Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 21. Taman Bermain


__ADS_3

Laura masuk ke dalam mobilnya, menghela napas panjang dengan wajah muram.


Edward melihat Laura. "Anda baik-baik saja Nona Laura ?" tanya Edward begitu ingin menutup pintu mobil.


"Aku baik-baik saja Edward." Jawab Laura.


Edward mengangguk mengerti kemudian menutup kembali pintu mobil, berjalan memutari mobil dan membuka pintu bagian pengemudi.


Edward duduk di bagian pengemudi menatap Laura dari kaca spion depan. "Kita mau ke mana Nona Laura ?" tanya Edward.


"Kita langsung pulang saja, hari ini aku tidak punya kegiatan lain." Jawab Laura muram tanpa menatap Edward, pandangan Laura tertuju ke luar melalui jendela mobil.


"Ingin pergi ke tempat yang menyenangkan ?" tanya Edward.


Laura menoleh menatap Edward, tertarik. "Kemana ?"


Edward tersenyum simpul. "Anda duduk saja, biar aku yang mengemudi."


Mobil bergerak berjalan keluar menuju pintu gerbang. Laura hanya duduk diam di kursinya, membiarkan Edward membawa mobil ke tempat yang dia tuju.


Laura tersenyum tidak percaya, menatap keluar melalui jendela begitu mobil berhenti di depan sebuah taman bermain.


Edward ikut tersenyum melihat Laura yang memasang wajah tidak percaya. "Hanya ini tempat yang terlintas di benakku, tempat yang tidak begitu jauh dan bisa membuat anda sedikit terhibur." Edward menjelaskan. "Anda ingin turun dan masuk ?" tambahnya.


"Tentu saja, sangat rugi kita sampai ke sini dan tidak masuk ke dalam." Laura berkata penuh semangat, seperti anak kecil yang bahagia mendapatkan mainan baru.


"Baiklah, mari kita turun." Ucap Edward sebelum membuka pintu mobil dan turun lebih dulu kemudian membuka pintu penumpang untuk Laura turun.


Bersama mereka melangkah masuk ke dalam taman bermain itu.


Senyum lebar mengembang di wajah Laura begitu mereka telah berada di dalam taman bermain.


"Kapan terakhir anda ke sini Nona ?" tanya Edward.


Laura menggeleng kepala. "Aku sudah tidak begitu mengingat kapan terakhir ke sini tapi yang jelas itu sudah lama sekali."


Edward mengangguk mengerti. "Kalau begitu pertama-tama anda ingin naik wahana apa ?"


"Kita naik itu." Laura menunjuk wahana roller coaster dengan penuh semangat.


Edward mengerutkan kening tidak yakin. "Anda yakin Nona ?"


"Tentu saja, aku ingin berteriak puas melepaskan masalah dan kekesalan ku walau hanya untuk sesaat."


"Baiklah, kita naik itu." Edward terpaksa setuju.


Mereka naik di kursi bagian tengah, Edward membantu Laura memasang alat pengamannya kemudian memasang untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Tidak lama kemudian roller coaster bergerak dan teriakan orang yang naik mulai terdengar.


Laura berteriak lepas mengikuti kecepatan dan tikungan tajam selama menaiki roller coaster, terus seperti itu sampai mereka berhenti.


"Bagaimana perasaan anda ?" tanya Edward begitu mereka turun bergerak keluar yang segera di gantikan dengan orang lain yang sudah mengantri.


"Senang, puas dan sedikit lega." Jawab Laura tersenyum menatap Edward.


"Anda ingin naik apa lagi ?"


Laura memegang perutnya mulai keroncongan. "Kita cari tempat makan dulu, aku kelaparan setelah habis berteriak."


"Baiklah."


Tidak jauh berjalan dari tempat wahana roller coaster, mereka melihat kedai kecil yang menjual makanan.


"Anda ingin ke sana ?" Edward bertanya.


"Boleh." Jawab Laura.


Kedai kecil itu menjual berbagai makanan cepat saji, pelayan segera datang begitu mereka duduk di kursi kosong yang tersedia. Mereka memesan dua porsi makanan dan dua gelas minuman soda.


"Aku mengira seorang bangsawan tidak akan memakan makanan seperti ini." Ucap Edward setelah makanan mereka telah di antar oleh pelayan.


"Sebenarnya Mama melarang kami memakan makanan seperti ini tapi kami saja yang tidak mendengar." Laura berbicara di sela-sela menguyah makanannya.


Laura mengangguk setuju. "Hu uh, aku setuju sekali, makanan enak seperti ini rugi jika tidak di makan."


Edward tersenyum simpul dan ikut memakan makanannya.


"Kalau boleh tahu, ketika keluar dari istana wajah anda terlihat muram. Anda ada masalah ?" Edward memberanikan diri untuk bertanya.


"Tidak ada masalah hanya aku yang tidak nyaman dengan situasi yang sedang terjadi padaku, aku seperti tidak bisa bernafas." Keluh Laura.


"Aku perhatikan anda seperti tidak bahagia dengan perjodohan ini. Maaf jika aku salah menduga."


"Terlihat jelas kah ?" tanya Laura tersenyum masam.


"Iya."


"Yang seharusnya menikah dengan keluarga kerajaan adalah kakak Perempuanku tapi karena kesehatannya tidak baik membuat wasiat itu di turunkan padaku. Tentu saja aku menolak tapi percuma karena taruhannya adalah ketentraman keluargaku.


"Aku tidak nyaman dengan segala macam aturan. Aku ingin hidup bebas sesuai keinginanku, itu harapanku setelah lulus kuliah dan mulai bekerja. Cukup bagi ku dengan segala aturan yang ada di keluargaku tapi ini malah di tambah dengan segala aturan yang harus aku pelajari dan kerjakan ketika menjadi anggota keluarga kerajaan." Laura mengeluarkan keluh kesahnya.


"Jadi hal itu yang menjadi beban anda selama ini ?"


"Iya."

__ADS_1


"Jujur aku sempat berpikir anda pasti sangat bahagia bisa menikahi salah satu anggota keluarga kerajaan."


"Semua orang pasti berpikir hal yang sama denganmu, Charlotte pun berpikir hal yang sama. Semua pasti berpikir hidup ku sangat beruntung karena bisa menikahi Pangeran Albert." Laura berkata muram. "Andai aku bisa kabur." Laura menambahkan, terkekeh masam.


Edward menatap serius pada Laura. "Katakan jika anda sudah tidak sanggup untuk bertahan, aku bersedia membawa anda pergi jauh."


"Jangan bercanda untuk hal yang seperti itu." Tegur Laura.


"Aku serius Nona, katakan pada ku jika anda sudah tidak mampu bertahan." Edward mengulangi perkataannya dengan wajah serius.


Laura terdiam hanya bisa menatap Edward dengan banyak pertanyaan di kepalanya.


"Anda sudah ingin pulang sekarang ?" Edward bertanya, mengalihkan pembicaraan melihat Laura yang mulai terlihat canggung dengan situasi yang terjadi.


"Iya, lebih baik kita pulang sekarang. Kita sudah pergi terlalu lama, aku takut Mama nanti khawatir."


"Baiklah, anda tunggu di sini dulu."


Edward berdiri berjalan ke meja kasir untuk membayar makanan mereka dan kembali tidak lama kemudian.


"Kita kembali Nona."


"Iya."


Dalam perjalanan pulang, tidak ada pembicaraan yang terjadi di antara keduanya. Laura diam dengan segala pemikiran di kepalanya sedangkan Edward sesekali melirik Laura lewat kaca spion yang berada di depannya. Jujur dirinya sangat penasaran dengan tanggapan Laura akan perkataannya tadi.


🍃🍃🍃🍃


Laura dengan malas bergerak turun dari tempat tidurnya. Mulai pagi ini pelajaran tata krama untuknya di mulai.


"Kenapa aku yang harus ke sana ? bukankah seharusnya aku belajar di sini saja ?" Keluh Laura sambil berjalan menuju kamar mandi.


Selesai mandi dan berpakaian rapi, Laura turun ke lantai bawah untuk sarapan bergabung dengan anggota keluarga lainnya.


"Masih pagi kenapa mukamu sudah seperti itu ?" tanya Bella pada Laura yang baru saja duduk di kursinya.


"Hari ini pelajaran tata krama ku di mulai." Jawab Laura muram.


"Lalu ? ada yang salah dengan itu ?" Bella bertanya bingung.


Laura menghela nafas panjang. "Tentu saja." Laura menjawab penuh semangat. "Di saat gadis lain yang sebaya denganku sedang asik bersenang-senang atau sibuk mencari pekerjaan yang mereka sukai, aku malah sebaliknya sibuk belajar tata krama." Laura menggerutu sambil mengoles rotinya dengan selai coklat kacang.


"Sudah-sudah, kalian berdua tidak usah banyak bicara sarapan saja dulu." Mama menyela pembicaraan mereka berdua.


"Ara walaupun tidak suka tapi kamu tetap harus mengerjakannya karena ini perintah langsung dari Ratu, Ibunda Pangeran Albert." Papa mengingatkan.


Laura menghela nafas berat. "Iya Papa, Ara tahu."

__ADS_1


__ADS_2