Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 35. Orang Yang Tidak Di Anggap


__ADS_3

Mereka bertiga melangkah menuju tangga, Laura melirik ke belakang melihat beberapa pelayan pria dan pengawal menyusul mereka dari belakang membawa gaun rancangan dan beberapa setelan jas pria.


Ternyata desainer ini datang bukan hanya khusus membawa gaun rancangan nya untuk di perlihatkan padaku tapi juga setelan jas yang akan di pakai Pangeran Albert, Laura baru menyadari situasi.


Tiba di lantai dua, Pangeran Albert memilih duduk di sofa panjang. Felisia kemudian mengambil tempat tepat di samping Pangeran membuat Laura memilih duduk di sofa di hadapannya mereka.


Tidak usah khawatir Nona Felisia, aku juga tidak akan duduk di sampingnya, Laura mengomentari dalam hati tingkah Felisia yang terlihat terburu-buru untuk duduk.


Selesai menata gaun gaun dan setelan jas, para pelayan dan pengawal pergi meninggalkan mereka.


Pangeran Albert menatap gaun gaun cantik yang ada di hadapan mereka.


"Pilih lah Ara, mana yang kamu sukai." Ucap Pangeran Albert.


Laura kemudian berdiri, mendekat agar bisa melihat lebih jelas gaun gaun itu. Gaun rancangan Felisia memiliki banyak model dari yang tertutup sopan sampai yang seksi terbuka memperlihatkan bentuk tubuh.


"Mau ku bantu pilihkan ?" Felisia menawarkan bantuan.


"Terimakasih tapi tidak perlu." Tolak Laura tersenyum sopan sambil melirik gaun yang di kenakan Felisia.


Laura melihat gaun gaun itu sambil sesekali mencuri pandangan ke arah Pangeran Albert dan Felisia yang asyik bercerita.


Terjadi lagi sama seperti saat di lantai bawah, mereka asyik bercerita tanpa menghiraukan keberadaan ku di sini.


Di negara ini sepertinya dia tidak akan kekurangan wanita untuk di bawa ke perjamuan itu. Dia seharusnya tidak memaksaku untuk ikut, di sini aku harus melihat dia bermesraan dengan salah satu teman wanitanya.


Laura mendengus kesal tapi tidak di sadari oleh kedua orang itu.


Lebih baik aku segera memilih salah satu gaun ini dan menghilang dari hadapan mereka.


Kemudian dengan asal tanpa memperhatikan lebih jelas model gaun, Laura menarik salah satu gaun berwarna hijau toska dari gantungnya.


"Yang Mulia, aku memilih gaun ini." Ucap Laura dengan nada sedikit agak tinggi, meminta perhatian dari Pangeran Albert.


Pangeran Albert menoleh padanya. "Tidak ingin kau coba lebih dulu sebelum memilih ?"


"Tidak perlu, sekali lihat pun aku tahu kalau gaun ini sesuai dengan ukuran tubuhku."


"Kamu yakin ?"


"Iya, tentu saja yakin."


"Terserah kamu saja."


"Apa aku sudah bisa masuk ke kamar ku untuk istirahat Yang Mulia ?"


"Kamu sudah lelah ?" Pangeran Albert bertanya balik dengan wajah heran.


"Iya, aku tidak ingin terlihat kusam di perjamuan besok dan membuat anda malu." Laura memberi alasan.


Pangeran Albert menggangguk mengerti. "Baiklah aku mengerti, Istirahat lebih awal."


"Terimakasih Yang Mulia." Ucap Laura kemudian menatap Felisia.


"Terimakasih atas gaunnya, aku permisi istirahat lebih awal." Tambahnya pada Felisia.


"Sama-sama Laura, selamat malam." Balas Felisia tersenyum senang.


"Selamat malam Felisia, selamat malam Yang Mulia."


"Selamat malam Ara." Balas Pangeran Albert.


Laura berbalik menjauh berjalan menuju pintu kamarnya, memberikan keluasan untuk mereka berdua.


Di dalam kamarnya selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian, Laura merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


Menatap langit langit kamar dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Mengapa hal seperti ini bisa terjadi dalam hidupku, keinginan ku tidak terlalu tinggi. Aku tidak menginginkan pria yang memiliki harta atau jabatan penting yang aku inginkan hanyalah menikahi pria yang kucintai dan mencintaiku.


"Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi kenyataan ini, ingin menangis berteriak pun percuma karena sepertinya takdir ku memanh harus seperti ini." Lirih Laura meratapi nasib nya.




Hari telah petang dan waktu telah menunjukkan sepuluh menit lagi pukul enam sore. Pelayan barusan datang memberi tahu Laura bahwa Pangeran Albert akan datang menjemput nya pukul tujuh tiga puluh.



Laura sejak bangun pagi sampai petang ini tidak melihat keberadaan Pangeran Albert.



"Bukannya aku peduli di mana dia berada." Gumam Laura pada diri sendiri.



"Mungkin saja dia masih bercengkrama dengan desainer seksi itu." Tambahnya sambil membuka pintu ruang walking closet yang tersambung dengan pintu kamar mandi.



Dalam kamar mandi itu, terdapat ruang shower yang berdinding kaca transparan. Karena hanya sendiri di dalam kamar mandi, Laura tidak ragu-ragu untuk mandi di ruang shower tanpa sehelai kain pun di tubuhnya. Laura menolak keinginan nya untuk mandi berendam di dalam bathub, tidak ingin mandi berlama lama yang bisa membuat nya terlambat untuk pergi ke perjamuan.



Usai membersihkan diri, Laura duduk di kursi meja rias masih dengan jubah mandinya.



"Kali aku harus memakai riasan yang agak sedikit tebal dari biasanya." Gumam Laura sambil mulai memakai riasan di wajah mulusnya.




"Saat nya untuk mengenakan gaun rancangan Felisia." Kembali Laura bergumam seorang diri.



Dan sungguh terkejut nya Laura setelah memperhatikan gaun itu secara mendetail, ternyata gaun yang di ambil nya walaupun memiliki panjang gaun sampai semata kaki tapi terbuka di bagian punggungnya.



Lebih baik aku mencobanya terlebih dahulu untuk memastikan sampai mana punggung ku terlihat.



Laura dengan jantung berdebar, mulai bergerak mamakai gaun itu. Gaun itu dengan pasti memperlihatkan seluruh punggung mulus Laura karena terbuka tepat di atas pinggang nya.



Gaun ini sungguh membuatku tertipu, aku tidak menyangka ternyata gaun ini sangat terbuka. Apakah tidak masalah kalau aku mengganti dengan gaun yang ku punya ? Pangeran Albert tidak akan tersinggung bukan jika aku tidak memakai gaun ini ? Laura bertanya dalam hati sambil melihat penampilannya di depan cermin yang berukuran panjang tubuhnya.



Tapi aku bisa menutupi punggung ku yang terbuka dengan mengurai rambut panjang ku, aku tidak ingin mengambil resiko membuat Pangeran Albert marah melihat ku tidak memakai gaun yang khusus dia datangkan bersama desainer nya walaupun sepertinya itu hanya jadi alasan untuk dia bertemu teman wanitanya.



Tok tok tok


Suara ketukan pintu dari luar mengagetkan Laura yang sibuk berdebat dengan pikirannya sendiri.


__ADS_1


"Masuk !" Balas Laura berseru.



Pintu terbuka, Edward muncul dari balik pintu.



Laura menunggu Edward untuk berkata maksud kedatangannya.



"Ada apa Edward ?" Laura bertanya karena Edward hanya terdiam mematung di tempatnya berdiri tak kunjung bersuara memberitahu maksud kemunculannya.



"Ah ! Anu.... itu ..... " Edward tersadar dan berbicara tidak jelas membuat Laura terkekeh geli.



"Kenapa dengan mu Edward, kamu tidak seperti biasanya." Laura berbicara dengan nada geli.



Edward menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf Nona Laura, aku hanya terkejut melihat penampilan anda." Kata Edward jujur.



Laura tersenyum masam ."Tidak bagus ya ?"



Edward menggeleng kepala. "Bukan seperti itu maksud ku, anda terlihat sangat cantik." Puji Edward tersenyum lembut.



Laura tersenyum Lega mendengar pujian Edward. "Terimakasih Edward, aku senang kamu berkata seperti itu berarti penampilan kali ini tidak akan membuat Pangeran Albert menjadi malu."



Edward memasang wajah serius. "Anda tak akan pernah membuat nya malu Nona Laura."



"Semoga saja seperti itu." Ucap Laura bersungguh sunggu.



"Ada hal apa kamu menemui ku Edward ?" Sambung Laura kembali bertanya.



Edward tersadar dengan maksud kedatangannya. "Aku datang untuk mengantar anda ke tempat perjamuan Nona Laura."



Laura mengerutkan kening mendengarnya perkataan Edward. "Di mana Pangeran Albert ? Kami tidak pergi bersama ke tempat perjamuan ?"



"Tidak Nona, Pangeran Albert akan bertemu dengan anda di sana. Pangeran Albert tidak ada di sini, Yang Mulia berangkat dari tempat lain." Jawab Edward.



Tanpa Edward jelaskan, dirinya tahu apa maksud perkataan Edward bahwa Yang Mulia berangkatdari tempat lain.


__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, tolong antarkan aku." Ucap Laura tanpa berkata apa-apa lagi.


__ADS_2