
"Anda sudah terlalu lama berada di luar Nona Laura, lebih baik anda masuk ke dalam takut nya Yang Mulia mencari anda."
"Aku memang seharusnya masuk ke dalam karena sudah lama berada di sini tapi kalau alasan Pangeran Albert mencariku sepertinya tidak mungkin." Laura mendengus kasar seraya bangun dari duduk nya.
"Aku di dalam mobil menunggu anda keluar." Edward juga ikut berdiri.
"Baik lah."
Edward menunggu Laura masuk terlebih dahulu sebelum dirinya bergerak menuju mobil yang terparkir di luar.
Begitu masuk ke dalam, Laura langsung melihat Pangeran Albert yang berjalan ke arahnya.
"Kamu dari mana saja Ara ? kenapa aku baru melihat mu ?" Pangeran Albert bertanya dengan nada tidak senang.
"Aku dari taman Yang Mulia, menghirup udara malam yang segar."
"Kamu kesini di antar oleh Edward ?" Pangeran Albert kembali bertanya.
"Iya Yang Mulia."
"Baguslah."
"Ada masalah apa Yang Mulia ?" Laura balik bertanya penasaran.
"Aku harus mengantar pulang Elenna, dia sedang mabuk dan tidak bisa mengemudi sendiri. Kamu pulang di antar Edward saja."
Laura memasang wajah datar mendengar perkataan Pangeran Albert.
"Baik Yang Mulia." Ucap Laura, seperti biasa menyahut patuh tidak bisa melawan.
"Pulang lah sekarang, aku juga harus mengantar Elenna sekarang."
"Baik Yang Mulia."
Pangeran Albert langsung berbalik pergi bahkan sebelum perkataan Laura selesai.
Status tunangan Pangeran Albert hanya di nama saja.Tidak usah bersedih Laura dan tidak usah kau hiraukan, dari awal dirimu tahu siapa dia sebenarnya.
Dalam hatinya berkata sambil melihat punggung Pangeran Albert yang menjauh dan menghilang dari pandangannya.
"Anda sendiri ?" Edward bertanya begitu melihat Laura yang sudah berdiri di samping mobil yang terparkir.
"Iya."
"Yang Mulia tidak pulang bersama anda ?"
__ADS_1
"Tidak Edward, dia harus mengantar pulang Putri Elenna yang sedang mabuk."
Kening Edward mengerut mendengar perkataan Laura. "Kenapa harus Pangeran Albert yang mengantar nya ? Bukankah banyak pengawal Pangeran Eric yang bisa mengantar sepupu nya itu ?"
"Aku juga tidak tahu dan malas untuk menanyakan hal itu pada Pangeran Albert." Komentar Laura datar.
"Jadi kita pulang sekarang Nona?"
"Iya, lebih baik kita pulang sekarang."
Selama perjalanan pulang, Laura hanya diam sambil menatap pemandangan lewat jendela mobil.
Edward hanya bisa diam sambil sesekali melihat pantulan Laura dari kaca spion di depannya. Tidak tahu apa yang sedang di rasakan atau di pikirkan Laura karena ekspresi wajah dia perlihatkan sangatlah datar.
Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk, tidak lama berselang pelayan membukakan pintu rumah untuk Laura.
Edward turun lebih dulu kemudian membukakan pintu mobil untuk Laura.
"Terimakasih Edward." Ucap Laura tidak lupa berterima kasih.
"Sama-sama Nona Laura." Balas Edward.
Laura melangkah menaiki anak tangga menuju pintu masuk yang telah menunggu dua pelayan di sana.
"Apakah ada yang anda butuhkan Nona Laura ?" tanya salah satu pelayan begitu Laura masuk.
"Baik kalau begitu kami tidak akan mengganggu anda lagi. Kalau ada yang anda butuhkan silahkan anda langsung memanggil kami." Kata pelayan yang lain dengan senyum ramah.
"Baik, terima kasih." Balas Laura ramah.
Dengan langkah tak bersemangat Laura berjalan menuju kamar tidur nya, tiba di dalam kamar Laura langsung menuju ruang walking closet untuk mengganti gaun yang di pakainya dengan baju tidur.
Laura masuk ke balik selimut bersiap-siap untuk tidur, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok tok tok
"Masuk !" Balas Laura berseru, duduk bersandar di tempat tidur.
Pintu terbuka, Edward muncul dari balik pintu dengan memegang sesuatu di tangannya.
"Ada apa Edward ?" tanya Laura penasaran.
"Bukankah saat di acara perjamuan Pangeran Eric anda mengatakan ingin memakan salad buah ?" Tanya Edward masih berdiri di pintu kamar.
"Iya memang betul." Jawab Laura
__ADS_1
"Apakah yang kamu bawa itu salad buah ?" Sambung Laura, bertanya penasaran.
"Iya, aku sudah berjanji akan membuat kan anda salad buah."
Laura bergerak keluar dari balik selimut, turun dari tempat tidur.
"Kamu masih ingat hal itu ? masuklah Edward jangan hanya berdiri di sana." Panggil Laura, melangkah menuju sofa yang berada di tengah tengah kamar.
"Anda harus makan sesuatu Nona Laura." Kata Edward sambil melangkah masuk menuju sofa di mana Laura telah duduk lebih dulu.
"Anda belum makan apa pun malam ini selain mocktail yang anda minum di acara tadi." Tambah Edward sambil meletakkan piring yang berisi salad buah di atas meja.
"Terimakasih Edward, kamu sangat peduli padaku." Senyum lembut Laura, tersentuh atas perhatian Edward padanya.
Sudah menjadi tugas ku untuk menjaga anda
"Tunangan ku sendiri tidak pernah memperlakukan aku sebaik kamu walaupun sebenarnya aku juga tidak mengharapkan apapun darinya."
"Apakah anda sakit hati dengan perlakuan Pangeran Albert pada anda ?" Tanya Edward penasaran sambil duduk di sofa yang berada di depan Laura.
Laura diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Edward. "Entahlah Edward tapi setelah aku pikirkan bukan sakit hati yang aku rasakan karena aku tidak mencintai Pangeran Albert."
"Lalu kenapa anda terlihat tidak senang ?"
"Aku hanya merasa seperti orang yang tidak di anggap dan di abaikan, perasaan orang yang di anggap tidak penting." Ungkap Laura muram.
"Dan kedepannya pasti akan berlangsung seperti ini karena tidak ada cinta di antara kami dan tidak mungkin pernah ada." Tambah Laura.
"Tidak pernah terpikirkan oleh anda untuk mencintai Pangeran Albert ?"
Laura dengan tegas menggeleng kepalanya. "Tidak akan, aku tidak mungkin mencintai pria dengan sifat seperti Pangeran Albert."
Edward tanpa sadar tersenyum simpul. "Kenapa kamu tersenyum mendengar perkataan ku Edward ?"
"Tidak apa-apa, bukan hal yang penting Nona Laura. Lebih baik anda segera memakan salad buah anda, ini sudah hampir larut malam. Tidak baik untuk anda tidur saat larut malam." Edward mengalihkan pembicaraan.
Laura kemudian memakan salad buahnya tanpa merasa ada hal yang aneh dari sikap Edward padanya.
Edward dalam diam memperhatikan dan menemani Laura menghabiskan makanan nya.
"Terimakasih Edward, salad buah yang kamu buat sangat enak." Ucap Laura menyerahkan piring nya yang telah kosong.
"Makanan yang ku buat biasa saja mungkin karena anda terlalu lapar sehingga berkata seperti itu." Edward tersenyum lembut, mengambil piring kosong itu.
"Tidur lah Nona Laura, anda perlu istirahat yang cukup karena kemungkinan besok kita akan kembali ke Norwegia."
__ADS_1
Laura bangun dari duduk nya. "Semoga seperti itu, aku sudah tidak betah tinggal di sini. Semoga Pangeran Albert tidak menunda kepulangan kita di karenakan dirinya yang sedang asyik berduaan dengan Putri Elenna."
Edward juga ikut berdiri. "Semoga saja seperti itu."