
"Mungkin Sekretaris istana datang untuk memberitahu orang tua ku kapan aku harus pindah ke istana." Laura mengambil kesimpulan sendiri.
"Kamu kembali lah kepekerjaan mu." Tambahnya pada pelayan itu.
"Baik Nona."
Pelayan itu keluar membiarkan Laura sendiri dalam perpustakaan, kembali serius dengan buku yang di bacanya.
Namun tidak lama berselang, kembali Laura terganggu dengan kehadiran Papa dan Mama.
"Laura." Panggil Mama.
Laura mengangkat wajah dari buku yang sedang di bacanya.
"Kenapa Mama ?"
"Ada yang ingin Mama dan Papa beritahu padamu."
"Apa itu ?" Laura penasaran.
"Barusan tamu kita pergi setelah memberi tahun pesan dari Yang Mulia Raja."
"Tamu kita itu siapa Mama ?" Potong Laura.
"Sekretaris istana." Jawab Papa.
Berarti yang pelayan katakan tadi benar, dalam hati Laura berkata.
"Apa pesan nya ?"
"Kamu harus masuk istana besok pagi dengan alasan untuk mempermudah untuk mu dalam mempelajari aturan dan tata krama dalam istana, agar tidak ada masalah dalam berinteraksi dengan anggota keluarga kerajaan, pejabat negara lain dan para pejabat penting lainnya setelah kalian menikah." Jawab Papa.
"Itu pesan nya ?"
"Iya Ara." Jawab Mama.
"Apakah setelah aku masuk istana masih bisa untukku keluar seleluasa seperti di sini Mama ?" Tanya Laura dengan wajah muram.
"Entahlah Ara, Mama juga tidak tahu tentang hal itu." Ucap Mama prihatin melihat anaknya.
"Kamu harus tabah Ara, jika Papa bisa menolak pernikahan ini tentu sudah Papa lakukan dari awal tapi apalah daya Papa mu ini yang hanya bangsawan biasa." Papa berkata sedih melihat raut wajah anaknya yang menginginkan kebebasan.
"Ara tahu itu Papa, ini bukan salah siapapun. Memang takdir ku sudah seperti ini dan akupun sudah menerimanya dengan pasrah."
Mama melangkah memeluk erat tubuh Ara, sangat sedih melihat Laura yang seperti itu.
"Pasti ada hal indah di balik ini semua nak." Bisik Mama di telinga Laura.
Laura balas memeluk tubuh Mama. "Semoga seperti itu Mama."
Edward yang melihat dari luar pintu hanya diam mengamati ketiganya.
Bulan bersinar terang malam itu, Laura memilih untuk duduk mengamati keindahan bulan di kursi yang berada di taman halaman samping rumah.
"Tidak masalah aku temani anda duduk di sini ?" Edward muncul dari samping.
Laura menoleh menatap Edward. "Duduk lah Edward."
"Terimakasih Nona." Ucap Edward sambil bergerak duduk di sebelah Laura.
"Apa yang sedang anda pikirkan Nona ?" Tambah Edward menatap serius pada Laura.
"Membayangkan bagaimana hidup ku nanti saat tinggal di istana seorang diri tanpa keluarga ku, hidup dengan orang-orang tidak ku kenal." Jawab Laura dengan nada muram.
"Apakah anda sungguh tidak ingin tinggal di istana dan menikah dengan Yang Mulia Pangeran Albert ?"
Laura tersenyum masam. "Orang lain pasti berpikir aku sungguh bodoh, orang lain sangat berharap ingin menikah dengan Pangeran dan tinggal di dalam istana yang megah tapi aku malah kebalikan nya."
"Katakan saja jika anda ingin menjauh dari masalah ini, aku akan membawa anda pergi jauh." Edward berkata dengan nada serius.
"Andai aku bisa dan bersikap egois tanpa memikirkan hal yang lain terutama keluarga ku."
__ADS_1
"Lalu kenapa tidak, ini berhubungan dengan hidup anda juga."
"Aku tahu tapi sayangnya aku bukan orang yang seperti itu."
"Aku akan membantu anda Nona Laura."
"Tidak ada yang bisa membantu ku dalam masalah ini Edward, aku sudah pasrah menghadapi nasibku. Terimakasih karena telah berniat menolong ku." Laura tersenyum tulus pada Edward.
Edward membuka mulut tapi menutup nya kembali, tidak jadi berkata. Apa pun yang ingin dia katakan di telannya kembali.
Hari telah petang, Laura sudah harus pergi menuju istana kerajaan di antar oleh Edward. Laura tidak membawa apapun karena semuanya sudah di siapkan di istana.
"Sering sering menelepon ke rumah Nak." Pesan Mama sambil memeluk tubuh Laura.
"Sudah pasti Mama, di mana lagi tempat ku untuk bercerita kalau bukan kalian." Balas Laura memeluk Mama.
"Perhatikan perilaku ketika di sana Ara, jangan sampai mereka melihat kesalahan dan menyudutkan mu." Pesan Papa.
"Laura mengerti Papa."
"Bagus."
"Iya."
Laura berbalik pada Bella, melangkah mendekat dan memeluk nya.
"Aku pasti akan merindukan mu, jaga Mama dan Papa."
Bella balas memeluknya. "Pasti, kamu berkata seperti kita tidak akan bertemu lagi." Canda Bella.
"He he he aku hanya terbawa suasana karena aku harus tinggal di tempat lain seorang diri tanpa kalian." Kekeh Laura.
"Aku pergi." Pamit Laura.
"Iya." Jawab Mama di sertai agukan kepala oleh Papa dan lambaian tangan dari Bella.
Laura naik ke dalam mobil kemudian di susul oleh Edward, mobil pun bergerak menuju pintu gerbang pagar meninggalkan kediaman Keluarga George.
__ADS_1
Di dalam perjalanan ke istana, Laura memilih menyibukan diri membuka aplikasi media sosal di handphone nya.
Bosan membuka aplikasi, Laura menutup handphone nya. Keningnya mengerut bingun
Bosan membuka aplikasi, Laura menutup handphone nya. Keningnya mengerut bingung melihat pemandangan jalan di luar jendela yang asing di ingatan nya.
"Kita kemana Edward ? Ini bukan jalan menuju istana." Laura bertanya bingung.
Edward menatap Laura lewat kaca spion yang ada di depannya. "Anda benar Nona Laura, kita tidak menuju istana. Kita di jalan menuju luar kota."
"Tunggu, tunggu dulu. Apa maksud nya ini ? Kenapa kita menuju ke luar kota ?" Laura semakin bingung dan mulai takut dengan situasi nya.
"Aku sedang membantu Nona Laura, aku akan membawa Nona Laura pergi jauh dari kekangan istana. Anda akan hidup bebas di tempat yang akan kita tuju, anda tidak perlu takut Nona Laura. Aku tidak akan pernah bermaksud menyakiti anda, aku melakukan ini semua demi anda." Edward menjelaskan.
"Tapi Edward, kamu seharusnya memberitahu ku lebih dulu. Aku takut orangtua ku akan khawatir jika begini keadaannya." Laura mulai sedikit panik.
"Kalau aku memberitahu Nona Laura lebih dulu takutnya Nona tidak akan setuju dengan tindakan ku ini. Mengenai orangtua Nona Laura, kita akan memberitahukan mereka begitu kita sampai di tempat yang kita tuju." Edward berkata menenangkan.
"Edward kamu tidak takut berbuat nekat sampai seperti ini hanya demi aku ? Bagaimana dengan dirimu ?"
"Nona Laura tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku tidak masalah."
"Bagaimana dengan pekerjaan mu ? Kamu tidak takut bermasalah dengan anggota keluarga kerajaan ? Edward kenapa kamu tidak berpikir logis."
"Tidak masalah dengan pekerjaan ku, aku bekerja bukan untuk mencari uang. Aku bekerja hanya karena bosan tidak ada kegiatan lain. Anggota keluarga kerajaan bukan masalah bagi ku. Tenang saja Nona Laura, semua telah aku pikirkan."
"Apakah aku seorang sebanding dengan semua pengorbanan mu ini ?"
"Tentu saja Nona, anda adalah orang yang baik tentu saja sebanding." Edward meyakinkan.
"Tapi kemana kita akan pergi Edward ? Kita pasti tetap akan di temukan oleh mereka selama masih di negara ini."
"Oleh karena itu kita akan pergi keluar negeri, mereka tidak akan menemukan kita jika kita pergi keluar negeri."
"Ke negara mana kita akan pergi." Laura mulai takut.
__ADS_1
"Spanyol, kita akan ke Spanyol Nona Laura."