Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 16. Kejadian tidak terduga


__ADS_3

"Yang Mulia, anda tidak ingin bergerak ?" Laura bertanya dengan nada canggung menengadah menatap Pangeran Albert.


Pangeran Albert menunduk menatapnya. "Kenapa ? kamu merasa tidak nyaman ?"


"Tidak Yang Mulia, hanya saja sesi pemotretan sudah selesai aku harus kembali pulang ke rumah lagipula aku tidak ingin mengganggu anda lebih lama." Laura mengelak halus, tidak ingin membuat Pangeran Albert tersinggung.


"Keberadaan mu tidak menggangu ku sama sekali."


Laura terdiam, memutar otak memikirkan cara untuk pergi dari sana.


Dering handphone berbunyi terdengar dari arah meja kerja Pangeran Albert membuat Laura tanpa sadar menghela nafas lega. Pangeran Albert terpaksa berdiri berjalan menuju meja kerjanya.


"Hallo." Pangeran Albert berkata dengan nada ketus mengangkat sambungan telepon.


"Aku sudah katakan padamu untuk jangan menelepon ku. Jika aku ingin bertemu, aku akan menghubungi mu. Jangan bersikap seakan-akan kamu kekasihku." Kata Pangeran Albert masih dengan nada ketus menanggapi perkataan dari orang yang meneleponnya.


Entah siapa yang menghubunginya tapi yang jelas sepertinya orang itu sudah membuat Pangeran Albert kesal dan pasti seorang wanita, mungkin salah satu dari sekian banyak wanita yang sudah dia campakkan.


Laura terdiam mengamati dari tempatnya duduk.


Pangeran Albert memutuskan sambungan telepon dan meletakkan kembali handphonenya di atas meja kerjanya.


Laura berpikir ini saatnya untuk pamit pergi, diapun berdiri dari duduknya.


"Yang Mulia sepertinya anda sibuk dan tidak ingin di ganggu kalau begitu aku permisi dulu." Pamit Laura kemudian bergerak mengambil tasnya, tidak memberi kesempatan untuk Pangeran Albert menanggapi perkataannya.


Laura menekuk lututnya sedikit sebagai tanda penghormatan sebelum berbalik melangkah menuju pintu keluar.


"Aahk !!" Laura memekik terkejut ketika lengannya di tarik dengan kuat, membuatnya berputar menghadap Pangeran Albert yang berdiri menjulang di hadapannya dengan raut wajah dingin.


"A a ada apa Yang Mulia ?" Laura berkata terbata-bata, nyalinya ciut begitu melihat raut wajah Pangeran Albert yang baru kali ini di lihatnya.

__ADS_1


Pangeran Albert berjalan maju membuat Laura terpaksa melangkah mundur ingin menjaga jarak. Langkah kaki Laura terhenti begitu kakinya terbentur dengan dinding membuatnya terjebak antara dinding dan Pangeran Albert yang berada tepat di hadapannya.


Laura menelan ludah, tidak berdaya dengan situasi yang sedang terjadi.


"Ada apa Yang Mulia ?" Laura kembali bertanya dengan nada sedikit bergetar, Pangeran Albert yang begitu dekat hingga Laura bisa merasakan hawa panas dari tubuh Pangeran Albert.


Pangeran Albert mengangkat sebelah tangannya, mengusap lembut pipi Laura dengan senyum dingin di wajahnya.


Pangeran Albert menundukkan wajahnya mendekati wajah Laura.


"Sikap mu sungguh arogan sayang dan aku tidak menyukainya. Aku adalah calon penguasa negara ini dan juga calon suamimu. Aku berhak atas dirimu, kamu datang dan pergi atas kehendak ku." Bisik Pangeran Albert di telinga Laura membuat Laura merinding ketakutan mendengar nada bicara Pangeran Albert yang terdengar dingin.


"Bahkan jika sekarang aku membawamu ke dalam kamar ku untuk bercinta tidak akan ada yang melarang." Sambung Pangeran Albert, bibirnya kini mulai menyentuh kulit leher Laura.


Laura refleks menjauh tapi tertahan karena tubuhnya sudah terkunci oleh tubuh Pangeran Albert membuat Laura ketakutan dengan situasi yang terjadi.


Laura kembali menelan ludah, ketakutan. "Maaf Yang Mulia jika sikapku membuat anda marah dan tersinggung tapi aku hanya tidak ingin mengganggu anda lebih lama." Laura berusaha berbicara.


Laura semakin ketakutan saat merasakan bibir Pangeran Albert yang mulia bergerak turun ke bahunya yang terbuka.


Pangeran Albert mengangkat wajahnya, menatap lurus wajah Laura.


"Ingat baik-baik di kepala kecilmu ini sayang apa yang tadi kukatakan. Aku tidak suka mengulang kata-kata yang pernah ku ucapan."


"Ba ba baik Yang Mulia." Laura berkata terbata-bata.


"Gadis pintar." Kata Pangeran Albert tersenyum simpul, mundur selangkah memberi ruang untuk Laura.


"Kamu boleh pergi sekarang." Tambahnya.


"Terimakasih Yang Mulia." Laura bersuara lega, bergerak pelan melangkah menuju pintu yang tidak jauh dari tempatnya berdiri di ikuti tatapan mata Pangeran Albert.

__ADS_1


Laura terus berjalan melewati lorong untuk sampai ke pintu keluar istana kerajaan, begitu sampai di luar kaki Laura lemas membuatnya terduduk di tanah. Dirinya sungguh syok dengan kejadian yang tadi di alaminya.


Edward yang berdiri tidak jauh, berlari ke arahnya begitu melihat Laura yang duduk tidak berdaya.


Edward berjongkok di depan laura, menatap khawatir. "Apa yang terjadi ? anda baik-baik saja Nona ?" Edward melihat wajah Laura yang pucat pasi.


Laura mengangguk beberapa kali sebelum menjawab. "Aku baik-baik saja, Edward. Kita pulang sekarang, aku ingin beristirahat di rumah." Laura berkata serak.


Edward membantu Laura berdiri dan memapahnya untuk berjalan, melihat laura yang lemas tidak mampu untuk berjalan sendiri.


Didalam perjalanan pulang, Laura hanya duduk diam menatap keluar lewat jendela mobil.


Edward fokus menyetir mobil sambil sesekali melirik Laura lewat kaca spion yang ada di hadapannya, khawatir dengan keadaan Laura.


Mobil berhenti di depan pintu masuk rumah kediaman keluarga George. Edward turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Laura.


Edward jongkok di depan pintu mobil menatap laura dengan wajah serius. "Anda baik-baik saja Nona ?" Edward kembali bertanya.


"Sudah lebih baik Edward, terimakasih." Laura tersenyum meyakinkan.


"Kalau aku boleh tahu sebenarnya apa yang terjadi di dalam ? setahuku anda sedang melakukan sesi pemotretan dengan Pangeran Albert."


"Tidak apa-apa Edward, aku mungkin hanya kelelahan saja." Laura belum siap untuk menceritakan hal sebenarnya pada siapapun.


"Baiklah, aku tidak akan bertanya lebih jauh lagi. Aku siap menjadi pendengar anda jika anda butuh seseorang untuk teman bicara." Edward berkata sambil berdiri, mempersilahkan laura untuk lewat.


"Akan aku ingat, aku akan mencari mu jika ingin mencari teman untuk di ajak berbicara." Kata Laura tersenyum kemudian turun dari mobil di ikuti tatapan mata dari Edward yang yakin telah terjadi sesuatu di dalam istana yang membuat Laura ketakutan seperti itu.


Begitu masuk ke kamarnya, Laura langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


Air mata yang tadinya tidak keluar tanpa sadar mengalir dari pelupuk matanya, setelah keluar dari rasa keterkejutannya.

__ADS_1


"Apa yang akan terjadi dengan nasib ku setelah menikah dengan pria seperti dia, ekspresi wajahnya begitu menakutkan." Gumam Laura, menyembunyikan wajahnya di bawah bantal. Tidak ingin orang mendengar tangisannya.


Andaikan bisa Kak Bella menggantikan aku mengambil kembali posisinya yang seharusnya nasibku tidak akan menyedihkan seperti ini. Keinginan ku dan cita-cita ku harus ku lepaskan begitu saja hanya untuk menikahi pria kejam seperti dia Pangeran Albert Philip Seymour.


__ADS_2