Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 30. Perjalanan Menuju Spanyol


__ADS_3

Pasawat mendarat di Bandara Internasional Barcelona - El Prat, beberapa mobil hitam telah berjejer rapi menunggu kedatangan mereka.


Mereka turun perlahan menuruni anak tangga pesawat, para pengawal dengan sigap mengawal mereka masuk ke dalam mobil. Pengawal yang ikut bersama mereka tidak banyak tetapi pengawal yang menunggu kedatangan mereka di bandara jumlah nya dua kali lipat dari yang ikut bersama mereka.


Pintu pesawat terbuka, mereka turun menuju mobil yang terparkir dengan kawalan ketat dari para pengawal.


"Boleh aku bertanya Yang Mulia ?" Laura bertanya begitu mereka telah duduk di dalam mobil.


Pangeran Albert menoleh ke arah Laura. "Apa yang ingin kamu tanyakan ?"


"Mengapa Yang Mulia harus membawa begitu banyak pengawal ?"


"Kenapa ? Kamu merasa tidak nyaman ?" Pangeran Albert balik bertanya.


"Kalau mau jujur sebenarnya iya, aku sedikit karang nyaman." Jawab Laura dengan senyum masam.


"Kamu akan terbiasa nantinya, ini juga demi keselamatan kita. Kita sekarang ini berada di Negara lain dan kita tidak akan tahu bahaya seperti yang bisa saja datang menghampiri kita ketika berada di sini oleh karena itu pengawalan ketat meski kita lakukan." Jelas Pangeran Albert di balas anggukan mengerti oleh Laura, sisa perjalanan mereka lakukan dalam diam. Sesekali Laura menoleh ke arah jendela mobil jika melipat pemandangan di luar yang menarik perhatiannya sedangkan Pangeran Albert memilih sibuk dengan Tablet yang di pegang nya.


Laju mobil melambat ketika hendak memasuki pintu gerbang sebuah pagar dengan ukiran mewah bernuansa klasik ala Eropa. Perhatian Laura tertuju pada bangunan mewah yang berada di hadapannya begitu mereka turun dari dalam mobil.


"Kita ada di mana Yang Mulia ?" Laura tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran nya.


"Ini salah satu villa yang di miliki keluarga kerjaan." Jawab Pangeran Albert singkat.


Laura mengangguk mengerti mendengar perkataan Pangeran Albert.


Kenapa diriku begitu bodoh, terpikirkan dalam benak ku bahwa kami akan menginap di sebuah hotel selama berdasa di sini ? Gerutu Laura dalam hati mengutuk kebodohan nya sendiri.


Dia ini anggota keluarga kerajaan, selama masih berada di benua Eropa tidak mungkin lah dia akan menginap di hotel selama berada di luar negeri. Laura kembali berbicara dalam hati sambil melirik ke arah Pangeran Albert.


"Kau masih ingin terus berdiri di situ ?" tanya Pangeran Albert menoleh ke belakang pada Laura.


"Ah !! Maaf." Laura tersadar dari pikirannya, menyadari ternyata Pangeran Albert telah berjarak beberapa langkah dari dirinya.


"Kamu melamun, apa yang kamu lamunkan ?" Kembali Pangeran Albert bertanya begitu Laura telah berada sejajar dengan dirinya.


"Bukan sesuatu hal yang penting Yang Mulia." Jawab Laura tersenyum kikuk.


Pengawal langsung membukakan pintu untuk mereka masuk. Seperti dugaan Laura, bangunan ini bernuansa klasik Eropa, begitu masuk mereka langsung di sambut beberapa pelayan berseragam.


"Bawa Nona Laura ke kamarnya." Perintah Pangeran Albert pada pelayan.

__ADS_1


"Baik Yang Mulia." Jawab patuh salah satu pelayan wanita itu yang kemudian menoleh pada Laura dengan wajah tersenyum ramah.


"Silakan ikut dengan ku Nona Laura, aku akan menunjukkan kamar anda." Tambah pelayan itu.


"Iya, terimakasih." Ucap Laura dan mengikuti pelayan wanita itu dari belakang.


Mereka berjalan melewati beberapa ruangan sebelum naik ke lantai dua dan berhenti di depan pintu kedua dari beberapa pintu yang terdapat di lantai dua villa itu.


"Ini kamar anda Nona Laura." Ucap pelayan sambil membuka pintu mempersilahkan Laura untuk masuk.


"Terimakasih." Balas Laura sambil melangkah memasuki kamar itu.


"Barang-barang anda sudah kami atur di dalam lemari dan meja rias." Pelayan memberitahu.


Laura hanya balas mengangguk mengerti. "Masih ada lagi yang anda butuhkan ?" Kembali pelayan itu berkata.


"Untuk sekarang belum ada."


"Anda bisa memanggil ku jika ada yang anda butuhkan. Kalau begitu aku permisi dulu, silahkan anda beristirahat." Pamit pelayan sebelum pergi.


Laura melangkah menuju tempat tidur kemudian merebahkan tubuhnya di sana, melepaskan lelah dan penat yang di rasakan nya selama penerbangan.


Ketukan di pintu membangunkan Laura dari tidurnya.


"Masuk !" Seru Laura seraya duduk bangkit dari tidurnya.


Pintu pun terbuka, seorang pelayan muncul dari balik pintu.


"Maaf mengganggu anda Nona tapi tidak lama lagi jam makan malam, aku datang untuk menyampaikan air mandi untuk Nona Laura."


Laura menoleh ke arah jendela. "Ternyata hari Sudah gelap, pukul berapa sekarang ?"


"Sudah pukul delapan belas lewat sepuluh." Jawab pelayan.


"Ternyata tidurku lama juga."


"Apakah ada yang anda butuhkan sebelum aku menyiapkan air mandi untuk anda Nona Laura ?"


"Tidak ada, Kau boleh mengerjakan tugas mu."


"Baik Nona."

__ADS_1


Pelayan melangkah menuju pintu yang berada di ujung kamar itu,yang di tebak Laura sebagai pintu kamar mandi karena Laura belum memeriksa keadaan seluruh kamar yang dia tempati.


Tidak begitu lama pelayan kembali muncul dari balik pintu. "Air mandi anda telah aku siapkan Nona Laura."


"Terimakasih."


"Sama-sama Nona Laura, masih ada lagi yang anda butuhkan ?" Tanya Pelayan.


"Tidak ada."


"Baiklah kalau begitu aku permisi Nona Laura."


Laura turun dari tempat tidur begitu pelayan keluar, melangkah menuju pintu kamar mandi.


Tiga puluh menit kemudian Laura keluar dari kamar nya.


"Aku tidak mengetahui di mana letak ruang makannya, seharusnya tadi aku menyuruh pelayan untuk datang kembali." Gumam Laura sambil melangkah menuruni tangga.


"Nona Laura." Suara Edward muncul dari arah samping.


Laura menoleh mengikuti arah suara muncul, Edward melangkah mendekati dirinya.


"Baguslah kamu muncul Edward." Suara Laura terdengar lega di telinga Edward.


"Ada hal apa Nona Laura ?" Tanya Edward begitu berhenti di hadapan Laura.


"Aku di panggil untuk makan makan malam oleh Yang Mulia tapi aku belum tahu di mana ruang makannya."


Edward mengangguk mengerti. "Mari aku antar Nona."


"Terimakasih Edward."


Laura mengikuti langkah Edward menuju ruang makan, sayup sayup terdengar suara percakapan pria dan wanita yang di selangi cekikikan manja dari sang wanita dari arah depan mereka.


Begitu memasuki ruang makan terjawablah dari mana sebenarnya suara itu, Laura melihat Pangeran Albert yang telah di temani seorang wanita cantik duduk di meja makan menunggu kehadiran mereka.


"Maaf membuat anda menunggu Yang Mulia." Laura bersuara begitu mereka telah menyadari kehadirannya.


"Tidak apa-apa, kami juga belum lama menunggu." Balas Pangeran Albert.


Laura melangkah mendekati meja makan dan tersenyum mengangguk ke arah wanita asing itu sebelum duduk di kursi yang berada di sisi lain samping Pangeran Albert tepat di hadapan wanita asing itu.

__ADS_1


__ADS_2