
Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk yang di jaga dua pria berjas hitam.
Edward turun dari mobil lebih dulu kemudian membukakan pintu mobil untuk Laura turun.
Bangunan tempat perjamuan malam itu ternyata adalah istana tempat tinggal Putra Mahkota.
"Sepertinya para tamu sudah banyak berdatangan." Komentar Edward melihat dari mobil yang keluar pintu gerbang ketika mereka datang.
"Sepertinya begitu." Ucap Laura sedikit gugup karena datang seorang diri ke acara perjamuan para Bangsawan yang orang-orang nya tidak di kenal olehnya.
"Anda mau aku temani masuk ke dalam ?" Edward menawarkan diri menyadari kegugupan Laura.
"Apakah tidak masalah ?" Laura bertanya tidak yakin.
"Tidak akan ada yang menegur atau memperhatikan nya, aku akan pergi setelah anda bertemu dengan Pangeran Albert." Edward meyakinkan Laura.
Laura mengangguk setuju. "Baiklah kalau begitu." Ucap Laura berkata lega.
Mereka melangkah berdampingan masuk ke dalam bangunan itu. Edward dengan protektif meletakkan tapi tanpa menyentuh telapak tangannya di punggung Laura.
Dengan gugup namun penuh percaya diri Laura di temani Edward melewati pintu dan masuk ke ruangan perjamuan.
Ruangan itu sudah di penuhi oleh banyak tamu undangan, begitu Laura masuk perhatian orang-orang langsung tertuju pada dirinya.
"Anda gugup Nona Laura ?" tanya Edward dengan suara pelan yang hanya bisa di dengar Laura.
Laura tersenyum masam. "Sedikit." Jawab Laura jujur.
"Terlihat sekali ?" tambah Laura balik bertanya.
Edward balas tersenyum lembut menenangkan. "Tidak terlihat jika orang belum mengenal anda."
"Aku gugup karena semua pandangan orang tertuju pada kita."
"Pada anda lebih tepatnya." Koreksi Edward.
"Anda harus percaya diri, anda terlihat sangat memposana malam ini." Puji Edward menambahkan.
"Betulkah ?" Laura bertanya tidak yakin.
"Tentu saja, kenapa aku mesti berbohong."
Laura mengangkat kedua bahunya. "Siapa tahu kamu berkata seperti itu hanya untuk membuatku tenang."
"Tidak Nona Laura, anda sungguh cantik malam ini." Kata Edward sambil mengedarkan pandangannya.
"Wanita yang paling cantik di ruangan ini." Tambah Edward serius.
__ADS_1
Perkataan Edward membuat Laura tertawa pelan, membuat rasa gugupnya menjauh pergi.
"Hi hi hi...., terima kasih atas pujian mu Edward walaupun aku rasa perkataan mu itu sangat berlebihan tapi setidaknya aku sudah lebih rileks."
"Sama-sama Nona Laura, aku senang jika perkataan mu membuat anda menjadi lebih rileks."
Mereka telah melangkah sampai ke tengah ruangan tapi belum melihat keberadaan Pangeran Albert.
"Aku belum melihat keberadaan Pangeran Albert." Kata Laura sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Aku tidak belum melihat nya."
Laura melihat Pangeran Eric yang tengah asyik berbicara dengan beberapa orang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Aku tidak tahu apakah harus menyapa Pangeran Eric sekarang atau nanti menunggu Pangeran Albert soalnya aku tidak yakin Pangeran Eric mengenal ku jika aku menyapa seorang diri."
"Tidak mungkin Pangeran Eric tidak mengenal anda."
"Kenapa kamu bisa yakin ?"
"Berita pertunangan anda dengan Pangeran Albert tersebar di seluruh benua Eropa dan mungkin ke seluruh dunia walaupun acara pertunangan anda di langsungkan secara tertutup, apalagi Pangeran Albert dengan Pangeran Eric sangat dekat." Jelas Edward.
"Sungguh ? aku tidak menyangka sampai seperti itu." Ucap Laura penuh takjub.
"Lebih baik aku mengambilkan anda minuman sambil menunggu Pangeran Albert datang. Anda ingin minum apa Nona ?" Edward bertanya mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, anda tunggu di sini. Aku akan pergi mengambil minuman untuk anda."
"Baik."
Edward berbalik ke arah meja makanan yang terletak agak jauh dari tempat mereka berdiri, sambil menunggu Edward kembali Laura memperhatikan orang-orang yang berada di dalam ruangan itu.
Semua orang yang berada di sini pasti dari kalangan elit dan para Bangsawan, ucap Laura dalam hati sambil mengamati orang-orang.
Tentu saja seperti itu Ara, tidak mungkinlah seorang Putra Mahkota membuat acara yang hanya di datangi orang dari kalangan biasa. Rutuk Laura pada diri sendiri karena pemikirannya yang bodoh.
"Anda seorang diri Nona ?" Suara asing mengalihkan perhatian Laura.
Laura menoleh ke samping, arah suara yang datang. Tampak seorang pria dewasa berpakaian setelan jas rapi seperti semua pria yang hadir di ruangan ini.
"Maaf tapi aku sedang menunggu teman ku yang pergi mengambilkan minuman untuk ku." Tolak Laura sopan.
"Tidak masalah bukan kalau aku menemani anda sampai teman anda datang ?" Pria itu kembali bertanya, tidak menyerah dengan penolakan halus Laura.
"Baiklah." Laura memilih mengalah, toh Edward juga tidak lama lagi akan kembali.
"Boleh aku mengetahui nama anda Nona ?" Kembali pria itu bertanya.
__ADS_1
"Luara." Jawab Laura singkat.
Pria itu tetap tersenyum ramah, tidak memperdulikan sikap dingin Laura.
"Perkenalkan namaku Alexander." Pria itu memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya membuat Laura terpaksa menyambut uluran tangan pria asing itu.
"Apakah ini kali pertama anda datang ke acara perjamuan yang di adakan Pangeran Eric ? karena baru kali ini aku melihat Nona Laura, apakah anda berasal dari negara ini ?" Alexander memberi pertanyaan beruntun pada Laura.
"Iya, anda betul. Aku baru kali ini datang ke sini." Jawab singkat Laura.
"Anda berasal dari mana Nona Laura ?" Pria itu terus bertanya, tidak menyerah dengan sikap acuh Laura.
"Aku berasal dari Norwegia."
Alexander mengangguk mengerti. "Anda datang bersama siapa ?"
"Dia datang bersama dengan ku, Alexander." Suara Pangeran Albert yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Laura.
Laura yang terkejut, refleks berbalik belakang, Pangeran Albert berdiri tepat di belakangnya.
"Pangeran Albert, aku tidak menyadari kehadiran anda." Alexander tersenyum tenang.
"Alexander, sudah lama aku tidak melihat mu tidak heran kamu tidak tahu kabar tentang ku." Ucap Pangeran Albert melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Laura, memeluk pinggang Laura posesif.
Raut wajah Alexander sedikit terkejut tapi dengan cepat dia tutupi dengan senyuman.
"Sepertinya kalian sangat dekat, apakah dia salah satu wanita yang sedang kau kencani ?" tanya Alexander penasaran.
Pangeran Albert ikut tersenyum. "Maaf mengecewakan mu tapi kali ini tebakan mu salah."
"Maksud kamu ?"
"Perkenalkan Tunanganku, Laura Clarissa George."
Raut wajah Alexander mengerut. "Tunangan ?"
Pangeran Albert tersenyum lebar melihat kebingungan Alexander.
"Sepertinya kamu tidak melihat berita kabar pertunangan ku yang di sebarkan di televisi." Ucap Pangeran Albert.
"Melihat dari reaksi mu seperti dugaan tepat." Tambah Pangeran Albert masih dengan senyum puas di wajahnya.
Walaupun dari percakapan mereka terlihat sangat dekat tapi kenapa aku merasa ada aura ketegangan dari mereka berdua ? dalam hati Laura mengamati interaksi kedua pria itu.
"Iya, aku tidak pernah mendengar kabar pertunangan mu." Alexander mengakuinya.
"Kamu tidak ingin mengucapkan selamat untuk kami berdua ?"
__ADS_1
"Selamat Albert, kamu beruntung sekali mendapat Tunangan secantik Laura." Alexander memberi selamat dengan terpaksa.