
Laura dan Charlotte berpapasan dengan Edward di pintu depan ketika mereka hendak keluar.
"Anda ingin ke mana Nona Laura ?" Edward bertanya menahan langkah Laura dan Charlotte.
"Kami ingin keluar duduk bersantai di kursi taman." Jawab Laura.
Edward mengangguk mengerti kemudian meneruskan langkahnya.
"Hanya begitu reaksinya ?" Charlotte mengerutkan kening heran.
"Memangnya mau kamu seperti apa ?" Laura bertanya balik meneruskan langkahnya tanpa menunggu tanggapan dari Charlotte.
Charlotte menyusul Laura keluar menuju taman. Mereka duduk bersama di kursi yang menghadap ke arah taman.
Laura menghela nafas panjang dengan wajah muram.
"Kenapa wajah kamu begitu ?" Charlotte menatap wajah sahabatnya. "Ada masalah ?" Tambahnya.
"Iya, aku mendapat kabar buruk tapi Untuk orang lain mungkin kabar gembira."
"Kabar apa sih ?" Charlotte berkata penasaran.
"Besok malam acara pertunangan ku dengan Pangeran Albert."
"Benarkah ?!" Charlotte bertanya terkejut tidak percaya.
Laura mendengus kesal melihat tingkah sahabatnya. "Reaksi mu berlebihan sekali Charlotte, biasa saja kali."
"He he he maaf, aku hanya terkejut dan bahagia untuk mu mendengar kabar itu." Charlotte berkata cengengesan.
"Sikap mu ini seperti berbahagia di atas penderita ku." Ucap Laura mendramatisir.
"Kamu berlebihan sekali Ara." Keluh Charlotte.
"Entahlah Charlotte." Laura bersandar di kursi.
"Seburuk itukah bagimu menikah dengan anggota keluarga kerajaan ?"
Laura tidak menjawab hanya menarik nafas panjang menatap ke depan pada bunga yang mekar di musim itu.
Mereka berdua terdiam menikmati suasana tenang malam hari hingga suara langkah kaki yang berjalan mendekat menarik perhatian mereka di susul suara Edward yang terdengar dari arah belakang.
"Maaf mengganggu kalian." Edward berkata yang membuat Laura dan Charlotte menoleh.
"Ada apa Edward ?" tanya Laura.
"Ini sudah hampir larut malam Nona dan angin sudah bertiup sedikit kencang, lebih baik anda segera masuk ke dalam."
"Benar yang di katakan nya Ara, cuaca mulai dingin berangin." Charlotte menyahut setuju sambil mengusap-usap lengan untuk menghangatkan tubuhnya.
__ADS_1
Melihat Edward membuat Laura teringat maksud kedatangan Charlotte di rumahnya.
"Kalian berdua sudah bertemu sebelumnya bukan ?" Ucap Laura tersenyum. "Edward perkenalkan ini sahabat ku Charlotte. Charlotte, perkenalkan ini Edward Adam." Tambah Laura memperkenalkan mereka berdua.
Edward mengulurkan tangan lebih dulu. "Panggil saja aku Edward."
Charlotte menyambut jabatan tangan dari Edward dan tersenyum. "Aku Charlotte, senang berkenalan denganmu."
"Kalian berdua pasti akan sering bertemu." Ucap Laura.
"Lebih baik anda segera masuk Nona Laura." Edward tidak menanggapi perkataan Laura.
"Baiklah." Laura menurut.
"Pengawal mu tidak ramah sama sekali." Bisik Charlotte ketus di telinga Laura, mereka berjalan menuju pintu rumah dengan Edward yang mengikuti mereka dari belakang.
"Husss...... dia bisa mendengar mu." Tegur Laura balik berbisik di telinga Charlotte.
"Biarkan saja." Charlotte berkata cuek.
Di belakang Edward hanya diam mengikuti, berpura-pura tidak mendengar.
🍃🍃🍃🍃
"Seharusnya kamu pergi ke salon dulu Ara, lihat penampilanmu malam ini tidak lebih baik dari kakakmu Bella." Tegur Mama.
"Aku tidak sempat mempersiapkan diri untuk acara ini Mama." Laura berusaha tidak terdengar ketus.
"Pertunangan yang tidak aku inginkan." Bantah Laura.
"Sudah-sudah, kalian terlalu berisik. Jaga sikap kalian, ini di istana kerajaan bukan di rumah." Tegur Papa membuat mereka terdiam.
Mereka sekarang telah berada di ruang pertemuan di dalam istana kerajaan menunggu kedatangan keluarga kerajaan.
Beginilah nasib rakyat biasa yang harus sabar menunggu para penguasa negara. Tidak bisa ku bayangkan bagaimana nasib hidup ku setelah menikah nanti dengan Pangeran Albert.
Laura menghela nafas panjang memikirkan nasib hidupnya.
Menunggu kurang lebih dua puluh menit, keluarga kerajaan masuk kedalam ruangan dengan Raja dan Ratu berjalan paling depan di susul Pangeran Albert dan saudara-saudara perempuannya kemudian penasihat kerajaan, perdana menteri, terakhir sekretaris istana.
Perhatian Laura tertuju pada saudara-saudara perempuan Pangeran Albert. Pangeran Albert anak pertama dan satu-satunya anak laki-laki dari Raja dan Ratu sedangkan anak kedua, ketiga dan keempat merupakan anak perempuan.
Semua anak Raja dan Ratu belum ada satupun yang menikah jadi acara pertunangan ini merupakan acara pertunangan pertama keluarga kerajaan.
Raja dan Ratu duduk lebih dulu di susul semua orang yang ada di dalam ruangan.
Acara malam itu menurut Laura sangat formal dan kaku, pemasangan cincin tunangan di jari manis Laura oleh Pangeran Albert di lakukan di hadapan Raja dan Ratu. Cincin yang di sematkan di jari manis Laura adalah cincin pertunangan orang tua Pangeran Albert yang di wariskan kepada Pangeran Albert untuk calon istrinya.
Senyum yang tampak di wajah Laura sangat kaku hanya demi untuk menghormati Raja dan Ratu yang berada di hadapannya. Tidak ada pembicaraan yang terjadi antara Laura dan Pangeran Albert.
__ADS_1
Usai penyematan cincin pertunangan acara selanjutnya di susul dengan makan malam bersama.
Selesai makan malam, Raja dan Ratu meninggalkan ruangan begitu pun semua saudara perempuan Pangeran Albert sedangkan yang lain masih berada di dalam ruangan belum berniat untuk pulang.
Perdana menteri masih berbincang dengan Pangeran Albert sedangkan Papa nampak serius berbicara dengan sekretaris istana.
"Bukankah sudah saatnya kita untuk pulang Mama ?" tanya Laura.
"Belum sayang."
"Tapi bukankah Raja dan Ratu telah pergi dan acara telah selesai."
"Raja dan Ratu tidak perlu ada di sesi pemotretan foto pertunangan kalian."
Laura mengernyit tidak mengerti. "Foto pertunangan ?"
"Iya, kau dan Pangeran Albert akan melakukan sesi pemotretan foto pertunangan yang akan di publikasikan ke semua stasiun televisi untuk memberikan kabar pada semua masyarakat tentang kabar pertunangan Putra Mahkota."
"Sampai harus seperti itu ?" Laura berkata, ngeri membayangkannya.
"Iya sayang, itu wajib." Mama menekankan.
Laura terdiam tidak berdaya mendengar perkataan Mama.
Sekretaris istana dan Papa berjalan mendekati mereka.
"Sudah saatnya untuk pemotretan foto pertunangan, kita berpindah ke ruang perpustakaan pribadi Pangeran Albert." Kata Sekretaris istana.
"Bukankah awal pembicaraan pemotretan di lakukan di ruang pertemuan ?" Papa bertanya heran.
"Ini perintah langsung dari Pangeran Albert, aku tidak bisa menolak keputusannya." Jawab Sekretaris istana.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Papa.
"Nona Laura silahkan mengikuti ku." Kata Sekretaris istana.
Laura menunjuk dirinya sendiri. "Hanya aku yang ke sana ?" tanya nya heran.
"Iya, karena itu ruang pribadi Pangeran Albert jadi tidak semua orang bisa masuk." Sekretaris istana menjelaskan.
"O.... begitu." Gumam Laura manggut mengerti.
"Tuan George dan keluarga jika ingin pulang sekarang, silahkan. Nona Laura bisa di antar pulang oleh pengawal istana setelah selesai sesi pemotretan." Sekretaris istana memberitahu.
Papa berpikir sejenak sebelum menjawab. "Baiklah kalau begitu, kami permisi pulang." Kata Papa pada Sekretaris istana dan menoleh pada Laura. "Ara tidak apa-apa kan kalau kami pulang lebih dulu ?"
Refleks Laura ingin berkata jangan pergi tapi berpikir orang tuanya lebih baik pulang dan beristirahat di rumah dari pada menunggu dirinya di sini
"Iya Papa tidak apa-apa, kalian bisa pulang lebih dulu." Jawab Laura.
__ADS_1
"Kalau begitu silahkan ikut dengan ku Nona Laura." Ulang sekretaris istana mengajak Laura menuju ruang pemotretan di ruang perpustakaan pribadi Pangeran Albert.