Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 11. Pertemuan Di Dalam Perpustakaan


__ADS_3

Begitu masuk kedalam Laura memilih kursi yang berada di bagian sudut ruang perpustakaan agar tidak terganggu dengan kehadiran orang lain saat berada di dalam perpustakaan.


Meletakkan gelas kopi di atas meja beserta tasnya dan mulai berjalan di lorong-lorong rak buku untuk mencari buku yang menarik untuk di baca.


Laura kembali menuju mejanya dengan membawa dua buku di tangannya. Menarik kursi untuk duduk dan mulai membaca buku yang di ambil nya tanpa menghiraukan keberadaan Edward yang dari tadi hanya diam mengamati dirinya dari jarak yang tidak begitu jauh dari kursinya.


Laura mulai asik fokus dengan buku yang di bacanya karena letak kursinya yang berada paling belakang sudut ruangan membuatnya tidak mendengar sedikit keributan yang terjadi di bagian depan ruang perpustakaan.


Seseorang menarik kursi kosong yang berada tepat di samping Laura membuatnya refleks menoleh.


Mengerutkan kening tidak suka dengan kehadiran orang tersebut.


"Kenapa anda bisa berada di tempat ini yang mulia ?" Laura bertanya dengan nada sopan pada Pangeran Albert walaupun dirinya kesal dengan keberadaan pria itu di sana.


"Memangnya tidak boleh aku berada di tempat ini ? setahuku ini merupakan tempat umum yang semua orang bisa datang ke tempat ini." Pangeran Albert berkata dengan senyum jail, berpura-pura tidak mengerti maksud dari perkataan Laura.


Laura menahan emosi mendengar perkataan Pangeran Albert yang tidak menjawab langsung pertanyaannya dan menatap kesal pada Edward yang memasang wajah tidak bersalah.


Pasti ini ulahnya, pasti dia yang melaporkan keberadaan ku di sini pada majikannya.


"Tidak ku sangka ternyata selain suka datang ke kelab malam kamu juga suka datang ke tempat ini."


"Memangnya tidak boleh ?"


"Tidak ada yang bilang tidak boleh, hanya saja sungguh tidak menyangka." Masih dengan senyum jail di wajahnya.


"Ah ! Aku jadi teringat kalau Papa mu pernah berkata pada Raja tentang keinginan mu yang ingin bekerja di sini." Pangeran Albert menambahkan.


"Saat itu anda juga berada di sana ?"


"Tentu saja tapi sayang Raja langsung menolaknya." Ucap Pangeran Albert pura-pura memasang wajah menyesal.


Pria ini makin lama semakin menyebalkan !, Kenapa juga dia harus berkata seperti itu ?! seperti mengejek diri ku.


Laura bersikap biasa saja tidak menanggapi perkataan Pangeran Albert walaupun dalam hatinya semakin kesal.


"Kamu sangat serius membaca buku itu." Pangeran Albert kembali berbicara, meminta perhatian Laura yang tidak menanggapinya.


Laura menghela napas panjang menoleh menatap Pangeran Albert. "Maaf jika anda tersinggung yang mulia tapi ini perpustakaan. Kita tidak boleh ribut ketika berada di sini yang membuat orang lain terganggu."


Pangeran Albert mengangkat kening sebelah. "Aku rasa mereka yang berada di sini pasti mengerti dan memaklumi diriku. Mereka tidak akan marah pada ku jika aku sedikit ribut di sini."

__ADS_1


Iyalah, mereka mana berani marah pada mu yang merupakan Putra Mahkota dan calon Raja di negara ini, memangnya mereka mau cari mati apa !.


Hedeh...... !! Sejak bertemu Pria ini, aku punya kebiasaan baru yaitu menggerutu dalam hati.


"Betul yang anda katakan yang mulia." Laura berkata pasrah.


"Kudengar dari Edward kalau kamu marah dengan keputusanku memberi mu pengawal pribadi."


Laura langsung refleks menatap marah pada Edward.


"Jangan salah paham yang mulia, aku hanya tidak suka di kawal kemana-mana. Aku terbiasa melakukan sesuatu hal sendiri." Laura menjelaskan.


"Hmmm..... begitu." Gumam Pangeran Albert mengerti.


"Iya." Laura kembali meyakinkan.


Pangeran Albert memasang wajah serius. "Kamu harus mulai terbiasa dari sekarang karena mulai ini dan seterusnya kamu tidak bisa kemana-mana seorang diri apalagi setelah kita menikah."


Laura kembali hanya terdiam tidak tahu harus menanggapi bagaimana.


Sunyi beberapa saat, tidak ada satupun dari mereka yang bersuara.


"Yang mulia menyutujui perjodohan ini ?" Laura bersuara, memberikan diri menanyakan hal yang dari dulu ada di kepalanya.


"Hanya penasaran saja."


"Aku menyutujui nya."


"Kenapa anda menyutujui nya ?" Laura bertanya penasaran.


Pangeran Albert mengangkat kedua bahunya. "Karena itu merupakan wasiat mendiang Raja terdahulu, menolak nya pun percoba karena sudah seperti titah Raja yang harus di patuhi." Jawab Pangeran Albert sekenanya.


"Yang mulia tidak punya kekasih atau wanita yang anda inginkan menjadi istri anda ?" Laura semakin penasaran mendengar jawaban dari Pangeran Albert.


"Tidak ada, wanita yang bersama dengan ku selama ini hanya sebagai hiburan saja karena wasiat perjodohan itu sudah lama aku ketahui jadi percuma saja jika aku mencintai seorang wanita." Pangeran Albert bercerita dengan sangat santai.


"Cinta bagi anggota keluarga kerajaan merupakan sesuatu hal yang mustahil karena pernikahan kami biasanya di karenakan politik atau seperti ini, di jodohkan." Pangeran Albert manambahkan.


Laura kembali terdiam mendengar perkataan Pangeran Albert tentang kenyataan hidup mereka.


"Lalu bagaimana dengan mu ? kenapa kamu menerima perjodohan ini ?" Pangeran Albert balik bertanya.

__ADS_1


Laura mengangkat kedua bahunya dengan sikap acuh. "Bukankah semua wanita di negara ini mendambakan menikah dengan yang mulia ?" Laura mengelak menjawab pertanyaan Pangeran Albert.


"Betulkah ?"


"Tentu saja."


"Begitu juga dengan mu ?" Pangeran Albert menuntut jawaban dari Laura.


"Entahlah." Jawab Laura mengambang, tidak mengiyakan atau menolak.


Pangeran Albert memasang wajah penasaran mendengar perkataan Laura.


"Kenapa begitu ?"


"Aku tidak suka terkekang dengan begitu banyaknya aturan dalam keluarga kerajaan." Laura kembali menjawab secara gamblang.


"Bukan karena kamu memiliki kekasih ?"


"Aku tidak memiliki kekasih." Jawab Laura langsung.


"Hmmmm...... begitu." Gumam Pangeran Albert sambil melihat jam keci di pergelangan tangannya.


"Aku tidak bisa terlalu berlama-lama di sini, harus pergi sekarang." Pangeran Albert menambahkan.


"Baiklah." Laura berusaha menyembunyikan rasa lega nya begitu mendengar perkataan Pangeran Albert.


Pangeran Albert melihat tapi tidak menanggapinya, berdiri dari kursinya.


"Sampai bertemu lagi Ara." Pamit Pangeran Albert.


Laura ikut berdiri mengantar kepergian Pangeran Albert. "Sampai bertemu lagi di acara pertunangan kita yang mulia." Kata Laura penuh harap, tidak ingin bertemu dengan pangeran Albert sampai hari itu tiba.


Pangeran Albert menghentikan langkah kaki, menatap Laura dengan senyum jail di wajahnya.


"Kenapa perkataan mu seperti nya bermakna kamu tidak ingin bertemu denganku lagi sebelum acara pertunangan kita ?"


Laura berusaha menutupi kegugupannya. "Itu hanya perasaan anda saja yang mulia, aku sangat senang bertemu dengan anda." Laura tersenyum kaku.


"Baiklah, kamu beruntung saat ini karena aku tidak membahasnya lebih jauh lagi. Aku harus segera pergi, sampai jumpa Ara."


"Sampai jumpa lagi yang mulia." Laura tidak berkata lebih banyak.

__ADS_1


Pangeran Albert berjalan menjauh di susul oleh beberapa pengawal pribadi. Laura hanya diam menatap punggung Pangeran Albert yang menjauh.


Laura menutup buku yang tadi di bacanya, moodnya untuk membaca telah hilang dirinya bergerak mengembalikan buku ke rak nya semula. Mengambil tas dan gelas bekas minuman nya, membuang gelas minumannya di tempat sampah dan berjalan keluar dari perpustakaan tentunya di susul Edward dari belakang.


__ADS_2