Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 9. Seorang Albert Philips Seymour


__ADS_3

Pangeran Albert mengangkat sebelah kening nya begitu mendengar perkataan Laura yang terdengar kasar berbicara dengan keluarga kerajaan.


"Kamu sangat berani." Ucap Pangeran Albert.


Laura mundur satu langkah, menjaga jarak dengan Pangeran Albert.


"Maafkan aku jika menyinggung perasaan Anda." Laura berkata.


"Nada bicaramu tidak terdengar tulus, kamu sepertinya tidak menyesal."


"Itu hanya perasaan anda saja yang mulia."


"Betulkah ?" Pangeran Albert tidak percaya.


"Tentu saja." Laura berkata tanpa menatap wajah Pangeran Albert.


"Aku baru teringat, bukankah tadi siang orang tua mu pamit padaku karena ada wanita yang datang mengatakan kalau kamu sedang kurang sehat ?" Pangeran mengalihkan pembicaraan.


Laura berusaha bersikap biasa-biasa saja begitu mendengarnya.


"Dan kenapa kamu bisa ada di sini malam ini ?" Pangeran Albert menambahkan dengan tatapan penuh curiga.


"Memang betul tadi siang aku kurang sehat tapi setelah istirahat sedikit dan meminum obat aku sudah membaik." Laura terpaksa berbohong terpojok dengan situasi yang sedang terjadi.


Aku sungguh sial bertemu dengannya malam ini, sudah berusaha menghindar tadi siang eh ! malah bertemu di tempat ini. Rutuk Laura dalam hati.


"Bukankah sebaiknya Anda keluar sebelum ada yang masuk ke sini dan menemukan Anda di sini ?" Laura mengusir halus Pangeran Albert tanpa menyinggung perasaannya.


Pangeran Albert kembali mengangkat kening sebelah. "Kenapa ? Kamu ingin mengusirku ?"


"Tidak, tidak yang mulia. Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya tidak ingin ada kabar jelek mengenai Anda yang di lihat orang di dalam toilet umum wanita." Laura beralasan.


Manalagi sifatnya yang gampang tersinggung. Kembali Laura merutuk dalam hati.


"Kamu suka datang ke tempat seperti ini ?" Pangeran Albert kembali pengganti topik pembicaraan.


"Suka sekali, ini tempat yang bagus untuk bersenang-senang." Laura kembali berbohong.


"Tapi kenapa aku baru pertama kali melihatmu di sini."


"Aku sering ke tempat lain."


Sekali berbohong maka kebohongan lain akan muncul dan kenapa juga dia harus mengajak ku berbicara di tempat yang tidak biasa seperti ini ? Toilet wanita !. Tidak ada kah tempat yang sedikit lebih wajar untuk berbicara ?.


"Apa nama kelab malam yang biasa kamu datangi ?" tanya Pangeran Albert.


"Namanya...... ." Laura memutar otak mengarang sebuah nama.


Tok tok tok


Ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka, tanpa sadar Laura menghela nafas lega yang tidak terlewat dari perhatian Pangeran Albert.


Masuk seorang pria berjas dan kacamata hitam dengan raut wajah seram menurut Laura berjalan mendekati mereka.

__ADS_1


"Ada apa ?" Pangeran Albert bertanya.


"Anda sebaiknya segera keluar, dari jauh terlihat wanita berjalan ke arah sini." Jawab pria yang merupakan pengawal pribadi Pangeran Albert.


Pangeran Albert menatap Laura. "Lain kali kita berbicara lagi." Ucapnya sebelum pergi bersama pengawal pribadinya.


"Huuffh..... ."Laura bernapas lega setelah kepergian Pangeran Albert.


"Tidak ada sesuatu hal yang bagus menurut ku ada pada dirinya dan kenapa juga aku harus menuruti apa yang dia katakan ?" Gerutu Laura berbalik menghadap cermin dan mulai menata kembali rambutnya, menggulungnya ke atas. Tidak lama seorang wanita yang di maksud pengawal Pangeran Albert masuk ke dalam toilet bergabung dengan Laura.


"Kenapa kamu lama sekali ?" tanya Charlotte begitu Laura muncul kembali.


"Ada masalah saat di dalam toilet tadi."


"Masalah apa maksudmu ?"


"Sudah tidak usah dibahas bukan sesuatu hal yang penting." Kata Laura acuh tak acuh.


Charlotte mendekat sambil memasang wajah serius. "Ara kamu tidak ingin tahu siapa yang duduk bersama dengan Pangeran Albert sekarang ?" Charlotte berbisik di telinga Laura.


"Tidak ! Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu." Laura langsung menjawab tegas.


"Ayolah Ara, kamu tidak seru sih jadi orang !" Ketus Charlotte pada sahabatnya.


Laura mendengus kesal. "Kamu juga sih ! Kamu kan tahu aku tidak berminat membahas tentang orang itu."


"Tapi setidaknya dengar dulu cerita ku." Rengek Charlotte. "Aku kan sudah capek-capek mencaritahu." Tambahnya.


Charlotte mendekat tidak menghiraukan nada bicara sahabatnya. "Yang duduk bergelanyut di lengan Pangeran Albert seperti hewan koala itu ternyata super model yang bernama Christina." Kata Charlotte bersemangat.


"Lalu ?" tanya Laura bingung.


"Tidak ada lalu lalu Ara." Charlotte berkata ketus, kesal melihat reaksi Laura setelah mendengar ceritanya.


"Inti ceritanya apa ?"


"Kamu tidak heboh, kesal atau apalah mendengar cerita itu ?"


"Kenapa mesti heboh atau kesal ? Toh dari dulu aku sudah mengetahui sifat Pangeran Albert yang tebar pesona gonta ganti pasangan. Lagian pria sekelas dia mana mau berhubungan dengan wanita biasa-biasa saja seperti kita."


"Tapi dia akan menikahimu wanita biasa seperti yang kamu bilang."


"Karena terpaksa, terikat perjodohan bukan karena cinta." Laura langsung menyambung. "Sudah tidak usah di bahas lagi lebih baik kita pulang saja." Laura menambahkan.


"Tapi kita belum lama di sini."


"Menurut ku sudah sangat lama tapi kalau kamu masih mau di sini tidak apa-apa, aku pulang pakai taksi saja."


"Betul nih tidak apa-apa ?"


Laura mengambil tasnya lalu berdiri. "Iya tidak apa-apa." Laura menyakinkan.


"Kalau begitu kabari aku begitu kamu sampai. Aku jadi tidak enak dengan Mama mu karena tidak mengantar mu pulang."

__ADS_1


"Bukan masalah besar, aku juga bukan anak kecil yang harus di khawatir karena keluar sendiri."


"Baiklah, hati-hati di jalan kalau begitu."


"Iya, aku tahu."


Laura berjalan menjauh tanpa menyadari pendangan seseorang yang mengikuti setiap gerakannya.


Laura berjalan perlahan melewati kerumunan orang, langkah nya terhenti tidak jauh dari pintu keluar karena terhalang dua pria.


"Hai cantik mau ke mana ? sudah ingin pulang ?" tanya salah satu pria itu yang Laura tebak tidak sadar karena efek samping alkohol.


"Bukan kalian, aku ingin lewat kalian menghalangi jalan ku bisa kalian minggir ?" kata Laura dengan ekspresi wajah datar.


"Jangan dulu pulang, kita bersenang-senang dulu."


"Iya betul, mari kita bersenang-senang bersama." Salah satunya menimpali.


"Aku tidak berminat." Laura melangkah berusaha melewati kedua pria itu.


"Jangan pergi dulu cantik." Cegat salah satu pria itu, menarik pergelangan tangan Laura.


"Lepaskan tanganku !!" Kata Laura marah, menghempaskan tangannya dengan kasar.


"Ayolah cantik jangan kasar seperti itu." Pria itu berusaha menarik Laura ke dalam pelukannya.


Laura mengelak, mendorong tubuh pria itu. "Kurang ajar !! Berani sekali kamu menyentuhku !" Teriak Laura marah.


Tiba-tiba kedua pria itu terdorong keras, seseorang mendorong mereka dari arah belakang Laura.


Laura terkejut dan refleks menoleh ke belakang, Pangeran Albert berdiri tepat di belakangnya dengan dua orang pengawal pribadi nya.


Kedua pengawal itu maju dan langsung menghajar kedua pria itu. Laura hanya memekik tertahan menutup mulutnya dengan kedua tangan, ngeri melihat pengawal pribadi Pangeran Albert menghajar kedua pria itu hingga babak belur.


"Bisa kamu menghentikan mereka, kedua pria itu sudah hampir mati !" Panik Laura menatap pada Pangeran Albert.


"Biarkan saja, pengawal itu tahu kapan harus berhenti. Salah mereka berani menyentuh mu." Kata Pangeran Albert dengan nada dan tatapan dingin menatap ke depan.


"Tapi kan mereka tidak tahu !." Laura mulai histeris melihat wajah kedua pria itu yang bercucuran darah.


"Kumohon...... hentikan....." Tambah Laura dengan suara memelas.


Pangeran Albert menunduk menatap Laura beberapa saat. "Berhenti !" Kata Pangeran Albert datar.


Kedua pengawal itu langsung berhenti dan membawa keduanya pria itu keluar.


"Ayo keluar." Pengeran Albert memegang lengan atas Laura, menariknya dengan sedikit kasar keluar. Laura hanya diam pasrah mengikuti langkah kaki Pangeran Albert.


Cengkraman tangan Pangeran Albert terasa sakit di lengannya tapi tidak berani Laura katakan begitu melihat raut wajah Pangeran Albert.


Mereka berhenti di depan sebuah mobil hitam yang terparkir diluar.


"Bisa yang mulia melepaskan lengan ku ? Aku kesakitan." Lirih Laura.

__ADS_1


__ADS_2