
Laura terbangun dengan perasaan segar, merenggangkan tubuhnya puas dengan tidur panjangnya. Bergerak untuk mengambil jam weker yang berada di nakas samping tempat tidur.
"Wah ! sudah jam sembilan pagi." Komentarnya begitu melihat pukul berapa sekarang.
Mengembalikan jam ke tempatnya kemudian bergerak turun dari tempat tidur dan melangkah menuju jendela.
Sinar matahari langsung menyinari kamar yang tadinya temaram menjadi terang.
"Akh !!" Laura berteriak kaget, menutup mulut tidak percaya dengan penglihatannya, berkedip beberapa kali serta mengucek matanya untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah melihat.
"Aku tidak sedang bermimpi bukan ?" Gumam Laura masih tidak percaya.
"Kamu tidak bermimpi." Pangeran Albert meyakinkan dengan suara beratnya.
"Aaakh Hampp !!" Laura berteriak tapi langsung membekap mulutnya sendiri.
Kenapa dia bisa ada didalam kamar ku ? dalam hati Laura bertanya.
"Sepertinya kamu terkejut sekali melihat ku di dalam kamar mu." Komentar Pangeran Albert santai, menutup buku yang di bacanya dan meletakkannya di atas meja beserta buku yang lain.
Laura menurunkan tangannya. "Maaf dengan sikap kasar ku Yang Mulia tapi jujur aku memang sangat terkejut dengan keberadaan anda di sini." Laura berbicara dengan nada canggung, situasi yang sedang terjadi sungguh membuatnya tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Apakah Yang Mulia sudah lama berada di sini ?" Laura bertanya menambahkan.
"Sekarang jam berapa ?" Pangeran Albert bertanya balik.
"Sekarang jam sembilan pagi."
"Berarti aku duduk di sini kurang lebih satu jam." Ucap Pangeran Albert sambil berdiri
Mendengar perkataan Pangeran Albert sungguh membuat Laura serba salah.
"Maaf aku tidak sengaja membuat anda menunggu seperti itu." Laura berkata dengan nada menyesal.
"Seharusnya orang rumah membangunkan aku dan tidak membuat anda menunggu lama." Laura menambahkan.
"Mereka tidak mengatakan kalau kamu masih tidur. Aku meminta pada orang tuamu untuk membiarkan aku sendiri yang mengetuk pintu dan aku masuk karena tidak ada balasan darimu yang ternyata masih tidur." Pangeran Albert menjelaskan, berjalan mendekati Laura yang masih berdiri di depan jendela kamar.
"Semalam aku tidur sangat larut karena keasikan membaca buku makanya aku bangun kesiangan." Ucap Laura memberi penjelasan mengapa dirinya bangun kesiangan.
Pangeran Albert menoleh sejenak ke meja sofa yang penuh dengan tumpukan buku.
"Tidak heran melihat banyaknya buku di atas meja."
Pangeran Albert berhenti tepat di hadapan Laura.
__ADS_1
"Lebih baik aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sepertinya tidak sopan jika berhadapan dengan Pangeran Albert dalam keadaan seperti ini."
"Sudah terlambat berkata seperti itu." Pangeran Albert mengulurkan tangannya, mengusap bahu Laura yang terbuka karena hanya memakai gaun tidur dengan satu tali.
Laura membeku, dirinya terhimpit antara jendela dan Pangeran Albert.
"Kalau boleh tahu sebenarnya ada hal apa sampai Yang Mulia datang ke sini ?" Laura berusaha keluar dari situasi yang menurutnya membahayakan dirinya.
"Aku datang untuk menjemput mu." Jawab Pangeran Albert, masih sibuk membelai bahu Laura yang mulus.
"Kita akan ke mana Yang Mulia ?" Laura masih berusaha untuk mengalihkan perhatian Pangeran Albert.
"Kamu harus masuk ke istana hari ini." Pangeran Albert mulai tidak konsentrasi berbicara.
"Untuk ?"
"Berkenalan dengan para guru yang akan mengajarimu tata krama, ini perintah langsung dari Ibunda Ratu."
Pangeran Albert menunduk, menyentuh dengan ringan bibirnya di bahu Laura.
Laura terkesiap antara takut dan kaget atas tindakan Pangeran Albert yang tiba-tiba.
"Ka ka kalau begitu kita sebaiknya pergi sekarang, tidak enak kalau sampai membuat para guru harus menunggu lama." Laura berkata gugup, jantungnya berdetak kencang.
Pangeran Albert menegakkan tubuhnya, menatap Laura.
"Tidak ada maksud hatiku seperti itu Yang Mulia, aku hanya tidak ingin membuat kesan buruk pada perkenalan awal dengan mereka."
Pangeran Albert dengan gemas mengutik pelan jidat Laura.
"Baiklah, segeralah bersiap-siap. Aku akan menunggu mu di bawah."
"Baik Yang Mulia."
Di lantai bawah, di ruang tengah berkumpul anggota keluarga George yang lain. Mereka serentak berdiri bersamaan begitu melihat Pangeran Albert menuruni tangga turun dari atas atas.
"Di mana Laura Yang Mulia ?" Papa dengan berani bertanya karena melihat hanya Pangeran Albert yang menuruni tangga.
"Laura sedang bersiap-siap, dia baru saja terbangun. Aku baru keluar karena menunggunya untuk bangun tidur." Jawab Pangeran Albert sambil menatap mereka yang terlihat merasa bersalah.
"Maaf kalau boleh tahu, anda ingin minum apa Yang Mulia ?" Mama bertanya mengalihkan pembicaraan.
"Tidak usah repot-repot Nyonya George, kami akan langsung pergi begitu Laura turun." Tolak Pangeran Albert.
"Kalau begitu, silahkan anda duduk dulu sambil menunggu Laura bersiap-siap Yang Mulia." Ucap Papa.
__ADS_1
Pangeran Albert berjalan menuju kursi yang di maksud Papa.
"Siapa dia ?" tanya Pangeran Albert menatap ke arah Bella.
"Dia anak tertua kami, Kakaknya Laura. Namanya Bella, dia juga hadir di acara pertunangan Laura." Jawab Mama di sertai anggukan hormat dan senyum dari Bella.
"Aku tidak begitu memperhatikannya saat itu." Ucap Pangeran Albert. "Kalau sesuai wasiat mendiang Raja terdahulu seharusnya aku bertunangan dengan mu bukan ?" tambahnya menatap pada Laura.
"Betul Yang Mulia." Jawab Bella.
"Bella memiliki fisik yang lemah sehingga sering sakit karenanya kami tidak memasangkan dia dengan Pangeran Albert yang harus memiliki calon istri yang sehat." Papa menyahut memberi penjelasan.
Pangeran Albert mengangguk mengerti. "Semoga hal itu tidak membuatmu kecewa atau sakit hati pada Laura karena tindakan orang tuamu seperti merampas hakmu yang merupakan anak pertama." Pangeran Albert menatap Bella.
"Aku mengerti hal itu dan sadar akan kekurangan ku Yang Mulia." Ucap Bella meyakinkan.
"Baguslah, kamu memang kakak yang baik." Puji Pangeran Albert.
"Terimakasih Yang Mulia."
Tidak lama setelah itu, Laura terlihat menuruni tangga mendekati mereka.
"Maaf membuat anda menunggu terlalu lama Yang Mulia." Ucap Laura begitu bergabung dengan mereka.
Pangeran Albert berdiri. "Kami harus pergi sekarang."
Yang lain pun ikut berdiri. "Baik Yang Mulia." Ucap Papa, mereka kemudian mengantar Pangeran Albert beserta Laura sampai ke mobil.
Begitu sampai di istana, mereka langsung menuju ruang perpustakaan pribadi Pangeran Albert.
Begitu masuk kedalam mereka langsung menjumpai para guru yang telah menunggu.
Para guru langsung berdiri begitu melihat kedatangan Pangeran Albert.
Pangeran Albert mengangguk dan mempersilahkan mereka untuk duduk kembali sedangkan dirinya berjalan menuju meja kerjanya. Laura memilih duduk di kursi yang kosong di dekat para guru itu.
"Maaf telah membuat kalian lama menunggu." Ucap Pangeran Albert.
"Tidak masalah Yang Mulia." Jawab seorang guru pria, tersenyum memaklumi.
"Langsung saja aku perkenalkan kalian dengan tunangan ku, Laura George." Pangeran Albert memperkenalkan mereka.
Laura tersenyum mengangguk pada tiga orang guru yang akan mengajarinya, satu orang pria dan dua orang wanita.
"Pelajaran mu akan di lakukan di istana, di ruangan ku mulai besok pagi." Pangeran Albert menjelaskan.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia." Laura berkata patuh.