin tidak mengerti Ara."


Laura menarik napas panjang kemudian menarik pelan Mama menuju sofa yang berada di ruang tengah.


"Lebih baik kita berbicara sambil duduk." Ucap Laura tenang agar Mama nya tidak bertambah panik begitu mendengar ceritanya.


"Baiklah Mama mendengar, ceritakan dari awal." Kata Mama begitu mereka telah duduk, sedangkan Edward masih berdiri di tempatnya tidak jauh dari mereka.


"Aku dan Edward menuju restoran tempat di mana aku janjian bertemu dengan Charlotte untuk makan malam. Semua nya baik-baik saja sampai ketika aku pergi ke toilet wanita dan bertemu dengan seorang wanita yang mengaku sebagai kekasih Pangeran Albert. Wanita itu marah dan mengamuk pada ku, dia berkata kalau aku telah merebut kekasihnya.


"Aku sudah menjelaskan pada wanita itu kalau aku tidak pernah merebut kekasihnya. Aku menjelaskan kalau kami ini hanya di jodohkan tapi wanita itu tetap tidak mau mendengar penjelasan ku dan melampiaskan emosi nya padaku.


"Aku berusan untuk membela diri tapi wanita itu bertingkah sangat brutal. Selain tidak bisa mengelak dari tamparan dan cengkeraman tangannya di rambut ku, wanita itu juga berhasil merobek gaun ku." Laura menjelaskan panjang lebar.


Mama refleks menutup mulut dengan kedua tangannya, terkejut begitu mendengar cerita dari Laura.


"Ya Tuhan.... kenapa hal seperti itu bisa terjadi pada mu sayang. Bukankah Edward ada bersama dengan mu ?" tanya Mama bingung, sambil menatap Edward.


"Kejadian nya di toilet wanita Mama, kejadiannya akan lebih parah jika Edward tidak langsung menyusulku ke toilet wanita." Jelas Laura sambil melirik Edward yang hanya diam di tempatnya berdiri.


"Ara baik-baik saja Mama, tolong jangan ceritakan hal ini pada Papa." Pinta Laura menambahkan.


"Bagaimana bisa menyembunyikan hal ini pada Papa mu Ara ? lihatlah penampilan mu, wajahmu memar seperti itu dan memar itu tidak akan langsung hilang dalam sehari." Kata Mama bingung.


"Kenapa juga hal seperti ini bisa terjadi padamu sayang." Tambah Mama tidak menduga.


"Beginilah jadinya kalau aku di jodohkan dengan pria seorang playboy." Gumam Ara dengan wajah muram.


"Apa yang barusan kamu katakan sayang ?" Mama bertanya tidak jelas mendengar perkataan Laura.


Laura menggeleng kepala. "Bukan apa-apa Mama."

__ADS_1


"Lebih baik kamu segera naik ke kamar mu untuk berganti pakaian dan istirahat. Mama akan memberikan kompres air dingin untuk memarmu."


"Baik Mama, Ara naik ke atas dulu." Kata Laura sambil berdiri melangkah mendekati Edward, mengembalikan jas Edward padanya.


"Terimakasih Edward." Ucap Laura tulus.


Edward mengulurkan tangan, mengambil jas miliknya. "Sama-sama Nona Laura, itu sudah menjadi tugasku." Edward meyakinkan.


Laura mengangguk mengerti dan berbalik menjauh melangkah menuju tangga sedangkan Mama berjalan menuju dapur.


Begitu di dalam kamar nya, Laura langsung membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya. Terdengar ketukan pintu di susul pintu kamar yang terbuka, Mama masuk dengan membawa kompres dingin di tangannya.


"Biar Ara saja yang kompres Ma."


"Baiklah." Kata Mama sambil memberikan kompres dingin pada Laura.


Mama masih berdiri di tempatnya, memperhatikan Laura mengompres memar di pipinya. "Ara baik-baik saja Mama." Laura kembali meyakinkan Mama yang sepertinya belum berniat untuk keluar.


Mama menghela napas panjang. "Baiklah, Mama keluar dulu. Kamu istirahat saja setelah ini, besok pagi Mama akan menyuruh pelayan mengantarkan sarapan mu ke kamar jadi kamu tidak perlu bertemu dengan Papa mu besok pagi."


Laura menuju meja riasnya kemudian duduk menghadap cermin dan mulai mengompres memar di pipinya.


Wanita itu pasti sangat mencintai Pangeran Albert sampai nekat berbuat seperti ini terhadap ku. Aku sebenarnya merasa kasihan terhadap wanita itu, dia mencintai pria yang tidak pernah memiliki hubungan yang serius dengan wanita manapun.


Laura berkata dalam hati sambil mengompres wajahnya. Sudah merasa lebih baik, beberapa saat kemudian Laura berhenti mengompres wajahnya. Dirinya bangkit berdiri berjalan menuju tempat tidur.


"Sungguh hari yang melelahkan." Gumam Laura sambil menarik selimut untuk tidur.


Hari berganti dari gelap menjadi terang, matahari mulai menunjukkan dirinya. Semua anggota keluarga George telah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi kecuali Laura.


"Mari kita mulai sarapan." Ajak Mama


"Mana Ara, Mama?" tanya Papa.


"Ara sedang kurang sehat, biarkan dia tidur lebih lama. Mama akan menyuruh pelayan mengantarkan sarapan untuk nya di kamar setelah kita sarapan." Mama menjelaskan.


Papa mengangguk mengerti. "Baiklah kalau begitu, lebih baik kita sarapan sekarang."

__ADS_1


Mereka memulai sarapan tanpa Laura, saat sedang menikmati sarapan mereka tiba-tiba terdengar bel pintu depan rumah.


Terdengar langkah kaki pelayan yang berjalan ke depan untuk membuka pintu.


"Akhir - akhir ini kita sering kedatangan tamu di pagi hari." Papa sedikit mengeluh, merasa terganggu dengan tamu yang tidak tahu jam untuk datang bertamu.


"Mungkin hal yang penting, makanya tamu itu datang sepagi ini." Mama berkata dengan pikiran positif.


Pelayan berjalan mendekati mereka, berniat memberitahu identitas tamu yang datang.


"Siapa tamu ?" Mama lebih dulu bertanya.


"Pangeran Albert, Nyonya. Tamu yang datang Pangeran Albert." Jawab Pelayan, mengulangi perkataannya.


Papa mengerutkan kening. "Pangeran Albert ? ada hal apa dia datang pagi-pagi sekali ke rumah kita ?" Kata Papa bertanya heran, bangkit berdiri menghentikan sarapan paginya berniat ke luar menemui tamu terhormat.


Mama juga ikut berdiri, menyusul Papa dari belakang menuju ke ruang depan sedangkan Bella meneruskan sarapan nya.


Terlihat Pangeran Albert sedang duduk di sofa menunggu kedatangan tuan rumah, Papa berjalan mendekat.


"Maaf membuat anda menunggu lama, Pangeran Albert. Kami sedang sarapan pagi jadi membuat anda harus menunggu." Papa berkata ramah begitu Pangeran Albert menoleh, menyadari kedatangan mereka.


"Tidak apa-apa Tuan George dan Nyonya George, aku yang seharusnya meminta maaf karena datang sangat pagi dan mengganggu waktu sarapan kalian."


"Tidak apa-apa Yang mulia." Kata Mama tersenyum ramah.


"Kalau boleh tahu ada hal penting apa yang membuat anda datang ke kediaman kami pagi-pagi sekali seperti ini ?" tanya Papa penasaran.


"Bukan hal pekerjaan Tuan George, aku datang hanya ingin bertemu dengan Laura tunanganku." Jawab Pangeran Albert.


"Maaf Yang Mulia tapi saat ini Laura sedang kurang sehat jadi mungkin tidak bisa menemui anda." Mama menyela, memberi tahu.


"Karena itu aku datang ke sini karena ingin melihat keadaan Laura."


"Siapa yang memberitahukan anda kalau Laura sedang kurang sehat ?" tanya Mama heran bercampur penasaran.


"Edward yang memberitahukan nya padaku."

__ADS_1


__ADS_2