
Cuaca malam itu sangat indah, bintang bertaburan menghiasi langit malam. Laura memutuskan untuk duduk bersantai di kursi taman dengan sebuah buku di tangannya.
"Cuaca berangin malam ini Nona Laura, sebaiknya anda memakai pakaian yang sedikit lebih tebal." Ucap Edward dari belakang.
Laura refleks menoleh ke belakang. "Kamu mengagetkan ku Edward." Kata Laura ketus setelah keluar dari rasa keterkejutannya.
Edward memutari kursi, berdiri di hadapan Laura dan mengulurkan tangan memberikan sweater rajut pada Laura.
"Pakailah, nanti anda bisa masuk angin."
Laura mengambil sweater itu dan langsung memakainya.
"Dari mana kamu mendapatkan sweater ini ?" Laura bertanya dengan tatapan penuh curiga kepada Edward.
"Aku meminta pelayan untuk mengambil di dalam kamar anda."
"O.... begitu." Laura manggut-manggut mengerti.
Edward tersenyum simpul tanpa Laura melihat tingkah polos Laura.
"Anda mengira aku yang mengambil dari dalam kamar anda ?"
"Tidak ! aku tidak mengatakan hal itu. Kenapa kamu bisa berkata seperti itu ?" Laura langsung bersikap defensif.
"Hanya perasaan ku saja, maaf jika membuat anda tersinggung." Kata Edward dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa, bukan sesuatu hal yang perlu di permasalahkan." Laura mulai membaca bukunya kembali.
"Aku perhatikan sejak awal datang ke rumah ini kalau ternyata anda sangat suka membaca buku." Komentar Edward.
"Iya aku suka membaca tapi aku lebih senang membaca pengetahuan umum yang tidak berhubungan dengan rumus seperti ilmu matematika atau fisika." Laura menjelaskan tersenyum.
"Buku novel juga anda baca ?"
"Tentu saja, buku yang sedang ku baca ini novel percintaan." Jawab Laura mengangkat buku dari pangkuannya dan memperlihatkan sampul buku pada Edward.
"Kamu Edward, suka membaca ?" Laura berbalik bertanya.
Edward tersenyum masam. "Aku tidak suka, aku orangnya hiperaktif yang lebih suka sesuatu hal yang bergerak aktif seperti olahraga atau beladiri."
"O.....jadi itu sebabnya kamu bekerja sebagai pengawal pribadi Pangeran ?"
"Kurang lebih begitu."
"Sahabatku yang kemarin kutemui memujimu, dia mengatakan kalau dirimu tampan." Kata Laura tersenyum.
Edward balas tersenyum. "Katakan terima kasih pada sahabat Nona Laura jika kalian kembali bertemu."
"Charlotte." Kata Laura.
"Ya ?" Edward menyahut tidak mengerti.
__ADS_1
"Namanya sahabat ku Charlotte."
Edward mengangguk. "Katakan terima kasih ku pada Charlotte saat anda nanti bertemu kembali dengannya." Edward mengulangi perkataannya.
"Katakan saja langsung padanya, dia akan datang dan bermalam di rumah ini besok malam."
"Baiklah, akan ku katakan langsung padanya."
Laura menengadah ke atas. "Malam ini sangat indah, bintang bertaburan menghiasi langit malam, Di negara kita jarang bisa melihat pemandangan malam seperti ini." Laura mengubah pembicaraan.
Edward juga ikut menengadah. "Betul yang anda katakan." Edward sepakat.
"Aku masih bisa menikmati malam indah seperti ini jika nanti aku sudah menikah dengan Tuan mu ?" tanya Laura dengan nada muram.
"Tentu bisa, kenapa tidak bisa ?" Edward balik bertanya.
"Aku tidak yakin Edward, walaupun kamu berkata seperti itu." Laura berdiri dari kursinya. "Aku masuk dulu." Tambahnya meninggalkan Edward yang hanya diam melihatnya melangkah masuk ke dalam rumah.
🍃🍃🍃🍃
"Laura tanggal pertunangan mu dengan Pangeran Albert sudah di tentukan." Kata Papa di meja makan usai sarapan pagi.
Gerakan tangan Laura yang ingin mengambil gelas air putih terhenti.
"Kapan acaranya pertunangannya Papa ?" tanya Laura muram, semangatnya pagi ini menghilang begitu mendengar perkataan Papa.
"Besok lusa jam tujuh malam, kita tidak mengundang orang lain yang datang hanya keluarga inti kerajaan dan keluarga kita saja."
"Tidak Ara, acara pernikahan kalian nanti akan di buat secara besar-besaran. Akan di undang semua kerabat keluarga kerajaan, pejabat-pejabat negara dan anggota kerajaan negara lainnya." Jawab Mama.
"Dan kamu akan di perkenalkan sebagai anggota keluarga kerajaan yang baru ke semua masyarakat di negara kita usai acara pernikahan kalian." Papa menambahkan.
"Menyeramkan sekali sepertinya." Laura bergidik ngeri.
"Hanya kamu yang berpikir seperti itu, orang lain di negara ini menambakan hal yang terjadi padamu Ara." Bella ikut berkomentar.
Kakak tidak mengerti perasaan ku sehingga bisa berkata seperti itu. Jujur saja, sebenarnya kakak kecewa kan dengan keputusan Papa dan Mama yang tidak mengikuti isi surat wasiat ?
Kata-kata itu hanya ada di kepala Laura yang tidak bisa dia ungkapkan.
"Aku permisi lebih dulu." Pamit Laura, berdiri dari kursinya.
Mereka hanya terdiam. "Laura selalu seperti itu jika mendengar kabar pernikahannya." Bella berkata begitu Laura telah menjauh menaiki tangga menuju lantai dua kamarnya.
"Tidak usah kita hiraukan, kita harus maklum dengan sikapnya mengingat dia terpaksa menyetujui pernikahan ini." Mama berkata pelan.
"Betul yang Mama mu katakan." Ucap Papa setuju.
Bella tidak berkomentar lebih jauh lagi.
Sesuai perkataanya kemarin, malam itu Charlotte datang dan berniat untuk menginap.
__ADS_1
"Kukira kamu hanya bergurau mengatakan ingin menginap di sini." Kata Laura, membuka pintu kamarnya.
"Aku tidak bergurau jika berhubungan dengan pria tampan sayang." Ucap Charlotte sambil mengedipkan mata sebelah, tersenyum jail masuk ke dalam kamar Laura.
Laura duduk di sofa, melipat kedua kakinya dan menopang dagu menggunakan bantal sofa.
"Bagaimana dengan pacar yang kemarin kamu ceritakan ? sudah putus ?"
Charlotte ikut bergabung dengan Laura duduk di sofa.
"Udah putus, malas soalnya dia membosankan dan mulai ngatur-ngatur baru jadi pacar saja sudah begitu bagaimana kalau udah jadi suami ?"
"Yang terakhir ini jalan berapa bulan ?"
"Sebulan." Jawab Charlotte singkat.
Laura geleng-geleng kepala mendengar cerita sahabatnya.
"Yang terlama berapa bulan ?"
"Apanya ?" Charlotte bertanya balik tidak, bingung dengan perkataan Laura.
"Kamu berpacaran."
"Hhmmm......" Charlotte bergumam sambil berpikir. "Tiga bulan." Jawabnya beberapa saat kemudian.
"Hanya tiga bulan ?" Laura bertanya memastikan pendengarannya.
"He eh." Jawab Charlotte santai.
Laura geleng-geleng kepala. "Ck ck ck." Ucap Laura tidak tahu lagi harus berkata apa sedangkan Charlotte hanya yengir dengan wajah tidak berdosa.
"Pengawal kamu mana ?" tanya Charlotte.
"Tidak tahu, mungkin di kamarnya."
"Bukannya dia pengawal pribadi mu ? harusnya dia selalu ada di dekat mu dong."
"Memang betul tapi ini kan di rumah Charlotte, tidak mungkin jugakan dia ada di dalam kamar ku sekalipun dia pengawal pribadiku." Laura berkata ketus.
"He he he, betul juga." Kata Charlotte cengengesan.
"Kita duduk di kursi taman kalau kamu ingin melihatnya."
"Memangnya dia sekarang ada di taman ?"
"Tidak, dia akan keluar dan berada di dekat ku untuk berjaga begitu aku berada di luar rumah." Laura menjelaskan.
"O.... begitu." Sahut Charlotte mengerti.
Laura berdiri dari sofa. "Kita keluar sekarang."
__ADS_1
"Tunggu dulu, aku merapikan riasan dan rambut ku dulu." Charlotte ikut berdiri, berjalan menuju meja rias Laura dan mulai merapikan dandanannya.