Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 22. Makan Siang.


__ADS_3

Laura tiba di depan pintu ruang perpustakaan pribadi Pangeran Albert. Penjaga tanpa bertanya langsung membukakan pintu untuk dirinya bisa masuk.


Begitu masuk kedalam Laura melihat gurunya telah duduk menunggu kedatangannya.


"Maaf Sir, telah membuat anda menunggu." Kata Laura berjalan mendekati pria itu.


"Tidak apa-apa Nona Laura, aku yang datang sedikit lebih cepat karena harus mencari sekretaris istana lebih dulu yang ternyata tidak memakan waktu banyak." Guru itu menjelaskan.


"Pangeran Albert tidak ada di ruangan ini ?" Laura bertanya memperjelas karena tidak melihat keberadaan Pangeran Albert.


"Sekretaris istana tadi memberitahukan aku kalau Yang Mulia sedang ada urusan kenegaraan di luar jadi kita bisa memakai ruangan ini dengan leluasa untuk belajar tanpa merasa mengganggu Pangeran Albert."


"Bukankah lebih bagus kita belajar di tempat lain jika keberadaan kita di sini mungkin saja mengganggu Pangeran Albert ?"


"Kita berada di sini atas perintah langsung dari Pangeran Albert jadi Yang Mulia tidak akan merasa terganggu."


Laura mengangguk mengerti. "Jadi kita mulai pelajarannya sekarang ?" tanya Laura.


"Iya, kita bisa mulai sekarang. Hari ini kita belajar etika makan di meja makan untuk acara formal." Guru melangkah mendekati meja yang baru Laura sadari ada di dalam ruangan itu.


"Aku meminta tolong kepada sekretaris istana untuk menyediakan nya, kita akan belajar sekaligus mempraktekannya langsung." Guru menambahkan, menjelaskan begitu melihat raut wajah Laura.


Laura melangkah mendekati meja makan dengan ukuran yang tidak begitu besar. Di atasnya telah di atur piring, beberapa jenis gelas dan berbagai jenis sendok, garpu dan pisau.


"Silahkan duduk Nona Laura." Guru mempersilahkan.


Laura menarik kursi untuk duduk dan pelajaran pun di mulai. Dengan penuh konsentrasi Laura mendengar Guru menjelaskan, menunjukkan dan mempraktekkan pelajaran hari itu hingga waktu menunjukkan pukul dua belas siang.


"Kita berhenti sampai di sini dulu nanti kita lanjutkan kembali besok." Ucap Guru menutup pelajaran hari itu.


"Baik." Sahut Laura sedikit bersemangat, tidak bisa menutupi rasa senangnya begitu pelajaran selesai.


Laura berdiri begitu Gurunya hendak berbalik keluar. "Terimakasih atas pelajarannya hari ini." Ucap Laura yang di balas anggukan kepala oleh Guru nya sebelum pergi menghilangkan di balik pintu.


Setelah yakin tidak ada yang tertinggal, Laura melangkah keluar dari ruangan sangat senang tidak berjumpa dengan Pangeran Albert sampai jam pelajarannya selesai siang itu.


Di pintu depan istana kerajaan, Edward berdiri menunggunya dirinya keluar. Laura berjalan mendekati Edward.


Edward pun menoleh begitu mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Pelajaran anda sudah selesai Nona ?" tanya Edward begitu Laura telah berdiri didepannya.


"Untuk hari ini sudah selesai dan akan dilanjutkan besok."


"Anda langsung ingin pulang ?" tanya Edward kembali.


"Temani aku makan siang, Ara." Suara muncul dari belakang Laura, menyela percakapan mereka berdua.


Edward menatap ke arah belakang Laura dan menunduk sedikit memberi hormat. Laura pun penasaran dan berbalik menghadap kearah suara yang dia duga adalah Pangeran Albert melihat dari cara Edward memberi hormat.


Dan benar saja, Pangeran Albert berdiri di depan pintu Istana tidak jauh dari mereka.


"Selamat siang Yang Mulia." Hormat Edward yang di balas anggukan kepala oleh Pangeran Albert.


"Selamat siang Yang Mulia." Laura ikut menyapa walaupun sedikit terlambat.


Pangeran Albert masih berdiri di tempatnya tidak berniat untuk langsung masuk ke dalam membuat Laura dengan keadaan terpaksa bergerak melangkah mendekati Pangeran Albert.


"Temani aku makan siang." Pangeran Albert mengulang kembali perkataannya begitu Laura berdiri tepat di hadapannya.


"Aku mengira anda akan sekalian makan siang di luar Yang Mulia." Laura berusaha menyembunyikan rasa tidak sukanya berada terlalu lama di Istana.


"Rencananya memang seperti itu tapi aku berubah pikiran dan memilih untuk makan di Istana."


Laura menoleh kepada Edward. "Lebih baik kamu pergi makan siang dulu Edward sebelum datang kembali menjemput ku." Ucap Laura pada Edward, sengaja berkata demikian untuk memberi tahu kalau dirinya tidak akan lama di dalam.


"Baik Nona Laura." Sahut Edward mengerti.


Pangeran Albert hanya diam tidak berkomentar dan memilih untuk berjalan masuk ke dalam Istana.


Laura berjalan menysul mengikutinya dari belakang. Pangeran Albert tidak berjalan ke arah ruang makan tapi berjalan ke arah ruang perpustakaan pribadinya.


Laura hanya mengikuti dari belakang tanpa bertanya walaupun sangat ingin.


"Bagaimana pelajaran mu tadi pagi ?" tanya Pangeran Albert begitu mereka masuk, Pangeran Albert langsung menuju meja tempat tadi Laura belajar sekaligus mempraktekkan pelajarannya yang ternyata masih ada di dalam ruangan itu.


"Pelajarannya berjalan baik Yang Mulia." Jawab Laura yang berdiri di tengah ruangan.


"Kemarilah, duduklah di sampingku." Perintah Pangeran Albert.

__ADS_1


"Baik Yang Mulia." Laura berkata patuh, bergerak menuju meja dan duduk di kursi yang berada di samping Pangeran Albert.


"Kenapa kita berada di sini Yang Mulia ? bukankah tadi anda mengatakan kalau ingin makan siang ?" Laura memberanikan diri untuk bertanya.


"Kita makan siang di sini saja, kebetulan di sini masih ada meja yang kamu habis kamu pakai belajar. Ayahanda dan Ibunda juga pasti sedang makan sekarang, tidak sopan jika kita muncul di saat mereka sedang makan." Pangeran Albert menjelaskan.


Laura manggut-manggut mengerti mendengar penjelasan Pangeran Albert.


Aturan hidup di Istana yang terlalu kaku, keluh Laura dalam hati. Kalau di rumah, aku masih bisa datang terlambat bergabung untuk makan walaupun Mama sering menegur.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk !" Pangeran Albert menyahut.


Pintu terbuka dari luar, Sekretaris istana masuk kedalam ruangan.


"Anda ingin makan siang Yang Mulia ?" tanya Sekretaris istana pada Pangeran Albert.


"Iya, Raja dan Ratu sedang makan siang ?" tanya Pangeran Albert balik.


"Iya, Yang Mulia mereka sedang makan siang."


Pangeran Albert mengangguk mengerti. "Mereka tidak mengetahui aku yang pulang lebih awal ?"


"Tidak Yang Mulia, yang mereka tahu Yang Mulia akan sekalian makan siang diluar."


"Kalau begitu siapkan makanan di sini, aku akan makan siang di sini bersama Nona Laura." Perintah Pangeran Albert.


"Baik Yang Mulia, akan aku kerjakan sekarang." Sekretaris istana berkata patuh, berbalik keluar dari ruangan untuk mengerjakan perintah Pangeran Albert.


Tidak lama kemudian pintu kembali di ketuk, Pangeran Albert kembali menyahut mempersilahkan para pelayan Istana untuk masuk dan mengatur beberapa jenis makanan di atas meja makan.


Mereka mulai makan siang, dengan elegan dan terlihat formal Pangeran Albert menikmati makan siangnya.


Laura terpaksa mengimbangi mengikuti sikap Pangeran Albert saat makan walaupun jujur hal seperti ini yang paling tidak di sukainya membuat makanan yang dia nikmati walaupun nikmat jadi terasa hambar.


Andai aku pulang sedikit lebih awal, aku pasti tidak akan bertemu dengannya hari ini.

__ADS_1


Laura mengeluh sambil melirik kesal ke arah Pangeran Albert.


Memangnya makan nanti se kaku ini ? Kalau begini cara makan di Istana, aku pastikan berat badanku akan turun drastis. Sungguh cara diet yang ampuh.


__ADS_2