
Pangeran Albert melirik makanan di atas piring Laura yang hanya tersentuh sedikit di saat dia sendiri sudah menghabiskan makan siangnya.
"Kenapa makan mu sangat sedikit ?" tanya Pangeran Albert.
"Maaf Yang Mulia, aku kurang berselera makan." Laura beralasan.
"Begitu ya ? bukan karena kamu terpaksa menemaniku untuk makan siang ?" tebak Pangeran Albert.
Tentu saja, kenapa masih anda pertanyakan ?
Kata-kata yang ingin Laura keluarkan tapi tidak mungkin terjadi.
"Itu hanya pemikiran anda saja Yang Mulia, aku senang bisa menemani Yang Mulia makan siang." Laura memasang wajah tersenyum walau dalam hatinya mendongkol.
Pangeran Albert mengangkat kening sebelah, belum mempercayai perkataan Laura. "Betul kah ?"
"Tentu saja Yang Mulia." Laura kembali memasang senyum palsu.
"Jujur aku ingin kamu bersikap santai di hadapan ku."
Dengan mempertaruhkan nyawa ku dan anggota keluargaku ? Terimakasih tapi maaf hal seperti itu tidak mungkin. Anda tidak sadar dengan sikap anda yang gampang tersinggung ? Tidak mungkin lah aku akan bersikap santai di hadapan mu, jangan terlalu berharap Yang Mulia.
"Aku rasa sikap ku sudah terlihat santai seperti Yang Mulia katakan."
"Betulkah ?" Pangeran Albert kembali bertanya tidak yakin.
"Tentu saja." Laura meyakinkan.
"Apalagi kegiatan mu setelah dari sini ?" Pangeran Albert mengalihkan pembicaraan, tidak lagi membahas masalah itu.
"Tidak ada, setelah dari sini aku langsung kembali ke rumah."
"Bagus." Komentar Pangeran Albert. "Aku perhatikan kamu terlihat dekat dengan pengawal pribadimu." Tambahnya.
"Bukankah itu hal yang wajar jika aku terlihat dekat dengannya karena waktu yang banyak kami habiskan bersama ?" Laura bertanya heran.
Pangeran Albert menatap tajam pada Laura. "Dia hanya pengawal mu Ara bukan temanmu, jaga jarak darinya karena aku tidak menyukai jika kamu dekat dengan pria lain."
Laura menelan ludah, gugup. "Baik Yang Mulia, akan aku ingat hal itu."
Laura memperbaiki posisi duduknya, dirinya tidak merasa nyaman jika Pangeran Albert sudah memasang raut wajah seperti itu.
Bagaimana bisa merasa nyaman jika seperti ini ?, keluh Laura dalam hatinya.
"Dua hari lagi aku akan ke Spanyol, menghadiri pertemuan kenegaraan." Pangeran Albert memberitahu. "Selesai dalam dua hari ini pelajaran mu untuk tata krama perjamuan formal karena kamu harus ikut bersamaku ke pertemuan itu." Tambahnya.
Laura terkejut mendengarnya. "Haruskah aku ikut dengan anda ?" tanya Laura berusaha menutupi kepanikannya.
__ADS_1
"Harus, kamu harus ikut karena ini merupakan kesempatan untuk memperkenalkan dirimu sebagai calon anggota keluarga kerajaan."
Laura duduk gelisah, membayangkan akan pergi berdua saja dengan Pangeran Albert.
"Tapi jujur Yang Mulia, aku belum siap untuk menghadiri kegiatan seperti itu."
"Mau tidak mau kamu harus siap dan harusnya kamu sudah menyiapkan diri sejak pengumuman pertunangan kita di umumkan oleh pihak istana." Tegur Pangeran Albert.
"Belajarlah baik-baik agar tidak membuatku malu pada pertemuan itu." Pangeran Albert menambahkan.
"Baik Yang Mulia." Laura menyahut dengan terpaksa.
Selesai menemani Pangeran Albert makan siang, Laura langsung balik ke rumah. Moodnya langsung jelek setelah mendengar perkataan Pangeran Albert.
"Ada apa Ara ? kenapa wajahmu seperti itu begitu sampai. Ada masalah di hari pertama pelajaran mu ?" tanya Mama penasaran begitu melihat Laura masuk ke dalam rumah.
Laura menghempaskan tubuhnya di sofa yang berada di ruang tengah. Mama ikut menyusul duduk di samping Laura.
"Ada apa ? ceritakan pada Mama."
Laura menghela nafas panjang. "Pangeran Albert akan pergi ke Spanyol untuk menghadiri pertemuan kenegaraan."
"Lalu ?" tanya Mama.
"Pangeran Albert memberikan perintah padaku untuk ikut bukan meminta." Laura menjawab dengan emosi.
"Terlepas dari perintah atau meminta, bukankah itu hal yang bagus. Pangeran Albert membawamu ikut dengannya ke pertemuan itu ?"
Mama mengerutkan kening, heran dengan sikap Laura. "Kenapa tidak Ara ? bukankah itu hal yang sangat bagus jika dia ingin mereka mengenal dirimu yang merupakan calon istrinya."
"Aku tidak suka dan tidak nyaman menghadiri pertemuan seperti itu Mama."
"Kamu berkata seperti itu karena belum terbiasa dan nantinya lama-kelamaan kamu akan terbiasa karena hal seperti itu akan sering kamu kerjakan karena statusmu yang merupakan istri dari Pangeran Albert." Nasehat Mama
Laura hanya terdiam mendengarnya. "Cobalah jalani dulu sebelum kamu berkata seperti itu." Mama menambahkan.
"Aku ke kamar dulu Ma, capek ingin istirahat." Laura berdiri tanpa membalas perkataan Mama.
Mama hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Laura yang berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai dua kamarnya.
Laura membuka pintu kamarnya langsung menuju tempat tidur. Berbaring menatap kosong langit-langit kamarnya.
Nada dering telepon masuk membuyarkan lamunannya, dengan malas bergerak turun dari tempat tidur mengambi tas yang tergeletak di atas sofa.
Laura mengeluarkan handphone yang masih berdering, tertulis nama Charlotte di layar handphone.
"Hallo." Ucap Laura ketika sambungan telepon terhubung.
__ADS_1
"Hallo Ara, bagaimana kabar mu ?" Charlotte bertanya dari seberang.
"Sudah beberapa hari ini kamu tidak menghubungiku." Ucap Laura dengan nada tidak suka, tidak menjawab pertanyaan Charlotte.
"Aku minta maaf." Charlotte berkata cengengesan.
"Kabar ku buruk, untung kamu meneleponku. Bagaimana kalau kita keluar malam ini ?"
"Kabar buruk apa maksudmu ?" Charlotte bertanya penasaran tidak menghiraukan perkataan Laura yang mengajaknya keluar.
"Nanti aku ceritakan saat kita bertemu, tidak enak di bicarakan lewat telepon."
Charlotte mengalah. "Baiklah, kita ketemu dimana ?"
"Bagusnya di mana ?" Laura bertanya balik, belum kepikiran tempat mereka untuk bertemu.
"Di Bar -."
"Jangan di Bar -."
Laura dan Charlotte berkata bersamaan. "Jangan di Bar, bagaimana mau bercerita kalau tempatnya bising." Laura menambahkan, sedikit kesal dengan sahabatnya yang suka sekali berkunjung ke tempat seperti itu.
"Baiklah, kamu saja yang pilih tempatnya." Charlotte mengalah.
"Kita ke restoran saja sekalian makan malam, aku tahu tempat yang makanannya sangat enak. Nanti aku kirim alamatnya padamu."
"Oke, sudah dulu kalau begitu."
"Sampai ketemu di tempat makan." Ucap Laura sebelum mematikan sambungan telepon.
Laura kembali ke tempat tidur, menghela nafas panjang sebelum menutup matanya.
"Lebih baik tidur sebentar, hanya dengan tidur aku bisa melupakan semua masalahku walau hanya sesaat." Gumam Laura sambil memperbaiki posisi nyaman untuknya tidur.
Hari sudah petang begitu Laura terbangun dari tidurnya. Bergerak turun dari tempat tidur langsung menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.
Laura berkaca di cermin untuk terakhir kali sebelum keluar dari kamarnya, tersenyum merasa puas melihat penampilannya.
Mengambil handphone untuk mengirim alamat restoran pada Charlotte sebelum mengisi handphone dalam tasnya.
"Kamu ingin ke mana Ara ?" Bella yang baru saja naik melalui tangga bertanya begitu melihat Laura yang berpenampilan rapi baru saja menutup pintu kamarnya.
"Aku akan makan malam diluar dengan Charlotte." Jawab Laura.
"Papa dan Mama sudah tahu ?"
"Belum, aku akan memberi tahu mereka sekarang."
__ADS_1
Bella mengangguk setuju. "Hati-hati."
"Iya, aku pergi dulu."