Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 15. Perpustakaan Pribadi


__ADS_3

Sekretaris istana membawa laura berjalan melewati beberapa pintu dan lorong untuk sampai di sebuah pintu yang di jaga dua orang pengawal memakai setelan jas hitam.


Melihat mereka mendekat salah satu pengawal membukakan pintu untuk mereka masuk.


"Silahkan anda menunggu di dalam Nona Laura, photografer akan segera datang." Kata Sekretaris istana di depan pintu tanpa masuk ke dalam.


"Lalu Pangeran Albert di mana ? tadi aku melihatnya masih bercakap dengan Perdana menteri."


"Yang mulia akan datang menyusul tidak lama lagi, silahkan menunggu di dalam Nona Laura." Sekretaris Istana kembali mengulangi perkataannya.


Dengan terpaksa Laura masuk ke dalam, pintu tertutup dari luar. Laura mau tidak mau takjub dengan apa yang dilihatnya. Perpustakaan pribadi Pangeran Albert terlihat sangat mewah dan elegan. Buku-buku tertata rapi di dalam rak buku yang tingginya hampir menyentuh langit-langit ruangan.


Terdapat meja dan kursi kerja di tengah ruangan itu juga terdapat sofa kecil yang nyaman untuk membaca dengan ukuran satu orang yang terletak di bawah jendela.


"Ruangan yang indah tapi tetap terkesan maskulin." Laura berbicara sendiri.


"Terimakasih atas pujiannya."


Suara dari belakang mengagetkan Laura yang membuatnya refleks berbalik ke arah suara yang muncul.


"Yang mulia, anda mengagetkan ku." Kata Laura setelah melihat siapa yang datang.


Pangeran Albert tersenyum simpul.


"Bukan salah ku, kamu yang tidak mendengar suara pintu yang terbuka karena begitu sibuk mengamati keadaan ruangan ini."


"Ruangan ini sangat indah menurutku."


"Kamu bisa melihat-lihat buku koleksi ku sambil menunggu photografer datang." Pangeran Albert menawarkan.


Senyum Laura mengembang mendengar tawaran dari Pangeran Albert.


"Benarkah boleh ?" Laura bertanya penuh semangat untuk meyakinkan pendengarannya tidak salah.


"Tentu saja boleh, kenapa tidak boleh ?"


Laura tiba-tiba tersadar. "Tapi bukankah seharusnya photografer sudah ada di sini bersama kita ?"


Pangeran Albert berjalan menuju meja kerjanya dan duduk di sana.


"Mereka tadi menelepon Sekretaris istana, meminta maaf berkali-kali karena membuat ku menunggu."


"Kenapa seperti itu ? Sesi pemotretan di batalkan ?" tanya Laura bersemangat penuh harap.


Sebelah kening Pangeran Albert terangkat begitu mendengar perkataan Laura.


"Sepertinya kamu senang dengan situasi itu tapi maaf mengecewakan mu, pemotret tetap akan di lakukan hanya sedikit terlambat karena terdapat halangan ban mobil mereka bocor dalam perjalanan ke sini."

__ADS_1


"Itu hanya pemikiran anda saja Yang Mulia." Laura tersenyum kaku menutupi kekecewaannya.


"Baguslah kalau tidak seperti dugaan ku." Pangeran Albert balas tersenyum mengejek.


"Boleh aku melihat-lihat koleksi buku-buku anda ?" Laura bertanya mengalihkan pembicaraan, berjalan ke rak buku.


"Silahkan, bukankah tadi aku sudah mengatakannya."


"Terimakasih Yang Mulia."


Laura takjub membaca koleksi buku-buku Pangeran Albert yang tersusun rapi di rak buku.


"Kamu boleh membacanya jika ada buku yang kamu suka sambil menunggu mereka datang."


"Terimakasih Yang Mulia." Ucap Laura tidak menunggu lama langsung menarik buku yang menarik perhatiannya.


"Puisi klasik." Gumam Laura membaca sampul buku. Berjalan ke arah sofa dan duduk di sana, mulai membaca dan terhanyut dengan isi buku itu.


Laura yang serius dengan bukunya tidak menyadari tatapan mata Pangeran Albert pada dirinya.


Ketukan pintu dari luar memecahkan konsentrasi Laura dari buku yang di bacanya.


"Masuk !" Pangeran Albert menyahut dengan nada sedikit tinggi.


Pintu terbuka, Sekretaris istana masuk dengan dua orang pria yang membawa tas besar di masing-masing bahu mereka.


"Baiklah, kita mulai secepatnya." Ucap Pangeran Albert berdiri dari kursinya.


"Maaf atas keterlambatannya Yang Mulia." Kata salah satu pria itu dengan wajah menyesal.


"Aku memaklumi kenapa kalian sampai terlambat."


"Terimakasih Yang Mulia." Jawab kedua pria itu bersamaan.


"Kalau begitu aku keluar dulu Yang Mulia." Sekretaris Istana pamit. "Silahkan kalian bekerja." Tambahnya menatap kedua pria itu.


"Baik." Jawab kedua pria itu kembali bersamaan.


Mereka membuka kedua tas besar yang mereka bawa dan mulai mengatur alat-alat tersebut.


Salah satu pria itu mengamati keadaan ruangan untuk mencari posisi di mana yang bagus untuk mengambil gambar.


Laura mengembalikan buku yang tadi di bacanya ke tempatnya semula, situasi tidak memungkinkan untuknya untuk kembali meneruskan bacaannya walaupun isi buku sangat disukainya.


"Bagaimana kalau kita mengambil gambar di sana." Saran salah satu pria yang memegang kamera sambil menunjuk ke arah sofa yang tadi di duduki Laura.


"Boleh." Pangeran Albert setuju.

__ADS_1


Laura kembali berjalan menuju sofa itu.


"Tunangan Yang Mulia duduk di sofa sedangkan Yang Mulia bisa berdiri di belakang atau duduk di lengan kursi dengan merangkul bahu tunangan anda." Saran Pria itu.


"Aku lebih memilih opsi yang ke dua." Kata Pangeran Albert.


"Baik kalau begitu, Nona silahkan duduk." Kata pria itu pada Laura yang dari tadi hanya diam mengamati.


Laura duduk di sofa meletakan kedua tangannya di atas pangkuannya, Pangeran Albert mengambil posisi duduk di lengan kursi sebelah kiri dengan lengan merangkul bahu Laura posesif.


"Bisa lebih natural lagi ?" Ucap pria itu dari balik kamera. "Nona bisa anda miring sedikit ke arah Pangeran Albert ?" tambahnya menurunkan kamera dari wajahnya, mengatur posisi mereka.


"Bisa." Jawab Laura singkat walaupun dirinya tidak nyaman dengan posisi yang di maksud.


Laura mengikuti arahan photografer itu, miring kearah Pangeran Albert.


"Bisa aku mengatur posisi anda ?" kembali bertanya, belum puas dengan pose yang ada di hadapannya.


"Tentu saja, silahkan." Pangeran Albert menjawab.


Photografer mendekat, mengatur sedikit posisi duduk Laura yang sedikit bersandar di tubuh Pangeran Albert. Tangan Laura yang memakai cincin pertunangan dia letakkan di atas pangkuan Pangeran Albert.


"Posisi yang sempurna." Komentar photografer dengan senyum puas. "Baiklah tahan sebentar, aku segera memotret." Tambahnya mundur sambil mengangkat kembali kamera ke wajahnya.


"Senyum sedikit." Ucap photografer.


Cekrek cekrek cekrek


Suara kamera berbunyi begitu pria itu mulai mengambil gambar mereka.


"Sempurna." Ucap pria itu begitu melihat hasil jepretan di layar kameranya.


"Sudah ?" tanya Laura.


"Iya." Jawab pria itu.


Laura bergerak menjauh tapi tertahan dengan lengan Pangeran Albert yang masih melingkar di bahunya membuatnya tidak bisa menjauh dan hanya bisa menunggu Pangeran Albert untuk berdiri.


Kedua pria itu mulai merapikan alat-alat mereka sedangkan Pangeran Albert masih dengan posisinya tidak bersuara hanya mengamati


Kenapa dia belum juga berdiri ? sungguh aku tidak nyaman dengan posisi kami sekarang ini. Dia tidak sadar atau pura-pura tidak tahu dengan maksud perkataan dan gerakan ku tadi sih ?


Laura berusaha bersikap santai walaupun sebenarnya dirinya canggung dengan situasi yang terjadi di antara mereka.


"Kami permisi dulu Yang Mulia." Pamit kedua pria itu.


"Iya." Ucap Pangeran Albert singkat.

__ADS_1


__ADS_2