Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 43. Menyampaikan Perintah


__ADS_3

Saat tiba di rumah, Laura tidak menenukan siapapun. Dengan langkah tak bersemangat Laura naik ke kamarnya di lantai dua.


Langsung merebahkan dirinya di tempat tidur begitu masuk ke dalam kamarnya.


"Aku akan memberitahukan mereka saat makan malam nanti. Saat ini aku ingin tidur tidak ingin memikirkan apapun, entah mengapa aku merasa lelah." Gumam Laura sambil memejamkan matanya.


Tok tok tok


Ketukan di pintu membangunkan Laura dari tidurnya.


"Masuk." Balas Laura dengan malas terbangun dari tidur nyenyak nya, melihat suasana kamar yang telah gelap menandakan hari telah malam.


"Ternyata aku sudah tertidur lama." Gumam Laura menatap keluar jendela yang pemandangan di luar sudah tampak gelap.


Pintu kamar terbuka, pelayan masuk ke dalam kamar.


"Nona Laura, di panggi Tuan dan Nyonya untuk makan malam." Pelayan memberitahu.


"Baik, aku akan segera turun."


Pelayan berbalik pergi dan menutup pintu dari luar. Laura bergerak turun dari tempat tidur, menatap ke arah cermin meja rias untuk merapikan diri sebelum keluar dari dalam kamarnya.


Di meja makan semua anggota keluarga sudah berkumpul, Laura menarik kursinya kemudian duduk.


"Ara saat nanti kamu sudah menikah dan tinggal di dalam istana, harus lebih memperhatikan kesopanan saat makan. Tidak boleh membiarkan yang lain menunggumu di meja makan seperti ini saat akan makan.


"Kalian harus lebih dulu hadir di meja makan sebelum Raja dan Ratu hadir." Tegur Mama pada sikap Laura.


Laura mengangguk mengerti. "Iya Mama, Ara tahu."


"Baguslah." Mama berkata lega.


"Kita makan malam sekarang, Papa sudah lapar." Sambung Papa mencairkan suasana.


Anggota keluarga George makan malam dalam keadaan santai, semuanya menikmati makan malam mereka kecuali Laura yang stres memikirkan dirinya yang akan pindah ke istana dalam dekat ini.


Makan malam pun selesai, Laura hanya memakan sedikit makan malam nya.


"Kenapa Ara ? Kamu hanya makan sedikit malam ini." Tanya Mama pada Laura.


"Lagi kurang selera makan saja Mama."


"Kenapa ada masalah ?"


Laura mengangguk. "Iya, ada hal yang harus aku sampaikan. Ini perintah langsung dari Pangeran Albert."


"Apa itu Laura ?" tanya Papa penasaran.


"Pangeran Albert memerintahkan ku untuk masuk dan tinggal di istana." Jawab Laura tidak bersemangat.


Kening Mama mengerut mendengar perkataan Laura. "Kenapa bisa seperti itu ? bukankah kalian belum menikah ?" Tanya Mama heran.


"Entahlah, aku juga tidak tahu."


"Jadi kapan kamu akan masuk istana ?" Bella ikut bertanya penasaran.


"Mungkin tidak lama lagi, Pangeran Albert harus memberitahu Yang Mulia Raja dan Ratu terlebih dahulu."


"Bagaimana menurut Papa ?" Tanya Mama mengenai keadaan Laura.


"Kita tidak bisa berbuat apa-apa jika itu sudah keputusan kerajaan, kita bisa berbuat apa ?" Kata Papa muram.


"Bukankah itu hal yang baik ? Berarti Laura sudah di anggap sebagai anggota keluarga kerajaan walaupun dirinya belum sah menjadi istri dari Pangeran Albert." Bella berkata.


"Itu hal positif dari keadaan ini." Ucap Mama.


"Tapi aku tidak menginginkan hal seperti ini Mama." Ungkap Laura dengan nada tidak suka.

__ADS_1


"Seperti yang Papa mu katakan, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Jalani saja Ara." Ucap Mama.


Laura hanya bisa terdiam, paham dengan maksud perkataan kedua orangtuanya.


Usai makan malam, Laura langsung menuju kamarnya.


Bunyi handphone panggilan masuk terdengar di dalam kamarnya. Terlihat panggilan masuk dari Charlotte di layar handphone.


"Hallo Charlotte." Kata Laura saat panggilan telepon tersambung.


"Hallo Ara." Balas Charlotte.


"Ada apa kamu menelepon ku ?"


"Tidak apa-apa, hanya penasaran dengan mu saja."


Kening Laura mengerut. "Penasaran kenapa ?"


"Kamu yang pulang bersama Pangeran Albert, kamu tidak langsung dia antar pulang ke rumah bukan ?" tebak Charlotte.


"Iya kamu betul, aku masih di bawa ke istana nya sebelum di antar pulang ke rumah."


"Apa ada sesuatu terjadi saat kamu di istana nya ?"


"Tentu ada yang terjadi dan ini di sebabkan karena mu." Tuduh Laura.


"Benarkah ? apa itu ?" Suara Charlotte sangat penasaran dari seberang.


"Aku akan pindah ke istana dan mulai tinggal di sana walaupun belum menikah di karena dia menemukan kita sedang berada di luar tanpa sepengetahuannya."


"Sampai seserius itu ?"


"Iya, sampai seserius itu sayang." Ucap Laura mengulangi perkataan Charlotte.


"Jadi kapan kamu masuk istana ?"


"Tapi mungkin saja Yang Mulia Raja dan Ratu tidak menyetujui keinginannya."


"Entahlah, aku berharap seperti itu tapi sepertinya tidak mungkin."


"Kita masih bisa sering bertemu bukan saat kamu sudah tinggal di istana ?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu tentang itu. Aku pun tidak tahu bisa sering keluar atau tudak." Laura berkata muram.


"Sudah dulu ya Charlotte, nanti kita sambung lagi bicaranya." Sambung Laura.


"Ok nanti kita bicara lagi, bye Ara."


"Bye Charlotte." Dan sambungan telepon pun terputus.


Laura menyimpan handphone nya di nakas samping tempat tidur lalu berbaring di atas tempat tidur.


Mengangkat jemari tangannya yang memakai cincin pertunangan, menatapnya.


"Cincin yang sekecil ini ternyata ada sebuah alat pelacak, sekecil apa dan di simpan di mana alat itu ?" Gumam Laura sambil memutar mutar cincin di jari manisnya.


Kenapa dia mesti berbuat seperti itu jika dia tidak memiliki perasaan apa pun terhadap ku ? bukankah dengan aku berada di dekatnya bisa membuatnya para wanitanya tidak nyaman ? tapi sepertinya tidak ada pengaruh nya. Pikir Laura mengingat kejadian waktu di Spanyol.


Dia bertindak seperti itu hanya karena senang melihat ku menderita dan demi menjaga image nya yang merupakan Putra Mahkota negara ini, Laura mengambil kesimpulan sendiri.


Aku lelah terus memikirkan nya, lebih baik kembali tidur saja.




Usai sarapan pagi karena tidak ada yang dia kerjakan, Laura memilih untuk mengurung diri di perpustakaan Papa di lantai satu rumah mereka.

__ADS_1



Pelayan datang membawakan Laura jus jeruk dan beberapa cemilan lalu meletakkannya di atas meja.



"Ini pesanan anda Nona Laura."



"Makasih." Jawab Laura tanpa mengangkat wajahnya dari buku yang di bacanya.



Ting tong ting tong


Terdengar suara bel dari pintu depan.



"Akhir akhir ini rumah kita sering kedatangan tamu di pagi hari." Komentar Laura, terhenti membaca buku yang di pegannya.



"Iya, perkataan Nona Laura betul. Sejak anda bertungan dengan Pangeran Albert rumah ini selalu kedatangan tamu di pagi hari." Balas Pelayan setuju.



"Jangan jangan yang bertamu ini orang suruhan Pangeran Albert ?"



"Aku akan ke depan melihat siapa yang datang."



"Pergilah kemudian datang kembali untuk memberitahu ku."



"Baik Nona."



Pelayan keluar menuju ruang depan dan kembali beberapa saat kemudian.



"Siapa yang datang bertamu pagi-pagi ?" Tanya Laura penasaran.



"Saya baru kali ini melihatnya Nona Laura, tapi yang jelas dia utusan dari istana."



"Bukan pengawal Pangeran Albert ?"



"Bukan, sepertinya sekretaris istana kalau aku tidak salah dengar dari pembicaraan Tuan dan Nyonya dengan tamu itu."



"Kamu ngintip dari balik dinding ruang sebelah ?"


__ADS_1


"Iya Nona." Jawab Pelayan dengan senyum malu malu.


__ADS_2