
Usapan lembut jari seseorang di wajahnya mengusik Laura dari tidur nyenyak nya, membuatnya terpaksa harus membuka kedua matanya yang tertutup rapat.
"Aku membangunkan mu ?" Suara Pangeran Albert menyapa.
Laura memfokuskan pandangan menatap Pangeran Albert yang sedang menunduk menatap ke arahnya. Pangeran Albert sendiri duduk di samping sofa tepat di sebelah nya.
"Dari tadi anda di sini Yang Mulia ?" Laura bertanya seraya bergerak ke posisi duduk.
"Baru saja, sekitar lima menit yang lalu." Jawab Pangeran Albert tersenyum simpul melihat tingkah Laura yang terlihat kikuk.
"Aku mengetuk pintu dari luar tapi tidak ada sahutan dari dalam jadi aku terpaksa masuk, kebetulan pintu kamar mu tidak terkunci." Pangeran Albert menambahkan.
Laura merapikan rambutnya yang pasti terlihat berantakan sehabis berbaring. "Maaf aku tidak mendengar anda mengetuk pintu. Kenapa anda tidak langsung membangunkan ku begitu anda masuk ?"
"Kamu tertidur sangat nyenyak, aku tidak tega untuk membangunkan mu tapi ternyata kamu sangat sensitif dengan sentuhan."
"Kenapa anda menemuiku ? Apakah ada yang ingin anda katakan ?"
"Sudah waktunya makan siang."
"Benarkah ? ternyata aku tertidur cukup lama." Ucap Laura terkejut mendengar perkataan Pangeran Albert.
"Tapi anda tidak perlu repot repot datang sendiri hanya untuk memberitahukan hal kecil seperti ini. Banyak pelayan yang bisa anda perintah kan untuk melakukan hal ini." Laura menambahkan, tersadar dengan situasi yang sedang terjadi.
Pangeran Albert mengerutkan keningnya. "Kenapa ? Apakah tidak boleh ?"
Laura refleks menggeleng kepala begitu mendengar nada suara Pangeran Albert yang berubah.
"Boleh, tentu saja boleh. Ini adalah istana Yang Mulia dan tentu saja Yang Mulia bisa berbuat apapun di dalam istana ini."
Sepertinya mood Pangeran Albert masih tidak bagus, sejak pagi tadi sampai skarang. Salah bicara sedikit saja sudah bisa membuatnya tersinggung. Laura mengeluh dalam hati sambil menundukkan wajah tidak berani menatap wajah Pangeran Albert.
Pangeran Albert mengulurkan tangan memegang dagu Laura membuatnya harus menatap wajah Pangeran Albert yang balik menatap wajah nya, Ekspresi wajah yang sulit untuk Laura tebak.
"Diriku bingung harus bagaimana menyikapi dirimu."
"Ya ?" Reflek Laura membalas.
"Maaf, aku tidak tahu maksud perkataan Yang Mulia." Tambah Laura cepat.
Bukannya membalas perkataan Laura, alih alih wajah Pangeran Albert malah bergerak mendekat.
Laura refleks menutup matanya, tidak bisa bergerak menjauh karena jari Pangeran Albert yang masih berada di dagu nya.
Laura merasakan bibir hangat Pangeran Albert mendarat di keningnya.
__ADS_1
"Cup."
Pangeran Albert menjauh, Laura membuka kedua matanya. Menatap dengan ekspresi bingung dengan tindakan tak terduga dari Pangeran Albert.
"Sebaiknya kita makan siang sekarang." Pangeran Albert berkata sambil bergerak bangkit dari duduk nya.
"Eh ! iya." Laura pun bergerak, ikut berdiri dan melangkah mengikuti Pangeran Albert dari belakang yang berjalan lebih dulu menuju pintu kamar.
Sungguh membuatku bingung dengan perubahan sikap nya yang tiba-tiba, dalam hati Laura sambil menatap punggung Pangeran Albert dari belakang.
"Malam ini aku harus menghadiri perjamuan makan malam yang di selenggarakan perdana menteri di hotel, malam ini kau terpaksa harus makan malam sendiri." Pangeran Albert berkata di sela makan siang mereka.
"Baik Yang Mulia." Laura menurut.
"Kau tidak penasaran mengapa aku tidak membawa mu bersama ku padahal kamu adalah tunangan ku ?"
"Tidak, anda pasti punya alasan tersendiri hingga tidak membawaku bersama anda."
"Kamu tidak ingin bertanya apa alasannya ?"
"Aku tidak perlu bertanya, anda pasti akan memberitahukan aku jika memang perlu aku tahu." Jawab Laura santai.
Pangeran Albert terdiam mendengar ucapan Laura.
"Apakah ada yang salah dengan perkataan Yang Mulia ?" Laura balik bertanya.
"Apa rencana mu hari ini setelah makan siang ?" Pangeran Albert kembali bertanya beberapa saat kemudian.
Laura menggeleng kan kepala. "Tidak ada tapi mungkin jika aku bosan aku akan berkeliling melihat lihat dan mengenal keadaan istana Yang Mulia.
Yang Mulia tidak keberatan bukan ?" Tanya Laura sedikit ragu.
"Boleh, tentu saja boleh. Kamu tidak perlu izin dari ku untuk hal itu, kamu bisa melakukan apa pun di istana ini selama itu masih dalam tahap yang wajar. Setelah kita menikah Istanah ini juga akan menjadi milikmu."
"Terimakasih Yang Mulia." Jawab Laura singkat, walaupun sangat ingin tapi dirinya menahan diri tidak ingin mengomentari kalimat terakhir dari Pangeran Albert.
Selebihnya, makan siang hari itu mereka selesaikan dalam diam.
Usai menghabiskan makan siang nya, Pangeran Albert langsung bergerak hendak berdiri.
"Aku pamit lebih dulu, ada yang hendak ku persiapkan untuk perjamuan makan malam nanti."
"Bukan kah perjamuan nya masih sangat lama ?sekarang saja belum pukul satu siang." Laura dengan spontan berbicara.
Gerakan Pangeran Albert terhenti, yang tadinya hendak berdiri kini kembali duduk di kursinya.
__ADS_1
Kening Pangeran Albert terangkat sebelah dengan ekpresi jail menatap wajah Laura.
"Kenapa aku seperti mendengar nada tidak suka dari perkataan mu barusan, jangan katakan kalau kau marah karena aku tidak membawamu ikut bersama ku."
"Yang Mulia jangan bergurau, itu hanya perasaan Yang Mulia saja. Aku tidak mungkin marah hanya karena hal kecil seperti itu, malahan aku sangat senang tidak harus ikut bersama Yang Mulia."
"Kenapa bisa seperti itu ?"
"Karena dari kejadian sebelum sebelumnya saat mengahadiri acara seperti itu, Yang Mulia hanya sibuk dengan orang lain dan tidak menghiraukan kehadiran ku."
"Maaf jika Yang Mulia tersinggung, aku hanya menjawab dengan jujur pertanyaan dari Yang Mulia." Laura menambahkan dengan cepat, takut membuat Pangeran Albert tersinggung.
"Tidak apa-apa, aku senang kamu mulai terbuka dengan jujur menjawab pertanyaan ku." Pangeran Albert berkata sungguh sungguh.
"Benarkah ?" Laura bertanya tidak yakin, mengingat mood Pangeran Albert yang tidak bagus sejak pagi tadi.
"Iya, aku tidak mungkin berbohong padamu."
"Baguslah." Laura berkata sambil menghela napas lega, tingkah Laura membuat Pangeran Albert tersenyum simpul.
Pangeran Albert melirik jam tangan kecil di pergelangan tangannya.
"Maaf Ara, aku harus pergi sekarang. Jangan sungkan sungkan menyuruh pelayan jika ada yang kamu butuhkan." Pesan Pangeran Albert sebelum bergerak untuk berdiri.
"Iya Yang Mulia."
"Maaf Yang Mulia !." Laura tiba-tiba berseru membuat Pangeran Albert berhenti dan membalikkan badannya menghadap kembali pada Laura.
"Ada apa Ara?" Pangeran dengan sabar menanggapi tingkah Laura yang terus menghalangi kepergian nya.
"Apakah tidak masalah jika aku masuk ke dalam kamar Yang Mulia saat melihat lihat keadaan istana ini ?"
"Tapi kalau tidak bisa, tidak masalah. Aku hanya ingin permisi terlebih dahulu jika tanpa sengaja masuk ke dalam salah satu ruangan yang ternyata itu adalah kamar Yang Mulia." Laura mendambakan dengan cepat, memberi penjelasan agar Pangeran Albert tidak salah paham.
Pangeran Albert pun tersenyum mendengar penjelasan Laura yang terdengar sedikit gugup.
"Tidak apa-apa, masuklah jika kamu ingin." Ucap Pangeran Albert.
"Terimakasih Yang Mulia."
"Masih ada lagi yang ingin kamu bicarakan ?"
Laura menggeleng kan kepala. "Tidak ada Yang Mulia."
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu."
__ADS_1
"Iya."