
Edward memarkirkan mobil di depan sebuah gedung restoran mewah. Seperti biasa Edward turun lebih dulu, membantu membukakan pintu mobil untuk Laura.
Dengan langkah anggun Laura melangkah masuk ke dalam gedung restoran. Begitu masuk, Laura langsung di hampiri seorang pelayan restoran, tak luput beberapa pasang mata teralih padanya.
"Selamat datang, anda seorang diri Nona ?" tanya pelayan wanita itu dengan ramah.
Laura mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Charlotte yang ternyata belum datang.
"Aku sedang janjian bersama temanku untuk ketemu di sini, tapi sepertinya dia belum datang." Jawab Laura.
Pandangan pelayan tertuju pada Edward. "Bagaimana dengan pria yang di belakang anda ?"
Laura mengikuti arah pandangan pelayan. "Dia duduk di meja tersendiri jadi pilihkan dua meja yang berdekatan."
Pelayan wanita mengangguk mengerti. "Kalau begitu silahkan anda ikut denganku."
Laura di susul Edward dari belakang berjalan mengikuti pelayan yang menunjukkan meja untuk mereka.
"Silahkan, ini meja anda Nona." Pelayan menunjukkan dua meja yang bersebelahan tapi sedikit berjauhan.
"Terimakasih."
"Anda sudah ingin memesan makanan ?"
"Aku menunggumu temanku dulu baru memesan makanan."
Pelayan mengangguk mengerti. "Baik kalau begitu aku permisi dulu."
Pelayan pun berjalan menjauh, Laura menarik kursi untuk dia duduki bersamaan dengan Edward yang juga duduk di kursinya.
Sambil menunggu Charlotte datang Laura sibuk membuka media sosial lewat handphonenya.
"Sudah lama kamu datang Ara ?"
Suara Charlotte mengalihkan perhatian Laura dari layar handphonenya.
Charlotte menarik kursi yang ada di hadapan Laura kemudian duduk.
"Awalnya aku ragu untuk masuk, aku tidak yakin ini alamat yang kamu kirim." Charlotte bercerita dengan semangat.
Laura mengerutkan kening. "Memangnya kenapa kamu tidak yakin ?"
"Ara sayang ini restoran mahal, kamu yakin kita makan di sini ? kartu kredit ku bisa melewati batas limit jika makan di sini."
"Tenang saja, kali ini aku yang terakhir." Laura menenangkan Charlotte.
"Kamu yakin ?" Charlotte bertanya kurang yakin.
__ADS_1
"Yakin." Laura berkata mantap.
"Baiklah, aku tidak mungkin menolak makanan gratis yang enak." Charlotte menyeringai lebar.
"Kalau begitu lebih baik kita pesan makanan sekarang juga." Laura mengangkat sebelah tangan memberi kode untuk memanggil pelayan.
Pelayan berjalan mendekati meja mereka dengan membawa buku kecil di tangannya.
"Apa yang ingin anda pesan ?" tanya pelayan siap menulis pesanan mereka.
"Dia yang akan memesan makanannya." Jawab Laura menatap Charlotte yang sedang membaca buku menu.
Charlotte kemudian menyebutkan makanan pesanan pada pelayan, selesai menulis pesanan mereka pelayan kemudian pergi dengan membawa catatan makanan yang mereka pesan.
"Apa sebenarnya yang ingin kamu ceritakan pada ku ?" tanya Charlotte penasaran.
"Kemarin ada perintah dari Yang Mulia Ratu untuk memberikan pelajaran tentang tata krama." Laura bercerita.
"Benarkah ?" Charlotte bertanya dengan antusias.
"Iya dan pagi tadi pelajaran itu di mulai."
"Pelajaran apa yang kamu pelajari tadi pagi ?"
"Cara makan di perjamuan formal."
"Aku tahu itu hanya saja kau tahu sendiri menjadi anggota keluarga kerajaan bukan hal yang aku inginkan jadi seperti terasa beban berat bagiku." Keluh Laura.
Charlotte memasang wajah simpati. "Aku mengerti perasaan mu Ara."
"Di tambah lagi besok lusa aku harus ikut dengan Pangeran Albert ke Spanyol untuk pertemuan kenegaraan."
"Benarkah ?"
"Iya dan aku tidak bisa menolak untuk tidak pergi."
"Ara...... Ara...... andaikan aku yang berada di posisi mu pasti aku akan sangat gembira." Charlotte geleng-geleng kepala, miris dengan kenyataan yang ada.
"Bukan cuman kamu yang berandai-andai, aku juga hampir tiap hari berpikir seperti itu. Andai saja Bella memiliki fisik yang bagus, hal ini tidak akan terjadi padaku." Ucap Laura menghela nafas berat.
Percakapan mereka terhenti dengan kehadiran pelayan yang membawa makanan pesanan mereka.
"Edward tidak memesan makanan ?" Charlotte melirik ke meja Edward.
"Sejak kapan kamu melihat dia makan saat sedang bertugas ?" Laura balas bertanya.
"Benar juga." Charlotte cengengesan.
__ADS_1
"Itu pun minuman yang dia pesan hanya karena tidak enak duduk di sana tanpa memesan apapun."
"Baiklah kalau begitu kita langsung saja makan, aku sudah lapar." Charlotte mulai memakan makanannya.
Mereka menikmati makan malam mereka dengan percakapan ringan di antaranya membahas tentang teman-teman seangkatan mereka dan keinginan Charlotte untuk mulai bekerja.
"Aku ke toilet dulu tidak lama." Laura berdiri dari kursinya.
"Jangan lama, aku tidak ingin membayar tagihannya kalau pelayan datang membawa bill nya." Goda Charlotte.
"He he he, iya aku tidak akan lama." Kekeh Laura sebelum berbalik pergi.
Laura masuk ke dalam toilet wanita untuk mencuci tangan dan merapikan kembali rambut panjangnya yang dia biarkan terurai, biar bagaimanapun dirinya mengingat perkataan Pangeran Albert yang melarang rambut panjang untuk di gulung ke atas.
"Aaaa......!!!" Laura refleks berteriak begitu merasakan sakit di bagian belakang kepalanya, akibat rambut panjangnya yang tiba-tiba seperti tertarik.
"Dasar perempuan gatal !! berani sekali kamu menggoda kekasih ku !". Suara wanita asing berteriak padanya.
Laura menahan rambutnya sambil menatap pantulan di cermin, terlihat wanita yang terlihat lebih dewasa darinya menatap padanya dengan ekspresi wajah yang sangat marah.
"Lepaskan tanganmu dari rambut ku !" Laura balas berteriak sambil tetap menahan rambutnya agar tidak terlalu terasa sakit di kulit kepalanya. Cengkraman tangan wanita asing itu sangat kuat membuat Laura tidak bisa bergerak bahkan menoleh untuk menatap langsung wajah wanita itu.
"Kamu anak kecil berani sekali merebut kekasih ku, kamu pikir dirimu siapa ?! Kamu merasa dirimu cantik begitu ?" Tuduh wanita asing itu belum melepaskan cengkeraman tangannya dari rambut panjang Laura.
"Apa maksud mu sebenarnya ? Aku tidak mengerti !. Aku tidak mengenalmu bagaimana bisa aku sampai mengambil kekasihmu." Ucap Laura di sela-sela usaha melepaskan rambutnya.
"Pangeran Albert." Kata wanita itu tiba-tiba melepaskan rambut Laura.
Laura langsung berbalik menghadap wanita itu. "Kenapa dengan Pangeran Albert ?" tanya Laura antara emosi dan bingung dengan keadaan yang sedang terjadi.
"Kekasih ku adalah Pangeran Albert." Jawab wanita itu.
Laura mengerutkan kening, emosi begitu mengetahui alasan wanita itu bersikap kasar padanya karena orang yang tidak di sukainya.
"Aku tidak pernah merebut kekasihmu kenyataan kami ini di jodohkan, kamu tidak melihat berita yang tersebar di negara ini ?. Kalau kamu sangat mencintainya dan dia juga mencintaimu maka bujuk dirinya untuk membatalkan pertunangan ini, jangan malah mengamuk di depanku !" Laura berkata penuh emosi.
"Mungkin benar karena perjodohan tapi bisa saja kamu menawarkan tubuhmu agar dirinya terjebak dan tidak bisa menolak pertunangan itu !" Tuduh wanita asing itu.
Laura menggeleng kepala, tidak percaya mendengar perkataannya. "Aku tidak punya waktu bertengkar dengan mu membahas masalah ini, lebih baik kamu bertemu dengan kekasih mu untuk membicarakan masalah kalian baik-baik. Aku tidak ada urusan dengan masalah yang terjadi di antara kalian berdua." Kata Laura jengah sebelum berbalik pergi.
"Kamu jangan langsung pergi, kita belum selesai !"
Srakhh..!!!
Wanita itu menarik gaun Laura sangat kuat dari belakang hingga membuatnya robek.
Laura menoleh ke belakang menatap gaunnya. "Apa yang kamu lakukan ?!" Laura terkejut, tidak percaya dengan apa yang terjadi.
__ADS_1